
"Desa Hulu, di mana?" Alis Zena terangkat tinggi, ada kerutan di dahi saat ia menatap Ben yang masih terlihat gelisah.
"Desa Hulu ada jauh di ujung selatan Negeri ini, sangat jauh. Butuh perjalanan dua Minggu lamanya menggunakan jalur darat, tapi akan lebih cepat sampai jika kita menggunakan jalur udara," jelas Ben. Sesekali tangannya akan menyeka keringat yang turun dari pori-pori kulit di dahi.
"Jalur udara? Bagaimana kita bisa menggunakan jalur udara?" Kerutan di dahi Zena semakin dalam terlihat. Belum terpikir soal pesawat karena sekalipun ia tak pernah melihat. Hanya sebuah helikopter saja yang dulu pernah mendarat, di pulau saat penyerangan mafia narkoba beberapa tahun silam.
"Ya, jalur udara menggunakan pesawat terbang. Hanya butuh waktu tiga jam untuk sampai di sana." Ben kembali menjelaskan.
"Mustahil!" celetuk Zena tak percaya, "waktu dua Minggu di darat hanya tiga jam lewat udara? Sungguh tidak masuk akal!" lanjutnya kembali sambil mendesah panjang.
"Apanya yang mustahil, Zena? Sekarang semuanya serba canggih dan modern. Kau ingin pergi ke mana pun tak perlu berhari-hari terapung di lautan. Asalkan ada bandara yang dituju, maka kau bisa menggunakan pesawat." Mirah antusias menimpali.
"Benarkah?"
"ZENA!!" Ketiganya berseru kompak.
"Apa?"
"Jangan bilang jika kau tidak tahu sama sekali soal pesawat terbang!" Asap mengepul dari sela-sela rambut mereka. Tak percaya jika ada orang di zaman modern ini yang tak tahu perihal pesawat.
"Memangnya pesawat itu seperti apa? Dan di mana kita bisa melihat pesawat? Apakah di langit? Aku tidak pernah melihat benda itu selain elang yang sering melintas di langit kota kita ini," ungkap Zena dengan segala ketidaktahuannya.
Ben mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya, membuka-buka lembar demi lembar kertas itu dan menunjukkan satu halaman kepada Zena.
"Ini, dalam ujian kemarin kau menjawab apa?" tanya Ben menunjukkan gambar pesawat yang seingatnya ada pada soal ujian kemarin.
Zena menelisik, ia mengingat benda itu juga pernah diajarkan sang Ayah saat di pulau dulu. Hanya sekilas, saat dia bertanya benda apa itu? Ayah menjawab ....
"Burung besi." Ben dan kedua temannya menahan napas, detik berikutnya tawa mereka pecah menggelitik.
Zena mengernyit, sambil mengingat-ingat perbincangannya dengan sang Ayah.
"Sudahlah, kita masuk! Jam olahraga segera dimulai," ajak Ben sambil merangkul bahu Zena tanpa segan. Mata gadis itu melirik jemari Ben di bahunya, terus melangkah sambil tertawa bersama melupakan ketegangan yang diciptakan Ben beberapa detik sebelumnya.
"Kurang ajar! Siapa siswa laki-laki itu? Berani-beraninya menyentuh gadis incaranku!" geram seseorang di atas atap.
"Akan kupatahkan tangannya yang sudah lancang menyentuh Zena!" Chendrik ikut menggeram di parkiran.
"Sial! Kenapa Zena diam saja saat siswa itu merangkulnya. Aku tidak menyukainya sama sekali." Sebastian ikut memicing di salah satu lorong sekolah.
Ketiga laki-laki itu akan bersaing hari ini untuk menarik perhatian Zena.
*****
Bel tanda masuk berbunyi, semua siswa berhamburan keluar kelas menuju lapangan yang sudah dipersiapkan untuk berlatih. Semua kelas akhir berkumpul dibagi kelompok kelas masing-masing. Atas permintaan ketiga pelatih itu, Ben dipisahkan dari Zena.
"Kenapa Ben tidak satu kelompok dengan kita? Seharusnya dia bersama kita, bukan? Kenapa ke kelas Sarah?" Mirah tak habis pikir, semua siswa tetap berada di kelasnya kecuali Ben. Dia dipindahkan dengan alasan kelas D terlalu banyak siswa. Tidak masuk akal, padahal kelas D hanya berjumlah lima belas orang saja.
Zena menggeram kesal. Melihat Ben yang terus menatap ke arahnya, hati Zena bergolak. Beruntung, masih ada Sarah yang menghiburnya.
