
Suasana suram dalam ruangan itu, kian mencekam tatkala hembusan angin menerbangkan bau bangkai memenuhi ruangan. Urat-urat di tubuh Zena menegang, genggaman jemarinya pada samurai mengerat, amarah bergejolak melihat kenyataan yang tidak manusiawi dilakukan oleh William dan orang-orangnya.
"M-master ... ban-tu-an ... da-tang ...." gumam mereka terbata dan lirih. Darah yang mengering di sekujur tubuh tanpa busana mereka itu benar-benar menyulut api dalam diri Zena.
Hanya bagian bawah saja yang dibiarkan tertutup, sisanya memperlihatkan luka bekas cambukan dan sabetan senjata tajam di sekujur tubuh itu bahkan rambut-rambut mereka berserakan di lantai. Sebagian ada yang memiliki luka bakar, juga kulit mereka terkelupas. Kejam!
"Bedebah!"
Zena menggeram sambil mengayunkan samurai di tangan menebas leher William. Satu kali tebasan, kepala laki-laki bermata biru itu terlepas dari tubuhnya.
"Roaarrr!" Auman Tigris menyambut menambah cekam keadaan.
"Argh!" Laila menjerit menutup mulut, mundur hingga jatuh terjerembab di lantai berbau segala rupa itu. Kedua lututnya lemas, ia menangis histeris melihat saudaranya mati mengenaskan.
"Kau bukan manusia! Kau iblis!" umpat Laila menjerit kuat. Ia kembali berteriak mengumpati Zena.
Gadis bersamurai itu menoleh ke samping tubuh, melirik tajam Laila yang terus mengumpatinya. Zena berbalik, melangkah sambil menyeret samurai. Suara gesekan antara ujung benda tajam itu dengan lantai menebarkan ancaman kematian.
Para prajurit yang tertawan meneguk ludah mereka gugup. Benar, itulah master mereka yang selama ini menyembunyikan identitasnya. Bertingkah selayaknya gadis polos dan lugu, nyatanya ia seseorang yang kejam dan tak berbelas kasih.
Anak laki-laki yang duduk di atas hewan besar itu pun tak berkutik, ia tetap berwajah datar dan dingin seolah-olah pemandangan itu sudah biasa ia jumpai. Cheo, memandang tajam mayat William, tak ada belas kasih apalagi ketakutan yang terpancar di wajah lugunya.
Laila termundur, tubuhnya gemetar ketakutan. Melirik bergantian wajah Zena dan samurai di tangannya. Wajah dingin itu semakin terlihat mengancam dengan percikan darah yang memenuhinya.
Ia berjongkok, mencengkeram dagu Laila dengan amarah tertahan. Mata mereka beradu, membuat nyali Laila menciut. Keringat kasar bermunculan dan jatuh mengenai tangan Zena.
"Kau bilang aku kejam? Kau bilang aku ini iblis? Lalu, sebutan apa yang pantas untuk kalian yang sudah memperlakukan prajuritku sedemikian rupa. Kalian biarkan mereka kelaparan, kalian biarkan mayat mereka membusuk di hadapan rekan-rekannya. Binatang! Kelakuan kalian seperti binatang!" Zena menghempaskan dagu runcing Laila, membuat kepalanya terbanting kasar ke samping.
Ia meringis, menjerit tertahan saat Zena menarik rambut panjangnya dengan kasar.
"Apa yang kalian lakukan lebih kejam daripada pembalasanku. Kalian culik para gadis, kalian sekap mereka, kalian jadikan mainan boneka. Para biadab itu bahkan menjadikan mereka sebagai tempat pelampiasan nafsu! Kalian benar-benar binatang!" Zena kembali membanting kepala Laila hampir-hampir terbentur lantai.
Gadis itu menjerit histeris, menangis ketakutan. Zena beranjak membuka tali yang melilit sisa prajurit yang masih bernapas. Menunggu bantuan datang, ia tahu bahwa elang itu pergi ke markas memberitahu pasukan di sana.
Tak lama menunggu, derap langkah yang banyak mengetuk villa tersebut. Laila sempat sumringah, ia pikir itu bantuan untuknya, tapi melihat Zena yang biasa saja membuat pikiran itu raib entah ke mana. Ketakutan itu datang lagi menyergap hatinya.
Derap langkah semakin mendekat, Laila meringkuk di pojokan.
"Kenapa kau tidak membunuhku juga! Kenapa kau membiarkan aku hidup! Bunuh aku! Bunuh saja aku!" teriak Laila mengangkat sebentar kepalanya menatap Zena yang sedang membersihkan samurai.
