Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Sahabat



"Terus maju!" teriak Zena memberi isyarat dengan mempercepat laju motornya.


"Zena, aku takut!" lirih Sarah sembari mengeratkan pelukan pada tubuh Zena.


"Tenang, Sarah. Kau harus tenang, aku tak akan membiarkan mereka menyakitimu," ucap gadis itu tanpa sadar.


Zena mendesah dikala pakaian bagian punggungnya telah basah oleh air mata Sarah. Mereka terus melaju berharap segera meninggalkan jalanan sepi itu. Namun, mobil-mobil mereka melesat bagai kilat, menyusul rombongan Zena dan mendahului.


Ciiitttt!


Ban mobil mereka berdecit sambil berputar berhadapan dengan rombongan Zena yang juga ikut berhenti. Zena memicing dari balik helm yang menutupi wajahnya. Getar di punggung semakin terasa, juga pegangan di pinggang membuatnya sedikit sesak.


"Kau membuatku sesak, Sarah," bisik Zena sambil menahan napas.


"Ma-maaf." Sarah mengendurkan pegangan tangannya, berganti dengan jemari yang mencengkeram pakaian Zena.


Di dalam sebuah semak, sepasang mata mengintai, mengawasi dan menunggu apa yang akan dilakukan para remaja itu terhadap Zena.


"Apa yang akan mereka lakukan pada gadis itu? Cari mati!" gumamnya sambil mencibirkan bibir meremehkan sekelompok orang yang menjegal perjalanan Zena.


Mirah keluar dari mobil, berjalan pelan menghampiri motor Zena dan berdiri di sisi kirinya. Ben, juga turun dari motor dan berdiri di sisi lainnya. Sementara, Sarah masih duduk di belakang Zena dengan tubuhnya yang gemetar.


Yakinlah, Sarah. Mirah benar, jika kita bersama-sama mereka tak akan mungkin berbuat lebih. Dia temanku, Zena sahabatku.


Usai bergelut dengan hatinya, Sarah memberanikan diri turun dari motor Zena. Gadis itu mengernyit, sedikit mendesah, tapi membiarkan mereka bertindak sesuai kehendak.


Kelompok yang menamai diri mereka sebagai macan putih, satu per satu beranjak keluar dari mobil dengan wajah sangar mereka. Kali ini, bertambah lagi satu orang yang berbadan besar dan tinggi. Seorang laki-laki yang usianya di atas mereka.


Ben meneguk ludah takut, tanpa sadar mencengkeram motor Zena menekan rasa takutnya. Zena tersenyum tipis, meskipun takut mereka tetap berdiri membelanya. Di sisi lain, Mirah sama sekali tak gentar. Di antara mereka dialah yang paling berani dan ingin terbebas dari bayang-bayang kelompok macan putih itu.


Zena membangga dalam diri, tersenyum kagum pada sosoknya yang tetap berdiri tegak sekalipun keringat telah rembes di lehernya. Berbeda dengan Mirah, Sarah lebih merapat pada motor Zena. Dialah yang paling lemah di antara mereka.


Prok-prok-prok!


Suara tepuk tangan bercampur dengan ketukan sepatu yang mereka kenakan. Kelompok yang dipimpin laki-laki bertubuh besar itu berjalan mendekat ke arah mereka. Mengintimidasi Zena dan kelompoknya.


"Hebat! Untuk seukuran orang lemah seperti kalian, kalian mau melawan kami," katanya dengan seringai di bibir. Zena melirik Mirah, ia kedapatan meneguk ludah mungkin nyalinya semakin menciut, tapi dia tak ingin menyerah.


"Untuk apa kami takut?" Zena menimpali sembari membuka helm yang menutupi wajah lugunya. Mata itu, selalu membuat orang berpikir dia hanya gadis lemah dan lugu.


Zena tersenyum jenaka, mengedipkan matanya dengan gemas. Ben melirik, ia berkeringat melihat Zena yang masih tetap tenang meskipun tekanan mereka terima.


Mirah dan Sarah ikut melihat Zena, seketika hati mereka menguat melihat sikap tenang Zena. Benar, Zena saja yang mereka incar bisa bersikap setenang itu. Begitu pikir mereka.


"Oh, gadis kecil kau sudah mengundang malaikat mautmu sendiri," ucapnya sambil berkacak pinggang menuding Zena.


Gadis itu ternganga, selanjutnya terkekeh kecil sambil menutupi mulutnya.


"Baiklah, Kakak. Adik kecil ini meminta maaf dan berjanji tak akan melakukan kesalahan lagi apalagi menyinggung Kakak semua. Maafkan aku," ungkap Zena memelas.


Bibirnya tersenyum, tapi sayang sorot matanya tajam dan mengancam. Seolah-olah berbicara 'jangan macam-macam denganku jika ingin selamat'.'


Si pemimpin melihat itu, dan tentu saja tidak senang. Wajahnya menghitam, kepulan asap membumbung tipis di kepalanya juga di tujuh lubang pada wajahnya. Seperti itu mungkin gambaran yang dilihat Zena saking marahnya dia.


