Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Kedatangan Sang Elang



Sebastian yang mengalah pada perasaannya pergi menjalankan tugas dari Negara. Menjaga perbatasan hingga berbulan-bulan lamanya. Berharap dengan semua kegiatan itu, dia dapat melupakan Zena dan merelakannya untuk sang Kakak.


Sementara Zena ditahan untuk pergi dari desa Hulu oleh kedua sahabat lamanya. Rasa rindu yang terobati memberikan rasa sempurna dalam hati mereka. Zena membantu para penduduk di ladang tanpa segan apalagi malu. Kegiatan itu mengingatkannya pada kehidupan di pulau saat dulu kala.


Sudah hampir satu bulan ia berada di desa tersebut tanpa memikirkan keadaan kota yang dia tinggalkan. Penduduk di sana bahkan bisa menerima kehadiran Tigris yang tidak mengusik kehidupan mereka. Hewan itu dibiarkan tinggal di pinggir hutan, mencari makanannya sendiri.


"Kau senang tinggal di sini?" tanya Zena pada Cheo yang membantunya di ladang memetik buah-buahan.


Bocah itu tersenyum, ada kepuasan terbentuk di garis wajahnya. Tangan mungilnya cekatan memetik dan melempar buah ke dalam keranjang.


"Yah, ini mengingatkanku pada saat kita tinggal di pulau dulu. Aku lebih senang tinggal di sini daripada di kota, terlalu banyak hal yang aneh dilakukan manusia di sana. Berbeda dengan kehidupan di sini, manusia bertingkah normal dan tidak manja," jawab Cheo sembari mencibirkan bibir saat mengingat penduduk di kota Elang yang dimanjakan berbagai alat modern.


Zena mengacak rambutnya gemas, mereka melanjutkan kegiatan memetik buah di ladang milik Ciul. Buah-buah itu akan diambil para pengepul yang berasal dari kota, mereka hanya tinggal mengumpulkannya ke dalam keranjang.


"Barry, jangan terlalu tinggi! Anginnya sedang kencang," teriak Nira pada anaknya yang terus merayap di atas pohon.


"Tenang saja, Bu. Aku tidak akan jatuh," sahut anak kecil itu dengan berteriak pula.


Cheo mendongak, mencoba mencari tahu apa yang ingin diambil anak seusianya itu. Ia tersenyum, melihat sebuah sangkar burung yang berada di ketinggian.


"Dia tidak akan bisa mengambilnya, jika pun terus naik maka dahan di atas sana pasti akan patah," gumam Cheo setelah menelisik keadaan dahan pohon yang dipijak anak Ciul itu.


"Benarkah? Kau bisa melihatnya?" Zena menimpali sambil terus memetik buah dan menaruhnya ke dalam keranjang.


"Coba saja Kakak lihat, angin di atas sana pastilah sangat kencang. Pohon akan bergoyang, dan ketika dahan yang dia pijak ikut bergoyang dengan beban berat di atasnya maka tidak menutup kemungkinan dahan itu akan patah karena tidak mampu menahan berat badan Barry," jelas Cheo sontak membuat Zena menghentikan gerakan tangannya memetik buah seraya mendongak ke dahan pohon yang dimaksud Cheo.


Zena melangkah mendekati pohon di mana Barry berada. Mendongak sambil menelisik keadaan pohon juga dahannya yang sudah mengering di beberapa bagian.


"Barry, sepertinya kau harus turun. Pohon ini terlihat sedikit rapuh, aku khawatir dahan itu tak akan mampu menahan tubuhmu," pinta Zena setengah berteriak pada bocah nakal di atas pohon itu.


"Tenang saja, Kak. Sebentar lagi aku akan mendapatkannya," sahut Barry.


Kaki bocah itu mulai merayap menyusuri dahan untuk menggapai ujung di mana sebuah sarang burung berada. Salah satu tangannya berpegang pada batang pohon, yang lain terjulur mencoba mendapatkan sarang. Bocah itu terlihat serius, dia bekerja keras untuk bisa menggapainya.


Namun, keseimbangannya hilang, ketika seekor elang berukuran besar terbang di atas pohon tersebut.


"Argh!"


"Barry!"


