
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan Harinya...
Didalam kamarnya saat ini Zaara tengah duduk didepan cermin miliknya.
Dengan mengingat-ngingat apa yang telah ia rasakan pada tubuhnya, serta memastikan apakah pikirannya sekarang ini benar!.
Zaara mengingat bagaimana pagi tadi ia bangun dengan rasa mual yang bergejolak dalam perutnya.
Mungkin sudah tak asing bagi Zaara, akhir akhir ini ia memang selalu merasakan pusing dan mual mual tanpa sebab.
Zaara tidak terlalu memikirkan hal ini karena awalnya Zaara menyangka ini hanya kecapean atau maagnya kambuh, namun setelah terlalu sering ia rasakan, rasanya semakin sering dan aneh pikir Zaara.
Hanya satu kemungkinan yang paling benar yang telah ia putuskan sejak tadi, adalah bahwa dirinya sekarang tengah hamil!
Kenapa Zaara bisa berpikir seperti itu?, pertama-tama sudah satu bulan lebih Zaara tidak 'kedatangan tamu', dan kedua ia selalu merasa pusing dan muntah ketika mencium bau makanan, ketiga Zaara selalu merasa mengantuk dan emosinya tidak stabil.
Zaara sering sedih,cemas atau marah seketika tanpa sebab yang jelas, ia bisa rindu Sagara namun juga ia jadi marah jika memikirkan Sagara yang tidak kunjung datang.
Dan dengan membuktikan kebenaran dugaannya tentu saja ia harus membuktikannya.
Zaara harus kerumah sakit!!
Namun yang menjadi persoalannya adalah saat ini Sagara belum kembali dari kantor dan ia juga tidak dapat menghubungi Sagara maupun Andreas.
Telepon mereka selalu didalam panggilan lain!,
dan jika Zaara pergi tanpa minta izin terlebih dahulu, ia takut Sagara marah. jika suaminya itu pulang nanti dan tidak menemukannya didalam kediaman tersebut.
"Apa aku pergi saja!?, dan untuk izinnya aku bisa mengirimkan pesan saja kan?" pikir Zaara mencari solusi untuk masalahnya ini.
Dan tentu untuk kondisinya saat ini lebih penting dan harus segera melakukan pemeriksaan.
Setelah Zaara berpikir berkali kali akhirnya Zaara memutuskan untuk pergi dan akan memberikan kabar lewat SMS kepada Sagara dan berharap Sagara akan membaca isi pesannya nanti.
Namun apa boleh buat!?
Mungkin Zaara harus sedikit berbohong mengenai alasannya pergi kerumah sakit. dan sepertinya Zaara ingin memastikan dulu dan akan memberikan kejutan kepada Sagara.
Berharap hubungannya dengan Sagara kembali harmonis!.
Zaara bangkit dari duduknya, kemudian berjalan kedalam ruang ganti pakaian dan mengambil baju yang akan di pakainya.
Baju syar'i berwarna biru dipadukan dengan jilbab coklat muda bermotif bunga,sangat manis pikirnya.
Saat ini perasaannya senang bercampur tegang!
Bagaimana pun hal ini adalah pertama kalinya untuk Zaara. Zaara tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin.
"jika kau memang telah hadir, maka datanglah sayang!" sambil tersenyum Zaara mengusap perut ratanya, Perasaan hangat menyeruak masuk kedalam hatinya dan membuat Zaara berbahagia.
Lalu setelah selesai bersiap siap Zaara pun pergi dari rumah itu dan segera berangkat menuju rumah sakit.
Diperjalanan Zaara mengetik sebuah pesan kepada Sagara dan
Send!..pesan itu pun terkirim.
"Pak lebih cepat!" pinta Zaara kepada supirnya untuk melajukan mobil lebih cepat sedikit, agar Zaara bisa sampai lebih awal dirumah sakit.
...*******...
Bagaimana dok!?
Saat ini Zaara telah selesai memeriksakan keadaannya. dengan harap harap cemas Zaara berdoa semoga perkiraannya benar!
Dokter wanita itu ikut tersenyum kearah Zaara dan dengan suara yang ramah, ia berkata;
"Selamat anda telah mengandung dan usia kandungannya beranjak tiga Minggu"
Zaara tertegun!
