Zaara

Zaara
bab. 85. Halena Adams



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari Pemakaman Meena...


Pagi hari yang berkabut membuat suasana menjadi semakin muram seperti perasaan yang sekarang mereka alami.


Suasana sedih menyelimuti pemakaman meena. Zaara, Sagara, Rena dan Andreas mereka semua masih berada di depan makam dengan perasaan yang sama sama hancur, tak menyangka jika Meena akan pergi secepat itu.


"lebih baik kita segera pergi"ujar Sagara membawa Zaara pergi dengannya untuk menenangkan diri.


Zaara hanya menuruti Sagara lalu ia pun dengan langkah gamang menjauh dari pemakaman itu dengan diikuti oleh Rena sedangkan Andreas ia hanya diam tak bergeming.


Sebenarnya Sagara sengaja membawa Zaara pergi untuk membiarkan Andreas ada disana sendirian dan bisa menumpahkan semua apa yang didalam hati Andreas.


benar saja, setelah Sagara pergi dengan raut yang dicoba untuk tegar, Andreas membungkukkan badannya,lalu mengusap Nisan Meena.


hari ini adalah hari terakhir ia bisa melihat wajah cantik Meena dan hari itu juga yang menjadi terakhir kali untuk Andreas melihat tingkah konyol Meena.


didepan makam yang bertuliskan nama gadis itu membuat Andreas semakin sesak.


kini bukan air mata yang mengalir namun hanya perasaan yang tak terlukiskan yang tersisa dalam dirinya.


Tik..tik...tik...


"maafkan aku Meena...karena aku terlambat menyadari perasaanmu tanpa bisa aku membalasnya"


"maafkan aku Meena karena aku tidak berhasil menjagamu"dengan beribu ribu rasa penyesalan didalam hatinya membuat Andreas bertekad akan kematian Meena.


bagaimana pun ia menyesali keadaan saat ini tidak akan pernah bisa membangunkan gadis itu lagi.


"heh!!..Kau sangat egois,kau membuatku tahu perasaanmu di hari terakhir pertemuan, sedangkan aku tidak bisa lagi bertemu denganmu" dengan senyum kecut diwajahnya sekarang Andreas merasa sangat hampa.


Andreas diam sejenak,lalu dengan suara yang terdengar tegas Andreas berkata...


"aku berjanji padamu untuk membalas kematian ini, aku berjanji akan menemukan dalang semua ini dan menghabisinya" tekad Andreas.


set!!


Andreas menegakkan tubuhnya, menatap beberapa saat sebelum ia benar benar meninggalkan pemakaman itu.


"sampai jumpa lagi gadis konyol" ucap Andreas dengan senyum tipis diwajahnya, lalu ia pun pergi dari sana menuju mansion.


karena ia telah bertekad untuk menghabisi setiap pelaku yang terkait dengan kejadian ini dan ia akan bertekad untuk membalas kematian meena kepada Bunga.


vroomm...!


Andreas mengendarai mobil itu dengan kecepatan tinggi ditengah kabut pagi itu.


dan setelah beberapa lama ia berkendara akhirnya ia sampai di markas itu dan langsung menuju ruang bawah tanah.


tap..tap..tap...


dengan raut yang datar Andreas berjalan di depan semua pengawal yang menyambutnya


"selamat datang tuan Andreas" bow mereka semua kepada Andreas.


"Hem!!... bagaimana keadaan wanita itu" tanya Andreas tanpa basa basi.


setelah kena tembakan terakhir kali membuat keadaan Bunga semakin memburuk namun karena hanya kemarahan yang menguasai pikirannya saat ini membuat Andreas tidak memberi kesempatan lagi kepada Bunga.


Andreas pun langsung berjalan menuju lift ruang bawah tanah dan setelah ia sampai dibawah Andreas pun segera menghampiri Bunga yang terlihat sangat lemah.


"heh!!... bagaimana kabarmu!!"ujar Andreas dengan tatapan yang menghunus tajam.


Bunga menanggapi ucapan Andreas hanya dengan seringai licik diwajahnya lalu dengan berkata lagi...


"bagaimana rasanya kehilangan seseorang tuan Andreas...tapi Anda tenang saja setelah ini bukan hanya Meena yang akan mati tapi juga kau!!" ucapnya dengan seringai, Bunga benar benar gila.


BRAK!!


"tapi pertama-tama kau lah yang akan merasakan hal itu sebelum aku"sergah Andreas dengan raut wajah yang marah.


setelah mengucapkan kalimat itu, Andreas berjalan kesudut ruangan yang ada alat penyiksaan yang sering digunakan oleh Sagara dan dirinya.


"lihat ini monster!!"


DEG!!!...


lagi lagi sebutan yang membuat Bunga tak berdaya dan merasa sangat gila jika mendengarnya.


"!?"


