Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Bertemu



Napasnya memburu, matanya memicing tajam, rahangnya mengeras, kedua tangannya terkepal erat. Dalam dada bergejolak, bergemuruh hebat, laksana serbuan tornado yang kapan saja siap meluluhlantakkan peradaban.


Zena melirik ke samping tubuh saat suara langkah terdengar mengetuk lantai, gegas ia mendudukkan mayat laki-laki kerdil tadi, membuatnya seolah-olah menunduk, sedangkan ia bersembunyi di balik sebuah lemari buku, mendengarkan.


Pintu berderit dibuka seseorang, ketukan langkahnya semakin dekat. Sepertinya ia belum menyadari jika orang di dalam ruangan tersebut sudah tidak bernyawa.


"Aku berhasil menangkap mereka berdua lagi. Mereka pikir akan mudah melarikan diri dariku? Aku akan menggunakan mereka untuk mengancam para penduduk di bawah sana agar mereka mundur," ungkapnya seraya duduk di sudut meja kerja yang berseberangan dengan mayat laki-laki kerdil itu.


Bunyi aliran air yang dituangkan ke dalam gelas terdengar cukup nyaring di telinga Zena. Gadis itu bergeming fokus mendengarkan apa yang dia bicarakan. Menyusul suara hentakan gelas pada meja turut mengisi ruangan.


"Apa kau tahu? Mereka aku ikat di sebuah tiang di atas atap. Tunggu beberapa saat lagi, aku akan menggunakan laki-laki tua dan pemimpin markas itu sebagai sandera. Kira-kira apa yang akan mereka lakukan? Aku yakin mereka pasti akan menyerah," lanjutnya lagi seraya meneguk minuman yang dia tuangkan ke gelas.


Namun, ia berhenti menenggak minuman tersebut, tatkala merasakan sebuah keanehan. Lawan bicaranya tak menyahut sepatah kata pun, biasanya dia akan banyak bicara atau tertawa setelah mendengar ucapannya. Akan tetapi, kali ini tidak. Jangankan menyahut, bergerak saja tidak.


"Hei, kau mendengarku?" Lipatan di kedua alisnya semakin jelas terlihat.


Ia bangkit dan perlahan mendekati sosok yang tengah duduk menunduk membelakangi dirinya. Betapa terkejutnya ia, begitu berada di dekatnya, sosok itu tak lagi memiliki kepala dan dari pangkuannya jatuh sebutir benda bulat yang menggelinding dan berhenti tepat di ujung sepatunya.


Seluruh tubuhnya bergetar, matanya melotot lebar. Mulut terbuka dan berkedut-kedut. Air mata jatuh tanpa komando. Ia berdebam di atas lantai dengan posisi berlutut. Diraihnya kepala itu dan dipeluknya dengan erat. Suara raungan terdengar memilukan. Bertambah pilu karena dia hanya sendirian di dalam ruangan tersebut.


"Siapa yang sudah berani melakukan ini? Lihat saja, aku akan memenggal kepalanya dan mencincangnya kecil-kecil. Biadab!" ucapnya seorang diri.


Ancaman yang tak main-main, ia membawa kepala itu dan meletakannya di atas meja. Lalu, mengangkat tubuh kakunya dan menempatkan bersama dengan kepala tadi. Ia berdiri di dekat kepala laki-laki kerdil yang telah menjadi mayat itu, mengusap-usap rambutnya dengan pelan seolah-olah dia hanyalah seorang anak kecil yang tak berdosa.


"Adik, kau tenang saja. Aku akan menemukan pembunuhmu dan akan aku cincang tubuhnya. Akan aku persembahkan kepalanya untukmu. Kau tenang saja, kau tidak akan pergi sendirian," ucapnya sembari memicingkan mata serius.


Dia berjalan keluar setelah selesai dengan ucapannya. Tak lupa menyambar sebuah senjata untuk dibawa. Tujuannya keluar adalah untuk mengancam mereka yang menyerang markas. Menggunakan Chendrik dan Adhikari yang dijadikan sandera, mereka semua harus pergi meninggalkan markas.


Zena perlahan muncul, ia tak tahu siapa laki-laki tadi. Untuk itu tetap berdiam diri menahan gejolak dalam hati. Langkahnya ringan melayang menyusul laki-laki lewat arah yang berbeda. Bersembunyi di dahan pohon menunggu apa yang akan dilakukan laki-laki tadi.