Seperti apa perasaannya saat ini!?, namun yang jelas tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Betapa bahagianya Zaara disaat ia mendengar pernyataan tersebut, ia hamil! kabar yang sangat membahagiakan.
"Saya hamil!"desah pelan Zaara merasa sangat bahagia dan masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Benar nona"kata dokter tersebut juga terlihat berbahagia untuk Zaara.
"Namun nona anda harus ekstra berhati-hati karena usia kandungan anda masih rentan terlebih lagi jika mengingat usia anda sendiri yang terbilang masih muda"
Lanjut dokter dengan sangat rinci menjelaskan setiap yang harus dilakukan oleh Zaara.
Zaara mendengarkan setiap penjelasan dengan seksama dan sesekali Zaara akan bertanya jika ia tidak memahami sesuatu.
Setelah beberapa lama ia berkonsultasi dengan dokter, akhirnya Zaara beranjak pulang, Zaara bangkit dari duduknya dan disusul oleh dokter tersebut.
Mereka pun berjabat tangan!
"Terimakasih dokter"ucap Zaara menjulurkan tangannya ramah.
"Sama sama nona, mari saya antar!" sahutnya.
Dokter itupun mempersilahkan Zaara untuk pergi dan meminta Zaara untuk memeriksakan kandungannya nanti pada dokter itu lagi.
...*******...
Deru mesin mobil memenuhi telinga Zaara saat ini!
Dia masih tertegun dan bahagia!
Hamil!, ia hamil anak Sagara dan sebagai seorang wanita tentu hal inilah yang ditunggu tunggu dalam rumah tangga mereka.
Zaara membayangkan bagaimana reaksi yang akan diberikan Sagara jika ia tahu bahwa Zaara telah mengandung!
Apakah Sagara akan memberikan reaksi yang sama seperti Zaara sekarang ini!?
"Ada apa nona!?" tiba tiba supir Zaara bertanya dan memecahkan lamunan bahagia Zaara, Melihat nonanya yang senyam-senyum membuat supir bertanya tanya.
Zaara menggelengkan kepalanya sambil tersenyum ramah!
"Tidak apa apa pak" sahut Zaara singkat lalu kembali menatap kearah jendela mobil disampingnya dan menyandarkan kepalanya.
Sementara Itu
Daniel yang tengah mengendarai mobilnya, masih dengan perasaan yang sama dengan yang beberapa hari terakhir membuatnya bingung, gelisah, dan gundah!.
Dia masih susah mengerti hatinya sendiri, dan perasaan sekarang benar benar asing baginya.
Ada apa sebenarnya!?, mengapa disaat ia mencoba menggali lebih dalam didalam dirinya, semakin membuatnya terjebak.
"Sial!!"
Daniel menggebrak dasbor. begitu keras hingga pernak-pernik diatasnya jatuh berserak.
"Sial!, sebenarnya apa sih yang terjadi denganku saat ini"runtuk Daniel bingung, gundah dan kesal, rasanya jika dipikir pikir.
terlebih lagi disaat ia mulai mengingat- masalah penyerangan ini, Daniel mati-matian menyiapkan semua rencana, walaupun tindakannya diperintahkan oleh Damian namun tetap saja dendam dan kebencian juga dimilikinya untuk Sagara!
Benci dan dendam yang tidak bisa di redamkan dengan apapun!!
Daniel sangat ingin menghabisi setiap anggota keluarga Sagara dan orang orang yang terdekat untuk Sagara, ingin sekali rasanya Daniel mencabik ataupun meledakkan seisi kediaman itu.
Memikirkan hal itu saja membuat darahnya naik!
Daniel melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan berhenti ketika isyarat lampu merah!
Citt!!
Dan disaat itulah Daniel melihat ada Zaara, Daniel menatap kesebelah kanannya dan dari jendela mobil ia bisa melihat jika tepat tak jauh dari mobilnya ada Zaara!
Zaara!!
Tak disangka ia bisa berpapasan dengan gadis itu dan Daniel pun menatap Zaara dengan tatapan dalam.
Entah mengapa ketika ia memandang wajah itu, tersirat perasaan aneh dalam dirinya,
Dan ketika lampu telah berganti hijau dengan tancap gas mobil Daniel mengikuti Zaara yang juga telah melajukan mobilnya.
Vroomm!!
