Zaara

Zaara
bab 77. Zaara bersikap manja.



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


pagi hari...


kota xibei...


"hari ini kita akan pulang" ucap Andreas sambil membereskan semua barang barang miliknya.


"pulang!?"


"benar..ke kota Liu Liu, aku harus segera memberitahukan informasi ini kepada tuan muda secara langsung" jelas Andreas.


"tapi aku..."


"tapi apa Meena, apakah kau ingin tetap disini?, kau tidak ingin menemui nona muda!?"ucap Andreas dengan raut wajah heran.


"bukan begitu tapi.."


"sudahlah Meena jangan membantah lagi" imbuh Andreas membuat Meena tidak bisa mengatakan apapun lagi.


"ckk...!"


disisi lain kota xibei...


drap...


drap...


drap...


"gawat tuan besar Ratan Lee telah tertangkap bahkan mata mata di perusahaan itu juga telah dilacak oleh Andreas"


Brakk...!


"ternyata aku tidak bisa menunggu lebih lama aku harus segera menjalankan rencana terakhir!" dengan raut wajah yang marah dan serius, Damian berpikir jika ia tetap diam saat ini maka rencana yang telah disusunnya bertahun tahun akan hancur.


"apakah kau sudah menghukum wanita itu!!?" tanya Damian lagi.


"sudah tuan besar nona Hallen telah di amankan"


"bagus....jangan sampai Sagara berhasil menangkap hallen jika tidak maka rahasia ini akan terbongkar"


pengawal itu pun keluar...


PRANG!!


"SIALAN!!!" teriak Damian sangat marah.


BRAKK!!


"Sagara aku telah menunggu saat saat ini jika hari ini aku tidak berhasil maka aku bukanlah Damian Dowson!!" dengan perasaan yang penuh dendam Damian mengebrak meja itu dengan kuat.


lalu dengan perasaan yang meledak-ledak Damian menghubungi seseorang...


***...***


dikota Liu Liu


cip..cip...cip...!


suara kicauan burung terdengar ditelinga Zaara dan membuat tidurnya terganggu.


"eumm...!!" Zaara mencoba mengacuhkan suara itu dan entah mengapa ia sangat malas untuk bergerak


pada awalnya Zaara mengira jika suara itu hanya khayalan, namun semakin dengar semakin berisik.


"akh!!" Zaara mencoba membangunkan tubuhnya dan perlahan lahan menyesuaikan pandangannya.


bagaimana bisa ada suara burung yang terdengar sangat jelas, pikir Zaara sambil menyesuaikan pandangannya.


"ugghh!!"dan setelah ia benar benar sadar dimana ia sekarang, sontak membuat Zaara terkejut.


DEG!!?


kamar yang begitu familiar dimatanya, ruangan besar dengan segala kemewahan.


"bagaimana aku bisa ada disini!?" pikir Zaara kembali mengingat kejadian terakhir kali di rumah kontrakannya.


"ugh" baru Zaara ingat.


"benar kemarin malam...!" Zaara memegang kepalanya yang terasa berat.


"dasar laki laki itu" runtuk Zaara kemudian.


Zaara tidak terima dengan sikap Sagara yang membawanya dengan cara paksa kemarin malam dan ia masih ingat bagaimana Sagara memukulnya.


"namun apa yang bisa aku lakukan jika tuan muda itu begitu keras kepala..!" gumam Zaara kesal.


lalu Zaara mencoba berdiri dan menghampiri balkon kamar itu.


"ternyata dari sini suara kicauan itu" ucap Zaara yang melihat jika dibalkon itu sekarang ada burung kecil berwarna biru.


cip..cip..cip..


Zaara sedikit tersenyum melihat burung cantik itu...


"burung cantik bagaimana bisa kau ada disini!?" tanya Zaara berbicara dengan burung tersebut namun tidak disangka ada yang menjawab pertanyaan Zaara.


"aku sengaja meletakkan burung itu disini" saut Sagara yang tiba tiba ada dibelakang Zaara.


Zaara tidak menghiraukan Sagara dan sebaliknya ia malah menatap Sagara tajam.


