Zaara

Zaara
bab 4. Veera



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu Minggu kemudian...


sudah satu minggu Zaara dirawat, sekarang kondisi Zaara mulai membaik dengan cepat, walaupun sesekali Zaara akan merasakan sakit di dadanya.


karena keadaannya mulai membaik, Zaara berpikir untuk segera keluar dari rumah sakit itu, pasalnya Zaara merasa tidak enak hati ketika Sagara terlalu memperhatikan dirinya yang dimana Zaara sendiri tidak ada hubungannya dengan Sagara.


terlebih lagi Sagara bukan orang yang mau merepotkan diri dalam hal yang tidak ada hubungannya dengan Sagara.


kini Zaara berada di dalam ruangannya, sedang membaringkan tubuhnya di atas kasur pasien, Zaara berpikir mengapa sekarang sikap Sagara padanya sangat baik dan perhatian seperti bukan dirinya sendiri dan itu membuat ia tidak terbiasa dan canggung.


"Aku harus segera keluar dari rumah sakit ini, aku juga menjadi tidak enak hati jika selalu merepotkan tuan Sagara" pikir Zaara.


setiap hari Sagara akan menjenguknya lalu membawakan buah buahan segar untuk Zaara.


Zaara heran mengapa Sagara mau repot repot dengan hal itu, Zaara juga merasa sangat aneh jika Sagara selalu bersikap terlalu baik padanya.


jika semua yang dilakukan Sagara karena merasa bersalah ataupun rasa terimakasihnya karena telah menyelamatkan ibunya, itu semua murni karena ia ingin menolong orang.


disaat Zaara memikirkan semua itu tiba tiba Sagara datang menghampirinya,,,


cklek...!


tap...


tap..


tap...


terlihat ditangan Sagara tengah membawa buah buahan dan juga makanan.


"makanlah" ucap Sagara tanpa menoleh kearah Zaara, ia tengah sibuk meletakan semua makanan yang dibawa olehnya, terlihat Sagara mengambil beberapa buah untuk dimakan oleh Zaara.


"ini ambillah!" ulur tangan Sagara memberikan buah apel kepada Zaara.


"terimakasih" Zaara mengambil buah itu dan langsung memakannya.


sedangkan Sagara menarik kursi untuk duduk disamping Zaara,,,


krittt...!


"tuan Sagara?" Zaara ingin mengatakan sesuatu namun ia terlihat ragu.


"ada apa?" tanya Sagara masih dengan suara yang datar, sebenarnya laki laki itu memang selalu bersikap seperti itu kepada Zaara, selama ini Sagara akan berbicara seadanya namun ia selalu memperhatikan semua kebutuhan Zaara.


"Hem...eum... sebenarnya saya ingin bertanya" ucap Zaara ragu.


"katakanlah ada apa!" ucap Sagara menatap Zaara.


"tuan muda saya ingin bertanya mengapa anda sangat perduli kepada saya?" tanya Zaara memberanikan diri.


"Apakah itu perlu dijawab Zaara?" ucapan Sagara datar, masih menatap Zaara dan ucapan Sagara dibalas Zaara dengan nada tandas dari Zaara.


"tentu saja" tandasnya


Sagara menghela nafas, ia benar benar tidak tahu juga mengapa ia bisa sangat perduli kepada Zaara


"aku juga tidak mengerti Zaara , kau selalu memenuhi pikiranku"batin Sagara.


Sagara mengalihkan pandangannya,,,


lalu ia menjawab,,,


"karena kau telah menyelamatkan nyawa mommyku" ucapnya datar


Zaara yang mendengar hal itu lantas berpikir jika Sagara tidak perlu memperlakukannya seperti itu, dan ia juga merasa bahwa sikap Sagara itu sangat aneh akhir akhir ini, Sagara selalu mengalihkan pandangannya dan juga sering melamun.


***


"pah, mamah mau kerumah sakit dulu, mamah ingin menjenguk Zaara" ucap Veera yang masih berada diperjalanan pulang dari bandara bersama Tristan sang suami.


setelah kejadian malam itu Veera dengan terdesak harus pergi Kanada karena ada masalah dengan perusahaan miliknya di negara itu.


orang yang menyekapnya waktu itu adalah suruhan dari salah satu musuhnya, dan tepat satu hari setelah kejadian itu ia diberitahukan bahwa perusahaannya mengalami masalah serius.


harus diketahui jika Veera itu walaupun sudah berumur tetapi ia masih mengelola perusahaannya.


"iya mah, tapi apa mamah tidak capek jika harus langsung kerumah sakit?" tanya Tristan kepada istrinya.


"nggak pah, mamah sangat sangat merindukan gadis itu, mamah juga cemas " jawab Veera


"baiklah sayang" ucap Tristan tidak menolak keinginan Veera.


"pak tolong kerumah sakit Cipto city terlebih dahulu!" ucap Tristan kepada supirnya.


"baik tuan" supir pun melajukan kecepatannya menuju rumah sakit.


vroomm... vroomm!!!


tidak lama kemudian mereka pun sampai di rumah sakit itu.


