Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Pergi Menyelidiki



Selama rapat berlangsung, semua siswa dibebaskan dari belajar karena guru-guru turut hadir dalam rapat. Namun, mereka tak dibiarkan pulang sebelum jam sekolah berakhir. Bosan terus berdiam diri di kelas usai pelajaran jam pertama, Zena memutuskan untuk pergi ke atap sekolah.


Tempat yang membuatnya penasaran, dan belum pernah ia kunjungi. Tanpa memberitahu Mirah dan Ben, ia pergi diam-diam sendirian.


"Seharusnya untuk sampai di atap aku hanya perlu menaiki tangga-tangga ini, bukan?" Ia bergumam sendiri sembari menapaki satu per satu anak tangga yang berada di lantai kelasnya.


Lorong yang sepi, keadaan lantai itu pun sepi. Ia ingat peringatan William tentang sekolah yang berubah sepi secara tiba-tiba.


"Apa aku akan menemukan sesuatu dalam keadaan sepi ini? Ah, William ... Laila, sampai kapan gadis itu akan menutup mulutnya?" Zena terus bergumam demi mengusir bosan pengganti teman.


Brug!


Sebuah suara mengalihkan perhatian Zena, dahinya mengernyit disaat suara lain menyambut dengan risih. Erangan dan rintihan yang sama yang didengar Zena saat penyerangannya ke villa di balik hutan.


"Suara yang sama persis seperti yang aku dengar di villa itu," gumam Zena seraya membawa langkah mendekati kelas kosong. Lebih tepatnya gudang penyimpanan segala barang bekas di sekolah.


Dengan langkah yang ringan dan tanpa suara, Zena mengendap sembari mengedarkan pandangan waspada khawatir ada orang memasang mata mengintainya. Ia mendorong pintu, tidak terkunci. Bertumpuk-tumpuk meja dan kursi yang telah rusak, cukup menghalangi tubuh kecil Zena dari sekelompok siswa yang tengah melakukan sesuatu.


Zena menyelinap masuk ke dalam ruangan lain, berdiam diri di sana. Sebuah toilet tak terpakai. Ia menebak mungkin ruangan itu bekas kantor guru.


"Mmm ... bau sekali!" Zena mengibas-ngibaskan tangan di depan hidungnya guna mengusir bau tak sedap dalam ruangan itu. Namun, tetap saja, bau itu enggan pergi dari sana.


Ia membuka pintu membuat celah, berjongkok di bawah pintu mengintip kegiatan apa yang sedang dilakukan sekelompok orang di dalam ruangan tersebut. Mata Zena memicing disaat menangkap tiga sosok yang amat dikenalnya.


Orang-orang yang selalu mengganggu Zena tentunya, kelompok macan putih itu tengah asik dengan kegiatan mereka. Dua orang laki-laki yang Zena kenal sebagai guru bergabung dalam kegiatan itu.


"Apa yang sedang mereka lakukan? Tanpa tahu malu melepaskan seragam begitu saja? Apa hal ini sudah lumrah di kota-kota besar? Tapi ini di sekolah!" Geram sendiri melihat tingkah kedua orang yang sedang menggeliat di bawah kuasa guru tersebut.


Satu orang terlihat berjaga, berdiri di dekat jendela.


"Eh? Aku tidak melihatnya tadi. Apa dia melihatku? Tapi jika dia melihat, sudah pasti akan berteriak." Zena menggigit bibirnya saat sadar seseorang mengawasi dari jendela.


Biarlah, jikapun ini jebakan, ia sudah siap dengan segala konsekuensinya. Zena tak beranjak meski bau terus menjejali lubang hidungnya. Ia menaikkan kerah baju guna menutupi hidung menghalau bau yang terus merangsek masuk.


"Lebih cepat!" racau salah satu gadis dengan napas terengah-engah. Sementara yang lain, sibuk berdecak dan berdesis dengan mata yang terbuka-tutup.


"Ah, mataku yang suci harus ternodai. Kenapa aku masuk ke sini tadi? Bodoh!" rutuknya pada diri sendiri. Ia tak lagi mengintip, berbalik dan bersandar pada dinding dengan napas yang memburu.


Erangan panjang disambut lenguhan mengakhiri kegiatan maju-mundur mereka. Suara decakan lidah, masih terdengar meskipun permainan telah usai. Itu hanya perhitungan Zena.


"Kau tahu, siswa baru yang bernama Zena?" Sang ketua membuka suara sembari membenarkan seragam yang ia kenakan.


