Zaara

Zaara
bab. 100. Rena dan Andreas



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


..."Apa yang kau lihat!?"tanya Andreas berjalan kearah Rena yang sedang menatap langit malam lewat jendela kamar mereka....


Mereka semua telah makan bersama tadi, dan sekarang semua sudah kembali beristirahat dan tidur...yah, begitulah suasana dirumah itu sekarang, berjalan normal seperti yang semestinya,tapi juga cukup membosankan.


"Kau bosan!?"tambah Andreas.


"Tidak, aku hanya sedang berpikir mas!,.."


"Apa yang kau pikirkan sampai sampai tak mendengar kedatanganku tadi?, Apa sekarang kau lagi merindukan nona muda?" tanya Andreas sambil mencoba menebak-nebak pikiran Rena.


Rena membalikkan tubuhnya lalu tersenyum kearah Andreas, tatapan mata itu mencerminkan jika tebakan Andreas kurang tepat.


"Mas...pernah berpikir tidak! kenapa kita bisa menikah?, Sejujurnya saat ini pun aku tidak pernah menyangka jika yang ada disisiku saat ini adalah tuan Andreas yang dulu itu sangat menyebalkan!"ucap Rena sambil memeluk leher Andreas.


"Heumm!?.., Apa ya?, entahlah mungkin karena waktu aku menikahi, otakku sedang tidak beres!" sahut Andreas sambil bercanda.


"Ssshh...kau ini!"


"Hahahaha..jangan marah,.. Rena!"bujuk Andreas sambil mengusap puncak kepala Rena lalu menciumnya lembut.


Memang benar jika takdir itu hanya Tuhan yang tahu, jodoh, maut, serta rejeki didunia hanya Allah SWT. yang tahu rahasianya, skenario yang terbaik juga hanya milik-Nya.


Bagi Rena sekarang sudah waktunya berpikir lebih baik, mengikhlaskan yang telah tiada dan menguburnya sebagai kenang-kenangan terindah dalam lubuk hati, Zaara, Meena dua sahabat yang akan selalu ada didalam hati Rena.


Dua orang yang telah meninggalkan dunia ini lebih cepat dari dirinya sendiri, dan sekarang disinilah ia mendapatkan cinta dan kasih dari keluarga kecilnya.


Seperti 4 tahun yang lalu disaat hidup Rena sangat terpuruk oleh keadaan dan hati yang selalu merasa sedih akan kepergian Zaara, membuat Rena selalu menyalahkan takdir yang seharusnya tidak bisa Rena ubah.


Rena hampir tidak bisa berpikir jernih waktu itu dan dengan nekat mencoba menjatuhkan dirinya sendiri ditempat dulu Zaara pernah terjatuh.


Jurang yang sama, waktu yang sama dan suasana yang sama, Rena ingin merasakan semua yang Zaara rasakan saat itu, namun maut belum waktunya untuk Rena dan ia selamat karena kedatangan seorang yang tiba tiba meneriakinya dan jleb!


"Apa yang kau lakukan Rena!, kau ingin mati dengan cara bunuh diri seperti ini!"sergah Andreas laka itu, tiba tiba datang memeluk tubuh Rena yang hampir terjatuh


"Lepaskan aku!, Lepaskan!, aku tidak ingin hidup lagi, Zaara..Zaara...!!"teriak Rena menggelegar sambil memberontak.


Rena seorang wanita kuat dan tidak pernah berputus asa, namun setelah kepergian Zaara,Rena berubah menjadi seseorang yang lebih diam dan frustasi bahkan sampai ingin bunuh diri seperti sekarang ini.


Andreas yang kala itu kebetulan ada ditempat yang sama dengan Rena karena ada satu urusan yang harus Andreas selesaikan ditempat itu, tanpa sengaja melihat Rena yang ingin menjatuhkan dirinya sendiri tepat di tempat Zaara pernah terjatuh.


