Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Kau?



"Cheo!"


Zena mendongak cepat begitu bayangan bocah itu melintas di pikirannya. Kedua mata membelalak, rasa cemas terus hinggap di hatinya.


"Astaga! Aku melupakan mereka!" pekiknya seraya bangkit dari duduk sembari mengusap pipi.


Ia melompat turun dengan gegas berbalik ke belakang. Suatu keberuntungan untuknya, kuda itu tidak melarikan diri.


"Kau menungguku? Terima kasih."


Zena mengedarkan pandangan, menatap sekeliling bukit. Helaan napasnya berat dan panjang sebelum menatap kuda hitam itu lagi.


"Aku harap kau tahu jalan pulang, antarkan aku ke desa di mana kau tinggal," ucap Zena sambil mengusap bulu-bulu di leher hewan itu.


Ia melompat dan menghentak kedua kaki di perut sang kuda. Binatang itu mengangkat tinggi kedua kaki depannya sebelum berlari dengan cepat menuruni bukit. Kuda itu menerjang semak, melompat dan terus berlari menyusuri jalanan menuju desa.


Seperti halnya manusia yang hafal jalan pulang karena setiap hari dilewati, kuda itu pun mengingat jalan pulang ke desa tempatnya tinggal. Zena menarik tali kekang menghentikan laju sang tunggangan. Di kejauhan, ia melihat sebuah truk terpakir tak jauh dari mobilnya.


Zena melompat turun, menarik tali kekang sembari berjalan memasuki desa dari arah lain. Ia mengernyit mendengar Cheo menanyakan soal dirinya.


"Ibu di sini, Cheo!" ucapnya.


Zena berdiri di kegelapan bersama kuda yang ia pegangi. Sontak semua penduduk menoleh ke arah gadis itu, rasa penasaran ingin melihat wajahnya membuat kelopak mata mereka enggan berkedip.


Perlahan sosok itu mulai terlihat, tapi hanya kedua matanya saja yang nampak. Zena menyerahkan kuda yang dipinjamnya dari penduduk sebelum menghampiri Cheo. Ia berniat pergi malam itu juga, melanjutkan perjalanan menyusuri tempat lain di desa Hulu tersebut.


"Kita pergi!" ajaknya sembari merangkul bahu Cheo.


Kepala desa dan istrinya mengernyit, ada rasa tak asing di hati mereka dengan sosok misterius itu.


"Ayah, Ibu, kenapa tidak mengundang makan malam mereka? Bukankah kita harus berterimakasih kepada mereka?" usul Barry sambil melirik sang Ibu yang mendekapnya di belakang.


Wanita itu berpaling pada suaminya, menyetujui usul Barry untuk mengundang mereka makan malam di rumah. Wajah-wajah penduduk nampak tak rela melihat kepergian mereka berdua. Sang kepala desa melangkah perlahan mendekat ke arah mobil Zena.


"Tunggu! Mmm ... setidaknya datanglah ke tempat kami untuk makan malam. Biarkan kami mengucapkan terima kasih dengan benar karena kalian berdua telah membantu kami menyelamatkan anak-anak," pintanya pelan.


Suaranya lirih terdengar, mengandung sebuah harapan besar. Zena menjeda langkah, menarik napas sambil mengernyit. Sesuatu tak asing menyapa rasa dalam hatinya, seolah mendekatkan yang jauh.


"Satu syarat dariku ... dan jika kalian bisa mengabulkan aku setuju ikut makan malam bersama kalian," ucapnya tanpa membalik tubuh. Hanya kepalanya saja yang sedikit menoleh.


"Apa itu? Kami akan berusaha untuk mengabulkannya," ucapnya antusias.


Entah kenapa suara laki-laki itu seperti tak asing di telinganya, tapi Zena menepis itu semua dan menjauhkannya dari pikiran.


"Aku meminta seekor binatang untuk memberi makan sahabatku yang seekor harimau. Kalian sanggup?"


Deg!


Jantung kepala desa itu serasa mau lepas dari tempatnya, mendengar hewan itu disebut mengingatkannya pada kejadian sepuluh tahun silam di mana ia pernah dijagal hewan tersebut.


"Kami akan mengabulkannya!" sahut pemuda yang berbincang dengannya di hutan tanpa ragu.


Zena menghela napas, sebenarnya dia ingin segera pergi. Rasa bersalah di hati karena telah gagal menyelamatkan ketiga anak itu, membuatnya tak memiliki wajah di hadapan semua penduduk. Akan tetapi, mereka terdengar tulus dan sangat berharap agar ia menyetujui ajakan mereka.


"Baiklah."


