
Merasa memiliki kesempatan, Zena berniat membawa dua anak itu ke atas atap. Hal itu akan memudahkannya untuk melakukan penyerangan. Mungkin saja di dalam sana masih banyak anak-anak dengan kondisi yang sama. Lemah tak berdaya.
Namun, baru mau memulai langkah, pintu berderit bersamaan dengan penjahat terakhir yang Zena tunggu memasuki ruangan. Dia membawa anak perempuan dengan cara menjinjing tangannya. Benar-benar tidak manusiawi.
Zena yang geram, langsung saja mencabut samurai di tangan. Melihat bahaya mengancam, laki-laki tukang jagal itu melepas tangannya dari si anak. Beralih pada golok pemotong daging bersiap menyerang Zena.
Terjadi perkelahian sengit di dalam ruang eksekusi itu. Penjagal ketiga memiliki keahlian beladiri yang mumpuni, tak mudah melumpuhkannya. Berkali-kali Zena hampir tertebas golok itu karena harus mengawasi anak-anak yang ada di dalam ruangan.
Zena berhasil memberikan luka sayatan pada perut laki-laki itu, tapi meskipun begitu dia tetap berdiri tegak seolah-olah tidak merasakan kesakitan sama sekali. Terus merangsek sambil mengayunkan golok di tangan menebas ke arah Zena.
Gadis itu tersudut, kakinya terus melangkah mundur sambil menangkis serangan brutal dari laki-laki penjagal itu. Organ dalam perutnya mulai terburai sedikit demi sedikit, tapi dia masih terus menyerang tanpa kesakitan.
Zena melompat menjauh, menghindari dirinya sambil mencari celah untuk mendapat giliran menyerang. Laki-laki itu panik, sibuk menutupi bagian perut agar 'mereka' tetap di dalam.
Giliran Zena yang menyerang, ayunan samurainya terus mengarah pada bagian vital tubuh laki-laki itu. Tak dinyana dia masih memiliki napas untuk menangkis beberapa serangan Zena. Sisanya berhasil meninggalkan sayatan di beberapa bagian tubuh.
Napasnya mulai berat dan memburu, Zena tahu dia kelelahan. Hanya saja kakinya masih tegak berdiri kembali melanjutkan serangan. Kali ini Zena tak ingin lebih lama berada di dalam ruangan itu. Ia melompat terus menerjang meja sambil mengayunkan samurai menebas batang lehernya.
Kepala itu jatuh menggelinding dan menghantam kotak pendingin. Bergegas Zena menyatukan mayat itu dengan dua temannya yang lain. Sekarang, berpikir bagaimana caranya mengirim anak-anak itu ke atas atap.
Ia memindai sekitar, hanya ada meja, lemari dan kotak pendingin. Beruntung lemari itu cukup tinggi hanya saja jaraknya yang tidak tepat. Zena membuka kotak kayu tersebut, di dalamnya berisi berbagai peralatan jagal.
Dikeluarkannya semua alat itu hingga tak tersisa. Dia mendorong lemari ke bawah papan kayu di mana dia masuk. Satu per satu anak-anak malang itu ia kirim ke atas atap. Mereka sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuh kecuali kedua bola mata yang terus berputar melihat sekitar.
Zena berdiri di tepi atap, rombongan itu masih ada di sana. Tangannya melambai memanggil mereka untuk mendekat sambil mengangkat salah satu anak.
"Dia berhasil menemukan anak-anak. Ayo, cepat!" ucap salah satu warga sembari berlari ke bawah bangunan. Zena meminta mereka untuk menangkap anak-anak yang akan ia lemparkan ke bawah menggunakan isyarat.
Mereka mengerti dan mulai berkeliling di bawah.
"Jangan takut, kalian akan pulang. Hanya pejamkan mata kalian, bayangkan saja kalian sedang terbang di langit bersama para burung," ucap Zena sambil menatap ketiga anak yang duduk bersandar di tepian atap.
Mata ketiganya berkedip mengerti. Zena mengangkat salah satu anak, melihat ke bawah. Tangan mereka terangkat bersiap untuk menangkap.
Zena mengusap wajah anak itu sambil berkata, "Pejamkan matamu!"
Ia melempar anak tersebut ke bawah, menunggu mereka menangkapnya. Menyusul anak kedua dan anak ketiga, kemudian memberi isyarat kepada mereka untuk kembali menjauh.
