
......................
vroomm...!!
vroomm...!!
mobil Sagara meninggalkan pemakaman itu, menerjang hujan yang masih cukup lebat.
mereka pulang bersama sama dengan hati yang sudah lebih baik.
"Zaara dimana alamat rumahmu?" tanya Sagara didalam mobil
"jl. bunga nomor 21 " jawab Zaara singkat
hening...
selama perjalanan mereka hanya diam tanpa berbicara, rasa canggung membuat Zaara ataupun Sagara hanya diam.
Cittt.....!! suara rem mobil berdecit.
Sagara sudah sampai didepan sebuah rumah yang terlihat sederhana.
"ini rumahmu bukan?!"
"benar tuan muda, terimakasih karena sudah mengantarkan saya"rupanya mereka sudah sampai di depan rumah Zaara.
Sagara membukakan pintu mobil untuk Zaara,
"silahkan!"
"terimakasih" saut Zaara sedikit tersenyum, lalu Zaara pun langsung berjalan kearah teras rumahnya, sebelum memasuki rumahnya Sagara menghalangi Zaara.
"tunggu Zaara, ada yang ingin aku katakan"
"iya tuan muda?" kening Zaara berkerut.
"Zaara bagaimana aku mendekatimu sedangkan kau tidak pernah mau berdekatan dengan yang bukan mahram?" pertanyaan Sagara itu membuat Zaara sedikit geli, sangat polos, pikir Zaara.
Zaara yang mendengar menjadi tertawa entah mengapa saat ini dimata Zaara Sagara sangat lucu,
kau tahu ekspresi wajahnya sangat bingung.
"tuan muda bolehkah aku bertanya?" tanya Zaara kepada Sagara, dan Sagara mengangguk.
"Apa Agama tuan?" tanya Zaara serius.
"Agamaku Islam, sebenarnya kakekku beragama Islam dan aku mengikuti agama yang kakekku anut sejak kecil dan Daddyku tidak beragama waktu itu, dan setelah ia ingin menikahi mommy, baru Daddy masuk Islam" jawab Sagara panjang lebar, Setelah mendengar penjelasan Sagara ekspresi Zaara menjadi lega.
"baiklah, tetapi apakah anda sudah menjalani kewajiban sebagai seorang muslim" tanya Zaara lagi.
Sagara menggelengkan kepalanya,dari kecil Sagara tidak pernah diajarkan untuk itu karena mommynya sangat sibuk bahkan jarang dirumah, dan ketika beranjak dewasa pun ia harus tinggal diluar negeri yang bisa dikatakan jauh dari agama.
"kalau begitu itu adalah urusan tuan muda yang harus melakukan kewajiban". jawab Zaara singkat
Sagara benar benar bingung bagaimana caranya dan mulai dari mana tetapi karena tekadnya pada Zaara ia pun hanya mengangguk.
"baiklah, karena aku sudah bertekad untuk menjadi imam yang baik untukmu, aku akan berusaha" ucap Sagara menatap Zaara dengan penuh keyakinan.
Zaara tersenyum singkat, lalu ia berkata lagi.
"sudahlah tuan muda lebih baik anda pulang, bersihkan diri anda jangan sampai anda jatuh sakit"
"baik, sampai jumpa lagi" Sagara baru pertama kali mengucapkan kalimat tersebut merasa sedikit
canggung, setelah itu Sagara langsung pulang.
***
tap...
tap...
tap..
Sagara berjalan memasuki rumahnya dengan gaya khasnya, berkhasima dan terlihat sangat tampan dengan rambut yang basah karena hujan.
"Andreas panggilkan ustadz kemari" perintah Sagara kepada Andreas yang sedari tadi mengikuti Sagara dari belakang.
"tuan.!?... boleh ulangi perkataan anda tadi?" benar benar merasa bingung apakah itu adalah perintah Sagara sekarang apa lagi yang terjadi, ucapan itu sedikit terdengar aneh.
"Panggilkan Ustadz" ucap Sagara datar,ia akan benar benar belajar dari awal dengan ustadz.
sekarang kening Andreas sudah benar benar kriting ia sangat bingung tetapi ia tidak bertanya lagi dan langsung pergi untuk memanggil ustadz.
"baiklah tuan muda, saya akan memanggilkan ustadz untuk anda" Andreas pun pergi meninggalkan kediaman itu untuk mencarikan Sagara ustadz.
tidak lama Andreas datang membawa seorang laki-laki setengah baya, dari penampilan sudah bisa dipastikan yang dibawa oleh Andreas adalah seorang ustadz.
tap...
tap...
tap..
