Zaara

Zaara
bab 11. Amarah 2



Malam itu akan menjadi malam yang sangat berarti bagi Zaara dan Sagara.


perasaan mereka tumbuh perlahan, dengan sediki demi sedikit perasaan itu menjadi lebih pasti, tetapi ada satu hati yang masih takut berharap, takut terlalu jatuh, dan ragu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tolong.... Tolong....."


"AKHHHH.....


"le...pas....ka....n..say..a "


rintihan terdengar dari sebuah ruangan, rintihan yang terdengar sangat memilukan


wanita wanita itu tidak lain adalah Nadyra dan tiga temannya, mereka dikurung disebuah kamar hotel.


"DIAM!!" teriak pengawal itu.


tidak lama Sagara datang tetapi ia menutup wajah menggunakan topeng wajah, ia tidak ingin jika identitasnya diketahui.


"buka penutup matanya" perintah Sagara.


pengawal itu pun membuka penutup mata wanita wanita itu.


wanita wanita itu histeris berteriak,,,


"lepaskan aku" ucap Nadyra marah walaupun ia diikat tetapi mulut wanita itu tetap sangat kasar.


"siapa kau hah!!"


"apa yang kau lakukan!!" sambung nya


Sagara yang mendengar itu menjadi salut dengan Nadyra, walaupun wanita itu akan di siksa tetapi ia masih bisa berteriak.


"apapun itu tapi satu hal yang harus kau ketahui jika itu adalah hal yang tidak baik untuk kalian semua" ucap Sagara


"siapa kau, saya tidak mengenal anda dan saya tidak bersalah lepaskan saya!!" ucap Nadyra


"tidak bersalah!!"


HAHAHAHA....!!! Sagara tertawa ia benar benar merasa lucu, tetapi tawa itu terdengar menyeramkan untuk yang mendengarnya.


"TENTU KAU BERSALAH!!" teriak Sagara menggelegar.


"salahmu adalah bertemu denganku" ucap sagara membuat tubuh Nadyra bergetar ketakutan.


Nadyra menjadi sangat takut, benar benar takut begitu juga temannya, mereka semua tidak berani berbicara.


sekarang Sagara berjalan mendekati wanita wanita itu, lalu menatap mereka satu per satu.


tap...


tap..


tap..


"apa kalian tahu kesalahan kalian!?" ucap Sagara menatap satu persatu wajah wanita itu, mereka semua hanya menggeleng kepalanya.


"hehmmmm....!" Sagara menarik nafas dalam-dalam lalu dengan tatapan tajam Sagara berkata lagi.


"aku tidak suka membuang waktuku disini, aku akan menawarkan sesuatu yang sangat bagus untuk kalian semua" ucap Sagara dengan nada dingin.


"kalian pilihlah, pertama di potong satu per satu tubuh kalian lalu menjadi santapan buaya, atau yang kedua adalah menyerahkan tubuh kalian untuk pengawal pengawal ini" betapa terkejutnya Nadyra mendengar perkataan Sagara.


"lihatlah aku sudah membawa kalian semua ke hotel berbintang, pilihlah jika kalian tidak memilih maka aku bisa memilihkannya untuk kalian dalam hitungan dimulai dari sekarang..."


Nadyra yang mendengarpun sangat takut, apakah laki laki itu gila bagaimana bisa ia membuat pilihan seperti itu.


"satu...dua...ti.!!!". kalimat Sagara terpotong


Nadyra telah memilihnya,,,


"sa...yaa.. memilih yang.....ke...d.u.a" jawab Nadyra


benar benar tidak ada pilihan untuknya tetapi itu lebih baik dari pada tubuhnya dipotong lalu jadi makanan buaya yang kelaparan itu.


"emmm.. pilihan yang cukup bagus untuk wanita seperti kalian"


"baiklah seperti permintaanmu" sambung Sagara, tetapi sebelum Sagara pergi ia berkata sinis,,


"pilihan mu bagus tetapi aku lihat buaya ku sudah sangat lapar, mungkin ia akan lepas keluar" tentu Sagara nadyra dan teman temannya menjadi takut..


"AKHHHHH....!!"


"lepaskan saya...saya mohon, saya akan melakukan apapun untuk anda, lepaskan saya...." teriakkan wanita itu menggema diseluruh ruangan.


"Lepaskan..... Hiksss...hikss" lagi lagi Sagara tersenyum melihat adegan mengenaskan itu.


"untuk wanita seperti mu memang pantas mendapatkannya Nadyra dan ingatlah jika kau berani mendekati Zaara kau akan mendapatkan yang lebih kejam dari ini". ucap Sagara kepada Nadyra dengan senyum sinis diwajah Sagara.


"selamat menikmati!!" ucap Sagara berdiri lalu meninggalkan wanita wanita itu bersama para pengawal yang telah bernafsu.


"TOLONG!!!


"AHHH......!!!"


"AKHHH...!!"ruangan itu kini menjadi tempat saksi bisu kehancuran Nadyra...


"Lepaskan Saya..." kalimat tercekat itulah yang didengar Sagara sebelum suara mereka berubah menjadi suara kesakitan....


jika sekarang ia terlihat seperti orang gila bahkan bisa di katakan psikopat.


bagaimana ia bisa tega ketika ia melihat wanita wanita itu disiksa dengan siksaan paling kejam, menjadi pelampiasan hasrat para pengawal.


jika Zaara mengetahui mungkin saja Zaara sangat marah bahkan akan membencinya.


***


keesokan harinya,,,


Mira merasa cemas karena Nadyra tidak pulang semalam, Mira mencoba menelpon Nadyra tetapi ponsel Nadyra tidak aktif.


