Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Nyanyian Syahdu



Seperti halnya langit di malam itu yang bertabur bintang gemintang, berpadu dengan cahaya sang rembulan, memperlihatkan kemolekannya laksana senyum yang tak pudar dari wajah tampan itu.


Kedua matanya hampir tak berkedip menatap keindahan pesona sang gadis yang duduk memangku dagu mendengarkan melodi merdu yang dimainkan sekelompok band di atas panggung.


Sebastian meletakkan tangan di atas meja, seraya memangku dagu sama seperti Zena, tapi pandang mereka tak sama. Laki-laki itu terlalu mengagumi sosok polos di hadapannya, sosok yang membuat hidupnya berubah total.


"Kau bisa bernyanyi?" tanya Sebastian. Zena menoleh, gurat di wajahnya menyiratkan kebingungan.


"Bernyanyi? Seperti apa?" Sebastian terkekeh seraya beranjak berpikir benar-benar ada manusia yang tak tahu apa itu menyanyi. Apakah seumur hidup Zena tak pernah bernyanyi?


"Seperti mereka yang ada di panggung, kau bisa melakukannya?" tanya Sebastian lagi menunjuk mereka yang berada di atas panggung.


Zena mengalihkan pandangan ke arah kelompok band itu lagi, mendengarkan seorang vokalis menyanyikan sebuah lagu yang menghanyutkan. Entah apa yang dimaksud dari lagu tersebut, tapi itu cukup enak didengar.


Zena menutup mata, mengingat kembali bait-bait yang pernah dilantunkan ayahnya saat kecil dulu. Ia mulai bergumam, mengikuti alunan nada dalam hati.


Di kala sang mentari pagi


Datang membawa sinarnya yang berseri


Kusambut kau sang pujaan hati


Dengan segenap cinta yang kumiliki


Si buah hati pelipur lara


Lenyap sudah segala duka


Hanyut terbawa tawa bahagia


Yang disuguhkan dengan penuh cinta


Akan kujaga permata ini


Permata yang kau tinggal pergi


Canda dan tawa yang tak bertepi


Menjadi pelipur lara hati


Zena ... Zena ... Zena ....


Permata hati permata dunia ini ....


Zena membuka mata, bibirnya tersenyum, manik kelamnya menyiratkan kerinduan dan kesedihan. Ia menoleh pada Sebastian, menatap sendu laki-laki yang termangu setelah mendengar suara Zena bernyanyi.


Ada rasa yang menggelitik hatinya, gelenyar hangat mengalir perlahan, membentuk gelombang kebahagiaan yang nampak di permukaan wajah.


"Apakah itu bisa disebut bernyanyi?" tanyanya. Entah mengapa suaranya mengalun syahdu di telinga sang Jenderal.


Ia tertegun untuk beberapa saat lamanya, menahan gejolak rasa yang membuncah membuatnya ingin selalu mendengar suara merdu gadis di depannya itu.


"Yah, itu memang bernyanyi. Ngomong-ngomong aku tidak pernah mendengar lagu itu sebelumnya, kau tahu siapa yang menyanyikannya?" Sebastian antusias bertanya.


Zena berpaling kembali pada langit malam yang dipenuhi oleh bintang yang menari. Tarian yang menghibur di dalam sepi, untuk pengubat lara hati.


"Ayahku. Ayahku yang menyanyikannya di setiap malam menjelang tidurku. Tak pernah sekali pun ia melewatkannya hingga aku selalu mengingatnya setiap saat. Saat kutanya, siapa yang menciptakan lagu ini? Dia menjawab, Ibu. Lagu itu dibuat di hari kelahiranku, tapi disempurnakan Ayah ketika Ibu telah tiada."


Zena membuang napas panjang, rindu itu kembali hadir menusuk-nusuk rongga dada. Senyum yang diukir, menyiratkan perasaannya yang terdalam.


Sebastian terenyuh, semakin kuat tekad dalam hatinya untuk bisa mendapatkan Zena. Sekuat-kuatnya seorang wanita, tetap saja akan kembali pada kodratnya, makhluk yang tak pernah jauh dari kerapuhan.


"Baiklah, kita kembali sekarang."


Mereka beranjak meninggalkan restoran. Malam semakin pekat, cahaya rembulan tak nampak saat awan hitam melintasinya. Sepertinya hujan akan turun malam ini.


"Terima kasih, Zena, karena kau sudah menerima ajakan ku," tutur Sebastian sambil memutar kemudi membelah jalanan sepi.


