Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Pertarungan Terakhir



"Hia!"


"Argh!"


Tubuh kecil Cheo terpelanting jauh, melayang di udara. Melihat itu Tigris melompat untuk menyelamatkannya. Tubuh Cheo terjatuh dan hampir menghantam dinding atap jika saja Tigris tidak datang tepat waktu menjadi penghalang. Sebagai gantinya tubuh hewan itulah yang kemudian membentur dinding. Cheo memuntahkan banyak darah dari mulutnya, hanya satu kali serangan saja dari Hirata.


"Che-cheo! Tigris!" Zena bergumam lirih. Ia mencoba untuk bangkit meski kesusahan. Merayap di lantai atap menghampiri anak yang diasuhnya juga hewan kesayangan.


"Cheo!" Chendrik menggeram.


Laki-laki itu bangkit dengan sisa tenaga yang dimilikinya, berdiri sambil mengepalkan kedua tangan. Chendrik berjalan cepat kemudian berlari meyerang Hirata yang memunggungi. Akan tetapi, laki-laki mafia itu hanya sedikit saja bergerak.


Tenaga yang dikerahkan Chendrik tak memberi pengaruh banyak. Hirata berbalik, wajahnya menghitam dan jelek. Otot-otot di tubuhnya bermunculan ke permukaan, emosi telah memuncak hingga ke ubun-ubun.


Chendrik berdiri tegak bersiap untuk melawan meskipun ia sendiri tahu kondisi tubuhnya. Berlari sambil menerjang, tapi dapat dengan mudah ditangkis Hirata. Chendrik tak berhenti di sana, ia kembali menyerang meksipun terus menambah luka di tubuh.


Adhikari tak tinggal diam, menerjang Hirata membantu Chendrik melawan. Akan tetapi, karena kondisi fisik keduanya yang sudah terluka, tak mampu mengalahkan laki-laki itu. Justru sebaliknya, Hirata melayangkan tendangan tepat di perut Adhikari. Tubuh tua itu terpental jauh dan terseret beberapa meter.


Chendrik masih terus melawannya, menyerang tak tentu arah, setiap gerakan memperlihatkan keputusasaan yang ada di dalam hatinya. Zena meneteskan air mata, ia tidak boleh menyerah. Banyak yang dipertaruhkan di sini, ia mempertaruhkan segalanya dan tidak boleh kalah begitu saja.


Mendengar rintihan Cheo, pandangannya kembali beralih pada sosok kecil yang meringkuk di perut Tigris. Hewan itu berkedip, setetes air jatuh dari pelupuk melihat manusia yang menyelamatkan hidupnya terluka parah.


"Kau lemah, Chendrik!" cibir Hirata setelah berhasil mendaratkan pukulan di wajah pemimpin markas itu.


"Aku tidak peduli, kau harus membayar semua yang telah kau lakukan kepada kota kami!" sahut Chendrik susah payah mengatur napas yang memburu. Wajahnya dipenuhi lebam.


Cairan merah merembes dari sela-sela bibir, ia terlihat payah, tapi belum ingin menyerah. Tak lama suara banyak orang ricuh di bawah sana. Mereka adalah para tentara yang dipimpin komandan militer. Datang untuk membantu markas Mata Elang.


"Orang-orangmu di bawah sana sudah pasti tak akan bisa melarikan diri. Masyarakat sendiri yang akan menghakimi kalian, termasuk kau!" ucap Chendrik sembari mencibirkan bibir meskipun dengan lemah.


"Dan sebelum itu terjadi, kau yang lebih dulu aku hakimi!" Hirata menyeringai, tanpa segan melayangkan tendangan tepat di bagian perut Chendrik.


Tubuh lemah itu terpental jauh, menghantam gerobak meriam sampai ambruk. Ia terbatuk, darah menyembur dari mulutnya. Chendrik sudah tak dapat lagi berdiri.


Hirata berjalan cepat mendatangi tempat Chendrik. Lalu, seseorang datang tiba-tiba mengayunkan sebuah balok kayu menghantam tengkuknya. Ia tersungkur, tapi kakinya cukup kuat tak sampai terjatuh. Kepalanya berbalik, menatap Sebastian dengan geram.