"tuan saya sudah membawa seorang ustadz untuk anda" bow Andreas.
Sagara menatap dari ujung kaki sampai ujung kepala ustadz itu, lalu dengan suara datar Sagara berkata.
mengatakan jika Sagara memintanya untuk mengajarinya tetapi kalimat tuan mudanya itu seperti orang yang mengancam jika tidak dijalankan perintah darinya.
"ajari aku semua tentang Islam, dan jika kau tidak mau maka kau akan merasakan akibatnya" ucap Sagara dengan nada dingin bahkan ekspresi itu sangat mengintimidasi membuat lawan bicaranya itu menjadi takut.
"maaf tuan sebelumnya" ucap ustadz itu tenang, walaupun tatapan mengintimidasi Sagara, namun itu tidak membuatnya terpengaruh.
"saya akan mengajarkan semaksimal mungkin tetapi itu akan berguna jika tuan sendirilah yang berusaha, saya hanya akan mengajari tuan" sambung ustadz itu berkata dengan tenang.
"saya tau itu cepat ajari aku semua yang anda tau" ucap Sagara tidak sabaran.
lalu mereka pun berjalan beriringan menuju ruang yang lebih nyaman untuk belajar mengajar.
tap...
tap..
tap..
mereka memasuki ruangan yang telah disiapkan untuk belajar Sagara, terlihat sebuah ruangan yang penuh dengan buku dan juga dihiasi dengan berbagai jenis hiasan rumah mewah itu.
Sagara dan ustadz itu duduk berhadapan,,,
"baik tuan pertama -tama saya ingin bertanya apakah tuan pernah melaksanakan sholat " tanya ustadz itu.
"tidak" jawab Sagara singkat, ustadz itu hanya tersenyum dan kemudian ia mulai pelajaran pertama kepada Sagara.
ustadz itu pengajari Sagara gerakan sholat dan cara mengambil wudhu yang benar, Sagara yang memang cepat memahami sama sekali tidak kesulitan mengikuti gerakan itu, tetapi ia sedikit kesulitan untuk sujud.
lalu ia juga mengambil air wudhu lalu dengan gampang juga ia mengikuti ustadz.
setelah itu semua benar ustadz melanjutkan untuk mengajarkan Sagara membaca iqro,disini Sagara mengalami kesulitan ia benar benar bingung dengan huruf huruf itu.
"akhhh.. sangat sulit " runtuk Sagara kesal ia benar benar sangat kesulitan mengingat huruf huruf Hijaiyah.
benar benar membuatnya pusing lalu tiba tiba Sagara berdiri,,,
"hari ini sudah cukup banyak yang saja pelajari kita lanjutkan nanti saja" ucap sagara ia sudah sangat lelah untuk mengingat huruf itu.
"sampai sini dulu saya sudah benar benar pusing, nanti aku akan memanggil mu lagi dan tenang saja saya akan membayar mahal" sambung nya, Sagara tidak menunggu jawaban dari ustadz itu ia sudah pergi meninggalkan ruangan itu.
lagi lagi ustadz itu hanya tersenyum, ustadz itu memang sudah sering mengalami hal itu jika mengajari orang yang telah berumur tentu saja lebih sulit.
Andreas pun mengatakan ustadz itu pulang,,,
***
disisi lain terlihat Zaara...
setelah Sagara pulang Zaara langsung masuk kerumahnya dan langsung membersihkan dirinya.
tap...
tap...
kriettt...!! pintu kamar mandi terbuka,
Zaara berjalan keluar dari kamar mandi, berjalan perlahan lahan sambil memikirkan semua perkataan Sagara yang masih teringat jelas didalam pikirannya.
"hhmmm...!!" Zaara menghembuskan napasnya.
hari ini banyak yang sudah terjadi kepada Zaara, Sagara yang datang kepadanya menyatakan jika ia menginginkan Zaara tetapi ia ragu, lelaki itu adalah orang yang kurang lebih satu bulan lalu yang ditemui nya.
kehidupan keduanya sangat berbeda Sagara yang dipenuhi kemewahan dikelilingi banyak wanita cantik sedangkan dirinya hanya lah wanita sederhana yang berusaha untuk kehidupan yang lebih baik.
tetapi hari ini laki laki itu berteriak mengatakan jika ia menginginkan Zaara ada di sisinya.
sekarang zaara duduk termenung ia berpikir apakah semua ini nyata sekarang, apa yang harus dilakukannya apakah ia juga harus membuka hati tetapi ia takut.
"hahm..." Zaara menghela napas panjang, ia pun langsung berdiri dan menuju kamar mandi ingin segera mandi dan sholat Maghrib.
