Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Perundungan



Brak!


Sebuah tangan dengan jemarinya yang lentik menggebrak meja milik Zena. Gadis dalam misi itu memejamkan mata menahan gejolak emosi yang meraja. Ia tetap tenang seperti air mengalir, tapi diam-diam menghanyutkan.


"Murid baru! Kudengar kau bersama William kemarin, aku yakin kau pasti tahu sesuatu soal kematian murid tampan itu. Katakan apa yang kalian lakukan kemarin, dan apa yang terjadi padanya?" tuntut siswi berkulit putih bersih itu dengan tubuh membungkuk mendekatkan wajah mereka.


Zena mendengus, tersenyum miring merasa lucu dengan tingkahnya yang sok berkuasa. Padahal, hakikatnya dia itu lemah. Kekuasaan yang membuatnya merasa paling kuat, dia adalah anak pengusaha nomor satu di kota Elang tersebut.


"Kau menantangku?" pekiknya disaat Zena tak menanggapi justru malah mengejeknya.


Ia mendongak, memperlihatkan kedua belah pipinya yang bersemu merah karena menahan tawa. Namun, hal itu justru menjadi daya pikat untuk semua siswa yang ada di ruang kelas tersebut. Baik laki-laki maupun perempuan. Mereka membuka mulut menatap takjub pada kecantikan alami yang dimilki Zena.


Gadis yang menghardiknya bahkan termangu tak dapat berkata lagi untuk beberapa detik lamanya.


"Maaf, Kakak, tapi aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi pada laki-laki itu. Aku hanya setengah hari saja mengenalnya, selebihnya ...." Zena mengangkat bahu tak tahu, wajahnya dibuat imut dengan pupil mata yang menggemaskan. Kedua pipinya menggembung lucu, polos dan lugu, tapi sebenarnya mematikan.


Ke-kenapa dia imut sekali? Tidak! Tidak!


"Bukankah kau yang terakhir kali bersamanya? Banyak mata yang melihat. Jadi, katakan saja apa kau tahu sesuatu?" Wajahnya menghitam marah, seluruh siswa di dalam kelas tersebut menegang merasakan atmosfer berubah.


Namun, hanya Zena yang tetap tenang dan tidak merasa tertekan sama sekali. Bibir tipisnya yang merah alami terus tertarik ke atas, membentuk senyuman manis dan memabukkan.


"Dia sama sekali tidak terintimidasi."


"Benar. Lihat, dia tetap tenang."


"Padahal ketua macam putih itu sudah memberikan tatapan tajamnya."


"Dia hebat sekali!"


Desas-desus terdengar lirih, tertangkap telinga Zena juga gadis yang disebut sebagai ketua macan putih itu. Ia memejamkan mata erat, kedua tangannya terkepal kuat. Gerahamnya diadu hingga menimbulkan bunyi gemeratak yang nyaring.


Gadis itu menegakkan tubuh, membuka matanya yang memerah. Ia berbalik membungkam mulut-mulut lancang yang menyinggungnya.


"Diam! Saat istirahat nanti, kalian berlima temui aku di belakang gedung sekolah! Jika tidak, kalian tahu sendiri apa akibatnya dari menantangku?!" kecamnya menuding kelima orang yang duduk berkelompok.


Mereka meneguk ludah basi, menunduk takut. Tubuh kelimanya gemetar bahkan tangannya sudah berulangkali menyeka keringat.


Zena melirik, sebegitu besarkah pengaruh macan putih di sekolah itu? Hingga semua siswa menundukkan kepala di depannya.


"Kau menakuti mereka," celetuk Zena santai. Kepala gadis tersebut kembali berpaling, tatapan matanya menyalang menghujam manik kelam setenang langit malam milik Zena.


"Kau juga termasuk! Ikut mereka ke belakang sekolah!"


"Jika aku tidak mau ...?" Zena melipat tangan sembari menyandarkan punggung pada kursi. Senyumnya yang manis berganti sinis dan menantang.


Gadis bergelar ketua macan putih itu semakin melebarkan mata. Baru kali ini ada siswa yang menentangnya dan dia murid baru di sekolah itu.


Ia tersenyum smirk, menambah kecurigaan dalam benak Zena.


Target kedua!


"Siapa peduli!" Suara Zena menyahut masih dapat didengar gadis macan putih itu. Ia melirik tajam, tapi tak melakukan apapun selain melanjutkan langkah yang sempat terjeda karena mendengar kalimat lancang Zena.