"Kurang ajar! Dia menantang kita. Seret dia dari atas motornya! Aku ingin memberinya pelajaran," titahnya pada keempat kelompok macan putih yang berdiri di belakangnya.


"Sialan! Kau benar-benar cari mati!" geramnya. Urat-urat di wajahnya mengeras karena tersulut sikap Zena.


"Mari kita buktikan, siapa yang cari mati di antara kita?" Zena berdiri di atas motor, wibawa dan karismanya menguar saat ia berdiri tegak di sana dengan kedua tangan tersimpan di belakang tubuh.


Rambutnya yang diikat tinggi berkibar saat angin menerpa. Memperlihatkan wajah tegas Zena sebagai pemimpin tertinggi dari markas besar. Seseorang di dalam semak, memandang takjub dan berbinar terpesona sosoknya. Dia cantik!


Namun, laki-laki bertubuh besar itu, merasa tertantang. Keempat lainnya juga tak gentar melihat perubahan Zena, tapi ketiga temannya mulai berpikir Zena hanya menakuti mereka dengan berpura-pura berani dan menjadi kuat.


Mirah menggeleng disaat ekor mata Zena melirik. Diikuti Sarah yang sudah meneteskan air matanya memohon. Namun, Zena tetaplah Zena, sisi liarnya sudah dibangkitkan dan harus dituntaskan. Ia melompat turun dan berdiri tegak di depan motornya.


"Zena!" Gadis itu hanya diam mematung, ketiga orang bersamanya gegas bergerak ke hadapan Zena menjadikan diri mereka tameng saat kelima orang di hadapan mereka bergerak mendekati.


"Oh, jadi kalian mau melindungi gadis itu?" Mereka tertawa meremehkan, "lihat, kaki kalian saja gemetar bagaimana bisa kalian melindunginya? Menyingkir jika kalian ingin selamat!" sambungnya menatap ketiga orang yang berdiri sambil berpegangan tangan di depan Zena.


"Dengan kalian melakukan itu sudah membuktikan bahwa dia memang lemah!" Mereka kembali tertawa, Zena tersenyum tipis dengan sikapnya yang setenang air.


"Jangan harap kalian akan bisa menyakitinya tanpa melewati kami. Dia sudah meminta maaf, apa kalian tuli! Kenapa masih saja ingin menyakitinya?!" sentak Mirah meskipun dengan suara yang bergetar.


Bola mata Zena bergulir melirik gadis yang membelanya dengan berani. Itulah guna sahabat, bahu-membahu saling membantu disaat yang lain sedang menghadapi masalah meskipun takut.


"Kalian hanya orang-orang lemah. Cepat singkirkan mereka agar aku bisa menyeretnya!" perintahnya lagi dengan geram. Gegas keempat gadis itu berjalan cepat dan menarik mereka paksa. Memisahkan mereka satu dengan yang lainnya, termasuk Ben yang tak memiliki bekal bela diri sama sekali.


Mereka terhempas dengan mudah menabrak apa saja. Sarah menangis, Mirah meringis, Ben memegangi bokongnya yang menghantam badan motornya sendiri hingga terguling.


Hanya menyisakan Zena yang masih berdiri tegak di sana. Tenang setenang air mengalir, matanya yang sipit sama sekali tak terlihat rasa takut di dalamnya.


"Kau menang berani! Aku kagum padamu meskipun sangat menyayangkan sikapmu yang terlalu angkuh," ucapnya sambil berjalan mendekat.


Kini Zena dikelilingi kelima orang itu, tetap saja ia tidak merasa tertekan. Masih berdiri dengan tegak, menapak dengan kokoh.


"Aku sudah meminta maaf pada kalian, apalagi?" ucap Zena berharap mereka akan berhenti.


"Maaf? Tiada maaf bagimu, tapi baiklah. Aku akan memaafkanmu jika kau bersedia untuk bersujud di bawah kakiku!" ejek laki-laki itu sambil menuding bawah kakinya yang dibalut sepatu kotor.


Zena hanya melirik, ia terkekeh hingga membuat bahunya berguncang. Mereka mengernyit.


"Siapa yang sudi? Kalian sudah berani mengusik ketenanganku maka, jangan salahkan aku jika kalian menderita setelah ini," ucap Zena.


Salah satu sudut bibirnya terangkat, dia pantas sombong di hadapan sekelompok orang lemah itu.


"Sombong!" Ia melayang tinju ke arah wajah gadis itu.


"Zena!" Ketiga orang temannya memekik cemas.


Namun, mereka membelalak saat melihat Zena menangkap kepalan tangan itu.


"Kesombongan adalah awal dari segala kemenangan. Kepercayaan diri yang kuat juga keyakinan selalu menjadi senjata ampuh untuk melawan para pengecut."


Bugh!


Ia terjengkang saat Zena melayangkan pukulan di ulu hatinya. Maka perkelahian tak terelakan.