"Assalamualaikum Warahmatullahi.."
"Assalamualaikum Warahmatullahi.."
setelah itu ia berdoa, Zaara berdoa agar semua yang menjadi keputusan nya adalah keputusan yang terbaik.
"Ya Allah yang maha mengetahui, bimbing hamba untuk melalui jalan yang hamba pilih, kuatkan hamba untuk selalu menjalani ujian-Mu....." doa Zaara mengangkat kedua tangannya, dengan semua kerendahan hatinya Zaara meminta kepada tuhan seluruh alam.
"aamiin..."
...ΩΩΩ...
"AKHHH...!!!"
didalam sebuah ruangan, terlihat sesosok wanita yang diikat, ia menjerit, berteriak meminta tolong.
"menjauh... menjaulah!!" wanita itu terpojok.
"kau.... kau menjauh lah jangan mendekat " ucap wanita didalam ruangan gelap.
"jangan sakiti saya.." suara itu terdengar memilukan
"saya mohon jangan sakiti saya" mohonya lagi dengan isakan tangis.
entah apa yang terjadi tetapi terlihat sesosok tubuh didekat wanita itu dengan sebuah pistol, orang itu mengancam wanita itu untuk menuruti perintahnya
"saya tidak akan melakukan itu, saya tidak ingin menyakiti siapapun..hik..hik..!
"tolong lepaskan saya.." suaranya terdengar bergetar ketakutan.
"AKHHH....!!
wanita itu ditampar keras oleh sosok itu,
lagi lagi orang itu melakukan sesuatu terhadap wanita tersebut, tetapi karena wanita itu selalu menolak ia pun menjadi geram dan menyuntikan sesuatu ketubuh wanita itu, dan membawa wanita malang itu pergi.
rupanya wanita itu dibawa kedalam ruangan uji coba, entah apa yang terjadi selanjutnya.
tak berapa lama wanita itu kembali sadar tetapi wanita itu tidak lagi histeris ia malah tunduk mendengarkan perintah dari orang itu.
seperti orang yang berbeda ia menuruti semua yang diperintah,kemudian seseorang lain masuk, terlihat seorang laki laki setengah baya berwajah tertutup sebelah, wajah laki laki itu rusak.
kemudian lampu diruangan itu menyala,,,
klek...!!!
sekarang terlihat jelas jika yang membawa wanita itu masuk adalah seorang laki laki, laki laki berwajah tampan, berbadan tegap.
"Daniel apakah pekerjaanmu telah beres?" tanya laki laki setengah baya itu dan ternyata nama laki laki itu adalah Daniel.
"ya tuan, saya sudah menangani wanita ini, dan sekarang alatnya telah bekerja" jawab Daniel.
"bagus" ucapnya menyeringai.
"sekarang bawa wanita itu ketempat latihan" sambungnya.
"baik, sesuai perintah anda" jawab nya hormat lalu ia membawa pergi wanita itu.
"Daniel setelah selesai segera ke ruangan saya"
setelahnya Daniel segera keruangan laki laki tersebut
terlihat sebuah ruangan penuh dengan lukisan gadis cantik,,,
laki laki itu berdiri dihadapan lukisan tersebut, memandang lukisan itu dengan sedih, dan tersirat amarah dimatanya.
"tuan apa perintah Anda" tanya Daniel
"aku selalu berusaha menghancurkannya, dengan bermacam cara aku menyerangnya" ucap laki laki itu bukannya menjawab pertanyaan itu, ia malah mengatakan perkataan seperti itu.
"tapi sialnya aku selalu gagal....heh!" sambungnya
"lima tahun aku menunggu saat ini, lima tahun aku memendam rasa amarah ini, aku ingin membalas kematian putriku!!" amarah tersirat dalam dari sepasang mata itu.
"mata dengan mata, darah dengan darah, nyawa dengan nyawa"ucanya benar benar marah, tersirat dendam yang dalam.
laki laki itu sangat misterius ia memakai topeng diwajahnya, bahkan Daniel tidak menyebutkan namanya.
"tapi sekarang aku telah menyiapkan hal yang besar aku ingin membuat keluarga itu merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang berharga" Ucapannya terdengar sangat marah.
"sekarang kau perhatikan setiap gerakannya, orang orang didekatnya dan apa yang dilakukan olehnya, semua itu harus kau perhatikan" perintahnya
"baik"
"lakukan semua itu dengan hati hati, karena dia bukan orang yang mudah ditaklukkan"
"baik"
"tunggu saja Sagara Caesar Ardiaz aku akan membalasnya berkali kali lipat!!"
