Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Kejutan II



"Kenapa mereka terus melihat ke arah kita?" gumam Mirah saat menyadari ketiga orang di atas podium itu menatap ke arah kelompoknya.


"Tunggu! Mereka bukan melihat ke arah kita, tapi ...." Ben menimpali seraya memalingkan wajah pada Zena yang terus menunduk diikuti Sarah dan Mirah yang juga menyadari ke mana arah pandang ketiga orang itu.


"Zena?" Serentak ketiganya memanggil.


"Mmm?" Zena menoleh tanpa mengangkat kepalanya, "ada apa?" tanyanya bingung saat ketiga orang itu melihat ke arahnya.


Mirah menggerakkan kepala sambil berkedip memberi isyarat kepada Zena agar menoleh ke arah yang ia tunjuk. Zena mengangkat wajah, tanpa sadar meneguk ludah saat kedua guru laki-laki di podium menatap ke arahnya. Juga keempat macan putih yang memicing penuh benci.


Sialan, kalian. Kenapa menatapku terus menerus? Kalian bisa membuat mereka semakin curiga padaku.


Zena menggeram dalam hati, tak sadar rahangnya mengeras hingga gemeratak gigi terdengar samar.


"Zena, kau mengenal mereka?"


"Eh?" Zena terhenyak saat suara Mirah berbisik di telinga. Ia menoleh lantas menggelengkan kepala berpura-pura tak mengenal laki-laki yang berdiri di atas podium.


"Yang tengah itu adalah pemimpin markas besar, Mata Elang. Mata-mata terhebat di kota ini. Kudengar dia duda beranak satu, tapi meskipun begitu dia tetap tampan dan gagah," cerocos Mirah dengan matanya yang terpejam menghayalkan sesuatu.


Zena mencibir, entah kenapa melihat Mirah yang seperti mendamba Chendrik membuat Zena bergidik ngeri.


Oh, binatang buas, lihat ini wanita pemujamu! Mengerikan.


"Siapa namanya, ya?" Ben berpikir.


"Chendrik, panjangnya Chendrik Crescentio," sahut Sarah jumawa.


"Ugh, laki-laki tampan kau tahu saja, Sarah." Ben mendengus. Sementara Sarah tersenyum-senyum sendiri. Lepas dari Mirah dan kini mendapati Sarah yang bertingkah sama.


Kepala sekolah memperkenalkan Chendrik kepada mereka. Banyak siswa antusias tak hanya perempuan, tapi siswa laki-laki juga menyambutnya dengan semangat. Itu karena baru tahun ini pemimpin markas itu bersedia memenuhi undangan pihak sekolah untuk memberikan bimbingan pada murid akhir.


"Kalian mengenal dua yang lainnya?" tanya Ben kepada Mirah dan Sarah. Zena hanya diam, sesekali menunduk, sesekali mendongak. Menatap nyalang dua orang yang berdiri di sana.


"Tidak, tapi untuk laki-laki yang berdiri di kanan itu terlihat mirip dengan master Chendrik." Ben berkomentar. Sarah dan Mirah membenarkan.


Tentu saja mirip mereka berdua bersaudara.


Zena kembali menggerutu dengan wajahnya yang nampak kesal. Disaat orang lain bersemangat, ia justru lesu.


Zena mengangkat wajah penasaran dengan satu laki-laki yang berdiri di samping kiri Chendrik. Ia menyipitkan mata, laki-laki itu terus tersenyum ke arahnya. Maniknya bergulir menatap Chendrik yang terlihat tak nyaman bersebelahan dengannya. Tentu saja, dia adalah laki-laki yang membuat Chendrik cemburu.


"Dia laki-laki yang aku temui di atap," celetuk Zena masih mematri pandangan pada laki-laki berkulit sawo matang di samping kiri Chendrik.


Ketiga teman Zena serempak menoleh ke arahnya, mata mereka membelalak ada rasa tak percaya pada apa yang diucapkan Zena.


"Yang mana?" Mirah memastikan.


"Kiri."


"Kau yakin?" Ben bertanya. Zena menganggukkan kepala dengan pasti.


"Yah, laki-laki itu yang aku temui saat pergi ke atap. Memangnya ada apa? Kalian tahu siapa dia?" Zena menatapi ketiganya dengan bingung.