"Tidak masalah, anggap saja untuk merayakan pertemanan kita," sahut Zena santai. Ia tersenyum menatap pemuda di sampingnya.


Sebastian tersenyum getir, semua yang ia lakukan hanya dianggap sebatas pertemanan, tidak lebih. Hening menyapa keduanya, tak ada lagi pembicaraan sampai mereka tiba di rumah Adhikari.


"Terima kasih sudah mengantar, Nak Bas," ucap Cana sambil melambaikan tangan pada Sebastian yang berada di dalam mobil. Ia membawa Zena masuk ke rumah setelah mobil Jenderal muda itu menghilang di kegelapan malam.


Zena langsung menuju kamarnya, malam itu ia tak dapat memejamkan mata. Pandangannya mengawang pada langit-langit kamar mengenang saat-saat bersama sang Ayah di pulau.


Bukit hijau, ia rindu. Tempatnya bermain dan menghabiskan waktu sendiri setelah bekerja di ladang milik penduduk pulau. Hutan di balik bukit yang tak tersentuh penduduk, rasanya ingin kembali berburu di dalam sana.


Ah, bagaimana keadaan rumahku? Apakah era modern merubuhkannya? Kuharap gubuk itu masih berdiri kokoh dan menanti kedatanganku.


Zena menarik napas panjang, membayangkan kehidupan di pulau bersama Tigris dan Cheo, sungguh ia rindu rumah. Ia rindu tanah kelahiran, rindu tempatnya bermain.


Ciul, kenapa kau tidak pulang ke pulau? Kenapa malah pergi jauh dariku. Aku tidak tahu harus mencarimu ke mana?


Ciul, seorang anak laki-laki yang lebih tua darinya. Anak pak Karim, juragan buah di pulau. Di sanalah dulu Zena bekerja, di ladang buah milik pak Karim. Tak satupun penduduk di tiga pulau itu yang tidak mengenal Zena, tapi mereka semua tidak tahu di mana tempat tinggal gadis itu. Yang mereka tahu, ia berada di balik semak tinggi dan rimbun.


Zena mencoba memejamkan mata, malam telah mencapai puncaknya. Mencoba hanyut dalam buai alam mimpi yang tak pernah tergapai.


Di seberang sana, seorang pemuda tampan pun sama gelisahnya seperti Zena. Melamun sambil menatap langit-langit kamar, bayangan Zena bernyanyi terus menghantui pelupuk. Suaranya yang syahdu tak mau hengkang dari telinga.


"Zena, jadilah milikku!"


*****


"Zena! Sayang, bangun, Nak! Bukankah hari ini kita akan berbelanja?" Suara Cana mengusik tidur lelap Zena.


Gadis itu menguap lebar sambil merentangkan tangan sebebasnya. Merenggangkan otot tubuhnya yang terasa kaku karena waktu tidur yang tak tentu.


"Zena! Teman-temanmu sudah menunggu, sayang. Mereka di bawah," panggil Cana lagi sambil mengetuk pintu kamar anak gadis itu.


Mendengar kata teman, Zena membelalak.


Teman? Siapa? Apa mereka tahu rumah ini?


Zena beranjak, melangkah pelan membuka pintu dan melongo ke lantai bawah. Benar saja, ketiga temannya ada di sana, duduk di ruang tengah menunggu Zena turun.


"Mereka tahu dari mana rumah ini?" pekiknya menatap bingung pada Cana yang tersenyum tipis.


"Ayahmu dokter terkenal, siapa yang tak tahu dokter Adhikari. Semua orang tahu tinggal bertanya tentangnya, mereka semua akan menunjukkan rumah ini," sahut Cana.


Zena manggut-manggut mengerti, ia pamit pada Cana dan menitipkan pesan untuk semua temannya agar menunggu dia selesai bersiap.


*****


Di dalam mall yang besar dengan ditemani Cana, Zena dan semua temannya berbelanja untuk keperluan pesta sekolah. Gaun dan segala pernak-pernik yang akan mereka gunakan saat pesta. Cana bahkan membeli seperangkat alat make-up untuk dipakai Zena.


Sepatu dengan hak setinggi lima centi, Zena menolak.


"Ibu mau aku jatuh? Mana bisa aku menggunakan sepatu setinggi itu? Lagipula, kenapa benda itu kecil sekali bahkan lebih kecil dari kelingkingku. Aku tidak suka."


Cana dan kedua teman wanita Zena menghela napas bingung.