***
Dua Minggu kemudian...
Sagara benar benar berusaha,
sudah dua Minggu ia belajar agama.
sekarang ia paham bagaimana caranya mendekati Zaara dan tidak melewati batasan,karena Sagara tahu jika ia melewati batasan maka Zaara akan kecewa.
sudah dua Minggu Sagara tidak menemui Zaara, ia hanya menghubungi Zaara lewat telpon.
Sagara yang tahu jika Zaara yang tidak memiliki ponsel, ia segera membelikan Zaara ponsel dan itu akan memudahkan nya untuk bertanya kabar dengan Zaara, ia merindukan gadisnya.
dan sekarang Sagara sedang berteleponan dengan Zaara.
"assalamualaikum" ucap Zaara diseberang sana
"wa'alaikumsalam" jawab Sagara masih terdengar canggung,
yah Sagara bukan hanya belajar gerak sholat dan lainnya tetapi ia juga mulai menggunakan salam kepada Zaara.
"tuan muda ada apa?" tanya Zaara
"apakah engkau sedang sibuk zaara" jawab Sagara
"emm.. sedikit, sekarang saya masih di kampus " ucap Zaara.
Sagara menjadi sedikit kecewa.
"jam berapa kau akan pulang? tanya Sagara lagi
"kira kira jam 3 tuan muda, ada apa tuan muda, apakah ada urusan penting?" tanya Zaara, mendengar jawaban Zaara, Sagara diam sejenak.
"halo tuan!!...apakah anda masih mendengar saya! halo.." ucap Zaara.
"iya Zaara, begini saja jam tiga nanti aku akan menjemputmu " ucap Sagara kemudian membuka suaranya.
"hah!..." Zaara terkejut,,
"Jangan...!! tuan muda jangan lakukan itu jika anda ke kampus maka semua orang akan tahu" ucap Zaara,Zaara hanya tidak ingin ada yang tahu hubungannya dengan Sagara.
"Zaara kenapa? kenapa kau ingin menutupi jika kita dekat?" tanya Sagara kesal, ia benar benar tidak setuju dengan keputusan Zaara.
"bukan seperti itu, hanya saja menurut saya belum waktunya" jawab Zaara enteng.
Sagara hanya mengalah lalu ia menutup telpon itu dengan kesal,,,
Tutt...tutt.....!! ponsel itu ditutup dengan bantingan keras.
Zaara yang tahu jika Sagara kesal ia hanya tersenyum, satu sifat Sagara yang dia tahu jika laki laki itu kesal maka ia akan langsung menutup telponya.
"kekanak-kanakan" lalu zaara kembali melakukan aktivitas nya.
waktu telah menunjukan pukul 15:00, Zaara pun pulang tetapi disaat ia ingin keluar, Nadyra muncul dihadapannya
"lama tidak bertemu Zaara" ucap Nadyra, Zaara terkejut tetapi ia langsung merubah ekspresi nya.
"bagaimana kabarmu Zaara? apakah baik baik saja?!" tanya Nadyra berlagak mendekati Zaara.
"baik.." jawab Zaara singkat, lalu ia mencoba menjauhi beberapa langkah dari Nadyra.
"bagaimana juga kabarmu Nadyra" sambung Zaara lembut bertanya kepada Nadyra bagaimana kabarnya.
"aku juga baik Zaara" jawab Nadyra dengan gaya khasnya.
tap...
tap...
Nadyra mendekati Zaara lalu dengan berkata,,,
"kau tahu jika aku merindukanmu" peluk Nadyra tiba tiba membuat Zaara sedikit merasa aneh, namun tetap saja Zaara membalas pelukan itu.
"bareng yuk Zaara kedepan" ajak Nadyra ia langsung menarik Zaara bersamanya.
"eum..lepaskan Nadyra!!" ucap Zaara mencoba melepaskan tangan Nadyra, namun itu sia sia.
tap..
tap..
tap..
tidak jauh dari mereka berjalan terlihat teman teman Nadyra yang lain menunggunya.
"hai teman teman!!, lihatlah siapa yang bersama denganku" ucap Nadyra sambil melambaikan satu tangannya lagi.
"hahahaha....wah itu Zaara ya!!" agak mereka.
teman teman Nadyra menjadi tertawa lalu mereka menyapa Zaara,,,
"hai Zaara apa kabar baik kan?"tanya mereka semua kepada Zaara.
"tentu saja baik, kan dia sekarang menjadi itu Lo" celetuk salah satu teman Nadyra dengan nada mengejek.
Zaara tidak paham apa yang dimaksud mereka, pikir Zaara.
