Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Tetaplah Jadi Ibuku



Zena menyeret kakinya dengan malas, peluh membanjiri wajahnya yang kusam, kedua bahu melorot, rambut yang semula rapi dan lurus kini nampak kusut dan berantakan. Sepasang kaki jenjang itu berayun-ayun gontai, matanya sayu tertunduk. Kepulan debu mengudara saat ia berpijak meniti langkah.


Helaan napas berat berhembus kasar, kepala itu mendongak menatap sebuah bangunan megah yang berdiri gagah di hadapannya. Mencibir tanpa suara, berdecih malas. Langkanya melaju semakin cepat, tanpa suara bagai angin yang menderu lembut.


"Hah ... syukurlah!" lirihnya sambil membanting tubuh ke atas kasur begitu tiba di kamar. Wajah leganya jelas terlihat karena ia tidak berpapasan dengan kedua orang yang sudah membuat darahnya mendidih sejak pagi buta.


Tok-tok-tok!


Suara ketukan di pintu membuat Zena terperanjat, mata yang semula terpejam seketika membelalak dengan lebar. Jantungnya yang mulai tenang sekonyong-konyong berdegup tak karuan.


"Binatang buas itu atau si Jenderal mesum?" gumamnya sembari memegangi jantung yang memukul-mukul rongga dada.


"Kakak!" Zena menghela napas lega saat suara Cheo yang memanggil namanya. Gegas ia berdiri dan membuka pintu untuk bocah itu, kepalanya celingukan dengan waspada khawatir seseorang mengawasi.


"Cheo? Masuk!" Zena menarik tubuh Cheo masuk dan segera mengunci pintu. Bocah itu mengernyit melihat tingkah aneh gadis yang dipanggilnya Kakak itu.


"Kakak, kenapa?" tanyanya saat Zena tak henti mengintip jendela. Tangannya sigap menutup tirai, dan berbalik dengan wajah lega.


"Tidak ada apa-apa. Akhir-akhir ini ada binatang buas yang selalu mengikuti Kakak, jadi Kakak hanya waspada saja," katanya sambil mengajak Cheo untuk masuk ke kamarnya.


"Binatang buas?" beo Cheo sambil menatap bingung pada Zena yang menggandeng bahunya.


Gadis itu terhenyak, ia baru sadar bahwa anak yang digandengnya adalah anak dari binatang buas yang dia maksud.


"Ah ... jangan dipikirkan!" katanya sambil tersenyum manis, tapi gugup tak dapat ditutupinya dengan baik di hadapan Cheo. Helaan napasnya terasa berat dan panjang, seolah-oleh sedang menumpahkan beban berat yang bergelayut di bahunya.


"Apa Ayah selalu datang mengganggu?"


"Eh?" Zena terhentak, langkahnya berhenti mendadak. Jantungnya yang baru saja normal kini kembali berdetak. Ia lantas tertawa garing, malu karena ketahuan mengatai Ayahnya binatang buas.


"Ketahuan, ya?" Zena menggaruk-garuk pelipisnya yang tak gatal sama sekali.


"Jelas sekali, wajah Kakak berubah merah. Apa Kakak sakit?" tanya Cheo setelah menelisik wajah Zena yang tiba-tiba menghangat hingga ke telinga.


Zena hanya tersenyum sambil melanjutkan langkah dan membanting diri di kasurnya.


"Kemarilah! Ada apa mencari Kakak?" tanya Zena menepuk-nepuk kasur di samping tubuhnya. Cheo ikut membanting diri, menatap langit-langit ruangan dengan kaki terjuntai.


"Kenapa Kakak tidak datang menjemput? Kutanya Ayah juga tidak tahu Kakak di mana?" Wajah Cheo cemberut, ia menatap Zena sendu karena hari ini Kakaknya itu melewatkan jadwal menjemput ke sekolah.


Tangan Cheo melingkar di tubuh Zena, manja. Ia teringat semasa di pulau, tidur di belakang rumah bersama Tigris. Di bawah payung langit, dan disaksikan rembulan juga bintang gemintang yang menari.


"Maaf, ya." Tangan Zena ikut melingkar di kepalanya. Ia mengecup ubun-ubun Cheo menyesali tindakannya yang tak menjemput anak itu.


Lagi-lagi gadis itu menghela napas panjang, mengingat kejadian pagi tadi benar-benar membuatnya muak.