Jenderal muda itu berlari dengan sepotong balok di tangan. Menyerang Hirata dengan sangat kuat. Balok kayu tersebut patah saat ia memukulkannya pada tubuh kekar sang mafia. Seolah-olah memiliki kekebalan tubuh, ia bahkan bergeming dan hanya mengangkat satu tangannya saja untuk menangkis.


Keadaan berbalik, Hirata meraih tangan Sebastian dan meremasnya. Tangannya yang lain melayang menghantam dada sang Jenderal. Tak puas, ia juga menendang tubuh Sebastian hingga terbanting di lantai. Menginjaknya tangannya dengan kuat hingga suara jeritan yang kuat membahana terdengar pilu.


"Bas!" Zena menjerit saat tubuh itu tak lagi bergerak.


Hirata mengambil senjata api, mengarahkannya pada Zena. Gadis itu membeku, kedua matanya merah menyala. Kemarahan memenuhi seluruh hatinya. Suara letusan senjata membuat semua orang menegang.


Peluru itu melayang ke arah Zena, tapi seseorang berlari dan menjadikan dirinya tameng untuk menghalau timah panas itu.


Dash!


Benda itu menembus dadanya, darah menyembur dari mulut, ia terjatuh di hadapan Zena. Terperangah Zena melihat itu, air matanya terus berjatuhan karena ketidakberdayaannya melawan.


"Bella!" lirih suara Zena seraya beringsut mendekati Arabella yang sudah mengorbankan dirinya. Mengangkat kepalanya ke atas pangkuan.


"Bella! Kenapa kau lakukan ini? Kenapa kau bodoh sekali menjadikan dirimu tameng untuk melindungiku," ucap Zena terisak-isak pilu.


Arabella tersenyum sebelum menyahut dengan terbata, "Aku sudah melakukan kesalahan, aku minta maaf, Master. Sekarang, kumohon, jangan sia-siakan pengorbananku. Kau harus bisa mengalahkannya, Master. Aku yakin, kau mampu melakukannya. Sama seperti biasa, kau adalah Master Legenda kami. Ba-bangkit d-dan la-lawan di-dia!"


Arabella terkulai, tak lagi bergerak. Zena meraung, tangisannya pilu terdengar. Membangkitkan kekuatan untuk hewan yang sempat kehilangan tenaga di sana. Tigris ikut meraung, mengaum cukup kuat. Menyambut semangat juang Zena.


Perlahan Cheo meraih samurai milik gadis itu, melemparkan benda itu hingga membuat Zena menghentikan laju tangisnya. Diliriknya benda yang selama ini selalu setia menemani, menggenggamnya seraya mencoba untuk bangkit.


Hirata melempar senjata api di tangan, hanya ada satu peluru di dalam benda tersebut sehingga ia tak dapat menembakkannya lagi.


Dia tersenyum seraya berucap, "Tak kusangka kau masih mampu berdiri. Baiklah, biar aku tuntaskan malam ini jua. Akan aku kirim dirimu menyusul kedua orang tua."


Dia tertawa terbahak, baginya Zena hanyalah sebutir debu yang menempel pada pakaian. Mudah dibersihkan, hanya sekali kibasan tangan saja.


"Kau harus membayar semuanya, Hirata. Semuanya ... nyawa orang tak berdosa yang telah kau renggut, kau harus menebusnya!" geram Zena sembari mengeratkan genggaman tangannya pada gagang samurai.


Ia melirik ke bawah, pada jasad Arabella yang tenang.


"Aku tak akan membuat pengorbananmu sia-sia, Bella. Kita akan sama-sama mengalahkannya. Aku yakin kau ada di sini membantuku," ucap Zena dengan pelan.


Wajahnya terangkat, kedua matanya memancarkan tekad yang kuat. Harapan, keyakinan, keinginan yang kuat memberinya kekuatan baru. Penderitaan, kesakitan, pengorbanan, menambah kekuatan dalam dirinya.