Cittt....!!


Mobil mewah itu berhenti tepat didepan rumah sakit itu, lalu Veera langsung masuk diikuti oleh suaminya.


tap...


tap...


"ayo pah!" ucap Veera tidak sabaran.


"iya tapi mamah harus berhati-hati jangan terlalu cepat" jawab Tristan memperhatikan istrinya.


sesampainya diruangan Zaara,,,


kriettt...!! pintu terbuka,,


Veera langsung masuk kedalam dan memeluk Zaara dan menumpahkan air mata, Veera benar benar bersyukur bahwa Zaara telah sembuh.


"Zaara sayang, syukurlah kau baik baik saja, aku benar benar khawatir jika terjadi sesuatu padamu". ucap Veera menangis.


Zaara yang tidak pernah mendapatkan perhatian itu menjadi terharu ia benar benar berpikir jika ibunya Sagara adalah orang yang sangat baik.


"Zaara baik baik saja, bu" ucap Zaara melepaskan pelukan itu dan menatap wajah Veera.


"apa kabar Zaara?" sekarang Tristan lah yang menyapa Zaara.


"Alhamdulillah, baik tuan Tristan" saut Zaara agak canggung, laki laki itu terlihat sangat gagah dan mirip dengan Sagara.


"panggil saya mommy ya!, seperti anak anak mommy memanggil" ucap Veera lagi kepada Zaara.


Zaara tersenyum lalu dengan malu malu Zaara memanggil Veera mommy, ia berpikir jika pertama kali dia menyebut selain ibunya, dengan sebutan ibu.


"mommy...tapi...Zaara tidak enak hati harus memanggil seperti itu, karena Zaara bukan siapa siapa" ucap Zaara.


"sayang, anggap saja mommy sebagai ibu nya Zaara, bahkan mommy bahagia bisa memiliki seorang putri seperti mu" ucapan Veera membuat Zaara semakin terharu, Zaara menjadi teringat orang tuanya dia pun menumpahkan air matanya.


"terimakasih atas kebaikan mommy, Zaara benar benar tidak pernah bisa membalasnya, karena mommy mengingatkan Zaara akan ibu Zaara" ucap Zaara lirih.


"sudah sudah jangan menangis lagi, mari kita sama sama bahagia sekarang Zaara" dihapusnya air mata Zaara, dan tersenyum lembut menatap Zaara.


Zaara mencoba tersenyum, dia beruntung bertemu Veera, pikir Zaara.


"sekarang Zaara sudah sembuh, kita pulang yah"


ucap Veera lagi, sudah satu Minggu lebih Zaara ada disana dan tentunya Zaara juga ingin segera keluar.


"iya hari ini Zaara sudah bisa pulang, Zaara akan pulang kerumah Zaara" saut Zaara


sedangkan Sagara yang mendengarpun entah mengapa menjadi senang, tetapi bukan Sagara namanya Jika tidak berekspresi dingin.


"benarkan Sagara!?...kita akan membawa Zaara pulang!?" tanya Veera kepada Sagara yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan.


Sagara yang berpura pura tidak perduli itu hanya menjawab seadanya, padahal hatinya mungkin sudah sangat senang.


"jika itu keputusan mommy, aku tidak bisa membantahnya" saut Sagara berpura pura datar.


Zaara menjadi bingung bagaimana dia harus tinggal bersama dengan Sagara, benar benar tidak mungkin


ia juga tidak ingin menyusahkan Sagara.


"maafkan Zaara mommy, tapi Zaara ingin tinggal dirumah Zaara dulu " saut Zaara


Veera yang mendengar pun menjadi sedikit kecewa tetapi jika hal itu adalah keinginan Zaara maka ia tidak bisa memaksakannya.


"baiklah jika itu keputusan mu tapi ingat sering seringlah berkunjung kerumah dan juga untuk hari ini Zaara harus tinggal di rumah mommy dan jangan membantah!" ucap Veera lagi tanpa bisa di tolak oleh Zaara.


"baiklah mom" jawab Zaara tanpa membantah lagi karena ia berpikir jika Veera sudah sangat baik kepadanya.


Sagara pun membayar semua biaya rumah sakit Zaara dan menyiapkan semua yang dibutuhkan oleh Zaara, hari itu juga Zaara sudah bisa pulang.


Zaara pun pada akhirnya hanya mengikuti Sagara dan Veera untuk datang kerumah mereka.


sebenarnya lagi lagi Zaara tidak enak hati karena telah merepotkan orang lain.


"sekarang kita sudah bisa pulang" ucap Sagara yang sudah selesai mengurus biaya rumah sakit Zaara.


tap...


tap...


tap...


mereka pun sama sama kembali kerumah dengan beriringan.


vroomm.... vroomm....!!! mobi mewah itu pun meninggalkan rumah sakit.


***


sesampainya di depan gerbang utama kediaman Ardiaz, mobil itu mulai memasuki halaman besar itu,,


tak beberapa lama mereka pun akhirnya berhenti tepat di depan rumah yang terlihat sangat besar.


citttt.....!!! mobil berhenti.