"Kenapa kau seperti ini!?, apa karena nona muda!, jangan gila, cobalah berpikir jernih, jika kau mati sekarang pun apakah bisa membuat nona kembali!, tidak bukan!"sergah Andreas dengan suara yang menusuk telah kedalam hati dan pikiran Rena.


"Hikss....hiks.....hikk!!" Rena menangis sejadi-jadinya yang masih dipeluk Andreas dari belakang.


Benar! seperti apapun penyesalan dan kesedihannya saat ini tidak akan pernah bisa menjadikan seseorang yang telah tiada kembali,kecuali berdamai dengan takdir yang telah Tuhan gariskan!.


"Rena"bisiknya pelan.


"Masih ada kehidupan yang harus kita jalani dengan baik, meskipun tanpa hadirnya nona muda bersama kita semua, masih ada orang yang mencintai kita didunia ini,... Zaara dan Meena mereka semua sudah tenang disisi-Nya dan kita yang masih memiliki waktu didunia ini harus kita jalani dengan benar!" lanjut Andreas mengatakan semua yang ia juga rasakan.


Meena gadis yang pernah ada di kehidupannya juga telah tiada, benar benar membuat Andreas sempat terpukul namun jika ia harus menyerah maka itu adalah pilihan yang salah,karena Andreas yakin jika Meena masih ada disini gadis itu tidak akan suka.


Mulai saat itu Rena kembali mengingat semua kenangan kebersamaan bersama Zaara, Meena dan juga orang orang disekitarnya, bagaimana kehidupannya, bagaimana hari hari yang berliku berhasil dilaluinya dengan baik.


Rena tersadar!,


Tubuh itu seketika melemah dan diam, masih diposisi,.. beberapa detik baru ia menyadari semua yang telah ia lakukan sekarang itu benar benar salah.


"Yang kau katakan memang benar, harusnya aku tidak mengecewakan Zaara dengan sikapku sekarang, harusnya aku lebih percaya jika apa yang terjadi saat ini memang telah dikehendaki oleh Allah SWT."


Mulai saat itu hati dan pikiran Rena kembali sadar dan mencoba untuk berdamai dengan takdir dan saat itulah semua ini terjadi!, kehidupannya semakin berubah ketika Andreas tiba tiba datang melamar dan menikahinya.


"Kau ingat waktu itu mas!?, Bagiamana kau datang dengan wajah yang kaku dan tegang, itu agak lucu"timpal Rena sambil tertawa geli.


Benar, waktu pertama kali Andreas tiba tiba datang didepan toko buku Rena dan membawa sebuah cincin, tetapi yang membuat Rena semakin bingung dengan kedatangan laki laki itu adalah wajah Andreas yang kaku dan dingin waktu itu.


Ini orang ngajak nikah atau ngajak berkelahi?!, sempat Rena berpikir kedatangan Andreas itu hanya gurauan saja, namun ternyata Andreas tulus dan alasan yang sebenar-benarnya juga karena Andreas yang terdesak oleh keluarganya yang meminta Andreas segera menikah dan membawa menantu kerumah orang tua Andreas yang ternyata sangat baik.


Keluarga yang selama ini memang terkenal misterius yaitu keluarga konglomerat Mahartama, berhasil membuat Andreas tak bisa berkutik oleh kemauan sang mamah.


"Kau masih saja mengingat itu,...sayang!"desis Andreas lirih tepat ditelinga Rena, membuat bulu kuduk berdiri.


"Hahahaha...maaf..maaf mas, Rena hanya bercanda!" ucap Rena meminta maaf sambil berusaha mundur agar Andreas tidak melakukan sesuatu terhadapnya.


"Tidak bisa dimaafkan, Awas kau ya..!"


Disisi Saat Ini!.


Di dalam kamarnya, Sagara tengah duduk disofa sambil sesekali meneguk minuman yang ada ditangannya saat ini.


Namun tiba tiba dari pintu kamar Sagara terdengar sebuah ketukan, Sagara pun berjalan kearah pintu dan mencoba melihat siapa yang malam malam begini masih mengetuk pintunya.


