Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Drama



Mengapa tidur tak nyenyak? Makan tak enak? Pikiran tak tenang, gelisah tak menentu. Jika tak ingat akan bahaya yang mengintai, maka sudah pasti laki-laki yang uring-uringan di atas ranjang itu sudah terbang menyusul dan mengganggu jalannya acara makan malam antara sang adik dan gadis pujaannya.


"Sial! Kenapa rasanya aku ingin menyusul mereka saja? Aku khawatir Sebastian melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya," gumam Chendrik membayangkan adiknya berbuat mesum terhadap Zena.


Konyol memang, tapi rasa cemburu dalam hati sungguh mengganggu kenyamanan tidurnya. Mengganggu ketenangan waktu istirahatnya. Lidahnya berdecak kesal, ia berguling ke kanan dan kiri di atas ranjang.


Kepalanya berputar menatap jam di dinding, waktu seolah-olah berjalan begitu lambat. Tak seperti biasanya detik itu berlalu dengan begitu cepat. Chendrik beranjak duduk, mengacak rambutnya frustrasi.


"Memikirkan mereka benar-benar membuatku gila," ucapnya sambil menekan-nekan pelipis yang terasa berdenyut.


Chendrik melirik nakas, disambarnya gelas berisi air putih dengan cepat. Menenggak air itu hingga tandas guna mendinginkan hatinya yang memanas. Namun, walaupun gelas itu sudah kosong, tetap saja hatinya bergejolak.


Chendrik melepas semua pakaian berlari ke kamar mandi dan menceburkan diri ke dalam bathtub berendam untuk waktu yang lama. Malam berat yang harus dilalui Chendrik. Ia hampir gila karena tak berhenti memikirkan Zena yang pergi makan malam bersama Sebastian.


*****


"Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan, bukan? Sembunyikan diri kalian di antara semua orang dan jangan sampai mencurigakan. Bertindaklah seperti manusia normal, hilangkan sikap kalian yang selama ini! Jadilah seperti mereka dan awasi dia! Mengerti!"


"Siap, laksanakan!"


Chendrik mengibaskan tangan pada dua puluh orang pilihan, laki-laki dan perempuan, yang akan dikirimnya ke dalam pesta kelulusan sebagai mata-mata termasuk Arabella di dalamnya.


Mereka membubarkan diri, berbekal senjata ringan yang mereka sembunyikan di bagian tertentu anggota tubuh. Mereka bersiap mengawasi Zena, ada rencana usai pesta itu berakhir.


Di tempat lain, kelompok lain pun sedang berkumpul. Di kepalai seseorang yang nampak tegas.


"Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan? Jangan lengah, kita sedang diawasi. Bertindaklah sehalus mungkin, senormal mungkin seperti biasanya. Mengerti!"


"Ya, Ketua!"


Mereka membubarkan diri serentak, berbekal senjata yang juga disembunyikan di dalam pakaian yang mereka gunakan.


Sementara di kediaman Cana, wanita berusia lanjut itu tengah sibuk merias Zena. Gaun berwarna hitam dengan kelap-kelip menghiasi di bagian bawahnya, gaun yang mengekspos bagian dada Zena. Jangan lupa, Zena tak akan mungkin membiarkan asetnya terburai begitu saja.


Disanggulnya rambut Zena tinggi ke atas, sebagian kecil dibiarkan terjuntai di kanan dan kirinya. Ditambah hiasan rambut berupa jepit bunga yang diselipkan pada sanggul.


Anting-anting dengan permata berwarna ruby terpasang menghiasi telinganya. Ada drama panjang saat Zena harus melubangi telinga siang tadi.


"Apa ini, Ibu? Alat apa?" Zena memekik saat dihadapkan dengan sebuah alat yang akan digunakan untuk membuat lubang di telinga.


"Itu hanya alat kecil, sayang. Digunakan untuk membuat lubang di telinga agar kau dapat memakai anting-anting ini," jawab Cena menambah panik Zena.


"Tidak! Kenapa harus dilubangi? Aku tidak mau, pasti rasanya sakit. Aku tidak mau, Ibu!" ucap Zena dengan wajah panik, tapi hal itu justru membuat pemilik toko dan Cana tertawa gemas juga ketiga temannya.


"Tidak akan sakit, sayang. Lihat Tante, kau bisa menghitungnya ada berapa?" Pemilik toko perhiasan menunjukkan deretan anting-anting yang ia gunakan.


Zena membeliak, ia mulai menghitung jumlah anting yang terpasang di telinga laki-laki gemulai itu.


