
Puas mengagumi Zena, Ben buru-buru mengajak semua temannya memasuki mobil. Setelah berpamitan pada kedua orang tua Zena, mereka melesat dengan cepat meninggalkan kediaman sang dokter.
"Zena, apa itu?"
Sarah yang duduk di samping gadis itu bertanya saat melihat Zena menyelipkan sesuatu di bagian ****** ***** yang ia kenakan.
"Bukan apa-apa, hanya benda kecil untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan," katanya sembari membenarkan kembali gaun yang sempat ia angkat.
"Tapi yang aku lihat itu seperti belati kecil," tanyanya lagi menyelidik.
Zena terkekeh, lantas mengangguk membenarkan.
"Kenapa?"
"Itu karena Ibuku merasa cemas anaknya yang malam ini nampak cantik berseri digoda laki-laki hidung belang. Itu sebabnya ia memberikan benda itu padaku untuk berjaga-jaga," jawab Zena berbohong.
Namun, raut wajahnya amat meyakinkan hingga Sarah yang polos percaya begitu saja. Mirah dan Ben yang mendengar tak ingin tertinggal pembicaraan.
"Itu ada baiknya juga, kenapa Ayah dan Ibuku tidak menyarankan itu padaku?" keluh Mirah sangat disayangkan ia tak membawa apapun selain tas yang berisi gawai juga kebutuhan lainnya.
Gadis itu mengeluh, diikuti Sarah yang juga cemberut. Lain halnya dengan Ben, siswa laki-laki itu justru tersenyum enteng.
"Aku tidak masalah, jika ada wanita yang menggodaku nanti di pesta. Akan aku layani apapun yang dia pinta," ucapnya penuh percaya diri.
"Kau percaya diri sekali, Ben," cibir Zena disambut tawa kedua temannya. Ben mendengus, ia tak acuh seraya membelokkan mobil memasuki gerbang sekolah.
Mobil menepi di parkiran yang telah sesak dipenuhi oleh mobil-mobil siswa dan tamu undangan. Zena mengenali dua buah kendaraan di antara deretan kendaraan yang lain.
Chendrik? Bas? Mereka ada di pesta?
Zena termangu di tempat sampai Mirah menarik tangannya barulah ia melangkah memasuki aula sekolah.
"Kau tidak boleh jauh-jauh dari kami, Zena," ingat Mirah yang merasa cemas dengan penampilan Zena malam itu.
"Betul, tetaplah di sisiku maka kau akan aman," sambar Ben percaya diri.
Zena terkekeh sambil menggelengkan kepala, keempatnya memasuki arena pesta yang telah dipenuhi oleh semua siswa sekolah. Hampir semua siswa turut memeriahkan acara pesta kelulusan tersebut. Tak hanya kelas akhir, tapi dua kelas di bawahnya juga terlihat antusias.
"Waw! Seperti inikah pesta?" pekik Zena dengan mata yang melebar hampir melompat. Di bagian lain, sebuah mini bar disediakan oleh panitia lengkap dengan alat-alat musik juga lampu yang berkedip-kedip. Seorang DJ berpenampilan seksi nampak lihai memainkan alat tempurnya.
"Benar, seperti inilah pesta. Bukankah seru?" sambar Ben penuh semangat.
"Mmm ... biasa saja. Lebih seru berburu di hutan bersama Tigris," celoteh Zena asal.
Mirah dan Sarah yang mengapit tubuhnya cepat menoleh saat menangkap gumaman pelan Zena.
"Apa yang kau katakan? Berburu?"
"Eh?" Zena celingukan ke kanan dan kiri, mantap aneh Mirah dan Sarah.
"Tidak ada. Ayo kita masuk lebih dalam," ajaknya seraya berjalan lebih dulu memasuki arena pesta. Gugup karena berbicara tanpa sadar.
Acara pesta belum dimulai, Kepala Sekolah bersama guru dan tiga orang pelatih olahraga sedang mengadakan rapat membahas siapa saja yang akan mendapatkan penghargaan.
"Tidak, aku ingin duduk kakiku pegal rasanya," keluh Zena sambil memijit-mijit betisnya yang terasa pegal.
Sarah mendengus, ia meninggalkan Zena sendirian di tempat duduk dan bergabung bersama Mirah juga Ben. Mereka meliuk-liuk mengikuti irama musik yang dimainkan seorang disc jockey.
