
Beberapa pekan sebelumnya, penjagaan di kota Elang mengendur, kewaspadaan pemerintah bahkan tak terlihat. Mereka terlena oleh kenikmatan sesaat, kedamaian dan ketenangan hidup. Satu-satunya hal yang membuat mereka menegang adalah peperangan yang terjadi di sekolah beberapa pekan lalu.
Chendrik mengirimkan pesan kepada kepolisian negara untuk membantu menyelesaikan bekas peperangan waktu itu. Dia juga meminta agar mereka bekerjasama menjaga kota dari serangan musuh yang tak terduga.
Namun, semua yang diucapkan pemimpin markas itu, hanya mereka anggap sebagai bualan semata. Merasa tak ada masalah yang berarti setelah peperangan itu, mereka tak acuh pada peringatan yang diberikan Chendrik. Sampai beberapa kendaraan perang tiba-tiba muncul mendobrak keamanan kota, barulah mereka panik dan kalang kabut mengumpulkan semua prajurit.
Penyerangan besar-besaran terjadi di darat, udara, dan laut. Ketiga pulau yang berada di bawah pemerintahan setempat tak luput dari serangan mereka. Termasuk pulau Liman, di mana Zena dilahirkan. Para mafia menguasai seluruh tempat di kota Elang, mereka tidak membiarkan para penduduk berkeliaran di luar apalagi pergi bekerja.
Perekonomian kota Elang lumpuh total. Kota dijaga ketat oleh orang-orang bersenjata lengkap, kepolisian negara dilumpuhkan dengan mudah. Markas mereka bahkan porak poranda setelah beberapa bom diledakkan.
"Master, para mafia itu telah menguasai setengah dari kota Elang. Apa yang harus kita lakukan?" lapor seorang mata-mata kepada Chendrik dan Adhikari yang sedang memimpin rapat.
"Bagaimana dengan pihak kepolisian? Apa mereka sudah bergerak mengamankan kota?" tanya Chendrik.
Ia tetap tenang meskipun hati diliputi rasa gelisah.
"Mereka melakukan perlawanan, Master, tapi para mafia itu justru menghancurkan markas kepolisian. Banyak di antara mereka yang menjadi korban dan sebagian menjadi tawanan," jawabnya lagi.
"Bagaimana dengan dengan markas tentara?" Chendrik teringat pada Sebastian, tentara memiliki kendaraan perang yang lengkap.
"Mereka belum terlihat bergerak, Master. Gerbang markas mereka bahkan tertutup rapat, tak ada aktivitas apapun yang terlihat di dalam markas tersebut."
Chendrik mendesah, mengusap wajahnya gusar mengingat kota Elang yang sedang kritis menghadapi serangan para mafia.
"Berapa kapal perang yang terlihat di laut?" Chendrik melanjutkan pertanyaan.
"Sekitar sepuluh kapal perang di masing-masing dermaga, Master." Menjawab tegang.
"Berapa kapal perang yang kita miliki? Juga kapal selam?" Chendrik mengingat apa saja yang dimiliki markas saat ini.
"Tidak banyak, Master. Ada lima belas kapal perang juga lima kapal selam yang kita miliki," jawab salah satu petinggi yang ditugaskan menjaga laut kota.
"Tidak masalah, aku ingin beberapa prajurit pergi menyelam untuk menghancurkan kapal perang mereka. Bukankah ada jalan bawah tanah yang bisa kita gunakan untuk menuju ke sana?" ucap Chendrik.
Ia menatap semua orang, wajah-wajah tegang mereka amat kentara. Seumur hidup, ini adalah serangan terbesar yang pernah terjadi di kota Elang. Tim Elang biru yang bertugas menjaga laut kota yang akan melakukan tugas itu. Ketua mereka mengirimkan beberapa orang untuk pergi menyelam ke dalam laut.
"Master? Bagaimana dengan penyerang di darat? Apakah kita akan menyerang mereka secara langsung?" tanya salah satu petinggi yang bertugas menjaga keamanan kota.
"Ada berapa kendaraan perang yang mereka bawa, dan bagaimana dengan keadaan penduduk? Apa mereka baik-baik saja?" tanya Chendrik sebelum menjawab pertanyaan darinya.
"Sekitar sepuluh kendaraan perang yang memblokir gerbang kota, Master. Para penduduk dilarang keluar rumah, mereka berjaga di depan setiap rumah penduduk, Master," jawabnya.