"untuk apa kau membawaku kembali!!" tanya datar Zaara.


sebenarnya ia tidak terlalu mempermasalahkan hal ini karena jika boleh jujur inilah kesempatan untuk Zaara memperbaiki hubungannya dengan Sagara.


bukankah selama ini Zaara menginginkan Sagara kembali kerumah itu dan sekarang semua keinginannya terwujud, namun ia tetap saja marah kepada Sagara yang telah membawanya secara paksa dan sekarang ia ingin tetap berpura-pura tidak senang.


"aku ingin kembali ke rumahku" sambung Zaara agak kesal Sekarang.


"tidak" tandas Sagara.


"apa hakmu!!" tanya Zaara lagi.


"heh!.. hak..!? aku tidak perlu hak untuk membawamu kembali kerumah ini" sergah Sagara tandas


"kau tahu kau itu sangat aneh, biarkan aku pergi!!"ucap Zaara dengan kesal,lalu Zaara berjalan cepat kearah pintu.


namun Sagara menangkap tubuh Zaara dan membawanya keatas kasur dan menguncinya disana.


"APA YANG KAU LAKUKAN!!" imbuh Zaara kesal


"LEPASKAN AKU!!" Zaara memberontak, ia masih kesal karena kemarin malam Sagara telah membuatnya pingsan dan membawanya dengan paksa.


"lepaskan aku!" kini suaranya terdengar lebih pelan.


"tidak" saut Sagara.


"jika tidak ingin melepaskan...kenapa kau mendorongku untuk menjauh" tanya Zaara lagi sambil menjauhkan pandangan matanya.


deg...!


"benar!" dengan raut wajah yang terkekeh kecil Sagara akhirnya melepaskan cengkeramannya.


Zaara agak terkejut dengan reaksi yang diberikan Sagara, apa maksud dari ekspresi itu, pikir Zaara.


"lebih baik kau bersihkan tubuhmu" ucap Sagara sesaat sebelum meninggalkan kamar itu.


yahhh...pada akhirnya Zaara kembali kerumah itu setelah satu hari Zaara pergi.


"apakah artinya tuan Sagara...." gumam Zaara sambil berjalan kearah kamar mandi.


Zaara masih memikirkan apa maksud sebenarnya Sagara berbicara seperti itu dan kenapa.


Tap..


tap..


perasaan Zaara saat ini terasa lebih baik, mungkinkah hubungannya dengan Sagara juga akan membaik dengan cepat.


"selamat pagi nona muda" Bow salah satu pelayan yang lagi membersihkan ruang tamu dan tangga disaat Zaara menuruni anak tangga.


"pagi mbak" saut Zaara sambil tersenyum ramah.


tap..


"selamat pagi nona muda" bow pelayan lainnya yang baru melintas di hadapan Zaara.


"pagi bi"


entahlah sepertinya pagi itu para pelayan sibuk membersihkan rumah besar itu.


"pengawal jangan lupa jaga titik yang sudah aku perintahkan kepadamu!" ucap Sagara tak jauh dari Zaara, Sagara yang tengah asyik berbicara itu tidak sadar jika Zaara ada disana.


Zaara menatap Sagara yang tengah berjalan lurus kearahnya tanpa sadar jika Zaara ada disana.


deg..deg..deg..! lagi lagi jantung Zaara berdetak kencang, perasaan yang sudah lama tidak dirasanya.


Sagara yang sekarang ada dihadapannya itu saja membuatnya bahagia dan juga sedih.


tap..


tap..


"tuan muda" ucap Zaara ketika Sagara melintas didepannya.


tap..! Sagara berhenti tepat didepan Zaara dan menatap wajah Zaara sejenak lalu pergi lagi.


Zaara tidak terima perlakuan itu...


"berhenti disana" ucap Zaara tidak perduli jika saat itu masih ada beberapa pelayan.


Sagara menghentikan langkahnya dan berbalik badan menghadap Zaara,dengan perasaan yang bingung Sagara menatap Zaara yang sedang memandang nya dengan pandangan yang tak biasa.


tap..


tap..


"ikut denganku!" dengan raut wajah yang datar Zaara meminta Sagara untuk mengikutinya.


Sagara semakin bingung dengan sikap itu namun tanpa banyak bicara Sagara pun mengikuti Zaara yang ternyata berjalan kearah ruang baca.