Gadis itu tersenyum, memindai orang-orang yang ada di tempat acara. Matanya awas, ia tetap waspada meskipun terlihat biasa. Zena dapat mengenali siapa saja orang-orang yang dikirim Chendrik untuk mengawasi tempat tersebut, tapi ia juga menangkap gelagat aneh dari beberapa orang yang lalu-lalang di sekitar siswa.
Pelayan, pengantar minuman, semua yang bergerak di dalam pesta turut dilihatnya. Zena tersenyum sinis, ada beberapa mata-mata lain yang dikirimkan musuh. Ia tahu dan dapat melihat semuanya bahkan senjata yang mereka sembunyikan pun, ia dapat melihatnya.
Sayang sekali aku tidak membawa samurai, rasanya gatal ingin menebas satu per satu leher mereka.
Zena berpura-pura memijit betis sambil menunggu acara dimulai.
"Membosankan, seperti yang sudah aku duga acara pesta ini pasti akan sangat membosankan." Zena menggerutu.
Ia meringis merasakan ngilu pada sendi kaki.
"Kenapa harus memakai sepatu ini, sih? Sakit sekali kakiku," katanya terlalu mendramatisir.
"Kau bosan?" Sebuah suara mengejutkan Zena.
Kepala gadis itu cepat menoleh dan mendapati Black Shadow berdiri di belakang tubuhnya. Laki-laki itu tertegun, senyum di bibirnya raib digantikan oleh riak yang lain. Matanya sedikit melebar, hidungnya kembang-kempis. Telinganya yang memerah berkedut, menatap pesona keindahan gadis di depan matanya.
"Master? Kenapa Anda di sini?" tanya Zena seraya menegakkan duduknya.
"Master! Oh ... Master?" Zena melambai-lambaikan tangan di depan wajahnya yang termangu. Air liur di sudut bibirnya bahkan menyembul hampir menetes jika saja ia masih terus termangu.
"Oh, sial!" Ia melengos pergi, berlari kecil menghindari Zena dan berbelok ke bagian belakang aula.
Zena menghendikan bahu tak acuh, masih belum ingin beranjak. Duduk sendiri di tengah keramaian membuatnya menjadi pusat perhatian. Banyak pasang mata tertuju ke arahnya, terutama mata para siswa laki-laki yang menatap liar sosok jelita di tengah gemerlapnya cahaya lampu.
Pandangan Zena meluas ke segala penjuru aula. Ia mengernyit saat melihat satu sosok di kejauhan yang berjalan bergandengan tangan dengan seorang wanita cantik nan seksi. Senyum di bibirnya hilang, ada sesuatu yang menusuk di ulu hatinya.
Kenapa dadaku sakit rasanya? Biasanya tidak seperti ini. Kali ini kenapa?
Zena memegangi dadanya yang terasa sesak. Melihat Chendrik dan wanita asing itu nampak mesra bergandengan tangan memasuki aula pesta. Zena memalingkan wajah, ada air yang menggenang di sudut matanya.
Kenapa aku ingin menangis melihatnya bersama wanita lain? Ibu ... kenapa hatiku sakit rasanya?
Zena menyeka air di sudut matanya. Laki-laki itu bahkan tidak melihat ke arahnya, ia terus saja berbincang dengan wanita itu. Sekali lagi, Zena menoleh. Mengintip kedua orang yang berjalan pelan seolah-olah memamerkan kemesraan pada semua orang.
"Cih, pamer. Kau selalu saja melarangku untuk dekat dengan laki-laki, bahkan aku tidak boleh berbicara dengan Ben. Lalu, kau sendiri apa? Berjalan mesra dengan wanita jelek itu. Menyebalkan, kau memang menyebalkan, Chendrik!" umpat Zena menggerutu.
Ia bertambah kesal ketika sosok kecil muncul dari balik tubuh Chendrik. Bola matanya menjegil, rasa tak percaya jika Cheo ada di pesta itu memenuhi hatinya.
Bahkan, kau berpura-pura tak melihatku, anak nakal!
Zena mendengus kesal. Kedua tangannya mengepal erat, menahan geram yang membuncah dalam jiwa.
Awas kalian!