Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Gadis Lemah dan Menyusahkan



Tanpa menunda Sebastian pergi ke desa hulu untuk menemui zena. Bersama beberapa orang rekan yang juga berasal dari kota Elang, mereka bahkan tak membutuhkan waktu untuk beristirahat. Perjalanan terasa singkat, mereka harus menempuh perjalanan selama satu hari satu malam dengan bergantian mengemudi.


Pagi itu, mobil Sebastian tiba di perbatasan desa. Jalanan yang sempit dan hanya cukup satu mobil saja, dengan terpaksa mengurangi kecepatan. Melaju dengan pelan, terkadang menunggu jika ada kendaraan yang melintas di jalan sebaliknya.


Gerbang yang terbuat dari bambu menyambut kedatangan mereka. Melihat mobil asing memasuki kawasan desa, Ciul dan para penduduk menjadi waspada. Mereka berdiri di pintu masuk desa, bersama Zena yang berdiri paling depan.


Mobil berhenti beberapa meter jauhnya dari tempat para penduduk berdiri, seseorang membuka pintu dan berlari dengan segera. Zena menurunkan kewaspadaan setelah melihat siapa yang datang. Sebastian tanpa segan memeluk gadis itu dengan erat. Ciul dan Nira juga para penduduk terbengong karenanya.


Sebastian melepas pelukan, dipandangi wajah Zena yang sudah satu bulan lebih tak ia lihat.


"Kau tidak apa-apa? Kau baik-baik saja?" tanyanya cemas.


Zena mengernyitkan dahi, ia masih dapat melihat tatapan hangat itu di maniknya. Sebastian tidak benar-benar melepasnya. Ia hanya ingin melarikan diri dari kenyataan bahwa dia memang tidak bisa memiliki Zena.


"Aku baik-baik saja? Kau sendiri bagaimana? Dan, apa tujuan kalian berkunjung ke desa ini?" ucap Zena sembari melirik teman-teman Sebastian yang berdiri di dekat mobil mereka.


"Ada yang ingin aku sampaikan padamu," jawab Jenderal itu serius.


Ciul yang merasa asing terhadap mereka juga sempat merasa takut berjalan mendekati Sebastian dan Zena.


"Maaf, jika saya mengganggu, tapi saya perlu tahu Anda siapa dan dari mana juga apa tujuan Anda datang ke desa kami ini?" cecar Ciul berwibawa.


Gayanya tenang dan elegan khas seorang pemimpin.


Sebastian melepaskan tangannya dari bahu Zena, ia menjulurkan tangan kepada Ciul seraya memperkenalkan diri.


"Maafkan saya, dan maafkan kedatangan kami yang tiba-tiba ini. Kami tidak ada maksud apapun datang ke desa ini kecuali ingin bertemu dengan Zena. Saya Sebastian, dan bocah nakal itu adalah keponakan saya," ucap Sebastian sembari menunjuk Cheo yang hanya diam bersama Barry.


Bocah nakal itu tak ada keinginan menyambut kedatangan pamannya sendiri. Ia tetap tak acuh, dan hanya menoleh sekilas saja. Ciul melirik Cheo, ia mengangguk membenarkan Sebastian meskipun enggan menyambut.


"Baiklah, maafkan atas ketidakramahan kami. Mari, Jenderal. Anda bisa berbincang di aula desa kami," ucap Ciul menunjuk sebuah bangunan besar yang terbuat dari papan kayu.


"Terima kasih."


Sebastian mengajak semua temannya untuk mengikuti Ciul dan Zena menuju aula desa. Sekitar empat belas orang yang bersamanya dan mereka semua berseragam tentara dengan logo kota Elang di bagian lengan atas kiri mereka.


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, Bas?" tanya Zena setelah beberapa saat menduduki lantai aula tersebut. Ciul dan beberapa perwakilan desa ikut duduk mendengarkan diskusi mereka karena Zena yang memintanya.


Sebastian menduga Zena tidak mengetahui apapun perihal kota Elang yang diserang para mafia. Dalam hati bertanya-tanya apakah Chendrik tidak memberitahu Zena? Hatinya meragu pasti ada alasan kenapa Chendrik merahasiakan itu dari Zena.


"Bas? Ada apa? Apa yang akan kau katakan berkaitan dengan kota Elang?" selidik Zena.


Dugaannya tidaklah salah melihat mimik wajah Sebastian yang seketika menegang. Selama berhari-hari memikirkan ia menarik kesimpulan bahwa keadaan kota tidaklah baik-baik saja. Sebastian bungkam, ia tak hanya tidak menjawab, tapi juga terlihat gelisah.