Cklek!?


Dan ketika Sagara membuka pintu,


"Reihan!?, kenapa kesini?"ucap Sagara agak terkejut dengan kedatangan Reihan yang saat ini tengah menguap lebar didepannya.


Sagara pun mengangkat Reihan yang masih berumur tiga tahun itu, dan masuk kedalam kamarnya sambil menggendong Reihan, Sagara berpikir, apa yang membuat Reihan mendatanginya?.


"Kenapa Ehan kesini?"tanya Sagara sambil menatap wajah Reihan yang terlihat mengantuk.


"Ehan..aus..api..mami..papi..Idak membuca pintu" sahut Reihan dengan suara sedikit kesal, dan hal itu membuat Sagara sedikit tersenyum, anak ini pikirnya.


Sagara pun menuangkan air yang ada diatas mejanya untuk Reihan,


"Reihan minum ini dulu ya, nanti besok saja minta susunya sama mami" ucap Sagara lalu dianggukan oleh Reihan dengan cepat, Reihan pun meminum air tersebut dengan senang!.


Glukkk...


"Gimana Ehan masih haus?"


"eum..nggak"sahut Ehan.


"Baiklah kalau begitu Ehan tidur laginya, papah akan mengantar Reihan kekamar sekarang"


"Idak mau, Ehan mau cama papah dicini!"tolak Reihan, Sagara hanya bisa tersenyum lalu ia pun berjalan kearah kasur dan menurunkan Reihan di atas kasur tersebut.


"Baik kalau Ehan mau tidur sama papah!"


Reihan pun sangat senang lalu dengan cepat ia memeluk Sagara,tetapi disaat itu tiba tiba mata Reihan tidak sengaja melihat satu foto yang terpampang di pojok ruangan.


"Uem?, itu siapa?,istirnya papah ya..?"ucap Reihan dengan polosnya.


Sagara yang mendengar perkataan Reihan seketika melepaskan pelukan Reihan lalu dengan pelan Sagara duduk disamping Reihan kecil yang menatap Sagara dengan raut yang bertanya tanya.


"Benar, itu istri papah, cantik bukan!?"sahut Sagara tersenyum lalu mengusap puncak kepala Reihan.


"Cantik, tapi Ehan..Idak pernah melihatnya?!"seru Reihan polos. Sagara lagi lagi tersenyum melihat tingkah laku Reihan yang menurutnya sangat aktif, dan banyak bertanya.


Sagara pun menghela napasnya!


"Karena istri papah itu sudah ada di tempat terindah"


"Tempat..terindah Itu apa!?"tanya Reihan lagi.


"Tempat yang paling indah yang didalamnya terdapat istana dan taman taman yang cantik"sahut Sagara membuat Reihan lagi lagi berkata polos.


"Kalau begitu Ehan mau ikut Tante!" seru Reihan.


"Mau ikut!?,nanti Ehan juga bisa kesana tapi tidak sekarang"imbuh Sagara, lalu Sagara pun langsung membaringkan tubuh Reihan.


"Sudah!, ini telah larut malam, Reihan tidurlah dengan cepat!" ucap Sagara lalu dengan sabar dan lembut Sagara menepuk-nepuk Reihan agar ia cepat tertidur.


dan benar beberapa lama Sagara dalam posisi seperti itu, pada akhirnya Reihan tertidur. Sagara pun menyelimuti tubuh kecil Reihan lalu Sagara kembali duduk disofa.


"Zaara..!,...Entah mengapa aku pun masih merasa jika kau itu masih ada dunia ini.."ucap Sagara lirih, sangat lirih dan pelan.


Mungkin jika dipikir pikir apakah mungkin Zaara yang telah tiada dihadapannya waktu itu, lalu Zaara yang dimakamkan waktu itu, Benar benar masih hidup!?, tetapi itulah yang kadang kadang terbesit dihati Sagara jika Zaara itu masih hidup didunia ini.


Bersambung...