Tiba tiba ide jahil terlintas dipikiran Daniel, Daniel sengaja mengikuti Zaara dari belakang persis seperti mata mata.
Mobil Daniel mengikuti mobil Zaara dari belakang persis membuntuti Zaara dan dengan sengaja memaksa mobil didepannya untuk memberi reaksi.
Dan benar saja!
"Ada apa pak!?"
Supir dan Zaara yang sedari tadi telah curiga dengan kehadiran mobil yang tiba tiba mengikuti mereka, mobil yang sedari tadi mengikuti kemana saja Zaara pergi dan bahkan mobil itu terkesan berdempet-dempetan.
"Tidak tahu nona!" sahut supir Zaara juga tidak tahu menahu.
"Percepat saja pak!" ucap Zaara tak urung dirinya menjadi khawatir dan dengan cepat supir itu pun melajukan mobilnya.
Namun percuma saja!!
Karena reaksi itulah yang ditunggu tunggu oleh Daniel, Binggo!
Daniel melajukan kecepatannya dan seketika menyelip mobil Zaara kesebelah kiri,
"Astaghfirullah!"
Hampir saja kedua mobil berbenturan namun Daniel menjauhkan sisi mobilnya dan.
Set!!
Titt...titt!!!
Sedetik kemudian kepanikan Zaara hilang karena ketika jenderal mobil disampingnya terbuka dan menampakkan siapa yang didalam mobil itu, membuat Zaara terkejut plus marah!!
Dia!!!
Zaara seketika emosi setelah melihat siapa yang telah mengganggunya dijalan raya dan hampir membuat mereka bertabrakan.
"Hai nona!!" dengan senyum lebar diwajahnya, Daniel melambaikan tangannya kepada Zaara.
"Apa maksud pria itu!" Zaara menjadi kesal dan dengan perasaan kesal, dan marah Zaara meminta supir untuk menepikan mobil.
"Pak berhenti!, pak!" sopir pun menepikan mobil di area yang lebih lempeng,disisi jalan raya yang lebih luas.
Brakk!!
Dengan raut wajah yang kesal Zaara keluar dari mobil dan menghampiri Daniel yang juga menepikan mobilnya.
"Apa maksud anda hah!!"
Zaara menghampiri Daniel, lalu memelototi Daniel tajam tajam. mulutnya sudah tebuka siap melontarkan semua kejengkelannya.
"Dasar!, sebenarnya apa yang anda lakukan hah!" bentak Zaara menatap tajam.
Namun bukannya merasa bersalah Daniel malah bodoh Tuing!!
Malah menampilkan wajah yang tak merasa bersalah seolah olah apa yang dilakukannya itu tidak membahayakan Zaara.
"hehehe!!...hai Zaara senang bertemu denganmu" dengan tersenyum Daniel semakin susah menyembunyikan sesuatu dalam dirinya.
"heh!!.." bentak Zaara.
"Anda tahu yang telah anda lakukan itu sangat berbahaya!?" ucap Zaara melontarkan semua kekesalannya disaat itu juga.
Zaara kesal dari awal kemunculan Daniel hingga tiba tiba pria itu mencegatnya dengan mobil dan hampir membuatnya dalam masalah. laki laki ini!!...pikir Zaara semakin gondok lagi.
Namun lain halnya dengan Daniel, disaat Zaara marah marah kepadanya pria itu malah dengan wajah yang sumringah, menikmati setiap celetukan Zaara yang terlihat manis menurutnya.
Manis amat sih, gadis ini marah saja masih sangat cantik! runtuk Daniel dalam hati.
"kenapa malah ketawa!?"ucap Zaara dongkol, dengan perasaan yang sedikit Bingung,kenapa pria ini malah tersenyum tak jelas seperti itu!
"aku baru sadar jika nona Zaara sangat cantik walaupun lagi marah!" celetuk Daniel sontak membuat Zaara ternganga.
"!!"
"Huhmm...!!" Zaara kesal Sekesal-Kesalnya, namun Zaara memilih untuk tidak melanjutkan perkataannya, sabar!!...sabar..sabar!
lalu Zaara meninggalkan Daniel yang masih tertawa lebar dengan perasaan yang dongkol, dari pada ia harus meladeni pria itu lebih baik ia segera pergi sebelum keburu ke sorean, ia tak ingin disaat Sagara pulang, malah tak menemukannya dirumah.
Bersambung...