"Astaga! Kau menyakiti diri sendiri sebanyak itu? Apa telingamu tidak kesakitan? Apa dia masih bisa digunakan?" pekik Zena tak percaya.


"Hei, Zena! Itu tidak akan sakit kau tahu, berdarah saja tidak. Lihat, aku dan Sarah bahkan sudah melakukannya sejak lama. Kita sebagai wanita membutuhkannya untuk mempercantik diri. Sudahlah, itu tidak sakit sama sekali," sambar Mirah ikut memperlihatkan telinganya yang sedikit berlubang.


Ben tertawa terpingkal, Zena benar-benar menggemaskan. Hanya membuat lubang di telinga saja takutnya setengah mati. Zena meringis melihat reaksi Ben yang berlebihan.


"Tidak, sayang. Jika sakit mana mungkin seluruh wanita di dunia ini akan melakukannya?" Zena mengernyitkan dahi bingung mendengar penuturan Cana.


"Seluruh dunia?"


"Tentu saja, mereka semua melakukanya untuk mempercantik diri. Jadi, biarkan Tante memberikan jalannya. Kau akan tampak memukau dalam pesta malam nanti," timpal laki-laki gemulai pemilik toko tersebut.


Cana mendekatkan kepala Zena pada pemilik toko tersebut, gadis itu memejamkan mata takut-takut saat tangan si pemilik toko mulai mencari lokasi yang pas untuk membuat lubang.


"Argh!"


Kembali pada dirinya yang berhadapan dengan sebuah cermin.


"Ternyata membuat lubang di telinga tidaklah sakit. Hanya seperti itu saja, kukira akan sakit," gumam Zena menertawakan dirinya sendiri.


"Tentu saja tidak sakit, kau ini. Hanya begitu saja takut, tapi berperang tidak takut," ejek Cana yang berdiri di belakangnya.


Ia mengalungkan perhiasan dengan permata yang sama di leher Zena. Masalah kedua adalah, gaun yang ia kenakan tak berlengan. Protes keras bahkan tak ingin memakainya. Setelah dikenakan, ia memuji dirinya sendiri.


Warna yang kontras dengan kulitnya, nampak lebih bersinar apalagi saat sebuah cahaya menerpa. Zena tersenyum, melihat penampilannya sendiri yang nampak sempurna malam itu. Riasan flawless mahakarya Cana mempercantik wajah yang memang sudah cantik sejak lahir itu.


Zena mengagumi dirinya sendiri, membolak-balik wajah di depan cermin. Sesekali memegangi kalung yang ia kenakan, juga anting-anting yang seumur hidup belum pernah digunakannya.


"Bagaimana, kau suka?" tanya Cana sambil membungkuk di belakang Zena. Tatapan mata wanita itu memuja sodok jelita di balik cermin. Zena terharu, ia berbalik ke belakang dan memeluk Cana.


"Bagaimana Ibu melakukannya? Kenapa aku terlihat begitu berbeda dalam cermin itu?" tanya Zena tak percaya jika yang ada di dalam cermin itu adalah dirinya.


"Kenapa kau seolah-olah tidak mempercayainya? Tentu saja itu kau, sayang. Coba lihat, hanya diberi polesan sedikit make-up saja kau sudah nampak berbeda. Kau cantik sekali, sayang. Rasanya aku tidak rela melepasmu pergi malam ini." Cana memeluknya erat.


Keduanya menghadap cermin, memperhatikan bayangan mereka sendiri. Jika tak ada Cana di sana, mungkin Zena tak akan menganggap gadis di dalam cermin itu adalah dirinya.


"Ya sudah, Ibu kira teman-temanmu sudah datang. Ayo, kita turun!" ajak Cana seraya membantu Zena berdiri.


Satu lagi masalah, sepatu itu. Zena harus bekerja keras untuk dapat mengenakannya. Berhari-hari melatih kakinya hingga ia dapat menyesuaikan langkah saat mengenakannya. Zena benar-benar dijadikan putri malam itu, usahanya selama beberapa hari tidak membuatnya kecewa.


Ia dapat berlenggak-lenggok dengan sepatu itu tanpa takut jatuh. Hanya saja, sedikit rasa pegal ia rasakan pada betisnya, tapi masih bisa ditahan. Cana membawa Zena turun ke lantai satu, semua temannya sudah menunggu. Mereka akan berangkat bersama-sama dalam satu mobil saja.


"ZENA!!"


Mereka menjerit, termasuk Ben yang terperangah oleh gadis yang masih menapak di anak tangga tersebut.



(Sumber : google)


Zena ga pakai mahkota, ya.