Sagara pun turun lebih dahulu dari mobilnya yang memang terpisah dari Zaara yang bersama Veera.


Sagara keluar dan menghampiri mobil yang ditumpangi ibunya, dan membuka pintu mobil untuk membantu Zaara,,,


Sagara menyambut Zaara tanpa bisa menyentuh Zaara, karena Zaara menghindarinya secara halus.



Sagara tidak menyadari jika dengan perbuatannya itu membuat Veera berpikir jika Sagara telah menyukai Zaara.


tetapi Veera berpikir jika Sagara menyukai Zaara, dengan begitu apakah putranya yang dingin seperti es tersebut telah mencair, terlintas sebuah pikiran dibenak Veera.


"Sagara temui mommy nanti ya" ucap Veera sambil tersenyum kearah putranya itu.


"baik mom" sahut Sagara, Zaara pun keluar secara perlahan dari dalam mobil,,,


ketika Zaara mulai menginjakkan kakinya ditanah, Zaara tertegun melihat sebuah rumah yang begitu luas juga mewah.


"Masya Allah" puji Zaara, ia benar benar tidak berpikir jika itu adalah sebuah rumah tetapi istana.


rumah tersebut berdominasi warna putih dipenuhi oleh jendela kaca, sangat indah pikirnya.


"ayo masuk Zaara, semua orang telah menunggu"


banar saja setelah pintu itu terbuka terlihat para pelayan beserta pengawal berdiri berjajar menyambut mereka, lalu mereka dengan hormat membungkukkan badan memberi bow.


"selamat datang tuan besar, nyonya besar dan tuan muda" ucap mereka semua bersamaan.


Veera yang memang ramah membalas dengan senyuman dan memperkenalkan Zaara kepada semua pelayan.


"kalian semua perkenalkan gadis cantik ini bernama Zaara" ucap Veera memperkenalkan Zaara kepada mereka semua.


pelayan pelayan itu pun memberi hormat kepada Zaara,,,


"selamat datang nona Zaara" ucapan mereka disambut Zaara dengan sopan, Zaara merasa sangat canggung, ia benar benar tidak biasa diberi hormat seperti itu.


"ayo Zaara, mommy perkenalkan dengan adiknya Sagara" Veera berjalan bersama Zaara dan bertemu dengan adik Sagara seorang gadis cantik berumur 17 tahun bernama Tisha Talita Ardiaz, dengan ramah Tisha memberi salam kepada Zaara.


Tisha memiliki wajah seperti Veera begitu juga dengan sifatnya, ramah seperti ibunya.


berbeda dengan Sagara, ia lebih mewarisi sifat dari kakeknya yaitu tuan besar Wijayanto Rahardika.


"salam kenal kak Zaara sebut saja namaku Tisha kak" ucap Tisha ramah


"Salam kenal juga Tisha " jawab Zaara, mereka terlihat seperti saudara.


setelah para pelayan dan pengawal pergi mereka memasuki ruang tamu dan duduk disana.


"hei kak Sagara, kakak jangan memperlakukan kak Zaara seperti wanita wanita itu ya" goda Tisha kepada Sagara.


Sagara selalu memperlakukan wanita dengan kejam ia bahkan tidak segan segan memerintahkan pangawal untuk mengusir wanita wanita itu jika berani mengganggunya.


Sagara yang digoda adiknya itu tidak diam saja, Sagara membalas adiknya itu dengan mencubitnya.


walaupun Sagara sangat dingin dan cuek tetapi jika dengan keluarganya ia akan ramah juga Sagara tidak pernah membantah keputusan mommy nya.


tetapi dirumah itu Sagara lebih dominan karena sikapnya yang dingin terhadap pelayan, ia tidak pernah sekalipun membiarkan ada kesalahan didalam rumah tersebut.


.....


setalah itu Veera membawa Zaara ke kamar yang akan ditempati Zaara.


Zaara pun beristirahat, ia yang belum sembuh total masih harus beristirahat dengan cukup.


"pelayan tolong panggilkan tuan muda kemari, minta ia menemui saya di kamar". ucap Veera kepada pelayan dengan lembut ketika ia keluar kamar


"baik nyonya besar" sahut pelayan datang ketika Veera memanggil nya.


Veera meminta Sagara menemuinya.


ia ingin membicarakan hal penting kepada putranya itu.


tok...tokk..tok..


"masuk" sahut Sagara


pelayan itu pun membuka pintu lalu masuk dan mengatakan bahwa Sagara ditunggu Veera di kamar nya.


"tuan muda, anda telah ditunggu nyonya besar kata beliau, beliau ingin membicarakan sesuatu yang penting" ucap pelayan


Sagara tidak membalas perkataan pelayan tetapi ia langsung berdiri dan berjalan keluar,,,


pelayan tersebut mengikuti Sagara dari belakang dan kembali ke dapur untuk melakukan tugasnya.


tok...tok..


"masuk sayang" saut Veera


Sagara segera masuk dan duduk didepan Veera setelah itu Veera langsung memulai pembicaraan itu.


bersambung....