
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
plakk...!!!
tamparan keras mendarat di wajah Sagara...
setelah Veera menemui Zaara dan tahu kebenarannya, Veera menemui Sagara dan merasa kecewa atas sikap Sagara.
"mommy sangat kecewa padamu Sagara!!" Veera datang menemui Sagara ke kota xibei.
Sagara hanya diam dengan tatapan yang datar ia berjalan kearah jendela kamar hotel itu sambil berkata datar dan terdengar santai.
tap..
tap..
"ada apa mom!?" ucap Sagara datar.
Veera semakin emosi melihat sikap Sagara saat ini, bagiamana ia bisa bersikap begitu santai disaat Veera benar benar marah padanya.
"mommy sangat kecewa!... bagaimana kau bisa memperlakukan istrimu seperti itu!!"
mendengar perkataan mommynya itu sudah bisa dipastikan arah pembicaraan itu.
"jadi gadis itu sudah mengatakan padamu...!!" Sagara dengan santainya mengucapkan kalimat itu.
"SAGARA!!" Veera berteriak ia sangat marah saat ini.
"kenapa sikapmu seperti ini kau meninggalkan Zaara sendirian dan kau juga tidak pernah menemuinya lagi, Sagara apakah kau sadar jika kau telah mendorong Zaara untuk mundur!"
"mom tarik ucapan itu, bukan aku yang membuat hubungan ini bermasalah namun gadis itulah yang berselingkuh!" sergah Sagara masih dengan pikirannya sendiri.
"dan kau percaya!!!?"tandas Veera menatap putranya itu.
DEG...!!
tap...
tap...
Sagara berjalan mendekati Veera...
"jika mommy kemari hanya untuk mengatakan hal ini, maka mommy bisa pergi...!" ucap Sagara seperti tidak memiliki perasaan.
plakk...!! sekali lagi tamparan mendarat di wajannya.
"aku benar benar kecewa padamu Sagara, jika kau ingin aku pergi tentu aku akan pergi namun kedatangan mommy kesini hanya ingin mengatakan padamu,..." Veera berhenti sesaat.
"dari saat ini jika kau memang tidak ingin menemui Zaara lagi maka kau tidak akan melihatnya lagi dan mommy akan membiarkan Zaara hidup bebas tanpa di kekang olehmu Sagara!" sambung Veera membuat Sagara agak terkejut namun ia menyembunyikan rasa itu.
"dan sekarang lakukanlah sesukamu namun kau juga tidak memiliki hak untuk mengekang kebebasan Zaara!!" ucap Veera benar benar merasa sangat kecewa, putranya sendiri yang bagaimana bisa berpikir tidak rasional itu.
dan kemudian Veera pun tidak mengatakan apapun lagi dan berbalik badan meninggalkan Sagara disana.
tap..
tap..!!
Veera pun berjalan menjauh dan meninggalkan Sagara...
BRAKKK...!
"AKKKHH...SIALAN!!" Sagara meninju dinding disebelahnya dengan keras hingga tangannya berdarah.
kedatangan Veera yang tiba tiba itu memang sudah di prediksi oleh Sagara namun ia tidak menyangka jika Veera melayangkan perkataan itu.
"ZAARA!!!"
teriak Sagara semakin frustasi,ia mencintai Zaara namun ia tidak bisa mendekat untuk saat ini.
...ΩΩΩΩ...
dua hari setelah kedatangan Veera...
flashback...
sebelum Veera beserta Tristan kembali ke Kanada, terlebih dahulu Veera mengatakan jika ia sekarang sudah bebas karena Sagara tidak akan bisa mengekangnya lagi.
"sekarang kau boleh melakukan apapun Zaara, kau boleh melanjutkan kuliahmu dan kau bisa berjalan jalan sesukamu" ucap Veera sambil mengusap kepala Zaara.
"mom!?"
"Zaara mommy tahu niatmu, jadi lakukanlah yang terbaik" ucap Veera memberikan semangat untuk Zaara.
"terimakasih mommy!!" Zaara memeluk tubuh Veera.
