Zaara

Zaara
bab. 91. Penyerangan terhadap keluarga



...*********...


Semua telah dilakukan oleh Sagara dengan persiapan yang benar benar matang dan terencana.


Semua telah ditetapkan Sagara dan tentang Halena, sesuai dengan pembicaraan dengan tuan Adams, akhirnya Halena dibawa oleh Adams dan akan di periksa dengan instensif secara rahasia.


Sedangkan untuk mengelabui dalang, Sagara secara sengaja menyebarkan jika Halena telah tiada dan berhasil!!


Mata mata termakan umpan tersebut dan pada akhirnya tidak mencari keberadaan Halena yang sebagai informan yang sangat penting bagi Sagara.


Namun ternyata ada yang luput dari mata Sagara, ternyata lagi lagi lawan cukup lihai dengan gerakan yang dibuat oleh Sagara dan dengan gerakan cepat dan tiba tiba musuh melemparkan bom waktu dan akan menghancurkan diwaktu yang telah ditentukan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kanada...


Pagi hari itu, diperusahaan Tristan benar benar dikejutkan dengan kedatangan seorang penyerang, aksi penyerangan tersebut dilakukan terhadap Tristan kala itu yang baru saja selesai meeting, namun tiba tiba datang salah satu OB kantor dan menyerang Tristan hingga terluka di bagian samping perut.


Drap...!!


Drap..!!


Pengawal langsung bergerak cepat menangkap OB yang ternyata seorang wanita paruh baya dan langsung tumbang ketika para pengawal melumpuhkannya dengan tembakan di kaki.


"Pah, bertahanlah mamah mohon!"seru Veera histeris disaat itu juga, dengan matanya sendiri, Veera menyaksikan sang suami yang di tikam dengan brutal.


drap!!


Veera berlari di samping Tristan yang langsung dibawa kerumah sakit, disamping brankar rumah sakit, Veera tak henti hentinya menangis dan berdoa semoga Tristan baik baik saja.


"Dok!!..tolong sembuhkan suamiku!" seru Veera dalam tangisannya menatap dokter laki laki dengan harapan dihatinya.


"Nyonya Veera saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan tuan Tristan tapi kesembuhan manusia milik Tuhan dan hanya Tuhan yang bisa menyembuhkan maka dari itu kita berdoa bersama sama untuk kesembuhan tuan" ucap dokter lalu dengan cepat masuk kedalam ruang ICU untuk memeriksa Tristan.


tap!!...tap...!!


"Mommy!" Tisha datang setelah mendengar semua kejadian diperusahaan, dengan raut yang sama cemasnya Tisha menghampiri Veera dan segera memeluk sang ibu.


"Mommy!, yang tenang ya, Tisha yakin Allah akan menyelamatkan Daddy" kata Tisha menenangkan Veera dan memberikan kekuatan kepada Veera meskipun perasaannya juga sangat khawatir.


"Hu...hu...hik... Daddy... Daddy!!" sesenggukan Veera dalam tangisnya.


"Iya mom.. iya tenanglah Tisha yakin kita bisa melewati masa yang seperti ini"sergah lirih Tisha menenangkan Veera.


Tisha pun membawa sang ibu untuk duduk di kursi, Tisha juga berusaha menghubungi Sagara, beserta nenek dan kakeknya.


Disaat Tisha menelepon Sagara, terdengar dari suara Tisha yang terdengar cemas dan bergetar, membuat Sagara yakin telah terjadi sesuatu.


"Kak.. A...ada yang menyerang...Daddy!," ucap Tisha berusaha tenang namun tetap saja suaranya yang cemas terdengar oleh Sagara.


Sementara Sagara yang berada dikantornya saat ini,dengan raut yang bertanya tanya dan tegang terlebih lagi disaat Sagara mendengar suara Tisha yang gemetaran.


"Apa!!" Sagara tersentak, berdiri dari duduknya lalu dengan wajah yang ikut cemas, Sagara kembali bertanya.


"Bagiamana sekarang keadaan Daddy, Tisha?, dan apa yang terjadi disana!?" tanya Sagara dengan perasaan khawatir.


"Dad.. Daddy masuk ke ICU kak, dan sekarang Daddy masih diperiksa" sahut Tisha sama tegangnya.


"Baik aku akan segera kesana Tisha, aku akan pergi sekarang juga"lanjut Sagara tanpa berpikir panjang dan langsung mengambil jasnya yang ada di atas kursi.


Sagara pun mematikan ponselnya, kemudian berjalan kearah luar dan dengan wajah yang menegang dan masih berjalan cepat,


Tepat tak jauh dari Sagara, Andreas yang selalu siap siaga jika terjadi sesuatu, ataupun dipanggil oleh Sagara, sontak ikut menghampiri Sagara.


drap!!


"Tuan muda, apa yang terjadi!?" tanya Andreas yang berasa disamping Sagara.


"Siapkan pesawat pribadiku sekarang juga, kita akan ke Kanada!" perintah Sagara mengacuhkan pertanyaan Andreas, Andreas pun langsung paham dan dengan cepat langsung pergi mendahului Sagara dengan berlari kearah lift.


Dan persiapan-persiapan yang dadakan itupun akhirnya selesai dan tepat setengah jam Sagara menunggu, di lapangan yang luas itu Sagara dengan langkah yang besar dan di ikuti oleh beberapa pengawal khusus berjalan memasuki pesawat pribadi.