Senyum smirk tercetak di bibir Zena, ia mengangkat samurai, menghunuskan benda tersebut lurus ke depan. Ujung matanya yang berkilat karena terpaan cahaya lampu, membuat Laila bungkam tak berkutik.
"Aku tak akan membunuhmu. Aku membutuhkan informasi darimu mengenai semua hal yang kelompokmu lakukan," sahut Zena pelan kembali menurunkan samurainya.
Laila menunduk memeluk lutut, menangis pilu meratapi nasibnya yang tak tentu. Apa yang akan terjadi padanya setelah ini.
"Bebaskan mereka semua dan bawa ke markas sekarang juga!" titahnya pada pasukan.
"Siap, Master!" Mereka berhambur membantu pasukan yang masih bernapas meski dalam keadaan lemah dan tak berdaya.
Chendrik mengedarkan pandangan, menatap sendu kelima mayat pasukannya. Bau bangkai itu berasal dari mereka. Pandanganya berubah saat terjatuh pada mayat William yang tanpa kepala. Dalam hati mengumpat, pasti gadis itu yang melakukannya. Dia benar-benar tak memberi ampun mereka. Chendrik mendatangi Zena, gurat cemas nampak jelas di wajahnya.
"Zena, kau tak apa? Kenapa kau melakukan penyerangan tanpa membawa pasukan?" bentak Chendrik meluapkan kepanikannya pada gadis itu.
"Aku membawa pasukanku sendiri, Chendrik. Kenapa kau begitu mencemaskan aku? Lihat di sana, anakmu yang gagah perkasa ikut berperang bersamaku!" sahut Zena jengah.
"Cheo!" Chendrik berbalik, ia tak melihat anak itu tadi saat memasuki ruangan.
Bocah itu sedang duduk santai di atas punggung Tigris dengan pakaian yang dilumuri darah. Ia menyeringai saat bersitatap dengan ayahnya itu. Chendrik kehabisan kata untuk berucap, ia memijit pelipisnya pening. Sulit sekali mengatur anak itu untuk tetap di rumah dan tidak terlibat hal berbahaya seperti ini. Namun, pengalaman di dunia luar bersama Zena sudah mendarah daging dalam dirinya.
Ia menyukai tantangan, ia menyukai hal-hal yang membahayakan dirinya.
"Bawa serta dia! Aku membutuhkan dirinya untuk menggali informasi tentang para mafia yang berulah," titah Zena menunjuk Laila yang masih menangis di sudut ruangan.
"Kuburkan juga mayat rekan kalian dan satukan mayat penjahat ini dengan yang lainnya. Bakar tempat ini agar tak lagi ada yang mendatanginya!" Perintah lanjutan dari Zena membuat Laila meronta.
"Jangan bakar William, kumohon kuburkan saja dia. Jangan bakar jasadnya!" mohon Laila, memandang Zena dengan wajahnya yang basah.
"Mengapa tidak kau kuburkan saja sendiri? Galilah tanah itu sendiri dan kuburkan saudaramu!" ucap Zena tanpa perasaan.
Laila menggeleng, untuk dapat melakukan itu ia tak sanggup melakukannya. Pada akhirnya, merelakan diri dibawa pasukan Chendrik menjadi tawanan di markas.
"Kau sudah bertemu dengan para gadis? Apa mereka sudah diselamatkan dari tempat ini?" tanya Zena teringat pada semua gadis yang baru saja ia selamatkan.
"Sudah, kau jangan risau. Sebaiknya kita pulang sebelum fajar, bersihkan dirimu yang berlumur darah itu!" ucap Chendrik seraya beranjak mendekati Cheo dan menggendong bocah itu.
"Kenapa kau selalu nekat menceburkan diri dalam situasi berbahaya seperti ini?" Chendrik memandang wajah sang putra yang berada dalam gendongan.
"Aku tidak bisa membiarkan Kakak berperang sendirian. Lagipula, jika aku meminta izin Ayah, sudah pasti Ayah tak akan memberiku izin," timpal Cheo enteng. Chendrik menghela napas. Cheo tersenyum pada Zena saat gadis itu melambaikan tangan.
Zena beranjak, berjalan berdampingan bersama Tigris menuju motor yang ia parkir. Iring-iringan mobil markas besar itu keluar kawasan villa memenuhi jalanan. Mengusik ketentraman waktu dinihari di tempat tersebut.
Boom!
Dentuman besar mengguncang bumi, tak lama api menyembur membakar villa tersebut berikut para mayat di dalamnya.
Desa yang dianggap mati itu, seketika menyala terang benderang. Para penduduk banyak yang membuka tirai mengintip mobil-mobil yang berarak di jalanan. Zena berada di tengah mereka, Chendrik tidak membiarkan para penduduk melihat keadaannya yang berlumur darah.