"Katakan padaku, keadaan kota tidak baik-baik saja, bukan? Kenapa tidak ada yang mengatakannya padaku?" geram Zena melayangkan tatapan tajam pada teman-teman Sebastian yang duduk berjejer.


"BAS!" bentak Zena.


Suaranya yang ditekan dan dihentakkan secara bersamaan membuat beberapa orang terlonjak kaget.


"Ze-zena, apa Kakak tidak memberitahumu?" tanya Sebastian gugup.


"Chendrik? Dia memang tidak mengatakan apapun tentang kota Elang, tapi dia mengirimkan burungku dan memintaku untuk tidak kembali. Aku tahu pasti terjadi sesuatu di kota. Hanya katakan saja apa yang sedang terjadi di kota, Bas!" ucap Zena sembari menilik riak wajah Sebastian yang terus mengucurkan keringat.


"Dia hanya seorang perempuan, tapi bergaya seperti komandan. Kenapa Jenderal seperti takut sekali padanya," gerutu salah seorang teman Sebastian sambil mencibirkan bibirnya.


"Benar, perempuan hanya tahu berdandan dan belanja saja. Mereka tidak tahu menahu tentang perang dan kedamaian dunia. Jauh-jauh kita meninggalkan tugas ke desa ini hanya untuk bertemu dengan seorang gadis," sahut yang lain. Terdengar kekehan kecil dari arah mereka.


"Diam! Bisakah kalian bersikap hormat padanya? Atau setidaknya tutup mulut kalian dan jangan katakan hal-hal yang merendahkan dirinya!" hardik Sebastian tak senang.


Bukan karena takut Zena akan mengamuk, tapi hatinya benar-benar tidak senang saat ada yang mencibir Zena.


"Kenapa, Jenderal? Yang kami katakan ini benar, bukan? Perempuan hanya bisanya menyusahkan saja, mereka selalu menjadi beban untuk kita saat peperangan terjadi. Untuk apa kita menghormati perempuan yang jelas-jelas lemah dan tak berdaya jika dihadapkan dengan bahaya?" timpal salah satunya semakin berani.


Para penduduk bahkan menahan napas mereka mendengar ada yang berani menghina pahlawan mereka seperti itu. Ciul menggeram, kedua tangannya terkepal erat, ingin ia mengusir mereka dari desanya itu, tapi mengingat Sebastian begitu dekat dengan Zena jadilah ia menahan diri.


"Maaf, Tuan-tuan, seingat saya kita tidak boleh memandang sesuatu hanya dari luarnya saja. Mungkin Tuan-tuan ini belum mengenal siapa Zena sehingga bisa berbicara seperti itu. Jadi, jika kalian masih ingin ada di sini, hanya diam dan dengarkan saja," pinta Ciul bijaksana.


Mereka berdecih bahkan ada yang mendengus tak senang mendengar penuturan sang kepala desa.


"Siapapun bisa melihat, dia hanyalah seorang gadis lemah," gerutu mereka yang masih dapat didengar Zena meskipun lirih.


Zena melirik tajam, hatinya yang kesal kian bergejolak mendengar gerutuan beberapa laki-laki berseragam itu. Sementara Sebastian semakin merasa tak enak hati melihat urat-urat kekesalan bermunculan di pelipis dan leher Zena.


"Tigris!"


"Roarrr!"


Panggilan pelan Zena mendatangkan hewan bertubuh besar itu. Tigris melompati pembatas aula dan mendaratkan di belakang Zena. Laki-laki tadi terperangah, wajah mereka memucat seketika. Bibir berkedut, kedua mata membelalak lebar. Tubuh mereka menggigil hebat.


"Jika kau mendengar mereka menghina Ibu, kau boleh memakannya," ucap Zena penuh penekanan.


Tigris menjawab perintah Zena dengan geraman kecil, hewan itu menyeringai menampakkan taringnya yang tajam. Kuku-kuku tangan dan kakinya mencuat keluar, semakin membuat tubuh mereka gemetar. Berkali-kali meneguk saliva dengan susah payah karena sesuatu mencekat tenggorokan mereka.


Tak ada lagi yang berani bersuara, mereka semua bungkam. Gadis yang mereka sebut manja dan lemah itu, nyatanya memiliki hewan besar yang kapan saja bisa menjadikan diri mereka daging cincang.


"Jadi, apa yang terjadi dengan kota Elang?" Zena melanjutkan pembahasan.