
"Zena? Apa yang telah terjadi kemarin?"
Chendrik melangkah ke arah dapur menemui Zena yang sedang menuangkan air ke dalam gelas di dalam sana. Gadis itu menoleh tanpa minat dan terus melanjutkan aktivitasnya.
"Memangnya apa?" tanyanya tak acuh, seraya menuangkan air ke dalam mulut.
"Sebuah video menyebar di media sosial, di dalamnya ada kau tepatnya di jalan perkebunan kota yang sepi. Apa yang terjadi?" Chendrik duduk di bangku, memandang Zena dengan kedua tangan bertaut di atas meja.
Gadis itu tertegun, dua kata aneh yang diucapkan Chendrik terus mengiang di telinga dan mengganggunya.
"Media ... apa? Aku tidak mengerti. Memangnya apa itu?" Sebelah alis Zena terangkat bingung, tangannya menggoyangkan gelas membuat air di dalam sana beriak.
Chendrik tak lekas menyahut, ia memperhatikan wajah lugu Zena yang menatap dengan heran.
"Media sosial itu seperti televisi, menyiarkan berita-berita terkini bahkan yang tak diliput oleh televisi sekalipun kau dapat menemukannya. Termasuk aksimu yang memberi pelajaran pada sekelompok anak di jalanan itu," tutur Chendrik.
Ia harus berpikir mencari istilah sederhana agar Zena dapat mengerti jawaban dari apa yang dia tanyakan.
"Apa aku bisa melihatnya?" Zena merangsek mendekati Chendrik, menempelkan tubuhnya pada laki-laki itu hingga menimbulkan gejolak aneh saat mereka saling bersentuhan. Terutama pada saat sesuatu yang seperti jeli menyenggol lengannya. Chendrik meneguk ludah gugup, peluh hampir saja jatuh dari dahinya.
Zena merebut benda pipih di tangannya tanpa peduli reaksi Chendrik yang panas dingin karena bersentuhan dengan miliknya. Ia menonton dengan dahi mengernyit, seolah-olah sedang menilai.
"Tidak terlalu mencolok, bukan? Aku masih bersikap wajar seperti siswa lainnya. Mereka memang perlu diberi pelajaran, semoga saja setelah ini mereka tak lagi semena-mena terhadap semua siswa di sekolah," ucap Zena seorang diri sambil terus memandangi layar ponsel di depan wajahnya.
Chendrik mendesah, membuang napas yang sempat hilang tak mengisi paru-parunya. Ia menoleh pada gadis yang sibuk berkomentar soal aksi dirinya sendiri.
"Yah, kau benar. Beruntung tidak kebablasan, jika iya maka terbongkar sudah penyamaranmu," katanya sambil membenahi duduknya di depan gadis itu demi mengusir gugup.
"Eh ... Chendrik, boleh aku meminta benda seperti ini? Aku lihat semua siswa memilikinya. Aku memang tidak mengerti, tapi kau bisa mengajariku, bukan?" pinta Zena yang telah duduk di samping laki-laki itu.
Chendrik tersenyum, "Kau boleh membawanya." Zena menoleh dengan mata berkedip-kedip tak percaya.
"Bolehkah? Tapi ini milikmu? Bagaimana denganmu nanti?" Ia memekik tak percaya Chendrik memberikan benda itu padanya begitu saja.
Laki-laki di sampingnya mengeluarkan benda lagi, benda yang sama seperti yang dipegang Zena.
"Aku masih memilikinya, yang itu kau pegang saja dan pelajari," katanya menunjukkan benda tersebut pada Zena.
Gadis lugu itu mengambil ponsel yang baru saja dikeluarkan, membandingkannya dengan benda di tangan. Benda yang sama dengan merk yang sama pula.
"Baiklah. Terima kasih." Zena tersenyum seraya beranjak dari duduk hendak pergi berangkat.
"Hei, kau melupakan sesuatu?!" seru Chendrik yang otomatis membuat langkah Zena terhenti dan langsung berbalik dengan dahi yang berkerut.
"Tidak ada, aku tidak melupakan apapun," katanya bingung.
Chendrik menunjuk pipinya sendiri dengan pelan dan malu-malu. Semakin membuat bingung Zena, detik berikutnya ia tersenyum dan kembali mendatangi tempat laki-laki itu duduk. Sedikit membungkukkan tubuh, mengecup pipi yang ditunjuk Chendrik. Kesan lembut dan basah itu yang ia sukai, bibir Zena yang selalu lembab meski tanpa menggunakan pelembab sekalipun. Ia sangat menyukainya.
"Terima kasih," ucap Zena usai mengecup pipi laki-laki itu. Ia gegas berbalik dan pergi begitu saja sekali lagi tanpa peduli reaksi Chendrik yang memerah. Laki-laki itu mengulum senyum senang, hampir meledak karena bunga-bunga dalam hatinya tak mampu ia tampung.
