
Seorang laki-laki yang dirantai kedua tangan dan kakinya, menundukkan kepala di dalam sel. Sungguh tak menduga perjalanan karirnya sebagai seorang pemimpin akan berakhir menjadi tawanan dan dikurung di dalam penjara markasnya sendiri.
Di sampingnya, Adhikari dalam keadaan lebih baik. Laki-laki tua itu duduk meringkuk di pojokan menyandarkan kepalanya pada tembok sambil terpejam.
"Apakah kita memang terlalu lemah?" Suara tanya bernada pilu itu semakin mengiris harga diri Chendrik sebagai pemimpin markas.
"Kita memang lemah dan salah mengatur strategi sejak awal. Entahlah, Master, tapi aku merasa sangat tidak berguna saat ini," sahut suara Chendrik serak dan tercekat di tenggorokan.
Banyak korban berjatuhan dalam pertempuran kemarin. Sisa pasukannya menjadi tawanan, termasuk para prajurit wanita. Tak sedikit yang menjadi korban pelecehan dan pemuas nafsu pemimpin mafia itu.
"Apakah dia akan datang?" Adhikari bertanya lagi.
Memikirkan tentang istrinya jika saja saat itu ia tidak mengirim Cana ke mansion Chendrik, maka sudah pasti wanita itu akan ikut menjadi korban. Adhikari merasa sedikit lega, tapi juga tetap merasa cemas akan keselamatannya.
"Aku tidak tahu, tapi aku memintanya untuk tetap tinggal di sana sampai keadaan membaik," jawab Chendrik.
Teringat putra satu-satunya yang ikut bersama Zena. Chendrik merasa sedikit lega untuk itu, setidaknya keadaan Cheo baik-baik saja. Zena tak akan membiarkannya terluka, dia sangat percaya untuk itu. Adhikari tersenyum, dia hafal betul bagaimana Zena.
"Aku tahu persis seperti apa dirinya. Zena seperti bayangan Yuki, dia tidak akan tinggal diam begitu ada hal yang mencurigakan. Yuki selalu menuruti kata hatinya, dan aku melihat itu pada sosok Zena. Cepat atau lambat gadis itu pasti akan muncul, dan aku tidak tahu apakah itu akan merubah keadaan. Setidaknya kita bisa membantu saat itu terjadi. Aku benar, bukan?" ujar Adhikari sedikit menekan.
Rencana Chendrik sudah dapat dibacanya meski ia sama sekali tidak menunjukkan dalam sikap atau tindakan. Ia tertawa sumbang, menertawakan dirinya sendiri.
"Aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari Anda, Master," ucapnya mengakui.
"Aku yakin jauh dalam hatimu, kau mengharapkan dia datang walaupun kita sama-sama menginginkan dirinya untuk tetap selamat. Akan tetapi, seperti yang aku katakan tadi. Tidak akan ada yang dapat mencegahnya jika dia ingin melakukan sesuatu," sahut Adhikari lagi.
Chendrik mengangkat kepala, mengulas senyum di wajahnya yang penuh memar.
"Aku ingin dia selamat, Master. Agar dapat menjaga Cheo sampai ia dewasa. Terdengar egois memang, tapi itulah yang aku inginkan." Chendrik merenung memikirkan nasib Cheo saat harus tinggal bersama ibu kandungnya.
"Kau mencintainya?" Pertanyaan telak yang langsung menghujam sisi rapuh hatinya.
"Aku tidak tahu, tapi aku ingin selalu di dekatnya. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya, perasaan ini berbeda dari yang aku rasakan saat mencintai Clarissa. Malamku tak pernah nyenyak, makanku tak pernah enak jika saja belum mendengar suaranya ataupun melihat wajahnya. Mungkin ini hanya obsesi, Master. Sebastian lebih mengerti tentang wanita, dia akan memperlakukan Zena dengan lebih baik dari pada aku. Mungkin aku akan mengalah saja," tutur Chendrik.
Mengingat betapa gigihnya sang adik dalam merebut hati Zena, ia tahu Sebastian memiliki rasa yang begitu besar untuknya. Entah kenapa, dia merasa yakin Zena akan lebih bahagia jika bersamanya.
"Kau tidak percaya pada dirimu sendiri? Bagaimana jika Zena justru menjatuhkan pilihannya padamu?" Adhikari berbalik menghadap Chendrik.
