Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Kepergian Zena



Dua hari sudah berlalu, sesuai yang diucapkan Zena waktu itu dia akan pergi mencari Ciul dan Nira. Persiapan telah ia lakukan, dibantu Chendrik dan juga Cana. Tak lupa Sebastian turut andil dalam memodifikasi mobil van yang akan dia gunakan.


"Kau yakin akan menempuh jalur darat menggunakan mobil ini?" tanya Sebastian sembari memberikan kunci van tersebut pada Zena.


"Aku yakin, Bas, karena aku sendiri belum tahu ke mana tujuanku. Aku akan menyusuri setiap kota untuk dapat menemukan mereka. Hanya ingin memastikan bahwa mereka baik-baik saja, setelah itu aku akan kembali," jawab Zena sambil tersenyum.


Di punggungnya telah tersampir sebuah tas berisi pakaian, topi dan kacamata hitam yang akan dia kenakan saat terjun langsung di masyarakat. Tak lupa jaket kulit untuk menghalangi udara menerpa langsung tubuhnya.


Di depan mansion Chendrik telah teronggok sebuah van yang dimodifikasi Sebastian, dia bisa berkemah saat malam tiba. Tak perlu lagi mencari penginapan, semua telah tersedia di dalam van. Benda tersebut seperti rumah kedua untuk Zena.


"Sayang!"


Cana datang dengan tangisan histeris. Berpisah dengan Zena adalah mimpi buruk untuknya, tapi mau bagaimana lagi? Gadis itu sudah bertekad untuk pergi dan tak bisa dihentikan.


"Ibu, jangan menangis. Aku pasti akan kembali," ucap Zena sembari memeluk Cana dengan lembut.


Wanita tua itu tak dapat menahan kesedihan, tangisnya terus tumpah dalam pelukan Zena.


"Kenapa kau harus pergi? Mungkin saja temanmu di sana sudah bahagia, kau tidak perlu pergi ke mana pun," pintanya sambil tersedu-sedu.


Zena tersenyum, ia mengerti seperti apa perasaan Cana saat ini. Tangannya mengusap-usap pelan punggung berguncang wanita tua itu, menyalurkan kekuatan untuk perpisahan sekali lagi.


"Mereka berdua sangat berjasa untuk hidupku, Ibu. Aku tidak tahu akan seperti apa kehidupanku jika tak ada mereka saat itu," ucap Zena dengan lembut.


Cana melepaskan pelukan, ia menyusut air matanya sebelum menatap Zena. Manik keduanya bertemu, bertatapan saling memberikan pengertian.


"Baiklah, tapi kau harus berjanji akan baik-baik saja. Juga cepatlah pulang saat kau sudah menemukan mereka," pintanya bercampur dengan sisa isak tangis.


Zena mengangguk patuh, bibirnya yang tipis terus mengembangkan senyum meskipun hatinya terasa berat untuk pergi meninggalkan kota Elang. Entah karena apa, tapi sesuatu seolah-olah menahannya untuk pergi.


"Ibu membawakanmu banyak makanan, agar kau tidak kelaparan saat di jalan. Kau harus banyak makan, jangan sampai pulang ke rumah tubuhmu menjadi kurus," ucap Cana seraya memasuki van yang akan dibawa Zena dan memasukkan bahan makanan ke dalam lemari pendingin mini yang ada di dalamnya.


Adhikari mendekat, tanpa segan memeluk Zena. Serasa pelukan seorang Ayah, Zena benar-benar hanyut dalam buai kehangatan yang diberikan Adhikari padanya. Laki-laki tua itu melepaskan pelukan, mengusap bahu Zena sambil menyematkan senyum kesedihan. Ia mengeluarkan sebuah amplop dari saku celana dan memberikannya kepada Zena.


"Kau akan sangat membutuhkan ini. Bawalah dan manfaatkan sebaik mungkin," ucapnya seraya menggenggamkan uang tersebut kepada Zena.


Perasaaan haru menyeruak memenuhi hatinya. Air mata menggenang di pelupuk, hampir jatuh dari tempatnya.


"Terima kasih, Ayah. Aku tidak akan pernah tahu seperti apa cinta dan kasih sayang orang tua jika tak bertemu kalian. Sekali terima kasih, Ayah." Zena memeluk Adhikari kembali, erat sebelum mereka berpisah.


"Kau sudah siap berangkat?" Suara Chendrik membuat Zena refleks melepas pelukannya.


Ia berbalik dan mendapati Cheo di samping laki-laki itu. Bocah itu berjalan mendekat, keduanya menatap semua orang sebelum berpamitan.


"Kami pergi, jaga diri kalian baik-baik," ucap Zena seraya membungkuk diikuti Cheo.


"Hati-hati, Zena!"


"Cepatlah kembali!"


"Sering-seringlah memberi kabar!"


Satu per satu dari mereka mengucapkan kata perpisahan. Zena tersenyum, mengangguk sebelum berjalan memeluk mereka satu per satu.


Di sana, di lantai dua mansion seorang wanita tua berdiri dengan senyum sinis. Puas dan bahagia tentu saja melihat kepergian Zena pagi itu. Itulah yang dia inginkan, kepergian gadis pulau itu membuatnya leluasa melakukan apapun di dalam mansion tersebut.


"Hati-hati, Zena. Cepatlah kembali, aku akan sangat merindukanmu," ucap Sebastian disaat Zena memeluknya.