Semua siswa menatap aneh pada gadis yang masih tersenyum meski kelompok itu telah pergi meninggalkan kelas mereka. Ada kagum, tapi lebih banyak iba dan merasa kasihan akan nasib buruk yang akan menimpa Zena beberapa saat lagi.


"Ada apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?!" pekik Zena seraya menurunkan kedua tangan. Wajahnya cemberut tak senang mendapat tatapan tak mengenakan dari semua siswa di dalam kelas.


"Kau sudah membangunkan macan yang tertidur, Zena," celetuk salah seorang siswa laki-laki sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia bersandar pada kursi menatap kasihan pada gadis lugu yang terlihat lemah itu.


"Hmm ... siapa peduli! Aku tidak takut macan yang tertidur bahkan aku bisa membuatnya mengeong seperti Pushy ...." sahut Zena sambil terkekeh kecil membayangkan wajah sangar itu berubah mengkerut ketakutan.


"Astaga! Bahkan dalam mimpi pun, kau tak akan mampu melakukannya." Mereka tertawa terbahak mengejek halusinasi Zena yang menurut mereka terlalu tinggi itu.


Gadis itu menghendikan bahu tak peduli. Ia membuka buku dan mulai mencatat kejadian pagi itu sebagai bahan laporan untuk markas.


"Hayalanmu terlalu tinggi, Zena. Aku sarankan datang saja ke belakang sekolah daripada kau mengalami hal buruk yang lebih mengerikan," saran salah satu teman sambil mengekspresikan betapa mengerikannya kelompok tersebut.


"Tigris bahkan lebih menyeramkan dari mereka, ia memiliki taring yang tajam mencuat dan mampu mengoyak daging kalian menjadi santapannya," gerutu Zena dengan malas.


Hening. Hanya sesaat kelas tak terdengar suara, tapi detik berikutnya tawa membahana menggema di dalam ruang yang terbatas luasnya itu.


Zena membuat coretan di kertas, bibir itu tersenyum jenaka saat selesai membuatnya. Ia memberikan kertas tersebut pada laki-laki yang meremehkan ucapannya tadi.


"Dia Tigris, sahabatku. Tubuhnya dua kali lipat lebih besar dari pria dewasa. Menurut kalian, lebih menyeramkan mana dengan kucing genit tadi?" Zena tersenyum, tetap terlihat jenaka dan manis.


Siswa laki-laki itu tertegun, ia meneguk ludah basi melihat gambar yang tampak nyata di atas kertas tersebut. Gambar Tigris yang sedang menyeringai memamerkan taring tajamnya berdiri bersisian dengan Zena membawa samurai yang meneteskan darah.


Semua orang termangu, wajah mereka pucat pasih, tangan yang memegang kertas itu bergetar, entah kenapa hanya melihat gambar saja membuat nyali mereka menciut seketika.


Tawa Zena menggelegar menyaksikan raut-raut wajah panik dan gelisah sekaligus ketakutan di hadapannya.


"Ah ... seandainya itu benar ...." Ia kembali tertawa, "sayangnya hanya halusinasiku saja. Kenapa kalian begitu tegang? Itu hanya gambar dan tidak ada dalam dunia nyata," ucap Zena dengan sisa tawa renyah di bibir.


Mereka geram, meremas kertas tersebut hingga membentuk bulatan kecil. Melemparinya pada meja Zena dengan kesal.


"Kau mengerjai kami! Sial!" umpatnya seraya mengambil tempat duduk sambil menahan kesal. Beruntung, Zena cantik. Jika tidak, mereka sudah mencakar wajah itu.


Sementara gadis itu tak peduli. Pada kenyataannya, gambar itu adalah nyata. Ia membuka kertas yang membentuk bola tersebut, dan menatapnya dengan takjub. Tak menyangka, ia memiliki kemampuan lain selain menghajar para penjahat.


"Tidak buruk untuk ukuran seseorang yang tak pernah mengenal bangku sekolah," pujinya pada gambar yang ia buat sendiri. Zena menyelipkannya pada buku catatan dan akan menunjukkan gambar tersebut pada Chendrik saat di mansion nanti.


Keriuhan kelas terhenti disaat guru masuk membawa setumpuk kertas di tangan. Zena mengernyit, bertanya-tanya kertas apa yang dibawa guru tersebut. Tanpa basa-basi, ia menyebarkan kertas kepada masing-masing siswa.


"Berikan kertas tersebut pada wali kalian!" titahnya singkat.


*****


Hallo, Zena udah ganti cover. Bagaimana menurut kakak-kakak semua? Keren?