Mirah, Sarah, dan Ben terlihat gelisah. Zena menebak sesuatu berkaitan dengan atap sekolah yang tak pernah dikunjungi oleh siswa.


"Kau tahu? Dialah selama ini yang mengawasi sekolah, tak pernah sekalipun menampakkan diri. Itu sebabnya sekolah melarang semua siswa untuk pergi ke atap karena atap sekolah adalah tempatnya sang Black Shadow. Dialah Black Shadow itu, Zena, dan itu artinya kau sudah ditandai. Berhati-hatilah, Zena." Ben menyahut dengan bisikan di telinga Zena.


"Kudengar dia tidak pernah turun dari atap dan tak pernah ikut campur urusan sekolah. Berbagai macam acara di gelar sekolah, sekalipun dia tak pernah turun. Mungkin karena dia bertemu denganmu saat di atap dulu, dia penasaran ingin mencari tahu siapa dirimu." Mirah berbisik di telinga Zena.


Gadis pulau itu terdiam, ia sedang mencerna isi pikirannya sendiri. Hanyut dalam tekad mencari tahu tentang laki-laki yang ia temui beberapa hari lalu di atap tanpa sengaja.


Suara deheman membuat keempat siswa yang sejak tadi bergosip itu bungkam. Mereka menegakkan tubuh dan menatap lurus ke depan.


Berhenti menatapku, kalian bodoh! Kalian bisa membuat penyamaranku terbongkar. Kenapa binatang buas itu bisa-bisanya ada di sini? Lalu, jenderal mesum itu juga sejak kapan dia kembali dari perbatasan?


Sebastian dan laki-laki yang tak disebutkan namanya itu tak lepas dari menatap Zena dengan senyum di bibir, sedangkan Chendrik tetap memasang wajah dingin. Pandangannya tidak terlalu mencolok, tapi ia juga tidak melepaskan Zena begitu saja.


Perkumpulan dibubarkan dengan desas-desus yang membuat aula acara seperti diserang ribuan lebah yang berdengung. Ia melirik ketiga orang yang bersama kepala sekolah itu. Memasuki sebuah ruangan di mana biasanya guru berada.


"Zena! Zena!"


Sarah dan Mirah bergantian mengguncang tubuh Zena yang mematung. Pandangannya lurus ke depan pada tempat di mana Chendrik dan Sebastian berada.


"Zena!" Gadis itu gelagapan saat mendengar panggilan untuk yang ketiga kalinya. Buru-buru tersadar dan mengambil napas panjang.


"Kenapa kau melamun? Lihat, semua siswa sudah bubar," tanya Sarah memperlihatkan sekitar yang tak ada siapapun lagi.


Zena mengedarkan pandangan ke segala arah, sepi. Ia seperti orang linglung tak tahu arah.


"Beri minum!" Ben menyodorkan sebotol minuman kepada Mirah. Mereka memilih duduk di tengah aula berkumpul sambil berselonjor.


"Zena, minum." Mirah membantu Zena menenggak minuman tersebut.


"Kenapa kita masih di sini? Sudah sepi," ucap Zena.


"Sudahlah, lagipula tak apa sesekali kita duduk di sini. Tidak masalah, bukan?" sahut Sarah sambil mengeliling menatap sekitar.


Benar-benar sepi, tak satu pun melintas di tempat tersebut bahkan petugas kebersihan yang biasanya berlalu-lalang tak terlihat di tempat tersebut.


"Kita pergi!" Zena beranjak dengan cepat, disusul tiga orang lainnya yang tak ingin tertinggal. Bersama meninggalkan aula pertemuan dan memilih duduk di bangku taman.


"Ada apa, Zena? Kenapa kita pergi dari sana?" tanya Ben setelah menjatuhkan diri di atas rumput, bersimbah keringat.


"Aku juga tidak tahu? Hanya mengikuti naluri jika kita tetap berada di sana, bahaya akan datang," sahut Zena dengan tenang. Ia kembali menenggak sisa minuman hingga tandas.


"Dari mana kau tahu?" Sarah menyambar dengan napas tersengal-sengal.


"Tidak penting yang terpenting kita sudah tidak di sana," katanya lega.


Sialan, binatang buas itu. Kenapa dia mengancamku? Awas saja kau!