Zaara

Zaara
bab 23. malam panjang



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


setelah pernikahan itu selesai, Sagara berdiri sendirian dan hanya bisa menatap langit malam.


Sagara menatap Zaara yang tengah asik berbicara dengan kedua sahabatnya, sepertinya ia tidak bisa berduaan dengan sang istri malam ini.


Sagara menatap sekelilingnya,malam yang indah, langit yang dipenuhi bintang, kembali terlintas dalam bayangannya sendiri acara pernikahan itu.


"Hem..dia sangat menawan" pikir Sagara kembali melayang.


Zaara dengan balutan gaun putih, Zaara berjalan perlahan menuju kearahnya, seandainya waktu terhenti kala itu, pasti sangat indah untuknya karena hanya ada dirinya dan Zaara.


saat ini pun pikiran Sagara tidak lepas dari Zaara, bahkan ia bisa mendengar apa yang dibincangkan oleh gadis gadis itu.


"Cieee... yang mau malam pertama" goda Meena, mulut sahabatnya itu memang tidak bisa diam.


"hei!!, Meena bisa tidak jangan mengatakan hal itu didepan umum, dasar gadis ini" ucap Rena menutup mulut meena gemas.


"ihh!! mbak Rena sih kelamaan jomblo" ejek Meena sambil tertawa garing.


"awas kamu berani berbicara begitu kepada mbak" Mereka tertawa bersama,selama ini Rena memang tidak pernah dekat dengan laki laki manapun.


"mbak sama tuan Andreas saja sana, diakan juga nggak kalah ganteng" goda Meena lagi.


"huss!!.. jangan asal bicara" Rena sudah tidak tahan dengan kelakuan Meena yang kekanakan ini.


"ihh mbak Rena jangan marah dong, kan Meena bercanda" ucapnya, Meena memang kurang dewasa diantara mereka bertiga, tetapi hatinyalah yang sangat peka.


tiba tiba Veera datang...


tap..


tap..


tap...


"kalian ini tidak membiarkan Zaara pergi, Sagara telah menunggu Zaara disana" ucap Veera sambil menunjuk kearah Sagara.


"Ayo lebih baik kalian temenin Tante aja" ucap Veera membawa dua wanita itu pergi dari Zaara.


Sagara yang sedari tadi memperhatikan Zaara, memang tidak luput juga dari perhatian Veera, ia tahu jika Sagara ingin sekali menghampiri Zaara.


Rena dan Meena pun ikut bersama Veera,,,


"dah, Zaara selamat menikmati indahnya malam ini..." tak henti hentinya Meena menggoda Zaara.


karena pengganggu telah disingkirkan,Sagara pun mendekat...


tap..


tap...


tap...


DEG...!!


Zaara menjadi gugup ketika berhadapan dengan Sagara, laki laki itu membuat jantungnya berdegup kencang.


"Zaara!" tangan Sagara menyentuh wajah Zaara,hal tersebut semakin membuat Zaara gugup tak karuan.


dag..!!


dig...!!


dug..!!


set..!!


Sagara menarik tubuh Zaara semakin mendekat kearahnya, sekarang ia bisa merasakan napas mereka masing masing.


"tu..tuan.. ap..a yang..anda.. lakukan!" Zaara terkejut dengan perlakuan tiba tiba Sagara kepadanya.


"jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi....Zaara" bisik Sagara lembut.


deg...!


"laa...luu Zaara akan memanggil dengan sebutan apa?" tanya Zaara polos namun ia tetap gugup, bahkan suaranya saja menjadi bergetar.


Sagara menjadi tersenyum geli,istri kecinya itu memang sangat manis, pikir Sagara.


"malam ini kita sepertinya tidak bisa menghabiskan waktu berdua"ucap Sagara tiba tiba dengan ekspresi sedikit kecewa.


"emm..maksudnya apa?" lagi lagi Zaara tidak mengerti apa yang dimaksud Sagara.


Sagara pun semakin mendekatkan wajahnya ke arah Zaara,,,


"hhmmmmm....!!" Sagara sengaja meniup telinga Zaara perlahan hingga gadis itu merasa geli.