"Ah, Chendrik ...!" Zena melongo melihat pemandangan tak biasa yang dilakukan laki-laki dingin itu. Matanya berkedip-kedip dengan mulut terbuka sedikit.
Chendrik gegas mematung, ia berdehem menetralkan rasa terkejut karena Zena tiba-tiba datang berbalik.
"Ada apa?" tanyanya dengan wajah bersemu merah. Malu, ia benar-benar malu pada Zena.
"Apa yang kau lakukan tadi? Apa itu sebuah tarian? Boleh aku mempelajarinya? Beberapa siswa membahas soal acara tahunan yang diisi dengan sebuah pesta. Maukah kau mengajariku, Chendrik?" Binar mata Zena bergulir menatapnya.
Kali ini Chendrik yang dibuat termangu, tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Tentu saja, dengan senang hati," katanya sambil tersenyum manis. Lagi-lagi ia ingin meledak.
"Ah, iya. Di mana Cheo? Aku tidak melihatnya, apa dia sudah berangkat?" Zena terlupa tujuannya kembali.
"Benar, dia ada acara pagi di sekolah. Pagi-pagi sekali aku mengantarnya," jawab Chendrik.
"Kau mau aku antar?" Ia berjalan mendekati Zena.
"Apa Hari ini kau sedang tidak ada pekerjaan? Kenapa tiba-tiba mau mengantarku? Aku pergi sendiri saja," sahut Zena melengos cepat saat Chendrik mendekatkan diri padanya.
Teringat kejadian kemarin di mana Chendrik yang sengaja membuat tanda merah di bagian lehernya. Ia tak ingin hal itu terjadi lagi, sehingga akan sulit menutupinya seperti saat ini. Ia harus mengenakan syal untuk menutupi tanda merah ciptaan laki-laki beranak satu itu.
Chendrik menggeleng-gelengkan kepala, sambil menggigit bibir gemas melihat tingkah Zena yang kian hari kian membuat hatinya berbunga-bunga.
"Aku pasti bisa membuat hatinya luluh dan mengerti tentang perasaan cinta. Tunggu saja, Zena. Aku pasti akan mendapatkanmu," gumam Chendrik sambil terus menatap punggung gadis yang berhasil membuatnya tergila-gila itu.
Suara deru motor Zena menggema hingga ke dalam mansion. Ia mengeluarkan benda pipih miliknya, melakukan sesuatu padanya. Entah apa yang dia lakukan, tapi senyum itu terlihat berbeda. Senyum yang dipenuhi cinta, senyum yang telah lama menghilang dan berhasil kembali dengan kehadiran gadis lugu tersebut di mansionnya.
Zena menghentikan laju motor saat sebuah getaran menggangu di saku seragam miliknya. Ia mengambil gawai yang diberikan Chendrik, melihat sebelum memeriksa apa yang membuatnya bergetar. Layar di hadapannya berkedip-kedip, sebuah notifikasi pesan masuk dari Chendrik.
Zena yang bingung harus melakukan apa terhadap benda tersebut, memilih memasukannya ke dalam ransel agar tidak mengganggu. Ia akan belajar kepada Chendrik sepulang sekolah nanti. Selanjutnya, Zena kembali menjalankan kuda besinya menuju sekolah.
Di parkiran, tiga orang temannya telah menunggu. Mereka tersenyum saat melihat motor Zena memasuki area parkir sekolah. Gegas berdiri dan mendekati gadis itu untuk berjalan bersama memasuki gedung sekolah.
"Kalian menungguku?" Zena mengernyitkan dahi bingung. Mereka mengangguk kompak.
"Zena, apa kau tahu? Aksi yang kau lakukan pada kelompok itu kemarin, tersebar di media sosial. Tak hanya itu, kini bahkan sudah menyebar di setiap ponsel siswa di sekolah ini," beritahu Sarah dengan antusias.
"Bukankah itu buruk?" Zena bergumam pelan. Pasalnya, ia tak ingin menjadi terkenal di sekolah tersebut sehingga akan menimbulkan masalah yang tak diinginkan.
"Mungkin, tapi banyak yang memberi tanggapan positif. Terutama dari siswa-siswi yang pernah menjadi korban mereka. Mereka antusias mendukung sikapmu memberi pelajaran," timpal Mirah tak kalah sumringah.
"Benar, Zena. Teman-temanku bahkan banyak yang ingin mengenalmu, tapi tentu saja aku menolak. Cukup aku laki-laki satu-satunya yang menjadi temanmu, bukan begitu?" Ben menaik-turunkan alisnya tengil. Ia terlalu percaya diri.
Namun, Zena hanya mengangkat bahu menanggapinya. Mereka berjalan bersama memasuki area gedung sekolah.
"Oh, jadi ini siswa baru yang bernama Zena?"