"tapi Zaara kau harus kuat menghadapi Sagara, anak mommy itu terlalu posesif dan dingin" ucap Veera.
"iya mom"
"jika Sagara kembali dari xibei, lakukanlah sebaik mungkin untuk meluluhkan hatinya itu!" ucap Veera lagi.
"iya mom Zaara akan mengingat ini" saut Zaara...
flash off...
tepat dipagi hari...
Brak....!!
vroomm...!!
kini Zaara kembali kerumah sakit setelah dua hari Bunga dirawat di RS.
selama diperjalanan Zaara hanya diam sambil memikirkan semua yang telah terjadi, Zaara mencoba baik baik saja dihadapan Veera.
mengatakan akan memperbaiki kesalahpahaman ini dan berusaha membuat Sagara kembali seperti dulu dan Zaara tidak ingin membuat Sagara dalam kemarahan Veera dan keluarganya.
oleh sebab itu ia akan berusaha untuk selalu terlihat baik baik saja dengan cara memperbaiki hubungannya kembali.
tik..!
tik..!
tanpa disadari air mata Zaara perlahan turun lagi lagi hatinya menjadi sesak dan merasa sangat melelahkan.
"nona muda!" supir itu seakan paham apa yang dirasakan Zaara ia menyodorkan sebuah tisu untuk Zaara.
Zaara pun mengambil tisu itu...
"terimakasih pak" ucap lirih Zaara lalu dengan perlahan Zaara mengusap air matanya.
tak lama mereka pun sampai di depan rumah sakit,,,
citttt...!!!
dengan cepat supir membuka pintu untuk Zaara sebelum Zaara sempat membuka pintu itu.
"biarkan saya membuka pintu untuk anda nona muda"
Tap...!!
tap...!!
Zaara hanya tersenyum tipis, supir yang berumur itu sepertinya seumuran dengan ayah Zaara jika masih hidup.
cklek...!
tap..! kaki Zaara pun menginjak tanah.
"terimakasih pak" ucap Zaara sambil tersenyum kearah supir itu.
"sama sama nona muda" sautnya.
"nona saya akan menunggu disini, jadi nona bisa membutuhkan saya kapan saja" ujar supir itu lagi.
"terimakasih lagi pak" Zaara pun berjalan masuk kedalam dan menuju kamar pasien Bunga.
dua hati ini Bunga telah dirawat disana dan dua hari itu juga Bunga menjalani perawatan dan sekarang ia cukup pulih untuk pulang.
tap..
tap..
cklek..! Zaara membuka pintu, terlihat Bunga yang sudah sehat sedang duduk di atas kasur pasien.
"Zaara!!"
"apa kabarmu Bunga maaf kemarin aku tidak bisa menjengukmu karena ibu mertuaku ada dirumah" ucap Zaara.
"tidak apa apa Zaara lagi pula aku sudah baik baik saja, luka dikepalaku juga berangsur membaik" saut Bunga.
"aku sudah boleh pulang hari ini"
"iya, aku juga sudah mengurus biayanya, Bunga kita bisa langsung pulang" saut Zaara.
"baiklah kalau begitu aku merepotkanmu Zaara"
"tidak apa apa!"
Zaara pun membantu Bunga mengurus keperluan Bunga keluar dari rumah sakit itu...
tak lama mereka pun sudah di depan rumah sakit dan menghampiri supir Zaara.
tap...
tap...
"pak kita pulang!" ucap Zaara
"baik nona"
supir itu pun membantu Bunga untuk masuk kedalam mobil dan Zaara.
cklek...!
ditengah perjalanan...
"hemmmm.... akhirnya aku bisa keluar, kau tahu Zaara selama dua hari ini rasanya sangat tidak menyenangkan berada dirumah sakit itu"
"tentu saja!!" Zaara menjawab singkat dan kembali diam menatap kearah luar.
namun tiba tiba...
citttttttt....!!! mobil itu berhenti mendadak.
"ada apa pak?" tanya Zaara sambil menahan tubuhnya sendiri agar tidak mengenai sisi mobil.