Drap!!


Drap!!


"Apakah kita perlu memberitahukan keberangkatan tuan kepada nona muda!" seru Andreas berpendapat,


Bukankah jelas sangat berbahaya membiarkan Zaara tinggal sendiri di negara ini seorang diri walaupun pengawal yang bejibun banyaknya menjaga Zaara.


Namun tetap saja tidak tahu kapan musuh bisa menyerang secara tiba tiba.


Sagara yang sudah duduk dikursi pesawat,dan disusul dengan Andreas yang masih menunggu jawaban dari pertanyaannya.


"Hhmm...aku tahu karena itulah aku minta kau rahasiakan keberangkatanku ini kan!, lagi pula akan akan pulang siang ini juga" sahut Sagara dengan mengembuskan napasnya dan nada yang sedikit meninggi


Benar!, sesat sebelum keberangkatan mereka sebenarnya, Sagara pun telah menyiapkan rencana yaitu membuat dirinya seakan akan masih dikantor dengan mengirimkan penyamaran yang dibuat mirip dengan Sagara.


Mau tak mau Andreas hanya bisa mengikuti perintah Sagara dan tidak bisa bergerak jika tidak di perintahkan langsung oleh Sagara kepadanya.


Namun tak urung sebenarnya dibenak Sagara juga cemas dan mengkhawatirkan keadaan Zaara,namun ia telah memperhitungkan segalanya dan akan pulang cepat siang ini juga jika urusannya selesai di Kanada.


...*********...


Sementara itu, dirumah Zaara lagi lagi termenung di dalam kamarnya sambil menatap lurus pantulan dirinya.


Pikiran Zaara menerawang jauh, memikirkan hubungan Sagara dan dirinya saat ini, hubungan yang tidak jelas seperti apa nantinya!


Apakah hubungan mereka membaik atau tidak!, Entahlah Zaara juga bingung dengan sikap Sagara.


Sagara akan bisa tiba tiba perhatian padanya, tatapan rindu ataupun cemas untuknya masih bisa Zaara rasakan dari mata Sagara, namun sedetik kemudian Sagara lagi lagi berubah, dingin, acuh dan jika sudah seperti itu Sagara akan meninggalkannya lagi dirumah ini tanpa melepaskan Zaara sedikitpun.


Kenapa!


Hanya satu kalimat itu yang ada dibenak Zaara, kenapa bukankah sekarang semua telah jelas!?, jelas adanya jika semua yang terjadi kepada hubungannya dengan Sagara disebabkan oleh Bunga!


Kenapa Sagara tidak juga mau mengerti dan masih marah dengan kejadian dimalam itu!.


Dan apakah Sagara tidak menginginkannya lagi, tapi mengapa Sagara membawa Zaara kembali kerumah itu?.


Sekarang apa yang akan dilakukan olehnya?, apa yang bisa dilakukan Zaara saat ini!?, Sagara lagi lagi tidak kembali kemarin malam dan bahkan tanpa memberitahukan kepadanya ataupun pelayan.


Zaara pun membuka laci meja dengan perlahan, mengeluarkan sebuah surat dari dalam laci lalu dengan tatapan yang sendu,


Padahal dari kemarin-kemarin Zaara ingin menyampaikan berita ini namun ia tidak bisa mengatakannya saat itu, dan sekarang pun ia tetap tidak bisa memberitahukan kepada Sagara.


Zaara tersenyum kecut!


Hatinya tertawa sumbang jika mengingat hal tersebut, sampai sekarang pun ia tidak bisa mengatakan yang sebenar-benarnya kepada Sagara tentang perasaannya sendiri.


"Aku hanya ingin memberitahukanmu kabar bahagia ini tapi kenapa sangat sulit, aku hanya ingin menyampaikan kepadamu Sagara, semuanya... tentang perasaanku sekarang"


Sedih, kecewa, hampa, namun juga berusaha selalu percaya semua akan berubah suatu saat nanti, namun lagi lagi harapan itu terhempas keras dan membawa perasaan sedih kepada Zaara.


Sempat ia menyerah!


Namun Sagara kembali kehadapannya dan seolah-olah memintanya tetap ada disamping Sagara, seperti seberkas kecil harapan untuk Zaara.


Tetapi!


Tatapan yang tajam, ketidakpercayaan yang dilemparkan oleh Sagara dan kalimat laki laki itu berhasil melambungkan Zaara dan menghempasnya dengan keras, terluka!


Meluap sia sia dan disinilah Zaara sekarang dengan senyum keikhlasan dan perasaan yang tersimpan didalam hatinya dalam dalam, menunggu kepastian Sagara!


Kepastian!!


Tik..tik..tik...!!


Air mata Zaara perlahan mengalir dipelupuk matanya, kesedihan terpancar dari mata polosnya.


"Semoga kau akan melihat surat ini nanti Sagara, dan aku berharap saat ini kau ada disampingku selamanya..." ucap lirih Zaara dalam kesedihan.


Zaara tidak tahu berapa lama lagi ia bisa bertahan dikeadaan seperti ini!, Zaara tidak tahu kapan tiba hari dimana ia tidak bisa berada disamping Sagara lagi!, Zaara tidak tahu apakah ia masih memiliki waktu untuk bertemu Sagara.


Apakah Sagara akan melepaskan Zaara satu saat nanti tanpa sebuah pengakuan!


Bersambung...