"Kasihan sekali Ben, dia pasti ingin bersama kita," celetuk Mirah lagi dengan sedih.
"Sudahlah, ada baiknya dia masuk ke kelas Sarah. Dia akan sedikit menghibur Sarah karena tidak memiliki teman," sahut Zena sembari menahan kesal di hati. Matanya melirik tajam ketiga laki-laki yang sedang memberikan instruksi di depan.
"Kelompok latihan dimulai dari kelompok D!" Suara perintah dari Chendrik menggema disambut riuh rendah suara semua siswa yang tak terima atas keputusannya.
"Maaf, Master! Seharusnya kami yang pertama karena kami kelas A. Kami merasa spesial dan layak mendapat giliran yang pertama!" seru ketua macan putih dengan berani.
Chendrik melirik, wajah datarnya menggetarkan setiap siswa yang tertusuk manik coklat miliknya. Gadis tadi meneguk ludah gugup, tapi ia tetap membalas tatapan tajam Chendrik.
"Benar, Master. Kami adalah kelas terakhir, kami merasa tidak layak mendapat giliran pertama dalam latihan ini!" Zena ikut berseru dengan lantang.
Sontak semua mata tertuju padanya, di antara semua siswa di kelas D hanya Zena yang paling mencolok. Kulitnya yang seputih porselen nampak bersinar di bahwa terpaan sang mentari pagi. Yang belum mengenal Zena, seketika termangu dengan sosoknya yang bagai putri kayangan.
Chendrik juga kedua laki-laki di kanan dan kirinya serentak menoleh ke arah Zena. Tatapan mereka terlihat tidak senang, dalam hati ketiganya mereka akan menjadikan Zena sebagai yang pertama dalam latihan. Sayang, gadis itu sudah menolak mentah-mentah seolah-olah tahu apa rencana yang sudah mereka susun.
"Baiklah. Latihan dimulai dari kelas A," putus Chendrik pada akhirnya. Ketua macan putih tersenyum sinis sambil melayangkan tatapan kepada Zena, tapi gadis itu nyatanya tak acuh dan balas tersenyum manis.
"Sial!" umpatnya kesal.
Latihan dimulai dari kelompok A bersama Sebastian, olahraga kebugaran mulai dari pemanasan hingga latihan berat. Dilanjutkan menembak dan memanah bersama Chendrik di sisi lain lapangan. Lalu, berkuda bersama laki-laki misterius, dan terakhir beladiri dilakukan secara serentak.
Sedangkan kelompok Zena mendapat giliran terakhir. Mereka duduk di pinggir lapangan menunggu giliran. Zena berdiri cepat, kedua matanya melotot melihat pelatih yang mengaku sebagai Black Shadow sedikit kasar kepada Ben. Ia berjalan tanpa segan, menarik tubuh Ben yang hampir saja terkena sabetan sebuah tongkat kecil.
"Aku tidak setuju ada kekerasan dalam latihan ini!" tuding Zena dengan wajahnya yang memerah. Sontak semua siswa menghentikan kegiatan mereka berlatih dan menonton adegan protes Zena kepada salah satu pelatih.
"Apakah untuk ini Anda memisahkan Ben dari kelompoknya? Maaf saja, saya tidak akan membiarkan sahabat saya tergores sedikit pun!" tegas Zena tanpa segan.
Laki-laki di hadapannya termangu, memicingkan mata menatap Zena. Ada kekaguman di hatinya karena keberanian gadis itu dalam menyuarakan keberatannya. Chendrik mengulum senyum sambil meminta pada siswanya untuk melanjutkan latihan.
Sementara Sebastian terkekeh kecil, membuat kelompoknya terheran-heran saat melihat.
"Kemari, Ben! Akan aku tunjukkan bagaimana caranya berkuda dengan baik!" ucapnya seraya menarik Ben mendekati seekor kuda berwarna putih.
Namun, langkahnya terhenti saat sebuah tangan mencegahnya.
"Tidak perlu, duduklah! Maafkan aku dan terima kasih karena sudah mengingatkan," katanya mengalah. Bibirnya tersenyum meminta pemakluman dari Zena.
"Baiklah. Saya juga minta maaf, Master, karena sudah lancang melakukan protes. Saya hanya tidak suka ada kekerasan dalam latihan ini," tutur Zena yang juga ikut mengalah.
"Aku mengerti."
Zena melirik Ben, memberikan senyumnya yang manis untuk siswa laki-laki itu. Wajah-wajah ketiga pelatih seketika berubah masam dan memerah. Zena melengos dan kembali pada kelompoknya. Mengawasi jalannya latihan sebelum dia yang beraksi.