"untuk apa datang ke ruangan ini?" tanya Sagara dengan nada yang menyelidik.


"tidak ada aku hanya ingin berbicara serius denganmu" saut Zaara sambil membuka pintu itu.


kriettt...! pintu terbuka, Zaara pun langsung berjalan masuk sambil diikuti oleh Sagara yang hanya diam.


bam..! Zaara kembali menutup pintu.


"huh!?"


"ada apa tuan muda kau takut aku melakukan sesuatu?" tanya Zaara dengan raut wajah yang aneh menurut Sagara.


"ada apa denganmu kau sakit!?" pertanyaan itu terdengar konyol bagi Zaara.


"hhhmmmm....!" Zaara menarik napasnya sejenak lalu dengan suara yang tenang Zaara mulai bertanya kembali perihal hubungannya dengan Sagara.


"entahlah rasanya beberapa bulan ini hidupku seperti tersandung dan terjatuh berkali-kali"


"aku merasa lelah, kecewa dan sedih dan kadang berbahagia dalam waktu yang bersamaan...aneh bukan!!?"


Zaara mengucapkan kalimat tersebut dengan memandang Sagara.


"sebenarnya saya ingin mengatakan hal ini secara langsung selama beberapa Minggu tidak bertemu namun saya tidak memiliki kesempatan"


tap..


Zaara mendekatkan dirinya kehadapan Sagara perlahan lahan dan memeluk Sagara.


deg!


"jangan dorong aku untuk menjauh ...hhmmm" pinta Zaara kemudian mempererat pelukannya.


"aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku..., aku tahu ada sesuatu yang tidak bisa kau ucapkan, aku tahu karena aku merasakan apa yang kau sembunyikan"


deg!..deg..!


set..! Zaara mendongakkan kepalanya menatap wajah Sagara.


"benarkan?!"


Sagara mendorong tubuh Zaara...


"tidak..untuk apa aku menyembunyikan sesuatu" sergah Sagara datar.


"heh!..lagi lagi kau menyembunyikannya...sudahlah kalau begitu biarkan tetap seperti ini..."


lagi lagi Zaara memeluk tubuh Sagara dan kini Zaara semakin berani.


Sagara merasa aneh dengan Zaara, apakah beberapa minggu tidak bertemu sikap seseorang bisa berubah dengan drastis.


sruk...sruk...! Zaara mengusapkan wajahnya ke dada bidang Sagara.


"heh..apa yang kau lakukan!!?" Sagara benar benar terkejut.


"eum...biarkan aku seperti ini" ucap Zaara dengan suara yang terdengar manja.


"eummm...enaknya" malah kini tangan Zaara yang mengusap dada itu.


Sagara merona...


"A..apa yang kau lakukan Zaara lepaskan aku!?" Sagara sangat menahan dirinya agar tidak terpancing namun apa yang menjadi penyebab sikap Zaara sekarang.


"lepaskan Zaara...jangan memancingku..." ucap lirih Sagara.


"memancing!?...apa maksudmu tuan muda....!?"


akhh...wajah Zaara itu semakin membuat Sagara tidak bisa menahan hawa yang ada didalam dirinya.


"ckk...Zaara lepaskan!!" Sagara mendorong tubuh Zaara dengan paksa.


set..!


"APA YANG KAU LAKUKAN!" imbuh Sagara membentak Zaara tanpa sadar, namun apa yang didapati Sagara.


"hik...hik...hik..."


"huh!?" Zaara menangis...


"hik...hik....tuan muda jahat... huhuhu... mendorong Zaara...huhuhu!!!"


"ehh....Zaara...kenapa kau menangis!!"


ahhh...entahlah apa yang terjadi saat ini sebenarnya, kenapa sikap Zaara berubah seperti ini, kemarin malam wanita ini masih masih padanya begitu juga didalam kamar tadi tapi sekarang keanoa wanita itu manja dan emosional seperti ini.


"huhuhu...tuan muda jahat...tuan muda selalu saja mengusirku, tuan muda tidak mencintaiku lagi... huhuhu...!!


"keluar sana!!!" Zaara mendorong tubuh Sagara dengan kuat dan menutup pintu ruangan itu dengan kencang dihadapan Sagara.


BRAKKK!!


bersambung...