"Tunggu, apa kau tidak lelah terus berpura-pura terpasung seperti itu?"
Chendrik termangu mendengar pertanyaan lanjutan dari Adhikari. Selanjutnya, dia tertawa sebelum melepas satu per satu rantai yang membelenggu kedua tangannya.
"Begitu lebih baik," ucap Adhikari lagi sambil mengulas senyum saat Chendrik duduk berhadapan dengannya.
"Bagaimana Anda tahu jika aku dapat melepaskan diri?" Lipatan di antara dua alisnya jelas terlihat. Tersirat kekaguman dalam pancaran matanya pada sosok tua di balik jeruji besi itu.
"Oh, ayolah. Ini markas kita, bahkan aku yakin para prajurit pun dapat dengan mudah melarikan diri dari tahanan ini jika saja mereka tidak mengikut rencanamu," sarkas Adhikari. Gadis bibirnya terangkat semakin tinggi saat wajah Chendrik tak dapat lagi menahan apa yang dia sembunyikan.
Ia tertawa kecil, semakin kagum pada sosok tua yang lebih berpengalaman daripada dirinya itu. Dia memang layak menyandang gelar master, karena kecerdikannya membaca muslihat yang disembunyikan musuh.
"Anda memang luar biasa, Master. Aku masih berharap dapat bertemu dengan sang legenda, tapi ternyata aku memilikinya satu dan tepat berada di depanku. Aku bangga bisa menjadi salah satu bagian dari markas ini," ucap Chendrik sesungguhnya.
"Jangan terlalu berlebihan, kau masih belum melihat kecerdikan sejati dari sang legenda. Kau beruntung jika dapat bersanding dengannya," sahut Adhikari dalam benak membayangkan sosok Zena dengan segala pemikirannya.
"Aku tidak tahu, Zena tidak pernah membalas perasaanku, Master. Aku tidak yakin dia memiliki rasa yang sama seperti yang aku rasakan." Ia menarik napas panjang.
Adhikari menggelengkan kepalanya, seperti seorang Ayah yang sangat mengerti tentang anak perawannya.
"Zena masih tidak tahu apa itu perasaan cinta. Dia hanya bingung dengan apa yang dia rasakan sehingga tidak dapat mengutarakannya lewat sebuah kata. Tidak ada keyakinan dalam hatinya seperti apa itu cinta, yang dia tahu cinta itu apa yang dia berikan dan lakukan untuk menjaga orang-orang terdekatnya. Seperti itu yang aku lihat, kau harus lebih berusaha lagi untuk membuat hati Zena mengenal cinta yang berbeda," terang Adhikari.
Mendengar itu, Chendrik merenung. Mengingat semua tentang Zena, satu demi satu lintasan peristiwa yang dia lalui bersama gadis itu terbayang dalam benak. Semua memang benar, Zena selalu ingin melindungi orang-orang terdekatnya. Terutama Cheo dan Tigris, mereka berdua amat berharga dalam hidupnya hingga siapa saja yang berani menyentuh harus bersiap-siap kehilangan nyawa.
"Anda benar, Master. Dia hanya tidak mengerti tentang hatinya," gumamnya lirih.
"Chendrik, ke mana dua harimau yang dititipkan Zena padamu? Aku yakin dia akan mencari mereka saat datang ke sini," tanya Adhikari teringat Belle dan Tuma.
Seolah-olah diingatkan, Chendrik sedikit tersentak.
"Aku meminta mereka untuk membawa keduanya tinggal di hutan belakang mansion. Semoga saja mereka aman di sana, dan mengerti situasi yang ada," ucap Chendrik dengan helaan napas lega saat mengingat keduanya.
Ia meminta semua orang yang berada di mansion untuk tidak melakukan aktivitas di luar wilayah tersebut. Ia bahkan menempatkan penjaga untuk mengawasi Ibu agar tidak melangkahkan kakinya melewati garis pintu. Semua akan aman jika tak ada satu pun yang keluar masuk wilayah itu.
"Bagaimana dengan Arabella?" Teringat akan mantan petingginya yang berkhianat, Chendrik menggelengkan kepala. Mungkin saja dia bekerjasama dengan para mafia untuk membuat keadaan semakin kacau. Semua tidak dapat diprediksi begitu saja.