"keluargaku belum juga mau beristirahat dan itu sama saja dengan tidak membiarkan kita untuk beristirahat juga" bisik Sagara.


"lihatlah!" Sagara menatap kedalam rumahnya.


Zaara pun mengikuti pandangan Sagara,dan benar keluarga itu terlihat sangat bahagia dan mereka semua berkumpul melepaskan rindu.


"emm..tidak apa apa mereka semua pasti saling merindukan" ucap Zaara merasa itu tidak apa apa.


Sagara pun menggeleng kepala,istrinya itu memang terlalu polos,Sagara hanya bisa mengalah,lalu ia duduk menatap langit.


set...! Sagara pun duduk di tanah.


sebenarnya sejak kapan ia suka menatap langit?, entalah mungkin karena ia mulai menyukai itu tanpa sadar.


Zaara mengikuti yang dilakukan Sagara,,,


"tuan muda" panggil Zaara menatap wajah menawan Sagara.


"Zaara kau masih memanggilku seperti itu!"


"lalu harus dengan sebutan apa?" Zaara benar benar tidak tahu.


"pikirkan itu..emm..mungkin dengan sebutan sayang, honey,atau my love" ucap Sagara membuat Zaara tidak percaya plus geli sendiri.


Zaara tidak percaya mendengar sebutan itu, pasti sangat memalukan jika harus memanggil Sagara seperti itu.


"sepertinya itu terlalu berlebihan, bagaimana saya bisa memanggil seperti itu" Zaara benar benar pusing dibuatnya.


"lalu?kau ingin membuat panggilan lain" tanya Sagara yang tahu Zaara tidak akan bisa memanggilnya seperti itu.


"biarkan saya memikirkan itu dan mungkin tidak akan cepat" saut Zaara membuat Sagara sedikit tidak terima namun ia akan sabar menunggu kali ini.


"baik pikirkan itu dengan baik,... sayang" jawab Sagara dengan wajah yang berseri seri.


pada akhirnya keluarga Sagara yang sudah sangat lelah dan puas berbincang bincang itu mulai kembali untuk beristirahat.


"akhirnya mereka akan beristirahat!" ucap Sagara yang cukup memperhatikan keluarganya itu dan Sagara sangat bersyukur akhirnya kesabarannya membuahkan hasil.


tap...


tap...


"Sagara!!...kami akan beristirahat dan kau juga beristirahatlah" ucap Veera berjalan mendekati keduanya.


"baik mom, selamat beristirahat" saut Sagara, ia sangat senang akhirnya bisa berduaan dengan Zaara, pikirannya benar benar nakal.


singkat cerita mereka pun kembali kekamar masing masing begitu juga Sagara...


Sagara pun membawa Zaara kekamar yang telah disiapkan untuk keduanya...


tap..


tap..


Zaara mengikuti langkah Sagara, ia sangat gugup mulai malam ini ia harus sekamar dengan laki laki pertama kali.


deg...!


deg...!


mereka sampai didepan kamar Sagara,


"Zaara, ayo kita masuk" bujuk Sagara.


"emm.. itu..." melihat wajah Zaara, Sagara pun bertanya tanya kenapa lagi dengan istrinya itu.


"ada apa Zaara, jangan bilang kau takut masuk"


benar saja ekspresi zaara telah memberinya jawaban itu.


"sekarang aku adalah suamimu, jadi jangan malu maupun takut" ucap Sagara menenangkan Zaara.


"bukan itu tuan muda, hanya saja saya tidak terbiasa jika harus berbagi kamar.."


"dari sekarang biasakan itu, lagi pula aku ini kan suamimu Zaara" sergah Sagara memberikan penjelasan kepada Zaara agar ia tidak takut.


"b..bb..baik..." jawab Zaara pada akhirnya.


Sagara pun membukakan pintu untuk Zaara...


cklek....!!!


kriettt....


"silahkan masuk istriku!" gombal Sagara.


dengan perlahan lahan Zaara berjalan masuk kekamar yang kelak akan ditempatinya bersama Sagara.


deg..


deg..!


"bagaimana ini aku sangat gugup"batin Zaara.