"hei!!.. sekarang jawab aku dengan baik siapa namamu yang sebenarnya, apakah namamu benar benar hallen!?" lanjut Andreas mempertanyakan nama Bunga.


"aku tidak tahu!"tandas Bunga menjawab pertanyaan dari Andreas.


Andreas memperhatikan ekspresi yang diberikan oleh Bunga, sepertinya Bunga tidak berbohong saat ini,pikir Andreas.


("apakah ia benar benar tidak tahu jika namanya adalah hallen!?") batin Andreas bertanya tanya.


"jangan berbohong!, mereka semua menyebutmu dengan nama itu!"seru Andreas menyudutkan Bunga, namun lagi lagi dengan santainya wanita itu berkata.


"aku tidak tahu!, mereka lah yang memberi nama itu padaku!" saut Bunga.


"!?" Andreas pun lagi lagi berpikir.


("apakah benar yang tuan muda katakan jika wanita ini sebenarnya adalah...")


"apa kau benar benar tidak bisa mengingat siapa dirimu?" tanya Andreas lagi.


"ckk...berapa kali aku harus menjawab pertanyaanmu hah!..aku sudah bilang jika aku tidak tahu" jawab malas Bunga.


"ckk..wanita ini, jika benar ia Halena Adams berarti dia ini adalah teman masa kecilku juga"gumam Andreas.


sekarang semua masalah masih memiliki misteri yang harus segera ia ungkap,kenapa bisa jika Bunga adalah Halena mengapa ia bisa berubah, apa yang terjadi denganya dan bukanya artikel menyebutkan bahwa Halena Adams telah tiada.


"ckk..berarti aku tidak bisa melakukan apapun kepada wanita ini sekarang, kenapa ini semakin rumit saja" pikir Andreas.


"heh!!...kenapa kau berbicara tidak jelas seperti itu,kenapa kau tidak melakukan sesuatu kepadaku sekarang, apakah sekarang kau menjadi tidak tega?" senyum kecut Bunga.


"ckk..diam, kau kira kau tidak bisa membunuhmu sekarang!!"sergah Andreas namun tiba tiba handphonenya berdering.


drrtt..!!


"halo tuan muda?"ucap Andreas setelah telepon itu tersambung.


"baik akan saya lakukan" lanjut Andreas setelah mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh Sagara.


tap...tap...tap...!!


tanpa berbicara sepatah katapun, Andreas segera pergi dari mansion dan tak lupa ia memerintahkan kepada pengawal agar menjaga Bunga dengan baik.


setelah itu Andreas pergi ke perusahaan global group corporation...


sesampainya di perusahaan...


Andreas membuka pintu mobil dan menutup pintu mobil dan segera masuk kedalam perusahaan.


set!!


Andreas berjalan kearah ruangannya yang berada dilantai paling atas perusahaan besar itu.


Ting!!...pintu lift terbuka.


"selamat datang tuan Andreas!" ternyata didepan lift yang dinaiki Andreas telah ada yang menunggunya.


"Hem!.. bagaimana apakah kau telah mendapatkan informasi terbaru?" imbuh Andreas segera berjalan masuk kedalam ruangannya.


tap...tap...


"informasi yang didapatkan sangat sedikit tuan, karena tidak mudah menembus dunia bawah itu terlebih lagi sepertinya ada yang sengaja menyulitkan pelacakan kita ini" saut asisten Andreas.


kriitt!! bunyi kursi berdecit, Andreas menarik kursinya untuk duduk.


"hhmm...!! sepertinya itu adalah kendala kita saat ini, tapi aku tidak akan menyerah begitu saja, aku pasti akan mengungkap pelaku ini" tekad Andreas.


"anda benar, saya juga akan bekerja semaksimal mungkin untuk mengungkap pelaku ini dan untuk saat ini saya masih memantau keadaan yang mungkin saja bisa terjadi dikemudian hari" timpal asisten Andreas.


"bagus... sekarang kau boleh pergi!" perintah Andreas.


asisten itu pun kembali menjalankan perintah Sagara dan Andreas yang telah di berikan kepadanya.


"*sign... brengsek...!!!" Andreas mengumpat, bagaimana tidak saat ini semua mata mata telah di tangkap namun tetap saja tidak bisa mengungkap siapa dalang sebenarnya.


"mata mata yang dibuat benar benar hanya sebagai umpan dan senjata dan akan dihabisi jika telah selesai melakukan tugasnya.... sebenarnya siapa orang yang bisa melakukan perbuatan seperti ini!!?"


Andreas mencoba menerka-nerka musuh yang pernah dihadapi olehnya dan Sagara selama ini namun dari semua orang orang itu, cara yang digunakan kali ini berbeda dari musuh Sagara yang biasanya.


"sepertinya pelaku ini telah menyiapkan hal ini dengan sangat matang..dan mungkin saja telah bertahun tahun lamanya!!"


Bersambung....