
Zena dan Cheo menunggu kedatangan para penyusup itu, di tangan mereka senjata andalan telah digenggam. Mereka tak sadar sesosok makhluk sedang mengawasi dengan waspada. Kedua bola matanya bersinar terang, sangat kontras dengan kegelapan malam.
Cheo merayap ke atas van, berjongkok di sisi Tuma memperhatikan tamu yang datang tanpa diundang. Mereka kelompok berpakaian serba hitam, menyembunyikan diri mereka di dalam gelap. Sepuluh orang jika Cheo tak salah mengira. Matanya masih awas meski di dalam gelap, semua itu karena dia sering berburu di kegelapan hutan bersama Tigris.
Suara gemerasak daun kering juga ranting patah yang nyaring menandakan mereka semua telah dekat. Seseorang memerintah untuk mengelilingi van yang menjadi rumah kedua untuk Zena dan Cheo itu.
"Ingat, jangan biarkan wanita itu hidup, tapi kita harus membawa anak itu dalam keadaan hidup-hidup," ucap sebuah suara bisikan yang tentu saja terdengar oleh Cheo dan Zena.
Seketika saja Zena mengerti, siapa yang telah mengirim mereka untuk membunuhnya.
Oh, jadi kau ingin bermain-main denganku? Baiklah, kita lihat saja!
Zena bergumam di dalam van dan bersiap menyambut kedatangan musuh. Cheo menepuk punggung Tuma memintanya untuk bersiap, sigap dia melompat ke atas punggung Tuma menunggu waktu untuk menyerang.
Mereka hanya orang-orang lemah, pembunuhan bayaran yang tidak memiliki kemampuan mumpuni. Ketiga harimau itu saja cukup untuk mengusir mereka pergi. Kesepuluh orang itu terus bergerak semakin mendekati van sehingga tak sadar bahwa Tigris dan Belle telah mengepung dan menutup jalan keluar mereka.
"Roarrrr!"
Suara auman dari tiga arah menyentak tubuh mereka, mata mereka beredar ke segala arah. Mencari hewan yang bersuara tadi dengan waspada.
"Suara apa itu?"
"Terdengar seperti harimau?"
"Benar, seharusnya kita tidak melakukannya di tempat ini."
"Tapi Bos menyuruh kita untuk membunuhnya di sini."
Satu per satu suara dari mereka terdengar, hal itu membuat Zena ingin sekali terpingkal. Musuh yang mengirim mereka tidak tahu jika selalu ada hewan besar bersamanya. Dia mengira Zena adalah wanita lemah dan tak dapat berbuat apa-apa.
Suara langkah di atas van membuat mereka mendongak. Sepasang mata bersinar di kegelapan, semakin membuat mereka waspada.
"Kalian ingin membunuh Ibu kami? Lakukan itu setelah kalian melangkahi mayat kami!" ucap Cheo dengan lantang.
Suaranya menggema di kesunyian malam, mereka benar-benar dibuat terkejut. Tak menyangka kedatangan mereka telah diketahui.
"Kami akan membiarkanmu hidup, Bocah, karena tuan kami menginginkanmu," ucap salah satu dari mereka meskipun sembari menahan getaran rasa takut karena keberadaan Tuma.
"Benarkah? Sayangnya, aku tidak bisa membiarkan kalian kembali dalam keadaan hidup," sahut bocah itu lagi sembari mengangkat nunchaku di tangannya.
"Kau hanya seorang bocah, tak akan mungkin bisa melawan kami. Harimau itu pun terlihat masih anak-anak sama sepertimu, akan sangat mudah bagi kami membunuhnya," sambut penjahat dengan berani.
Zena membiarkan mereka berdialog, ucapan Cheo membuatnya selalu ingin mendengar. Ia menunggu giliran, diam-diam merayap keluar dan menutup pintu keempat.
Panik, takut, ingin melarikan diri. Itulah yang ada dalam benak mereka saat ini. Hal ini benar-benar tidak terduga, mereka akan bertemu dengan tiga hewan besar sekaligus.
"Bagaimana ini?" Salah satu bertanya dengan nada panik.
"Sudah kepalang tanggung, kita lawan saja!"