"ouh iya benar, kenapa aku sampai lupa jika dia menjadi simpanan laki laki tua" ucap teman Nadyra nyaring lalu mereka tertawa bersama sama.
"hahahaha....!!!..benar benar!!!"
"iya... kenapa aku bisa lupa itu... hahaha!!!"
sangat puas mereka menertawakan Zaara,Zaara sekarang mengerti mengapa Nadyra tiba tiba baik padanya.
"apa yang kalian maksud?" tanya Zaara menatap wanita itu.
"jangan berpura pura lagi deh, kami semua tahu kok jika kamu itu menjadi wanita simpanankan?!" ucap wanita itu enteng.
Zaara benar benar syok bagaimana bisa orang mengatakan hal yang tidak benar seperti itu.
tetapi akibat dari perkataan teman Nadyra yang nyaring membuat orang yang berjalan disekitar mereka ikut berhenti, Bahkan mereka ikut terkejut.
"astaghfirullah"
"jangan asal bicara nanti jadi fitnah" ucap zaara mencoba tenang ia tidak ingin terbawa emosi.
"halah...nggak usah sok suci, dan lagi itu bukan fitnah kok itu kenyataan, kami semua melihatmu memasuki mobil laki laki tua waktu itu dan sangat mesra" ucap teman Nadyra.
Zaara benar benar tidak habis pikir, apakah mereka semua melakukan itu hanya untuk mempermalukan Zaara.
Zaara menjadi ingat siapa yang dimaksud mereka laki laki itu.
"saya memang bersama laki laki itu, tetapi dia bukan laki laki simpanan dan juga laki laki itu adalah..."
perkataan Zaara terpotong ia tidak bisa sembarangan memberitahu jika laki laki itu adalah ayahnya Sagara.
suatu hari Zaara pernah terdesak ia tidak menemukan taksi ataupun ojek lalu ia tidak sengaja bertemu Tristan, dengan terpaksa Zaara mau menerima tawaran Tristan untuk mengantarnya.
tetapi bagaimana mereka semua tahu, waktu itu Zaara tidak sedang di kampus?, pikir Zaara.
"siapa? benarkan laki laki simpanan" ledek teman Nadyra.
"hahahaha..." lagi lagi mereka tertawa puas.
"cukup!!" sekarang Nadyra angkat bicara lalu dengan nada yang lembut ia berkata.
"jangan berbicara sembarangan siapa yang tau jika itu adalah orang yang tidak sengaja bertemu" ucap Nadyra berlagak baik.
"lalu..." ucapan Nadyra terputus,dengan tersenyum sinis ia berkata.
"karena Zaara sangat baik laki laki itu jadi tergoda " sambungnya tidak masuk akal bagi Zaara.
Zaara benar benar merasa terhina sekarang, bahkan orang orang mulai berbisik bisik kepadanya.
lalu tiba tiba teman Nadyra melemparkan telur kearah Zaara tepat mengenai wajahnya,
"AWW..!!!"
"Apa Yang Kau Lakukan!!" Zaara benar benar terkejut
tetapi orang disekitarnya malah tertawa.
"hahahaha...lihat dia!!"
Woosh...!
Woosh...!
satu, dua, tiga telur dilemparkan kearah Zaara.
yang lain ikut mengikuti zaara dilempar dengan sampah bahkan menumpahkan air padanya.
Byur....!!! kerudung yang dikenakan Zaara menjadi basah.
Zaara benar benar sedih, ia tidak menyangka jika Nadyra tega melakukan hal Setega ini.
Tiba Tiba..,,,
ada seorang laki laki berdiri dihadapan Zaara, ia melindungi Zaara.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!! APAKAH KALIAN SEMUA TIDAK MEMILIKI HATI" ucap laki laki itu marah.
"Niko!!!"dan ternyata dia adalah Niko.
betapa terkejutnya Nadyra, ia tidak menyangka jika Niko melindungi Zaara.
dengan marah Nadyra berkata,,,
"NIKO APA YANG KAU LAKUKAN, KENAPA KAU MEMBELA WANITA MURAHAN INI!!!" teriak Nadyra
"Nadyra kita tidak memiliki hubungan lagi dan sepertinya aku sangat bersyukur sudah terlepas dari wanita seperti mu" kalimat Niko membuat Nadyra syok.
"mari pergi dari sini!" Niko membawa Zaara menjauh dari sana, Zaara mengikuti langkah laki laki itu.
tap...
tap...
Nadyra menatap kepergian keduanya dengan amarah yang membara, terlihat dari kedua matanya yang memerah.
bersambung....