
"Master, semua murid di gedung olahraga tertawan!" seru seorang prajurit yang melaporkan situasi pada Chendrik.
Laki-laki yang baru saja menyelesaikan pertempurannya, termangu panik. Ia melempar kayu di tangan seraya mengedarkan pandangan.
"Di mana Cheo?" tanyanya. Mata laki-laki itu menyalang saat tak mendapati sosok anaknya itu.
"Master kecil? Saya tidak melihatnya, Master," kata prajurit itu. Kepalanya menunduk takut.
Chendrik mendesah, mengusap wajahnya gusar. Ia mencoba percaya pada anaknya bahwa dia mampu mengatasi situasi yang terjadi.
"Baiklah, apa yang mereka inginkan?" tanya Chendrik. Ia menenangkan hatinya, mencoba mencari tahu apa yang diinginkan para mafia itu.
"Mereka meminta kita menarik pasukan. Jika tidak, maka mereka tak akan segan untuk meledakkan tempat ini berikut orang-orang yang mereka sandera, Master," jawabnya. Wajah itu terlihat serius dan panik sekaligus bingung.
"Kurang ajar! Mereka memang tidak bisa dibiarkan," gumam Chendrik dengan kedua tangan terkepal.
Ia berpikir mencari solusi terbaik, hafal betul bagaimana sifat para mafia itu.
"Ayah!" Sesosok kecil berlari di lorong yang gelap. Gesit dan cepat sambil mengayunkan nunchaku di tangan tatkala serangan tiba-tiba datang. Memecah kepala musuh dengan sekali hantaman.
"Cheo?" Mata Chendrik membelalak, tapi ia merasa lega melihat anaknya dalam keadaan baik-baik saja.
Ia menunggu dengan tegang, bocah itu seperti seekor bajing yang meloncat ke sana ke mari dengan lincah tanpa takut terjatuh.
"Ayah!" Cheo datang dengan napas tersengal-sengal, keringat membanjiri wajah hingga membuat tubuhnya basah kuyup.
"Ada apa?" tanya Chendrik panik. Dipeganginya kedua bahu Cheo seraya diguncangnya pelan.
"Aku melihat seorang ninja, Ayah. Lalu, semua guru terlepas dan berlarian entah ke mana. Aku hanya mendengar mereka semua akan pergi ke gedung olahraga sesuai perintah. Ayah, apakah sesuatu terjadi?" ucap Cheo terengah-engah.
Dadanya naik dan turun tak beraturan, napasnya memburu berat.
"Astaga!" Chendrik beranjak, mengusap wajahnya gusar. Rasa tak percaya jika ninja ikut serta dalam penyerangan kali ini.
"Rasanya mustahil, Cheo. Ninja tidak pernah terlibat dengan pihak mana pun, kecuali mereka diperintahkan. Yah ... para mafia itu pasti meminta bantuan mereka."
Chendrik mendekatkan wajahnya pada Cheo, menatap tegas manik kecil itu agar ia mengerti dengan situasi yang sedang terjadi.
"Cheo, dengar! Situasi kali ini tidaklah mudah. Tidak ada Zena di sini, kau jangan pernah menjauh dari Ayah. Tetaplah bersama Ayah. Kau mengerti!" ucap Chendrik menggoyangkan sedikit tubuh anaknya itu.
"Mengerti, Ayah. Aku tak akan ke mana pun," sahut Cheo tak kalah tegas.
"Tarik pasukanmu dari sekolah ini, Chendrik! Jika tidak kau akan melihat apa yang terjadi di sini!" ucap sebuah suara yang entah di mana sumbernya.
"Master?" Prajurit itu panik, tak tahu harus apa dengan keadaan yang seperti ini. Banyak prajurit yang tumbang, tapi tidak sedikit juga dari pihak musuh terkapar di lantai sekolah tersebut.
Sementara di dalam gedung, semua siswa meringkuk ketakutan. Mereka berkumpul di satu titik. Alat olahraga yang mereka pegang, sungguh tak berguna saat berhadapan dengan senjata.
Ben tak henti meringis, darah kembali mengalir dari bekas luka di kakinya. Mirah dan Sarah buru-buru membantu menghentikan pendarahannya. Melilitkan lebih banyak kain pada luka tersebut.
Mereka mendongak saat seorang mafia berbicara lewat pengeras suara. Meminta pada markas Mata Elang untuk menarik mundur pasukan.