Mau tidak mau mereka lanjutkan menyerang, Tuma melompat dari atas van bersama Cheo. Sontak mereka mundur menjaga jarak dari terkaman hewan buas itu. Sayang, di belakang mereka ayah Tuma telah bersiap.
Sebagian langsung berbalik dengan waspada, mereka mengacungkan golok di tangan bersiap menebas jika saja Tigris menyerang secara tiba-tiba. Di sisi kiri mereka, arah kedatangan, Belle menunggu dengan taring tajamnya yang mencuat ke permukaan.
Satu-satunya jalan adalah bagian kanan tempat itu, jalan menuju hutan juga jalan keluar meskipun harus memutari bukit. Namun, sesosok bayangan muncul di bawah terpaan sinar rembulan, di tangannya ada samurai yang diletakkan di atas pundak. Sosok wanita yang harus mereka bunuh.
"Fokuskan pada wanita itu! Setidaknya kita harus berhasil membunuhnya!" ucap ketua rombongan dengan lantang.
Auman Tigris menyambut, membuat tanah yang mereka pijak berguncang. Burung-burung yang beristirahat di dahan pohon, berterbangan karena terkejut dan juga takut. Mereka saling merapatkan diri satu sama lain, mereka kira ini hanyalah misi yang sangat mudah mengingat target mereka hanyalah seorang gadis kecil saja.
Namun, gadis kecil itu lebih berbahaya, daripada ketiga hewan besar itu. Hanya berbekal sebilah golok tanpa senjata api, mereka terlalu meremehkannya.
Tanpa berbicara, Zena mengayunkan samurai menyerang lebih dulu. Cheo melompat dari atas tubuh Tuma ikut menyerang mereka, sedangkan ketiga hewan itu berjaga di tiga sisi menutup jalan keluar. Tak satu pun dari mereka akan lolos kecuali sang pemimpin. Zena akan membiarkannya hidup untuk memberitahu seseorang yang mereka panggil bos.
Golok-golok di tangan mereka retak, bahkan ada yang patah saat menangkis samurai milik Zena. Entah terbuat dari apa samurai legenda itu, hanya Yuki dan Bazleen yang tahu.
Mereka tumbang satu per satu, yang mencoba melarikan diri harus berhadapan dengan ketiga harimau. Hanya tersisa satu, pertarungan dalam gelap, tentu saja membuat mereka kesulitan. Tak seperti Zena dan Cheo yang sudah terbiasa dengan gelap.
Ujung samurai Zena terhunus tepat di lehernya, di bawah sinar rembulan ia dapat melihat wajah cantik dan bengis milik targetnya.
"Kembalilah pada Tuanmu, dan katakan jika ingin membunuhku tak cukup hanya dengan mengirimkan sepuluh orang pembunuh!" Zena menggores wajah pemimpin kelompok tersebut menggunakan ujung samurainya.
Dia mengerang, darah segar mengucur dari luka sayatan di wajah. Jerit kesakitan, ia perdengarkan di kaki bukit hijau. Kedua tangannya mencoba untuk menutup luka, tapi tetap saja darah rembes dari sela-sela jarinya.
Zena beranjak, menendang tubuh itu hingga terguling ke dalam semak. Buru-buru dia berdiri meski sempoyongan tetap berlari meninggalkan tempat terkutuk menurutnya itu.
"Kenapa Kakak membiarkannya pergi?" tanya Cheo tak senang.
"Hanya untuk memberi peringatan padanya yang sudah berani mengusik kita. Sudahlah, tak perlu dibersihkan. Hanya lanjutkan istirahat kita, besok hewan-hewan buas dari hutan akan membersihkannya," ujar Zena kembali masuk ke dalam van bersama Cheo.
Ia melihat Tuma dan Belle berkumpul bersama Tigris, hatinya teriris pilu. Tak akan mungkin mereka dipisahkan lagi, tapi juga tak akan mungkin ia membawa mereka semua. Zena menghubungi Chendrik, meminta salah satu petinggi untuk menjemput keduanya. Chendrik menyanggupi dan berjanji akan tiba besok pagi.
Lega rasanya, setelah mereka kembali nanti Tigris dapat berkumpul bersama keluarganya.