Zena mengayun langkah, mengikis jarak antara dirinya dan Hirata. Langkanya tak lagi goyah, seolah-olah tak pernah terluka. Zena bangkit membawa kekuatan yang terbentuk dari harapan semua orang.


"Kau harus membayar semuanya! Semuanya!" ucap Zena sebelum mengayunkan samurai sambil diam-diam melempar belati kecil ke arah Hirata.


Ayunan samurai Zena hanyalah sebuah pancingan, serangan yang sebenarnya ia fokuskan pada belati yang tanpa disadari Hirata telah menancap cukup dalam di salah satu kakinya.


"Argh!"


"Sial!" umpatnya lagi sembari meraba paha yang terasa ngilu akibat hantaman belati Zena.


Dia bisa menghindari tebasan samurai Zena, tapi tak dapat mengelak dari serangan tersembunyi gadis itu. Zena tak berniat memberinya jeda, sebelum Hirata berhasil mencabut belati itu serangan kembali diluncurkan.


Beruntung, dia mendongak. Melompat ke belakangan mengindari tebasan itu meskipun sambil menahan sakit di bagian kakinya. Hirata menyambar sebuah pedang yang sempat terlempar dari tangannya.


Cepat-cepat mengangkat pedang itu menangkis samurai Zena yang hampir menghantam kepalanya.


Trang!


Krak!


Bunyi besi beradu disusul suara retakan dari salah satunya. Berselang, pedang yang digunakan Hirata patah dan samurai Zena berhasil menggoreskan bahu kanannya.


"Argh!"


Ia kembali melompat mundur sambil melempar sisa pedang di tangannya. Gadis itu tak berucap, terus mendesak Hirata dengan serangan yang mematikan.


Auman Tigris menyambut, hewan itu bangkit dan berdiri di belakang Zena. Menyeringai menampakkan deretan giginya yang tajam, juga taring yang runcing.


Hirata kehilangan fokus sehingga tebasan Zena lagi-lagi mengenai tubuhnya. Sebuah goresan panjang terbentuk dari dada hingga ke perut. Hirata panik, tak tahu apa yang harus ia lakukan, sedangkan Zena terus merangsek sambil mengayunkan samurai di tangannya.


Seolah-olah tak ada pilihan, Hirata melompat dari atap berharap pada nasib baik akan selamat. Tak dinyana, Tigris mengangkat tubuh Zena dan membawanya melompati atap. Menyusul tubuh Hirata yang melayang-layang. Jarak yang cukup dekat untuk Zena memberikan serangan, ia menghujam jantung Hirata dengan samurainya beberapa saat sebelum tubuh mafia itu berdebam di atas tanah.


Disusul Tigris yang mendarat cukup baik dengan Zena di atasnya. Gadis itu melompat dan berjalan menghampiri ketua mafia. Disaksikan para prajurit, penduduk kota Elang, berikut orang-orang Hirata yang masih bernapas.


Zena mencabut samurai dengan kasar, menusukannya lagi ke bagian lain. Suara pekikan Hirata terdengar seperti hewan tercekik. Bayangan Ayahnya yang meninggal, perjuangannya kala menyelamatkan bayi Cheo, para wanita yang diculik, anak-anak yang diambil organ tubuhnya, juga mereka yang terluka, semua melintas dalam benak Zena.


Menjadikannya sebagai sosok sang pencabut nyawa yang tak memiliki pengampunan. Zena mengangkat samurainya lagi, sebelum menusukannya ke tubuh Hirata, ia menatap para penduduk.


"Bunuh mereka semua! Ini perintah dariku sebagai pemimpin tertinggi markas Mata Elang. Jangan biarkan satupun dari mereka hidup!"


Jleb!


Satu hantaman lagi tepat di bagian leher Hirata. Tubuh laki-laki itu menggeliat bagai ulat, lalu diam tak bergerak. Menyusul, tubuh Zena yang jatuh tak sadarkan diri. Sisa mafia pun tak diberi ampun.


"Zena!"