"maaf nona muda, nona Bunga sepertinya ban mobilnya bocor" ucap supir sambil membuka pintu mobil dan mencek ban mobil tersebut.
dan benar saja ban mobil itu bocor dan harus segera diperbaiki.
"bagaimana pak?!" tanya Zaara.
"anu itu nona, Ban nya memang bocor jadi saya harus memperbaiki kebocoran terlebih dahulu"
"jika nona Zaara tidak keberatan saya akan menelpon supir yang lain dirumah untuk menjemput nona" ucap supir itu lagi.
"baiklah pak maaf merepotkan anda!" ucap Zaara.
lalu tak beberapa lama datang mobil jemputan untuk Zaara dan Bunga, namun bukannya Zaara masuk ia lebih memilih untuk menunggu mobil itu selesai diperbaiki.
"Bunga kau pulanglah terlebih dahulu, aku ingin menunggu mobil ini selesai diperbaiki" sebenarnya itu hanya alasan Zaara, suasana hatinya sangat buruk hari ini dan ia ingin menghirup udara segar di kota itu.
"begitu.. baiklah Zaara aku akan menunggumu di rumah" ucap Bunga sambil tersenyum kearah Zaara.
brak...!!
vroomm..!!!
Bunga pun lebih dulu pulang, sedangkan Zaara ingin berjalan jalan sebentar di taman kota yang tak jauh dari mobil itu terparkir.
"pak saya ingin ketaman kota sebentar, jika sudah selesai memperbaiki maka telepon saja!" ucap Zaara kepada supirnya itu.
"baiklah nona muda"
tap...
tap..
Zaara pun menyebrangi jalan itu dan segara menuju taman kota yang memang tak jauh dari sana.
Zaara berjalan perlahan sambil menikmati pemandangan disekelilingnya, udara yang masih segar itu membuat Zaara lebih tenang dan pohon pohon yang tersusun rapi juga membuat kota itu terlihat asri.
"sudah lama aku tidak melihat pemandangan ini" gumam Zaara sambil menghirup udara bebas.
tap...
tap..
tap..
Zaara pun memasuki kawasan taman dan mulai melupakan sejenak masalahnya.
dan kemudian Zaara membeli banyak Es krim, entah untuk apa Es krim sebanyak itu.
tap..
tap..
dan ternyata Zaara terlihat menghampiri beberapa anak yang berkumpul di taman itu.
"hai adik adik!" Zaara menghampiri sekelompok anak jalanan yang biasanya ada ditaman itu.
"kakak bidadari!!" mereka semua serentak berdiri dan memeluk tubuh Zaara.
"kenapa lama sekali tidak berjumpa dengan kakak, kakak bidadari kemana saja!?"
"adik manis... kakak tidak bisa menemui kalian itu karena kakak memiliki banyak urusan dan sekarang baru bisa menemui kalian lagi"
"lihatlah apa yang kakak bawa untuk kalian" sambil menenteng plastik itu dan memperlihatkannya kepada anak anak itu.
"Waahhh!! Es krim kakak bidadari kami mau!!"
mereka semua sangat senang melihat Zaara yang membawa Es krim untuk mereka.
"baik ambil satu satu ya...jangan berebut" ucap Zaara juga sangat senang bisa bertemu anak anak itu, lalu sambil tersenyum ramah Zaara membagikan Es krim yang baru di belinya.
"terimakasih kakak bidadari" ucap mereka bersama-sama.
"sama sama adik manis" sambil mencubit gemas salah satu anak laki laki yang terlihat masih kecil.
lalu mereka pun memakan es krim itu dengan sangat senang...
Zaara sangat menikmati saat saat itu dan juga terharu melihat semua anak anak itu yang memiliki nasib yang malang sejak kecil.
anak anak jalanan yang terpaksa mengamen untuk bertahan hidup diumur mereka yang masih sangat belia.
tap..
tap..
"Kakak bidadari mau Es krim tidak?" dengan suara khas anak anak, seorang anak laki-laki yang baru saja ia cubit menghampiri Zaara dan menawarkan Zaara es krim yang hampir habis itu.