Sagara pun menutup pintu kamarnya, hal itu juga tak luput dari perhatian Zaara dan membuatnya semakin panas dingin.


"sayang.....malam ini kau milikku"desiran suara Sagara membuat Zaara semakin tak karuan.


"tu..tua..n muda..sebaiknya anda mandi terlebih dahulu" gugup Zaara setengah mati.


"mandi!?, apakah itu harus dilakukan istriku bukankah kita harus kebagian intinya saja!!?" ucap Sagara lagi tepat disamping telinga Zaara.


"eum...eummm...tuan muda j.jjangan menggodaku!" ucap Zaara dengan gugup.


"pff... haha..baiklah, sayang aku akan mandi, tetapi....!" Sagara mengantungkan kalimatnya.


"jangan coba coba untuk kabur ya...." dan kemudian lagi lagi dengan sengaja meniup wajah Zaara dengan pelan menggoda.


bluss...!! Zaara sangat malu, bagiamana bisa Sagara menggodanya seperti itu.


"hahahaha...!" Sagara semakin senang Sekarang dan kemudian Sagara memasuki kamar mandi, dan meninggalkan Zaara yang masih terpaku dan merona.


dag..!


dig...!


dug..!


Zaara memegang dadanya, jantungnya seperti sudah mau copot, bagaimana tidak Sagara berkata seperti itu.


"huh...huhmmm!!" ini benar benar pertama kali baginya, dan ia harus bagaimana sekarang.


"bagaimana ini!!" pikir Zaara namun tidak lama kemudian Sagara selesai mandi.


cklek...!


tap...


tap...!


Sagara keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan piyama mandi miliknya dan menampakkan dada bidang laki laki itu yang terlihat sangat seksi.


Sagara sengaja menggoda Zaara dengan menggunakan piyama yang tidak dipakai olehnya dengan benar.


"Zaara!!?"


tap..


tap..!


"eumm...mau aa..apa!!?" Sagara berjalan mendekati Zaara perlahan lahan.


"ingin memakanmu!" saut Sagara dan refleks Zaara memundurkan tubunhya, namun sayang ia terjatuh di atas kasur, Sagara menguncinya Zaara di atas kasur itu dengan posisi yang berada diatasnya.


DEG..!!! Zaara menutup matanya, ia benar benar gugup.


"sayang, kau tidak ingin mandi, ingin melakukan sekarang?"godanya semakin berani dan intens.


"mandi.....!!..saya akan mandi terlebih dahulu" ucap Zaara cepat lalu ia mendorong Sagara dan berlari kekamar mandi.


tap....


tap...!!


"SAYANG JIKA MEMBUTUHKAN BANTUAN KATAKAN SAJA" teriak Sagara, lalu ia tertawa puas.


"huh.....!dasar tuan muda dia pasti sengaja melakukan hal itu" sekarang wajahnya sangat panas karena malu.


namun Zaara juga tidak ingin berlama lama didalam kamar mandi dan ia pun memulai ritual mandinya.


dengan melepaskan jilbabnya terlebih dahulu,lalu gaun yang ia kenakan itu, namun disaat ia mencoba menggapai resleting dipunggungnya, Zaara merasa kesulitan.


"bagaimana ini!?" pikir Zaara sambil mencoba membuka resleting itu tetapi sepertinya tersangkut.


set..!!


"eum.. bagaimana ini!!" Zaara tetap mencoba berulang-ulang kali namun hasilnya tetap sama seperti sebelumnya.


"lalu sekarang aku harus bagaimana?, apakah harus meminta tolong tuan muda" ia tidak bisa melakukan itu, ia sangat malu terlebih lagi sekarang ia tidak mengenakan jilbabnya.


tetapi ia tidak memiliki pilihan lain, ia pun mengenakan jilbabnya yang hanya dililitkan di lehernya, lalu ia mencoba membuka pintu...


kriettt.....!!


tap...


tap..


Zaara berjalan dengan canggung, Sagara yang mendengar jika pintu itu terbuka pun sontak menoleh kearah sumber suara.


DEG!!..


dan betapa terkejutnya ketika melihat Zaara yang berpenampilan seperti itu.


"ouh..ho.!!.. ternyata kau ingin menggodaku!?" pikir Sagara.


