
Di belahan dunia lain, kelompok pembuat onar sedang mengadakan perkumpulan besar. Semua perwakilan didatangkan dari seluruh penjuru dunia. Membahas bisnis kotor mereka yang mendadak hancur dan hilang dari permukaan.
Sang ketua duduk di tempat yang secara khusus memang disediakan untuknya. Laki-laki bertubuh tinggi besar yang berdampingan dengan seorang lelaki kerdil dengan perut buncit. Tangannya tak henti memijit-mijit pelipis, dia terlihat frustasi. Mereka sedang menunggu beberapa orang mata-mata yang dikirim untuk mengawasi pergerakan di markas Mata Elang.
"Bagaimana selanjutnya? Kenapa mereka belum datang juga?" tanya laki-laki kerdil itu sambil mengangkat wajah memandang semua utusan.
"Mungkin sebentar, lagi. Kita tunggu beberapa saat lagi, kuharap kabar yang mereka bawa tidak sesuai dengan pikiran kita," ucap laki-laki bertubuh tinggi dengan penuh kewibawaannya.
"Anda benar, Ketua. Yah, semoga saja. Maafkan kami, karena masalah ini Ketua sampai datang turun tangan sendiri," ucap laki-laki kerdil itu sambil menundukkan kepala.
Seseorang memasuki ruangan melaporkan kedatangan mata-mata yang mereka tunggu. Laki-laki yang dipanggil ketua mendongak, menunggu tak sabar kedatangan mereka.
"Ketua!"
Tiga orang itu berdiri di hadapan sang ketua. Wajah mereka panik dan nampak pucat, sudah pasti kabar buruk yang akan mereka terima.
"Katakan!" perintahnya tegas dan berwibawa.
"Maaf, Ketua, tapi kami harus menyampaikan ini. Semuanya hancur, bisnis kita hancur hampir di seluruh Negeri ... tidak! Markas kita di kota Elang telah tiada, tak satupun yang selamat dari mereka. Kabar terakhir yang kami dengar dari masyarakat bahwa beberapa Minggu lalu terjadi penyerangan secara besar-besaran dan markas besar itu berhasil mengalahkan orang-orang kita," ucapnya menekan rasa gugup dalam hati.
Mereka takut sang ketua akan marah dan menghukum mati mereka. Ketiganya meneguk saliva gugup tatkala pandang melirik pada kedua tangan sang ketua yang mengepal.
"Bagaimana dengan desa Hulu?"
Suaranya terdengar lebih berat dan mengandung kemarahan yang ditahan. Sangat kentara menambah ketakutan dalam diri mereka.
"Mmm ... desa Hulu ... mmm ...."
"Katakan!" bentaknya tak senang.
Amarah yang telah memuncak membuat dadanya bergemuruh hebat. Kembang-kempis mengurai sesak, memburu udara dengan sangat cepat.
"Penduduk di sana telah membakar markas kita, Ketua. Mereka berhasil menemukan semua anak dan menghancurkan bisnis kita. Semuanya telah hancur, dan kami yakin semua ini ada kaitannya dengan markas itu," papar mereka sedikit segan.
"Chendrik! Kurang ajar! Seharusnya dulu aku tidak membiarkannya hidup, sekarang dia sudah membuktikan pengampunan tidak akan menjamin kedamaian."
Sang ketua bangkit, semua orang turut bersiaga. Menunggu perintahnya.
"Kumpulkan semua orang yang bekerja di bawah kuasaku, malam ini juga kita pergi ke kota Elang. Hancurkan markas mereka, buat semua penduduk kota Elang kehilangan tempat tinggal mereka!" titahnya tegas dan lantang.
Pandangan matanya tajam menyalang, dendam membara bergejolak dalam dada. Dia berbalik dan pergi mempersiapkan semuanya. Diikuti lelaki kerdil yang setia membuntuti. Semua orang membubarkan diri mempersiapkan orang-orang yang bekerja di bawah kepemimpinan mereka.
Melihat begitu banyak orang yang akan mendatangi kota Elang, sudah dapat dipastikan perang besar akan terjadi dan pasti akan melibatkan banyak orang. Termasuk warga sipil.
******
Sementara di markas, Chendrik mendatangi sebuah penjara bawah tanah. Mengunjungi salah satu sel yang dihuni oleh seorang wanita. Salah satu kakinya dirantai, keadaanya benar-benar menyedihkan. Dia duduk meringkuk di sudut sel, memeluk kedua lutut yang ditekuk.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Chendrik pada penjaga di luar tahanan itu.
"Dia tidak banyak bicara, Master. Hanya diam dan menangis sepanjang malam," jawab sang penjaga.
Chendrik mengerti, ia membuka pintu memasuki ruangan yang berisi beberapa sel itu. Mendatangi sel di mana Arabella dikurung.