"Ketua! Pemimpin itu masih berdiri di sana. Sepertinya, dia meremehkan kita dan tidak mendengarkan dengan baik." Seseorang datang dan melaporkan posisi Chendrik.
Orang yang dipanggil ketua itu menggeram marah. Kedua tangannya terkepal, ia turun dari podium seraya berjalan menghampiri semua siswa. Secara tiba-tiba dia menarik salah satu siswa dengan paksa.
"Lepaskan aku, mau di mana ke mana aku!" Siswa tersebut memberontak, tapi tak dapat lebih karena tenaga mafia itu hampir tiga kali lipat dari yang mereka miliki.
"Diam!" bentaknya. Tak hanya membuat siswa yang dicekalnya terkejut, tapi juga semua orang yang ada di ruangan tersebut.
Dia menggerakkan tangannya melingkar di kepala siswa itu, dan tak lama ia terkapar dengan darah yang mengucur deras dari lehernya.
"ARGH!"
Jeritan semua orang mengejutkan Chendrik dan Cheo juga prajurit yang bersamanya. Mereka waspada, detik berikutnya sesuatu jatuh berdebam di dekat mereka.
Brugh!
Ketiga orang itu spontan mundur dengan mata terbelalak saat sebuah mayat jatuh di dekat kaki mereka dengan kepala hampir terputus. Mata Chendrik menyalang, mereka tidaklah main-main.
"Master?"
Chendrik membentang tangan, mengajak mundur mereka.
"Tarik semua pasukan, kita tidak bisa mengorbankan semua orang. Mereka akan terus mengancam dengan membunuh satu per satu siswa yang ada di sana. Cepatlah, kita akan menyusun rencana untuk membebaskan mereka kembali," titah Chendrik sembari terus menjauh dari tempatnya semula.
"Baik, Master!"
Ia berlari sambil berteriak meminta mundur semua pasukan. Langkah keduanya berhenti di halaman sekolah tersebut.
"Ayah?" Cheo mendongak, tatapannya menyiratkan kebingungan dengan sikap Chendrik yang menarik kembali pasukan.
Jika itu Zena, maka dia pasti sudah memiliki rencana lain untuk menuntaskan semuanya. Bukan malah mundur, tapi saat ini situasinya berbeda. Banyak warga biasa yang akan menjadi korban jika mereka tetap di sana.
"Kita harus menyusun rencana ulang, Cheo. Ada banyak nyawa yang terancam keselamatannya di dalam sana. Kita tidak bisa membiarkan mereka menjadi korban hanya karena keegoisan kita," ucap Chendrik yang dengan mudah dapat dimengerti Cheo.
Syut!
Sebuah bayangan hitam melesat cepat di atas kepala mereka. Nyaris tak terlihat jika tak ada udara yang melintasi tubuh.
"Ayah, dia ninja yang aku maksudkan!" tunjuk Cheo pada sesosok bayangan hitam yang tak jelas wujudnya.
Chendrik memicingkan mata, melihat dengan jelas sosok yang melompat dengan lincah di atas atap sekolah tersebut.
Apakah dia Black Shadow? Seperti itukah dirinya? Pantas saja dia menjuluki dirinya Black Shadow.
"Ayah?"
"Dia bukan ninja, Cheo. Dia salah satu musuh yang mengincar Zena. Mungkin saja Zena tertangkap dan kita tidak tahu apa yang telah dia lakukan padanya. Tetap di sini, Cheo. Jangan menjauh!" tegas Chendrik memberi perintah putranya.
Seluruh pasukan yang ditarik mundur telah berkumpul bersamanya. Mereka menyusun rencana untuk dapat membebaskan para tawanan sekaligus menangkap sosok bayangan hitam yang baru saja melintasi mereka.
Sementara situasi di dalam ruangan, semua orang masih syok dengan kejadian pembunuhan yang terjadi tepat di depan mata mereka sendiri. Sebagian masih menangis sesenggukan. Perasaan takut terus menjalar memenuhi hati mereka. Putus asa, menyerah.
Di tengah keputusasaan mereka, sebuah anak panah melesat dengan cepat entah dari mana datangnya.
Jleb!
Anak panah itu mendarat tepat di tengkuk salah satu penjahat. Dia mengerang, mengejang, dan jatuh terpakar tanpa nyawa. Semua terperangah.