
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
tap...
tap..
tap...
Bunga berjalan santai memasuki kediaman itu, dengan senyuman hangat dan ramah wanita itu menyapa pelayan dan pengawal sesekali.
namun siapa sangka dibalik sikapnya yang ramah dan baik ternyata dia lah yang akan membawa masalah di dalam kehidupan Zaara.
lalu tiba tiba sorot mata itu berubah tajam dan dingin, menatap sekeliling kediaman besar itu, menatap lurus kearah lantai dua dan kamar Zaara.
"setelah ini aku pastikan hidupmu hancur sehancur-hancurnya" batin Bunga.
kini semua telah jelas, alasan wanita itu ada dirumah itu hanya untuk menghancurkan kehidupan Zaara dan Sagara semata.
tap...
tap...
tap...
tiba tiba terdengar langkah kaki dari belakang tubuh Bunga, Bunga pun langsung mengubah ekspresinya.
lalu dengan senyum yang mengembang diwajahnya, Bunga berbalik dan menatap siapa yang ada dibelakangnya.
"Bunga!?" ternyata yang ada dihadapannya adalah Rena.
"Rena?, ada apa?, tumben kau datang kesini" ucap Bunga ramah sambil tersenyum lebar kearah Rena.
"aku kesini untuk menemui Zaara, Bunga kenapa kau melihat kekamar Zaara apakah ada sesuatu?" tanya Rena heran sebenarnya sedari tadi ia melihat Bunga yang beberapa saat menatap lantai dua kearah kamar Zaara lebih tepatnya dan itu membuat Rena bertanya tanya.
"huh..itu Sebenarnya aku juga baru tiba dirumah ini, aku hanya ingin melihat kondisi Zaara karena beberapa hari ini aku merasa Zaara selalu bersedih" jawab Bunga.
"ahh...begitu!, kau benar aku juga datang kesini untuk menemui Zaara, aku dengar dari Andreas jika Zaara sekarang tidak baik baik saja, aku jadi mengkhawatirkannya" ucap Rena dengan raut prihatin.
"sebenarnya apa yang terjadi beberapa hari ini dengan Zaara dan Sagara, apakah Sagara masih berpikir jika Zaara memiliki hubungan dengan Niko!" ucap Rena agak kesal jika memikirkan semua itu.
"Rena lebih baik kita lihat Zaara sekarang aku juga takut terjadi sesuatu padanya" saran Bunga.
"kau benar, baiklah ayo kita temui Zaara dikamarnya"mereka pun berjalan menaiki tangga itu dan menuju kamar Zaara.
tap..
tap..
tap..
"semoga kau baik baik saja Zaara!" gumam Rena merasa sangat cemas.
sesampainya didepan kamar Zaara mereka pun tidak langsung masuk tetapi mengetuk pintu terlebih dahulu...
tok...!!
tok...!!
"siapa!?" tanya Zaara dari dalam kamar.
"ini mbak, Zaara!" saut Rena.
Zaara yang didalam kamar pun berjalan mendekati pintu dan membuka pintu yang terkunci itu.
tak..!!
cklek..!!
pintu pun terbuka dan Betapa terkejutnya Rena ketika melihat wajah Zaara yang terlihat pucat, namun Rena hanya diam dan mencoba menghibur Zaara.
"mbak Rena!,sejak kapan mbak datang, kenapa tidak memberitahukan sebelumnya kepada Zaara" ucap Zaara sambil mempersilakan Rena dan Bunga masuk.
"mbak juga hanya lewat kok, jadi mbak pikir kenapa tidak menjengukmu saja" jawab Rena setelah berada didalam kamar Zaara.
mereka sekarang lagi duduk disofa yang terdapat dikamar itu.
"kau baik baik saja?" tanya Rena menatap lurus Zaara, tidak dipungkiri bagi Rena keadaan Zaara saat ini sangatlah memprihatinkan.
bagaimana tidak kondisi Zaara terlihat pucat dan agak kurusan padahal ini hanya beberapa hari,namun dalam beberapa hari ini kondisi Zaara sangat memburuk.
"tidak apa apa mbak, Zaara baik baik saja" jawab Zaara pelan memaksakan senyuman diwajahnya.
"Zaara!" kini Bunga yang membuka suaranya, sambil memegang tangan Zaara, Bunga menatap Zaara dengan sorot mata iba.
Siapa yang sangka dibalik perhatian itu tersimpan rencana liciknya, dengan mencoba memperhatikan Zaara bunga berkata.
"jika kau tidak baik baik saja menangislah" ucap Bunga, ia tahu Zaara sangat sedih dan ia ingin Zaara tidak menyembunyikan perasaannya sendiri.
"tidak..aku..baik baik saja" jawab Zaara sendu,namun pada akhirnya air mata itu tumpah juga.
"hiks..hiks...mbak,... Bunga" Zaara menangis dengan sangat sedih kini tidak bisa disembunyikan lagi, bagaimanapun perasaanya sangat sakit.
"hiks..hiks....mbak aku udah nggak sanggup!!"
Rena mendengar kalimat itu pun hanya bisa diam membisu dan hanya bisa memeluk tubuh kecil itu.
"maafkan mbak Zaara, mbak tidak bisa membantumu, maafkan mbak yang tidak bisa melakukan apapun untuk membuat Sagara percaya" ucap Rena sambil mengusap punggung Zaara, sedangkan Bunga hanya melihat dengan tatapan iba.
