
Cheo bergetar melihat Zena yang tersungkur di antara makam keduanya. Tak tega hati menyaksikan sendiri betapa rapuhnya Ibu yang selama ini terlihat kuat di depan matanya. Ia hampir menangis, melangkah perlahan mendekati dua makam yang ditangisi Zena.
Duduk berjongkok sembari memeluk tubuh bergetar wanita hebat itu. Hatinya ikut merasa sakit, air matanya turut berjatuhan seiring dengan isak tangis yang terdengar dari Zena.
"Kakak, apa mereka Kakek dan Nenek ku?" tanya Cheo lirih.
Zena menghentikan laju tangisnya, menyusut air mata sebelum beranjak menarik tubuh Cheo untuk duduk di sampingnya. Batu nisan yang terbuat dari batu giok bertuliskan nama mereka berdua. Masih segar dalam ingatan disaat sang Ayah kembali pulang tanpa nyawa. Meninggalkannya yang kala itu baru berusia sepuluh tahun, sama persis seperti Cheo.
"Ayah, Ibu, dia Cheo. Anak yang aku asuh sejak masih bayi sekarang dia sudah besar. Lihatlah, dia tampan, bukan? Kuharap kalian tenang di alam sana. Hanya doakan saja aku semoga berhasil dalam setiap tujuan," ucap Zena seraya menabur bunga di atas pusara keduanya. Tak lupa menyiramkan air di atasnya.
"Hallo, Kakek, Nenek! Maafkan aku karena baru mengunjungi kalian." Cheo membungkuk memberi penghormatan pada keduanya.
Mereka duduk bersisian, cukup lama. Diam dalam hanyut sebuah khayalan tentang masa lalu.
"Zena!" Seseorang menegur Zena. Mendengar suara yang tak asing itu, Zena sontak menoleh dan melihat seorang laki-laki tua berdiri di pintu bangunan.
"Paman?" lirihnya bergetar. Ia beranjak meski kedua kaki gemetaran, membawanya melangkah mendekati sosok tua yang amat dikenalnya itu.
Sementara Cheo, hanya menoleh di tempatnya duduk. Tak satu pun dari penduduk pulau yang dikenalnya karena saat mereka tinggal di sana, Zena tak pernah mengizinkan Cheo bermain keluar area bukit hijau.
"Paman!" Zena memeluk laki-laki tua itu. Menangis terisak karena rasa haru yang membuncah. Dadanya semakin sesak tatkala mengingat betapa baiknya laki-laki tua dalam pelukannya itu.
Zena melepaskan pelukan, menatap wajah keriput di hadapannya dengan mata yang basah. Hidung yang memerah, kedua bahunya berguncang. Laki-laki tua itu pun tak pernah melihat tangisannya sekalipun mereka sering bertemu. Mungkin setelah puluhan tahun, itu adalah tangisan pertama Zena yang dilihatnya.
Tangan tua itu menyentuh pipi Zena, mengusap air yang menjatuhinya. Ia menggelengkan kepala sambil mengulas senyum sedih.
"Ciul tidak suka melihatmu menangis, dia sering bercerita kepada Paman tentang sisi rapuh yang kau miliki dibalik bibirmu yang selalu tersenyum itu. Semua ini dia yang membangunnya bahkan Ciul melarang penggarapan semak dan hutan di dekat rumahmu juga bukit hijau. Dia melarang semua orang mendekati area itu karena selain selalu ada dua harimau yang menjaga, tempat itu juga merupakan tempat kenangan terindah antara kau dan Ciul," papar pak Karim yang tak lain adalah ayah Ciul.
Sosok yang memiliki kehangatan seperti seorang Ayah, di mata Zena ia sama seperti Adhikari yang selalu menghujaninya dengan cinta.
"Ciul, di mana dia sekarang, Paman?" Zena bertanya antusias. Ada secercah harapan yang mengisi hatinya, senyum terkembang sempurna. Masih senyum yang sama seperti saat dia kecil dulu.
Pak Karim menggelengkan kepala, wajahnya berubah sendu. Hal itu membuat hati Zena gelisah dan bertanya-tanya tentang keberadaan Ciul.
"Setelah menikah dengan gadis dari kota bernama Nira itu, Ciul memutuskan untuk pindah. Dia tidak tinggal di sini, tapi selalu rutin menjenguk Paman. Ciul sudah memiliki seorang anak, Zena. Mereka selalu datang kemari saat sedang di pulau ini. Paman melihat kerinduan di wajah mereka," jawab pak Karim lagi sembari membayangkan wajah-wajah itu saat datang ke pulau.