Zena berbalik dan masuk ke ruangan itu lagi, menutup papan juga mengembalikan lemari pada tempatnya berikut dengan isi di dalamnya. Ia mendekat ke arah pintu, membukanya sedikit mengintip luar ruangan itu.
Ada tiga ruangan lain yang dapat dilihat matanya, di tengah ruangan itu sekelompok laki-laki sedang mengelilingi sebuah meja yang diatasnya berbagai macam hidangan tersedia, juga ada botol-botol minuman.
Musik masih terus berdentam, sebagian dari mereka telah mabuk kepayang. Pandangan Zena terus mengedar mencari jalan keluar di bawah. Suara tawa mereka tersamarkan musik yang menggema, tapi musik itu tak terdengar hingga keluar. Kemungkinan mereka memakai peredam suara agar suara-suara dari dalam ruangan tidak sampai keluar.
Itu dia! Zena menemukan jalan keluar, dia berencana membawa semua penduduk untuk menyerang para penjahat itu mumpung keadaan mereka lengah dan sebagian sedang mabuk.
Namun, sebelum itu, ia memasuki satu ruangan lain. Menutup pintu dengan cepat, dan berkeliling menatap ruangan. Ada empat kepala terbaring di lantai ruangan tersebut. Zena mendekat, menatap iba semua anak yang terpejam tak berdaya.
"Hei, kalian bisa mendengarku? Jika iya, maka buka mata kalian!" pinta Zena sambil mengusap kepala salah satu anak.
Sontak mereka membuka mata, rupanya anak-anak itu tidak tertidur. Mulut mereka terbuka hendak berkata-kata, tapi lidah tak berdaya. Zena tersenyum, empat orang anak yang ia temukan dalam kondisi yang sama.
"Tenang, kita akan keluar dari sini dan kalian akan pulang," katanya menenangkan.
Zena berdiri menyusuri tembok sambil merabanya. Lagi-lagi papan kayu ia temukan, sedikit mengerti, mungkin saja papan kayu itu mereka pasang agar udara bisa sedikit masuk ke dalam ruangan. Entahlah!
Zena menggunakan belatinya untuk membuka satu per satu papan kayu tersebut. Cukup untuk membawa mereka keluar dari ruangan itu. Ia mengeluarkan anak-anak satu demi satu sebelum dia sendiri keluar.
Ruangan itu ada di bagian lain bangunan, dia berlari sebentar memanggil para penduduk. Tanpa menunggu, mereka berdatangan membawa anak-anak itu. Di antara mereka ada yang menangis sambil menciumi anak-anak. Mungkin itu ayah mereka.
"Di mana? Di mana anakku?" Seorang warga meraung menanyakan anaknya. Zena menggelengkan kepala, di kejauhan kepala desa dan istrinya menatap Zena dengan kagum.
"Bawa anak-anak ini dulu, aku minta beberapa orang untuk ikut denganku. Di sebelah sana ada jalan masuk, aku akan membukanya untuk kalian. Hanya saja kalian harus berhati-hati saat menerobos masuk. Di dalam sana, ada banyak penjahat," ucap Zena yang diangguki mereka.
Sebagian memilih pergi membawa anak-anak. Sebagian lain mengikuti Zena menggerebek para penjahat. Ia kembali masuk melalui jendela tadi, diikuti beberapa orang warga termasuk pemuda yang tadi berbincang dengannya di luar pagar.
"Siapa kau? Kukira kau bukan penduduk desa kami," tanyanya saat berada di dalam ruangan mencari kesempatan untuk keluar.
Zena menoleh, wajah yang tertutup kain hitam itu sama sekali tak dapat ditebak. Hanya bola mata hitamnya saja yang terlihat tajam menusuk.
"Apakah itu sekarang penting?" Dia bungkam setelah mendengar suara dingin Zena.
"Maaf."
"Tunggulah di sini, aku akan membuka jalan untuk mereka," katanya.
Tak ada yang membantah, Zena perlahan keluar melongo ke kanan dan kiri sebelum membawa langkahnya. Posisi penjahat masih sama, hanya saja Zena tidak tahu jika salah satu penjahat menghilang.
"Penyusup! Tangkap!"
*****
Hallo, terimakasih sudah setia mengikuti kisah Zena. Jika berkenan dan suka membaca cerita seram, ada novel horror dari Aisy Hilyah. Tenang, di dalamnya tak ada adegan setan membunuh manusia. Selamat membaca.