"mbak.., Zaara harus bagaimana...hiks..hik"
"iya..mbak..hiks..hiks" Zaara menganggukkan kepalanya, mencoba mengontrol dirinya agar lebih tenang.
"yakinlah semua ini akan berakhir pada waktunya" ucap Rena lagi.
"iya mbak Zaara percaya itu"
pada akhirnya Zaara pun mengeluarkan semua perasaannya yang kecewa dan hancur dihadapan Rena dan Bunga.
malam itu semakin terasa dingin bagi Zaara yang dimana ia membutuhkan Sagara ada disampingnya.
***
Rena pun telah kembali pulang...
Rena pulang setelah kondisi Zaara sedikit tenang dan tertidur, kini Rena tengah menunggu taksi didepan halte bus, didepan jalan raya yang tak jauh dari kediaman besar Sagara.
tak lama kemudian taksi itu pun muncul dan Rena pun segera memanggil taksi itu dan bergegas pulang karena pukul telah menunjukkan jam 9 malam.
"ini alamatnya pak!" Rena pun memberikan alamat tujuan kepada sopir itu.
beberapa waktu lamanya, akhirnya Rena pun tiba dirumahnya.
citt...!!taksi berhenti.
brak!..
"terimakasih pak" ucap Rena turun dari taksi itu, taksi itu pun kembali berjalan.
Rena pun masuk kedalam rumahnya dan membersihkan tubuhnya dan kemudian beristirahat.
namun belum sempat ia menutup matanya untuk tidur tiba tiba terlintas tentang Bunga didalam benaknya.
"untuk apa Bunga menatap kamar Zaara selama itu!?" pikir Rena, kenapa Rena merasa jika jawaban yang diberikan oleh Bunga terdengar seperti alasan semata.
sebelumnya juga Rena melihat Bunga mengepalkan tangannya sambil menatap lurus kamar Zaara, pikir Rena kembali mengingat pertama kali ia masuk kedalam rumah itu.
terlihat jelas Bunga yang berdiri tegak dan menatap lurus kelantai dua dengan ekspresi yang datar dan terkesan dingin bagi Rena.
"namun anehnya kenapa ketika aku memanggilnya, ekspresinya tiba tiba berubah dengan cepat"pikir Rena masih tidak tahu apa penyebabnya, namun ia merasa jika Bunga saat itu seperti orang lain.
"hhmm..sudahlah mungkin itu hanya perasaanku saja" pikir Rena,lalu dengan memejamkan matanya Rena mulai tertidur pulas.
...ΩΩΩ...
keesokan harinya...
Zaara terbangun dari tidurnya,,,
"hehmm...!!" Zaara mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk lewat celah jendela.
Zaara mengerjapkan matanya beberapa kali,,,
"ternyata sudah pagi..." gumam Zaara namun sedetik kemudian ia tersadar akan sesuatu.
"Astaghfirullah, bagiamana aku bisa melewatkan sholat subuh!!" ucap Zaara sadar jika ia telah kesiangan bangun.
cklek..!!
tiba tiba pintu kamar Zaara terbuka dan ternyata bibi Nan masuk kedalam kamar Zaara sambil membawakan sarapan dan beberapa obat.
tap..
tap..!!
"selamat pagi nona muda, bagaimana perasaan anda?" bow bibi Nan.
"pagi bi, Zaara baik baik saja, tapi bibi Zaara melewatkan waktu shalat" jawab Zaara dengan perasaan yang panik.
namun ketika Zaara ingin berdiri tiba tiba tubuhnya limbung dan kepalanya terasa berat.
"nona hati hati!!" refleks bibi Nan menjulurkan tangannya menggapai Zaara namun posisinya masih terlalu jauh dari Zaara.
"Akkh!!...kenapa rasanya sangat pusing" keluh Zaara yang hampir jatuh namun ia sempat menggapai meja yang ada disamping kasur itu.
"nona muda jangan bergerak dulu" ucap bibi Nan mendekati Zaara dan membantu Zaara untuk kembali duduk datas kasur.
"maafkan saya nona karena tidak membangunkan nona untuk shalat,namun kemarin malam sampai subuh menjelang tubuh nona demam tinggi, saya khawatir karena itu tidak membangunkan nona" jelas bibi Nan.
"demam!?" Zaara tidak sadar jika ia mengalami demam, namun sepertinya itu benar karena Zaara merasakan tubuhnya agak panas dan kepalanya juga berat.
"saya membawakan obat dan sarapan untuk nona tolong dimakan nona..saya benar benar merasa cemas dengan kondisi nona muda sekarang"
bibi Nan benar benar bersedih dengan keadaan Zaara sekarang, bagaimana tidak!? ia tahu dengan jelas bahwa kemarin siang lagi lagi Sagara berlaku kejam kepada Zaara.
"terimakasih bibi Nan atas semua yang telah bibi lakukan untuk saya" ucap Zaara tulus kepada bibi Nan.
selama beberapa hari ini bibi Nan yang selalu menemani Zaara ketika Sagara pergi dari Zaara.
"nona itu adalah tugas saya" ucap bibi Nan
"tidak bi, bagaimana pun saya harus berterimakasih kepada bibi"
bibi Nan pun tersenyum lalu dengan penuh perhatian bibi Nan memberikan sarapan dan obat untuk Zaara keadaan Zaara pulih dengan cepat.
bersambung...