Chendrik berpikir, sepuluh yang mereka bawa, sedangkan markas hanya memiliki tujuh kendaraan perang saja. Jumlah yang seimbang, tapi tidak menyurutkan niat mereka untuk melawan.
"Siap, Master!" jawabnya tegas.
"Kurasa yang tersulit adalah melawan serangan udara." Adhikari bergumam.
"Mereka tidak lagi berkeliaran, Master. Yang aku dengar setelah mereka berhasil menguasai kota, selanjutnya adalah markas kita ini," sela salah seorang petinggi.
"Jika begitu kita harus bersiap menerima serangan. Baik serangan udara maupun darat. Kau, aku mengandalkanmu untuk mengatur semua prajurit yang ada. Tempatkan mereka sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki," titah Chendrik pada ketua tim Elang merah juga yang lainnya.
Satu per satu para petinggi membubarkan diri, malam itu juga mereka akan menjalankan tugas yang diberikan Chendrik. Setidaknya apa yang mereka lakukan sedikit akan mengurangi jumlah musuh.
"Bagaimana dengan Zena? Apa kau sudah menghubunginya?" tanya Adhikari setelah mereka hanya tinggal berdua.
"Aku tidak bisa memberitahunya tentang hal ini, Master. Biarkan dia tetap di sana sampai keadaan menjadi aman," jawab Chendrik lesu.
Ia menyandarkan punggung pada kursi, menatap hampa langit-langit ruangan rapat. Penyerangan ini benar-benar diluar dugaannya.
"Kau tahu siapa pemimpin para mafia itu?" Adhikari kembali bertanya, ia menatap lekat wajah kusut Chendrik mencari jawaban.
"Hirata, dialah pemimpin para mafia. Maafkan aku, Master. Aku dan Hirata dulu adalah sahabat bahkan kami sudah seperti saudara. Kami sempat membangun bisnis bersama, yang lama kelamaan mulai melenceng dan tidak sejalan dengan pikiranku. Dia sudah berjanji tidak akan menyentuh kota Elang, tapi nyatanya dia malah menantang seolah-olah ingin menuntaskan dendam yang tertunda," jawab Chendrik.
Adhikari sedikit terkejut, hal itu terjadi jauh sebelum Chendrik memutuskan untuk bergabung dengan markas Elang dan menjadi mata-mata terbaik hingga berhasil memimpin markas menggantikan pemimpin terdahulu.
"Kau sudah tahu pasti seperti apa lawanmu, artinya kau sudah mempersiapkan diri untuk apapun yang akan terjadi. Termasuk melawannya secara langsung," sahut Adhikari.
"Yah, aku tahu. Kami adalah lawan seimbang, sama-sama meraih sabuk hitam di tahun yang sama bahkan digadang-gadang sebagai kolaborasi terbaik. Entahlah, semoga saja hatiku tidak melemah saat harus berhadapan langsung dengannya," jawab Chendrik lagi dengan pandangan mengawang ke udara.
Adhikari terdiam, tak ada lagi yang mereka bicarakan. Memikirkan keadaan kota yang sedang kritis, membuatnya memboyong Cana ke markas. Satu-satunya tempat yang dia pikir aman dari serangan musuh.
Keadaan kota Elang benar-benar menyedihkan, tak ada kehidupan juga manusia yang berkeliaran di jantung kota kecuali para mafia yang selalu siaga berjaga di depan rumah-rumah penduduk. Mereka menyegel semua industri, juga pertokoan dan melumpuhkan para pengusaha. Kota Elang benar-benar menjadi kota mati.
"Master!"
Seseorang menerobos masuk ke dalam ruang rapat, dengan cepat mendatangi Chendrik dan Adhikari.
"Ada apa?" Chendrik menatapnya penasaran.
"Pemerintah mengirimkan surat permohonan bantuan kepada markas, juga dari markas tentara, sepertinya mereka ingin bekerjasama kali ini," jawabnya sembari menyerahkan dua buah amplop dengan segel yang berbeda.
Chendrik menerima dan membacanya satu per satu bersama Adhikari. Benar, itu adalah surat dari pemerintah yang berisi permohonan bantuan. Juga surat dari markas besar tentara yang ingin bekerjasama dengan markas Mata Elang.