Mereka berhadapan, ada rasa aneh yang dirasakan Zena saat pandang mereka bertemu. Rasa rindu tiba-tiba hadir bahkan sebelum mereka berpisah. Chendrik meneguk saliva gugup, inginnya Zena tetap di sisinya. Berdiam diri, menikah, memiliki anak, menjalani hari-hari seperti wanita lainnya.


Chendrik berhambur memeluk Zena, pelukan erat yang tak merelakan dia pergi. Ia bahkan membenamkan wajah di pundak Zena, menghirup aroma tubuh wanita itu sebanyak-banyaknya sebelum mereka berpisah.


"Jangan pernah mengabaikan panggilan dariku. Selalu beri kabar aku di mana pun kau berada. Aku ingin menemanimu, tapi markas sangat membutuhkan aku. Kau harus pulang dengan selamat, Zena. Aku menunggumu. Sebenarnya aku tidak ingin kau pergi, kenapa tidak menikah saja denganku dan berdiam diri di mansion. Aku akan menikahimu setelah kau pulang nanti," cerocos Chendrik panjang lebar.


Zena terkekeh geli, tapi ada sedikit rasa bahagia yang membuat hatinya berbunga-bunga. Ia mengangguk sebagai jawaban dari perkataan Chendrik seraya melepas pelukan dan menjauh bersama Cheo.


Tangan keduanya melambai, terus berjalan mendekati van, tapi beberapa orang terteriak di kejauhan.


"Zena, tunggu! Apa kau tidak ingin berpamitan kepada kami?" seru Mirah yang berlari sambil membantu Ben mendekati Zena. Sarah turut membantu di sisi lain laki-laki itu.


Zena tersenyum lebar melihat kedatangan mereka, semua orang nampak senang kecuali Chendrik yang mengerutkan dahi bingung dengan kedatangan semua teman Zena.


Satu per satu dari mereka memeluk Zena, dan memberikan apa yang mereka bawa untuknya.


"Wah ... apa kau akan pergi menggunakan ini? Aku ingin sekali ikut denganmu, Zena. Kenapa kau tidak mengizinkan kami untuk ikut?" Mirah mengerucutkan bibirnya, melirik van yang akan digunakan Zena dengan perasaan yang kalut.


"Di dalam sana tidak akan muat untuk kita semua. Hanya tersedia untuk dua orang saja. Maafkan aku, lain waktu jika aku kembali kita akan pergi bersama-sama," ucap Zena sambil tersenyum.


Janji yang tanpa sadar memberikan harapan pada hati mereka. Tak hanya keempat temannya saja, tapi mereka yang berdiri di sana menonton pun ikut berharap hal itu. Zena melambaikan tangan memasuki van bersama Cheo. Tak lama, sebuah auman menyusul mengejutkan semua orang terutama keempat teman Zena.


Gadis itu kembali turun, beruntung Sebastian membuatkan tempat untuk hewan itu berdiam. Terlupa dia harus memperkenalkan Tigris kepada teman-temannya.


"Dia Tigris, kalian sudah melihatnya, bukan? Kami akan ke pulau terlebih dulu sebelum melakukan perjalanan panjang. Kami pergi!" ucap Zena singkat sebelum menempatkan Tigris di tempatnya.


Ia masuk dan bertindak sebagai supir, dan beruntungnya lagi dia sudah belajar mengemudi bersama Chendrik. Zena membuka kaca mobil, dan melambaikan tangan lagi.


"Jaga dirimu baik-baik, Zena!"


"Cepatlah kembali!"


"Jangan lupa untuk selalu menghubungi kami!"


"Kau harus kembali secepatnya, Zena!"


"Kami akan merindukanmu!"


Teriakan demi teriakan membuat Zena menyunggingkan senyum. Ada banyak orang yang menunggunya di kota Elang. Sebisa mungkin ia harus cepat menemukan mereka dan kembali pulang.


"Kuharap kau tidak kembali lagi, gadis pulau. Pergilah yang jauh, dan jangan pernah kembali lagi," ucap nenek sihir sambil tersenyum sinis seraya berbalik meninggalkan balkon masuk kembali ke kamarnya.


Mereka masih berdiri di sana, melambai-lambaikan tangan sampai mobil yang membawa Zena menghilang masuk ke jalan di dalam hutan. Keempat teman Zena berubah murung. Mereka ingin bermain bersamanya setiap hari bahkan Ben ada rencana untuk belajar beladiri kepada Zena. Namun, semuanya raib disaat gadis itu memutuskan pergi.


"Ekhem! Kalian tahu dari mana mansion ini?" Suara dingin yang tajam menusuk membuat tubuh mereka menegang.


Keempat teman Zena berbalik takut-takut, menunduk tanpa berani mengangkat kepala bertatapan dengan Chendrik.


"Tak ada yang mau menjawab?" tekan Chendrik sudah membuat mereka seperti berhadapan dengan hukuman mati.


"Mmm ... Zena yang memberitahu kami karena kami ingin melepasnya pergi dan memeluknya sebelum pergi. Maafkan kami, Master!" ucap Mirah disambut kepalanya yang semakin dalam menunduk bersama tiga lainnya.


Chendrik menggelengkan kepala.


"Sudahlah, kalian tidak perlu merasa bersalah. Aku harap kalian tidak pernah memberitahukan keberadaan mansion ini kepada siapapun termasuk keluarga kalian," pinta Chendrik yang disambut anggukan kepala patuh oleh mereka.