Entah mengapa perasaannya tidak enak, ia merasa jika pasti terjadi sesuatu kepada Nadyra.


Mira terus mondar mandir didepan ruang tamu.


"Apa yang terjadi mengapa Nadyra tidak menghubungiku sama sekali?" ucap Mira cemas.


"angkatlah telponnya sayang..."


Citt...!!!


sebuah mobil berhenti tepat didepan toko Rena bekerja, rupanya itu adalah Zaara, ia diantarkan oleh Andreas.


"Assalamualaikum, mbak Rena" ucap Zaara


"Wa'alaikumsalam Zaara" saut Rena


"Zaara kenapa kemari bukankah kau izin cuti?" tanya Rena lagi.


"hehehe, iya mbak tapi Zaara kemari ingin memberikan ini kepada mbak Rena" terlihat Zaara membawa hadiah untuk Rena, rupanya hari ini Rena sedang berulang tahun.


"selamat mbak, semoga mbak panjang umur, selalu sehat dan juga berbahagia" doa Zaara


"terimakasih Zaara" peluk mbak Rena ia sangat terharu, karena Zaara mengingat jika hari ini ulang tahun nya, ia mengira jika Zaara melupakan hal itu.


tetapi walau begitu ia juga tidak berharap agar Zaara memberikan hadiah.


sesaat kemudian Rena melirik kearah Andreas,,,


"tumben sekali tidak diantar calon suami" goda Rena


"ihh mbak nggak gitu, hanya saja tuan Sagara sedang sibuk dan ia meminta tuan Andreas mengantarku" saut Zaara


"sebenarnya Zaara juga nggak ingin diantar, tetapi tuan Sagara memaksa ku"


"iya, karena Sagara tidak ingin terjadi sesuatu kepada calon istrinya" ucap Rena


"mbak Rena udah deh jangan goda aku terus, mbak Rena udah kenalan belum sama tuan Andreas" ucap Zaara mengalihkan pembicaraan.


"ngapain juga" saut Rena tidak tertarik.


"iya siapa tahu mbak suka" sekarang malah Zaara yang menggoda Rena.


"udah Zaara lebih baik kita masuk, kamu udah bawa kue ini, lebih baik kita makan bersama" saut Rena tidak ingin meneruskan pembicaraan itu.


Zaara pun hanya tertawa, ia pun terus masuk,tetapi sebelum itu ia memanggil Andreas untuk bersama makan kue itu.


ia merasa kasihan saja kepada Andreas jika harus menjaga diluar.


"ahh Sagara benar benar kekanakan, kenapa harus meminta Andreas menjaga ku, memangnya aku akan pergi kemana" ucap Zaara dalam hati.


ia merasa jika itu tidak perlu dilakukan tetapi jika Sagara sudah memintanya siapa yang bisa menolak.


"tuan Andreas sini, kita makan sama sama" ucap Zaara.


"terimakasih nona Zaara, tetapi saya disini saja" saut Andreas.


"jangan ayo sini, tidak apa apa juga kok"


"jangan repot repot nona" jawab Andreas


ia hanya tidak ingin.


"sudahlah Zaara, ngapain juga ngebujuk dia orang dia nya aja nggak mau" ucap Rena acuh.


Zaara pun mengalah dan masuk meninggalkan Andreas diluar


"Tut... tu...t..... "telpon Andreas berdering, Andreas mengangkat telpon itu rupanya dari Sagara.


"halo tuan" ucap Andreas


"ada apa tuan muda?"


"Dimana Zaara?" tanya Sagara


"tuan, nona Zaara sekarang lagi bersama dengan teman nona" jawabnya.


"siapa dan dimana alamatnya?" tanya nya lagi.


"nona Rena tuan alamatnya tempat bekerjanya nona Zaara" jawab Andreas.


setelah mendapatkan jawaban Sagara langsung memutuskan telpon nya,mungkin Sagara ingin menemui Zaara.


benar saja tidak lama Sagara tiba disana, Andreas memberi bow,,,


"selamat datang tuan muda, nona sekarang ada didalam" sambut Andreas.


"ya" jawabnya singkat.


Sagara memasuki toko itu lalu ia mendapati jika sekarang Zaara sedang bersama Rena, ia terlihat sangat bahagia,


"Zaara" panggil Sagara


Zaara pun menoleh ke belakang, Sagara ada disana


Zaara pun berdiri dan mendekati Sagara.


"tuan muda, kenapa Anda disini?" tanya Zaara


"kenapa tidak memberitahu" sambungnya.


"kenapa? apakah itu tidak boleh, jika aku ingin menemui calon istriku" Sagara mulai menggodanya.


"ih tuan muda, jangan mulai" ucap Zaara tersenyum.


Zaara berjalan mendekati Rena kembali,,,


"tuan muda hari ini ulang tahun mbak Rena, aku kemari karena ingin memberikan selamat" ucap Zaara.


Sagara yang mendengar hanya tersenyum lalu ia berjalan mendekat


"tuan muda kenapa hanya diam, berikan sebuah ucapan" Zaara tahu jika Sagara bukan tipe orang yang mau mengucapkan hal yang tidak penting tetapi ia ingin menjahili tuan mudanya itu.


Sagara sedikit canggung tapi ia tahu jika Zaara mencoba menjahilinya.


"selamat ulang tahun Rena" ucap Sagara


Rena terbelalak, apakah kalimat itu keluar dari mulut Sagara? cukup aneh.


"teri..ma.kasih" jawab Rena terbata.


Zaara hampir tertawa, Sagara terlihat lucu dengan tampang seperti itu.


"awas saja sayang,, aku akan menghukum mu karena sudah berani bermain main"batin Sagara.


bersambung...