"Ada apa? Bukankah dia mangsa yang empuk? Jangan pikir kau cemburu padanya karena menurut siswa yang lain dia cantik," sahut sang lelaki yang Zena tahu itu adalah guru.


"Hen-ti-kan! Kau masih ingin melakukannya?" Suara bercampur desisan disaat laki-laki itu menyesap kulit bagian dadanya.


"Mereka saja belum selesai," celetuknya melirik pada sepasang lagi yang masih asik dalam kegiatan maju-mundur mereka.


"Biarkan saja, mereka baru memulainya." Ia tergelak sambil melirik rekannya yang menggigit bibir dengan tubuh terguncang.


"Jadi, bagaimana? Apa yang ingin kau katakan soal murid baru itu?" Suara laki-laki tadi kembali bertanya.


"Aku curiga dia adalah seorang mata-mata. Melihat gaya dan gerakannya melawan ... mungkinkah dia itu mata-mata?" Ia mengernyit sembari mengalungkan kedua tangan di leher laki-laki itu.


Suara tawa yang terdengar dari si laki-laki membuatnya berdecak. Bibirnya tak henti menggoda, menyusuri ceruk leher sang ketua.


"Dia mungkin saja pernah belajar bela diri sewaktu belum pindah di kota ini. Kudengar dia anak dari dokter hebat itu, bisa saja, bukan? Tapi untuk menjadi mata-mata, aku tidak yakin karena dia terlihat biasa saja," ucapnya berkomentar.


"Dia memiliki adik yang masih duduk di sekolah dasar." Gadis yang baru saja selesai dengan kegiatannya ikut bersuara.


Sang ketua menoleh dengan dahi berkerut. "Kau yakin?"


"Aku pernah memergokinya menjemput seorang anak berusia sepuluh tahun ... mungkin, di sekolah dasar," katanya dengan pasti.


"Anak sepuluh tahun?"


"Ya, laki-laki."


"Mereka hanya keluarga biasa saja, kita tahu dokter Adhikari itu, bukan? Mereka keluarga yang biasa saja." Laki-laki lain menimpali.


"Kudengar seorang gadis datang bersama Chendrik ke rapat di gedung parlemen tempo hari. Dia mengancam semua menteri. Menurut laporan, gadis itu amat dihormati oleh ketua Mata Elang itu," sambar gadis yang mengawasi di jendela.


Zena menegang, yang mereka bicarakan adalah dirinya. Satu kesimpulan, mereka berkaitan dengan para mafia.


"Kita tidak bisa gegabah lagi dalam bertindak."


"Tapi Tuan Hirata selalu menuntut."


"Kau tenang saja, aku sudah jelaskan situasinya."


"Apa laki-laki kerdil itu mau mengerti?"


"Semoga saja."


"Sudahlah, cepat kembali ke kelas sebelum ada yang memergoki kita."


Zena menahan napas saat mereka melintasi tempatnya bersembunyi. Percakapan yang mereka lakukan, benar-benar membuatnya terkejut. Satu fakta baru ia temukan.


"Aku harus lebih berhati-hati, mereka mulai mencurigai ku. Hhmm ... ternyata mereka sama denganku, bukan siswa dan guru sesungguhnya." Zena bergumam.


Ia melongo keluar memastikan mereka semua sudah pergi meninggalkan gudang tersebut. Buru-buru ia keluar, terus berlari dari gudang dan menuju atap sekolah. Zena menghirup udara segar sebanyak-banyaknya guna mengganti udara bau yang memenuhi paru-parunya.


"Sial! Tempat itu bau sekali?" gerutu Zena seraya melanjutkan langkah menuju atap sekolah. Tak ada apapun di sana, selain tempat terbuka yang luas.


Angin segar menerpa wajahnya, menerbangkan rambutnya yang diikat ekor kuda, bergoyang ke kanan dan kiri mengikuti hembusan angin di tempat tersebut. Zena berdiri tegak, menikmati sepoinya. Dari tempatnya berdiri, pemandangan di bawah sana jelas terlihat.


"Ayah, Ibu, bagaimana kabar kalian?" Ia bergumam, memangku tangan di perut. Pandangannya mengawang menatap arak-arakan awan yang berjalan lambat beriringan. Ia tersenyum hangat saat angin lembut menerpa wajahnya.


Tanpa ia sadari seseorang tengah memperhatikan dirinya di jauh.


"Siapa dia?"