"Umm....tuan muda bisa minta tolong?" tanya Zaara berjalan kearah Sagara yang tengah asik duduk diatas kasur.


"ada apa Zaara?" tanya Sagara dengan nada yang dibuat sesantai mungkin.


Zaara semakin mendekati Sagara dan memutar tubuhnya didepan Sagara.


"bantu aku melepaskan resleting ini sepertinya tersangkut" ucap Zaara yang hampir tidak terdengar, Zaara sangat malu harus menatap wajah Sagara.


"baik kemarilah!"


Sagara pun mencoba membuka resleting itu dengan menyibakkan jilbab yang terjuntai dibelakang punggung Zaara.


set..!!


jari jari Sagara terasa dipunggungnya, seperti sengatan listrik membuat Zaara menahan napas.


"sudah" ucapan Sagara itu membuatnya tersadar.


"i..iiya" Zaara pun berjalan cepat masuk kamar mandi lagi.


Sagara hanya tersenyum, bukanya ia tidak tergoda dengan punggung putih mulus itu namun ia tidak ingin membuat Zaara takut jika ia tiba tiba menyerang gadis itu dari belakang.


Sagara tersenyum melihat tingkah Zaara, dan tak berselang lama Zaara keluar dari kamar mandi.


tap..


tap..


set..! dilihatnya sekeliling kamar..


"sepertinya aman" Zaara tidak menemukan keberadaan Sagara dikamar itu lantas ia pun cepat menuju tas miliknya berada didepan cermin lalu mengambil sesuatu didalamnya dan kembali memasuki kamar mandi.


"huhhh!!" Zaara duduk dideoan meja rias.


"akhirnya selesai!!" ucap Zaara mencoba menetralkan perasaannya saat ini.


tiba tiba pintu kamar terbuka..


kriettt...!! rupanya Sagara yang datang.


"tuan muda dari mana?" tanya Zaara


"dari dapur, kenapa Zaara" ucap Sagara mendekati Zaara dan berlutut didepan Zaara.


"tidak ada"


Zaara menggeleng kepala dan tersenyum.


tiba tiba suasana menjadi hening.


Sagara menatap Zaara penuh kelembutan lalu perlahan ia membuka kerudung yang dikenakan Zaara.


Zaara hanya diam membiarkan Sagara memperlakukannya saat ini..


ketika jilbab itu terbuka seketika Sagara terpesona melihat wajah serta rambut Zaara yang terurai panjang Zaara untuk pertama kalinya.


DEG..!


"sangat cantik" puji Sagara, Zaara hanya tersenyum lalu Sagara pun berdiri dan menggenggam tangan Zaara serta membawanya menuju kasur..


"bolehkah?" tanya Sagara setelah mendudukkan tubuh Zaara diatas kasur.


Zaara tersipu...


melihat Zaara yang diam membuat Sagara berpikir jika itu adalah isyarat dari Zaara.


Sagara mendekatkan wajahnya....


set..! wajah itu mendekat secara perlahan,napas Sagara menerpa wajah Zaara,... tangan Sagara yang hangat menyentuhnya,..membuat napas keduanya memburu.


lalu dengan pasti mencium kening Zaara, kedua pipinya dan terakhir bibirnya...


tetapi belum sempat Sagara mencium bibir dibawahnya, Zaara menjauh..


set..!?


"maaf tuan muda, sa...yaa.."ucap Zaara terbata bata, Sagara mengerti Zaara belum siap,ia pun tersenyum.


"aku tidak akan memaksamu jika kau belum siap" ucap Sagara lembut, sebenarnya ia sangat menginginkan Zaara saat ini tetapi ia tidak ingin membuat Zaara takut.


"maafkan aku karena belum bisa memenuhi kewajibanku sebagai istri" ucapnya merasa bersalah.


"tidak apa apa"dan Sagara pun memeluk tubuh Zaara....


malam itu sangat sempurna dan membahagiakan bagi keduanya, walaupun mereka tidak melakukan kewajiban suami istri malam itu tetapi mereka tetap merasa sangat bahagia.


"terimakasih karena sudah datang dihidupku Zaara"


bersambung....