"Chendrik! Aku minta maaf, aku menyesal. Aku menyesal, Chendrik. Tolong maafkan aku!" ucap Arabella dengan cepat. Ia berhambur ke dekat jeruji dan memegangi tiang-tiang besi itu.
"Kau sudah sangat mengecewakan aku, Bella. Kupikir kau akan tetap setia pada markas meskipun tak lagi menjabat sebagai ketua. Nyatanya, kau hanyalah seorang musuh dalam selimut yang berbahaya. Beruntung, Zena tidak langsung membunuhmu," tegas Chendrik tidak menutupi kekecewaannya.
Pandangannya tak lagi sama, kehangatan dari manik coklat itu hilang berganti dengan kekecewaan juga amarah yang berkilat-kilat. Arabella menangis, pegangannya di tiang besi itu mengerat.
Sebak merebak dalam dada, hantaman rasa sesal kian bergejolak dalam jiwa. Hanya karena rasa cemburu melihat kedekatan Zena dan Chendrik, dia lantas bekerjasama dengan laki-laki bergelar Black Shadow untuk menghancurkan hidup Zena. Bukan untuk menghancurkan markas, tapi saat penyerangan kemarin dia sama sekali tidak membantu.
Arabella yang telah membuat Zena tak sadarkan diri, dia pula yang telah membawa gadis itu ke tempat lain atas permintaan Black Shadow sendiri. Namun, tetap saja, itu sebuah pengkhianatan yang tak termaafkan.
"Maaf, maafkan aku, Chendrik. Aku benar-benar menyesal," lirih Arabella kian menunduk dalam.
Tangisnya semakin histeris, terisak-isak dengan pilu. Semua itu percuma, nasi sudah menjadi bubur. Dosa itu harus dia tanggung, biarlah penyesalan melingkupi hatinya seumur hidup.
"Kuharap penyesalanmu bukanlah sebuah muslihat. Kau salah satu petinggi terbaik yang pernah dimiliki markas ini. Nikmati saja masa hukumanmu, sampai kau benar-benar menyadari semua yang telah kau lakukan!" pungkas Chendrik sebelum berbalik pergi meninggalkan ruang tahanan.
Arabella meluruh di lantai, tubuhnya bersandar pada jeruji meraung tak terkendali. Chendrik tak acuh, terus membawa langkahnya pergi tanpa menoleh lagi. Pemimpin markas itu pergi berkeliling, memeriksa keadaan.
Sebagian pasukan sedang berlatih, dan sebagian lagi mengawasi. Langkah lebar sang pemimpin terus berlanjut menuju tempat di mana dua harimau yang dititipkan Zena berada. Hewan-hewan itu baik-baik saja, mereka makan dengan cukup. Chendrik juga membebaskan mereka untuk berburu di hutan belakang markas.
"Master!" Seorang prajurit datang menghadap.
"Ada kabar apa?" tanya Chendrik dengan pandangan menyipit.
"Maaf, Master, tapi elang-elang yang kita kirim satu pun belum kembali. Berikut dengan orang-orang yang memata-matai tempat yang Anda maksud, mereka belum memberikan informasi apapun," jawabnya. Tubuh prajurit itu berdiri tegak, terlatih untuk bersikap formal saat memberi laporan.
"Baiklah, terima kasih. Kembalilah ke tempatmu, segera kabari markas jika kau sudah mendapat laporan!" perintah Chendrik seraya melanjutkan langkah berkeliling.
Dia berhenti di pinggir lapangan. Menatap hampa tanah lapang yang pernah menjadi saksi duel antara Zena dan Arabella. Helaan napas panjang ia hembuskan, mengingat nama Zena rasa rindu selalu membuncah.
Berselang, ponsel di sakunya bergetar. Mengusik ketenangan alam hayalannya. Ia merogoh saku mengeluarkan benda pipih itu seraya melihat siapa yang menghubungi. Garis bibirnya terangkat sempurna, lekas mengangkat panggilan dan menempelkannya di telinga.
"Bagaimana kabarmu?" tanyanya segera.
"Aku sudah menemukan mereka, tapi aku tidak bisa kembali secepatnya," jawab suara Zena dari seberang telepon.
"Kenapa?"
Senyum di bibir Chendrik raib, kerutan kecewa di wajahnya terbentuk begitu saja.
"Aku ingin menatap di sini beberapa waktu lamanya. Mereka memiliki anak seusia Cheo, dan keduanya sudah sangat akrab. Mungkin sebulan atau dua bulan kami akan kembali," jawab Zena lagi.
Chendrik mendesah, tapi tak dapat melakukan apapun. Mereka belum terikat, dia tidak bisa seenaknya mengatur Zena. Jadilah, hanya bisa pasrah. Obrolan berlanjut seiring dengan langkah Chendrik yang juga berayun.