Zaara tersenyum lalu dengan lembut Zaara mengusap mulut anak kecil yang penuh dengan Es krim.
"anak manis siapa namamu?" tanya Zaara.
"namaku Zayyan" saut anak laki laki itu dengan gemasnya.
"Zayyan nama yang cocok untuk anak manis sepertimu, eum..zayyan umurnya berapa?" tanya Zaara lagi sambil membungkuk badannya dihadapan Zayyan.
"umui..umui..Zayyan lima tahun" sahut zaayan lagi sambil menjilat tangannya yang ada bekas es krim.
"kak bidadari...disana ada orang yang melihat kakak" tunjuk Zayyan, Zaara pun mengikuti arah telunjuk Zayyan.
Zaara pun berbalik dan benar saja disana ada pria berkacamata hitam yang sedang berdiri melihat kearah mereka berdua namun ketika Zaara melihat pria tersebut, pria itu langsung memalingkan wajahnya.
"Hem!!" Zaara mengerutkan keningnya.
siapa laki laki itu, pikir Zaara, namun Zaara mengabaikannya.
"mungkin dia sedang memperhatikan sekelilingnya" saut Zaara mengatakan kepada Zayyan.
dan pada akhirnya Zaara pun mulai menemani anak anak tersebut bermain main...
ditengah asiknya mereka semua sebenarnya pikiran Zaara tidak lepas dari laki laki itu, bagiamana tidak laki laki itu selalu memperhatikan Zaara dan anak anak itu bermain dan itu membuatnya sedikit tidak nyaman.
"adik adik tunggu sebentar ya.. kakak mau kesana sebentar" lalu dengan memberanikan dirinya Zaara menghampiri laki laki itu...
tap..
tap..
tap..
"permisi tuan!" ucap Zaara yang sudah ada dihadapan laki laki itu.
namun disaat Zaara ingin pergi laki laki itu malah beranjak pergi...
"tunggu tuan!" laki laki berkacamata hitam itu pun berhenti.
"maaf sebelumnya tapi kenapa sedari tadi anda berdiri disini dan memperhatikan kami!?" ucap Zaara dengan raut yang menyelidik.
"maaf nona jika anda terganggu!" lalu laki laki itu pun membuka kaca matanya.
set...!!
lalu dengan senyum yang mengembang diwajahnya menyodorkan tangannya dan memperkenalkan diri.
"Hehm!!" Zaara agak bingung kenapa pria itu malah tersenyum padanya dan menyodorkan tangannya.
"salam kenal nona nama saya Daniel Raymond" ucapnya memperkenalkan diri.
Zaara hanya diam...
"maaf nona sebelumnya, saya bukannya ingin membuat anda takut tapi saya suka melihat anak anak itu yang bermain bersama anda" ucap Daniel.
Zaara lagi lagi hanya diam, namun sebenarnya ia cukup curiga dengan pria itu.
"ouh ya... sebenarnya saya baru datang dari luar negeri dan sedang berjalan jalan disekitar taman dan ternyata saya malah melihat anda bersama anak anak itu" sambung Daniel menjelaskan.
"sekali lagi saya minta maaf karena sudah menggangu kenyaman anda!" permintaan maaf yang tulus dari Daniel.
"jika begitu tidak masalah, saya permisi" ucap Zaara singkat lalu ia pun hendak berbalik badan, namun Zaara ditahan Daniel dan menyodorkan pertanyaan kepada Zaara.
"siapa nama anda, nona?" tanya Daniel.
"maaf saya tidak bisa memberitahukan nama saya kepada orang yang baru ditemui" saut Zaara agak judes.
setelah mengatakan kalimat tersebut Zaara pun berjalan pergi...
tap...
tap...
tap...
"heh!!...menarik!" pikir Daniel bergumam setelah Zaara pergi dari sana.
"ternyata gadis itu sangat menarik gadis yang lugu dan cantik...sangat disayangkan!" ucap Daniel bergumam sambil meninggalkan taman kota.
bersambung...