Tak ada alasan lagi, ia berbalik berhadapan langsung dengan sang kepala desa yang tersenyum lebar dan senang. Dia masih sangat muda, tapi sudah berani menjadi pemimpin. Bertanggungjawab dengan tugasnya melindungi rakyat.


"Ciul?"


Suara Zena terdengar lirih, lisannya bergetar ketika nama itu digemakan. Matanya seketika memanas, hati Zena bergejolak tak karuan. Dia menunggu, kepala desa itu mematung setelah mendengar Zena menyebut namanya. Lantas berbalik dengan senyum dan dahi yang berkerut.


"Yah, apa kau memanggilku?" tanyanya.


"Ciul, apa kau Ciul dari pulau Liman?" Zena mengulang sekali lagi memastikan bahwa hatinya tak salah mengenali.


Kerutan di dahi laki-laki itu semakin dalam dan banyak, ia memperhatikan bola mata hitam milik gadis di depannya.


"Dari mana kau tahu nama itu?" katanya terdengar dingin dan penuh kecurigaan.


Zena terhenyak, degup jantungnya semakin tak terkontrol. Menimbulkan sesak yang teramat. Zena menengadah, menahan air matanya agar tidak tumpah. Dia menarik penutup wajah, menampakkan kecantikan paripurna yang tersembunyi.


Pemuda itu terkesima, sungguh tak mengira bahwa sosok yang telah menolong semua anak-anak di desa adalah seorang gadis cantik jelita. Seketika hatinya terpesona, tak hanya dia pemuda lain pun ikut mengagumi sosok dibalik cadar itu.


Zena melepas hoodie yang menutupi kepalanya, dan kini jelas sudah wajah itu. Sang istri kepala desa perlahan mendekat, ada sesuatu yang menarik dirinya untuk pergi menghampiri.


"Kau tidak mengenalku?" tanya Zena lirih dan bergetar.


Air di matanya merangsek ingin keluar melihat Ciul yang hanya mematung tanpa berucap sepatah kata pun. Hal yang tak terduga selanjutnya adalah, Ciul menarik tubuh Zena ke dalam pelukan. Semua orang terperangah, saling menatap tak percaya. Pikiran buruk mulai menghinggapi hati mereka. Tangis Zena pecah tak tertahan lagi.


"Akhirnya aku menemukanmu ... aku menemukanmu!" ucapnya berulang-ulang sambil mengeratkan pelukan.


"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih sudah menjaganya dengan baik. Aku senang melihatmu lagi, Zena. Ke mana saja kau selama ini?" racau Ciul tak kalah haru dengan kedatangan sahabat lamanya itu.


"Zena?" Suara wanita terdengar memanggil namanya, Zena melepas pelukan dan beralih pada sosoknya.


"Kak Nira!" Gadis pahlawan itu menangis sambil memeluknya.


"Kau Zena, kau sungguh Zena kami?" ucap Nira membalas pelukan Zena dengan air mata yang langsung menganak sungai.


Ciul tersenyum haru, berkali-kali tangannya mengusap air yang jatuh. Ia menengadah mencoba menahan tangis, tapi tetap saja air mata melaju tak terkendali. Penduduk di desa menatap bingung, begitu pula dengan anak-anak mereka.


Nira melepas pelukan, menangkup wajah Zena yang telah dewasa memastikan bahwa gadis itu benar-benar gadis kecil mereka yang pemberani.


"Kau Zena? Kau sudah besar sekali, hampir-hampir kami tidak mengenali wajahmu yang cantik ini," ucapnya dibarengi kekehan kecil meski air mata terus turun.


Nira kembali memeluknya, sebuah kebetulan yang tak terduga. Niat hati ingin menyelamatkan keponakan sahabatnya, Ben, tapi justru bertemu dengan sahabat yang dicarinya selama ini.


"Eh, tunggu!"


Zena melepas pelukan dengan cepat, matanya melihat Barry dan Nira bergantian.


"Jika anak itu adalah keponakan Ben, maka itu artinya Ben ...."


"Ben? Kau mengenalnya?" Nira menyambar cepat.


"I-iya, dia temanku sekarang," ucap Zena sambil menerka-nerka.


"Jadi, anak nakal itu adalah sahabat gadis kecil kita, suamiku?" goda Nira sambil tertawa gemas.


"Yah, aku datang ke sini karena ingin membantunya menemukan anak-anak yang hilang di desa ini. Ternyata, aku menemukan kalian di sini. Ini sebuah kebetulan yang luar biasa," ucap Zena dengan perasaan haru yang meluap-luap.


"Kau ... Zena?"