"Angkat tubuh kedua orang itu. Aku ingin melihat apakah mereka akan terus menyerang?" perintahnya pada dua orang bertubuh kekar yang menjaga tawanan.


Keduanya mengangkat tiang penyangga, pada tiang itu tubuh Chendrik dan Adhikari terikat tanpa dapat berkutik. Mulut keduanya disumpal kain sehingga tak ada suara yang keluar darinya. Mata mereka bahkan ditutup kain, seperti seorang penjahat yang akan dieksekusi di hadapan semua orang.


Melihat itu sontak para penduduk dan dua pasukan Chendrik menghentikan serangan, menyebabkan mereka menjadi kalah. Para mafia mengacungkan senjata pada mereka, tanpa perintah semua orang menjatuhkan senjata masing-masing.


"Kalian hanyalah sekumpulan orang-orang lemah, seharusnya kalian tetap di rumah tidur nyenyak tanpa harus terlibat dalam perang yang tak perlu ini," ucap Hirata dengan lantang. Ia berdiri angkuh di samping tubuh Chendrik.


"Jika kalian kembali, maka akan aku bebaskan mereka berdua, tapi jika kalian tetap ingin berada di sini dan menyerang maka aku tak akan segan menjatuhkan mereka dari atas atap ini!" ancam Hirata lagi semakin membuat hati mereka meragu dan takut.


Melihat keragu-raguan di wajah semua pasukannya, Zena tak akan mundur meskipun harus berjuang sendirian. Masih banyak pasukan yang tak terlihat, artinya pasukan yang ditawan mafia masih berada di dalam markas tersebut. Zena mengangkat busur, memasang dua anak panah sekaligus.


Dua laki-laki bertubuh besar itu targetnya. Ia melepas anak panah dari busurnya, keduanya melesat dengan cepat dan tak terlihat.


Jleb!


Jleb!


"Argh!"


"Tepat sasaran!"


Dua laki-laki bertubuh besar itu memegangi anak panah yang menancap tepat di bagian dada dirinya. Cukup dalam karena Zena mengerahkan banyak tenaga untuk dapat menembus daging tebal keduanya.


Hirata terperangah terlebih saat keduanya jatuh terkapar, kemudian diam tak berkutik. Ia mendongak, mengedarkan pandangan ke segala arah mencari sosok yang melesatkan anak panah tadi.


"Mencariku, Tuan Hirata?" tanya Zena dengan suara yang menggema di kesunyian malam.


Ia menoleh dan mendapati sesosok tubuh ramping dengan busur di genggaman. Rambutnya yang diikat tinggi-tinggi, bergoyang karena tertiup angin. Dengan hanya melihat itu dia tahu bahwa yang berdiri di sana adalah seorang wanita.


"Siapa kau?" tanya Hirata tetap terdengar tegas meskipun terkejut karena kemunculan Zena yang misterius.


"Siapa aku? Pentingkah?"


Zena mulai melangkah, lalu melompat dari pagar markas ke salah satu atap bangunan. Aksi yang mengejutkan semua orang. Ia terus melangkah semakin dekat, dilemparnya busur di tangan, juga tabung yang menyampir di punggung.


Zena menarik samurai di pinggang, terus melangkah tanpa rasa gentar. Sesekali angin akan menerbangkan rambutnya. Sosoknya belumlah terlihat karena keadaan atap yang gelap. Hirata penasaran seperti apa rupa gadis misterius itu.


Tanpa terduga, Zena melayangkan belati kecil tak terlihat. Melepas ikatan yang melilit tubuh Adhikari. Hirata mundur, serangan yang dilakukan Zena sama sekali tidak tertangkap matanya. Ikatan di tubuh Adhikari terlepas, ia membuka sumpal di mulut, juga penutup mata.


"Sudah aku katakan dia akan datang," ucapnya seraya melirik ke arah Hirata yang bergeming tanpa melakukan apapun. Sayang, kondisi Adhikari sangatlah lemah, akibat hantaman di kepalanya. Ia bergegas melepaskan Chendrik, kondisi sang pemimpin jauh lebih parah.


"Aku menantangmu untuk berduel!"