Zena tertegun setelah mendengar kabar itu, tapi harapan masih ada tentang kepastian di mana sahabatnya itu tinggal. Dia sudah menduga jika Ciul menikah dengan Nira. Anak? Seperti apa anak mereka? Zena membayangkan seorang anak kecil dalam benaknya, ia melirik Cheo yang bergeming di antara makam kedua orang tuanya.
"Jadi, Ciul tidak tinggal di sini? Di mana dia tinggal, Paman? Dan ... dan berapa usia anaknya?" cecar Zena.
Ia akan tahu berapa tahun setelah dia pergi mereka menikah dan berpindah tempat tinggal.
"Mungkin sekarang anak nakal itu sudah enam tahun. Aku juga rindu suaranya yang melengking memanggil namaku 'Kakek'." Pak Karim tersenyum membayangkan wajah lucu cucunya dengan segala kenakalan yang ia lakukan.
Tanpa sadar Zena ikut tersenyum, tak sabar rasa hati ingin segera bertemu. Mencubit, menggendong bahkan mengajaknya bermain. Menggemaskan.
Pak Karim tersadar, wajahnya segera menoleh ke arah Zena. Ia kembali menggelengkan kepala.
"Jauh, Nak. Sangat jauh sekali dari sini, Bapak pernah sekali ikut bersama mereka dan benar-benar sangat jauh," ucap pak Karim.
Zena tercenung, menundukkan kepala dan berpikir segala kemungkinan.
"Apa mungkin dia tinggal di desa Hulu?" gumam Zena yang dapat terdengar di telinga laki-laki tua itu.
"Nah, iya! Mereka tinggal di sana karena orang tua gadis itu berasal dari sana. Mereka memutuskan menetap di desa Hulu dan menjadi petani di sana," sambar pak Karim dengan cepat.
Jantung Zena memacu dengan cepat, mendengar mereka tinggal di desa Hulu rasa cemas seketika memenuhi hatinya. Kabar dari Ben tentang penculikan anak-anak kecil itulah yang membuat Zena dirundung rasa gelisah.
Pak Karim melihat itu semua, ia mengernyitkan dahi bingung melihat Zena yang tiba-tiba membeku.
"Ada apa, Nak? Apa nak Zena mengetahui sesuatu?" tanya pak Karim tak lagi dapat menahan diri untuk tidak bertanya.
Zena mengangkat wajah, bertatapan dengan wajah tua itu ia tak tega mengatakan keadaan yang sebenarnya pada ayah Ciul. Zena memaksakan senyumnya, menggeleng cepat-cepat agar pak Karim tak merasa cemas.
"Ah, tidak apa-apa. Hanya kebetulan saja aku akan pergi ke desa itu, Paman. Sekalian saja ingin bertemu dengan mereka dan mengenal anak mereka juga." Zena terkekeh untuk menyembunyikan kecemasan dalam hatinya.
Melihat sikap pak Karim yang biasa saja, ia yakin bahwa laki-laki tua itu tidak tahu menahu soal kabar penculikan anak-anak di desa tersebut.
"Wah ... kebetulan sekali, kalau Nak Zena bertemu dengannya tolong sampaikan salam Paman padanya. Sudah beberapa bulan ini mereka tidak ada memberi kabar, dan hampir dua tahun juga mereka tidak pulang. Paman merasa cemas," ucap laki-laki tua itu lengkap dengan gurat cemas tercetak di wajahnya.
Zena tersentak, mendongak tak percaya akan kabar yang dia terima. Rasa cemas semakin menumpuk dalam hati, membuatnya sesak dan kesulitan untuk bernapas.
Pak Karim melirik Cheo yang bergeming di tempatnya, bocah itu sama sekali tak beranjak. Duduk diam dan memperhatikan, tanpa bersuara sedikit pun. Pandangannya beralih pada Zena yang termenung dalam pikirannya sendiri.
"Apa anak itu ... anak nak Zena?"
Ragu. Pak Karim bertanya sambil menunjuk Cheo. Zena tersentak, menghela napas sebelum berbalik memanggil Cheo. Bocah itu beranjak mendekat, membungkuk sopan di depan pak Karim.
"Namanya Cheo, dia anakku, Paman," ucap Zena memperkenalkan Cheo pada laki-laki itu.
"Hallo, saya Cheo. Senang bertemu dengan Anda," ucap bocah itu sangat sopan.
Pak Karim terkekeh, ia menarik Cheo ke dalam pelukan. Menepuk-nepuk lembut punggung bocah itu sambil tertawa ringan.
"Kau mirip sekali dengannya, Nak!" katanya bergetar.
Zena tersenyum, tapi kemudian senyumnya raib saat mendengar suara gaduh dari balik bukit.