Nira berteriak kencang disaat bunyi suara patah dahan terdengar cukup nyaring disusul jeritan Barry yang membahana. Tubuh kecil itu melayang ke bawah, Zena menangkapnya dengan mudah. Semua orang hampir kehilangan napas melihat adegan itu. Membayangkan Barry jatuh membuat mereka merasa ngilu sendiri.


"Kau tak apa?" tanya Zena sembari menurunkan tubuh kecil Barry yang menggigil.


Dia menggelengkan kepala, terus berhambur ke dalam pelukan Nira saat wanita itu berlari ke arahnya.


Cheo menunjuk langit saat Zena menoleh ke arahnya. Seekor elang terbang mengelilingi desa Hulu seolah-olah mencari tempat untuk mendarat. Semua penduduk merasa risau. Pasalnya, elang itu nampak lebih besar dari elang yang biasa mereka lihat.


Firasat buruk menghantui pikiran gadis itu, Zena keluar dari bawah pohon. Ia bersiul memanggil elang tersebut seraya menekuk sebelah tangannya.


Para penduduk mengernyit heran, tapi mereka tetap diam dan menunggu. Termasuk Ciul dan Nira yang tak tahu asal usul seorang Zena. Mereka termangu menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Hati-hati, Nak!"


Seorang laki-laki berlari dengan sebilah parang di tangan, tapi langkahnya kembali tertarik disaat Zena mengangkat tangan meminta untuk tidak mendekat. Mereka pikir elang itu akan menyerang Zena karena melihat caranya terbang yang menukik tajam.


Mereka terperangah ketika hewan penguasa langit itu hinggap di tangan Zena. Barry bahkan membuka mulutnya lebar-lebar merasa takjub sekaligus ngeri melihat bentuknya yang seperti seekor burung raksasa.


"Dia gagah sekali! Kakak sangat keren!" gumamnya tanpa sadar.


Zena tersenyum sambil mengusap-usap bulu lebatnya, sesuatu yang menggantung di sana menarik perhatian. Zena mengambil gulungan kertas tersebut, menerbangkan kembali sang elang yang terus hinggap di sebuah dahan pohon.


Zena membuka gulungan, membacanya dengan hati-hati sebuah coretan tangan yang ditulis terburu-buru.


"Tetaplah di sana, jangan kembali untuk beberapa waktu lamanya! Atau sampai aku meminta kalian untuk pulang."


Begitu isi pesan tulisan tersebut, Zena mengernyit tak mengerti. Dari gaya tulisan itu ia dapat menebak siapa yang telah menulisnya. Siapa lagi jika bukan Chendrik.


"Ada apa, Kak?" Cheo menghampiri, matanya melirik pada secarik kertas di tangan Zena. Diberikannya kertas itu kepada Cheo untuk ia baca.


"Menurutmu, kenapa dia menulis seperti itu? Apa dia tidak ingin kita kembali?" tanya Zena tersirat kebingungan di garis wajahnya yang tegas.


"Entahlah, mungkin saja Ayah ingin kita menikmati liburan sebelum aku melanjutkan sekolah. Lagipula, aku masih ingin tinggal di sini." Cheo menatap sekeliling.


Perkebunan buah milik Ciul sama persis seperti ladang-ladang di pulau Liman. Hanya keadaan daerahnya saja yang berbeda. Pulau Liman dikelilingi lautan, dan desa Hulu dikelilingi hutan.


Zena melirik dan melihat mata bahagia Cheo sehingga berpikir mungkin yang diucapkan anak itu ada benarnya. Menetap beberapa saat lagi sepertinya tak mengapa.


"Baiklah, kita akan mengikuti apa yang ayahmu inginkan. Sepertinya hari sudah semakin sore, sebaiknya kita kembali ke rumah," ucap Zena meski hati tak yakin dengan yang diucapkan lisannya.


Ia membuang napas panjang, mengurai dugaan yang membuat rongga dadanya terasa menyempit. Berkali-kali menepis, tapi tetap saja pikiran buruk itu enggan pergi dan terus menghantui.


Sampai malam datang menggantikan hari, Zena tak dapat memejamkan sama sekali. Pikirannya terus melayang-layang ke kota Elang nun jauh di sana. Ia beranjak, mengambil ponsel berniat menghubungi orang-orang di kota.


Namun, tak satupun dari mereka bisa dihubungi, termasuk ketiga teman Zena yang sudah beberapa hari tak ada menghubunginya.


"Ada apa dengan mereka?"