"Mereka datang untuk mengganggu Kakak. Menyebalkan," ucap Zena mendengus kesal.


"Kakak, yang aku lihat baik Ayah dan paman Bas keduanya menyukai Kakak. Kalau Kakak, siapa yang akan Kakak pilih di antara mereka?"


Zena tercenung mendengar penuturan Cheo. Ia cepat menoleh dengan wajah yang sulit dijelaskan.


"Pilih? Kenapa? Memangnya mereka sedang berlomba hingga harus dipilih?" katanya yang segera membuang wajah dari Cheo.


Bocah sepuluh tahun itu terkekeh, tubuhnya yang berguncang menggelitik Zena.


"Kakak benar-benar tidak tahu apapun soal hati. Itu artinya mereka berdua sedang berlomba memenangkan hati Kakak. Nah, di antara mereka siapa yang akan berhasil mencairkan dinginnya hati yang tak tahu perasaan ini, ya?" Cheo bergumam sambil berbalik menghadap langit-langit kamar Zena.


"Bagaimana cara menilainya?" tanya Zena.


"Hanya rasakan saja, perbedaan saat Kakak bersama Ayah dan saat Kakak bersama paman Bas. Lebih nyaman bersama siapa?" cetus Cheo mengajari Kakaknya yang polos itu.


Zena termenung, berpikir sambil mengingat-ingat saat-saat ia duduk bersama keduanya.


"Biasa saja," katanya tak acuh, "Chendrik, dia selalu membuat jantung Kakak hampir lepas dari tempatnya. Dia juga selalu membuat darah Kakak memanas saat datang mengganggu. Kalau Bas, biasa saja tidak terjadi apapun pada tubuh Kakak saat dekat dengannya. Jadi, mungkin saja Bas?" lanjutnya mulai menilai.


Lagi-lagi Cheo tertawa, Zena berjengit tak senang. Namun, ia diam saja dan hanya memalingkan wajah menghindari bocah nakal itu.


"Kakak tahu artinya apa?" Zena menjawab hanya dengan dengusan kesal.


"Hmm ... baiklah." Kali ini Cheo yang menghela napas karena gadis itu masih memunggunginya.


"Kakak sudah memiliki perasaan itu terhadap Ayah, hanya saja Kakak belum menyadari kehadirannya. Tak apa, lambat laun Kakak akan mengenal rasa apa yang ada di hati Kakak itu," ujar Cheo lagi dengan pemikirannya yang sederhana.


Zena kembali merenung, tak pernah terbersit di hatinya sebuah kata tentang cinta karena ia sendiri pun tak tahu seperti apa itu jatuh cinta. Tubuhnya berbalik kembali.


"Kakak pikir, saat kita mencintai seseorang itu artinya kita rela berkorban semuanya untuk orang itu karena itulah yang Kakak lakukan saat Kakak mencintai dan menyayangi seseorang. Kakak tak akan membiarkan mereka tersakiti." Zena menatap Cheo sambil tersenyum. Maniknya berpijar penuh cinta, terus mengalir hingga tembus ke dalam relung hati bocah sepuluh tahun itu.


"Seperti yang Kakak lakukan selama ini kepadaku. Aku sudah merasakannya sendiri betapa besar dan tulusnya Kakak menyayangiku. Untuk itulah, aku tidak ingin Ibu yang lain. Aku hanya ingin Kakak yang menjadi Ibuku karena Kakak yang sudah merawatku sejak bayi. Entah seperti apa kesulitan Kakak yang saat itu barulah berusia tiga belas tahun dalam merawatku hingga aku besar seperti sekarang ini." Cheo memeluk Zena lagi.


Kali ini bahkan lebih erat sambil menyalurkan seluruh rasa yang ia miliki.


"Terima kasih karena Kakak sudah rela berkorban segalanya untuk merawatku. Aku bahkan tidak akan pernah bisa membalas semua yang sudah Kakak berikan untukku. Dengan siapapun kelak Kakak akan hidup, kumohon ... tetaplah jadi Ibuku." Cheo membenamkan wajah di tubuh gadis itu.


Zena terenyuh, ia beranjak menghadap Cheo dan mendekapnya erat. Mencium berkali-kali pucuk kepala bayi yang ia besarkan itu. Tanpa perlu mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, Cheo tahu Zena sangat menyayangi dirinya.