Zaara

Zaara
bab. 96. Kilas Balik! ( penyesalan tak berujung )



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BRAK!!


"Brengsek lepaskan Zaara!!" teriak Sagara yang ikut turun dan langsung mendekati Damian.


Namun Damian mengancam dan menodongkan pistol kekepala Zaara.


"Majulah jika kau tidak ingin istrimu mati ditanganku!" ancam Damian dengan wajah menyeringai.


"Kau akan menyesali perbuatanmu jika kau sampai membuat tubuh itu terluka..."


"Karena aku akan membalasmu dengan lebih sakit dari apa yang dirasakan Zaara saat ini..!"


"Ouh Ho...aku sangat takut!!, tapi aku tidak peduli sama sekali, yang penting sekarang adalah membalaskan kematian putirku!" jawab Damian seperti orang yang tidak waras karena dipenuhi dengan dendam dan dendam kepada Sagara, Damian pun mengarahkan pistolnya kearah Sagara!


"J...ja..jangan sakiti suamiku!"desah Zaara menahan sakit pada tubuhnya.


Zaara bersyukur saat ini pada akhirnya ia bisa bertemu dengan Sagara walaupun mungkin untuk terakhir kalinya.


Karena Zaara sama sekali tidak tahu apakah setelah ini ia bisa kembali bersama dengan Sagara atau tidak.


Set!!


Set!!


Damian memundur tubuhnya perlahan lahan kesamping pembatas antara jalan dan jurang dibawahnya.


"Aku katakan berhenti disana!" desis tajam Sagara namun percuma Damian tidak mengindahkan peringatan Sagara dan tiba tiba..!


DOR!!


Tiba tiba Andreas tiba bersama dengan pasukan yang tadi bersama dengan Sagara yang sempat kehilangan jejak dan dengan cepat Andreas mengamankan posisi Sagara dan Zaara serta menangkap dua pengawal yang dibawa oleh Damian.


"Akhh!!!"


"Zaara!!..."


Sesaat sebelum Damian berhasil mendorong Zaara Zaara, tiba tiba satu Peluru menembus lengannya.


"Ckk...sial!!" Damian mengerang kesakitan.


"Zaara!!" sedangkan Sagara segera menangkap tubuh Zaara yang hendak limbung kesamping pembatas jalan dan hampir saja ia terjatuh kedalam jurang.


"Ugh...!!" Zaara mendesah kesakitan.


"Zaara kau baik baik saja?!" tanya Sagara cemas terlebih lagi disaat itu juga tubuh Zaara luruh ketanah.


Zaara tidak bisa bertahan lebih lama, efek dari minuman yang diberikan kepadanya masih sangat terasa ditambah dengan ia berlari tadi.


"Zaara,..sayang kau baik baik saja!?" tanya Sagara benar benar cemas, kini jantung Sagara berdegup keras ia takut terjadi sesuatu kepada Zaara yang membuat dirinya kehilangan Sagara selamanya.


Zaara menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, Zaara berusaha untuk menegakkan tubuhnya dan berdiri.


"Syukurlah kau baik baik saja Zaara..!" lanjut Sagara sambil memeluk tubuh Zaara yang telah berdiri.


Sekarang semua rasa cemas dan khawatir Sagara berubah menjadi lebih lega, disaat ia memeluk tubuh Zaara yang terasa gemetaran itu.


Sagara benar benar merasa bersalah kepada Zaara saat ini karena kelalaiannya membuat Zaara dalam bahaya.


"Terimakasih karena telah menolongku" sahut Zaara sambil tersenyum membalas pelukan Sagara.


"Tidak akulah yang harus berterimakasih dan meminta maaf padaku..!" ucap lirih Sagara, bagaimana tidak ialah yang meninggalkan Zaara tanpa memberitahukan terlebih dahulu dan juga beberapa hari ini ia sangat jarang pulang kerumah.


Zaara tersenyum lalu ia melepaskan pelukan, menatap wajah Sagara dengan lembut, lalu mengusap wajah Sagara dengan lembut.


"Setelah ini jangan pernah pergi lagi dariku, jika pulang terlambat maka beritahukan padaku dan jangan marah lagi padaku.." ucap Zaara dengan senyum tulus dari wajahnya, Sagara membalas ucapan Zaara hanya dengan anggukan kepala dan senyuman.


Semua menjadi lebih baik sekarang!,


"Tuan muda..ada yang ingin aku sampaikan padamu...jika aku sebenarnya...!"


kalimat Zaara terpotong karena tiba tiba tanpa diduga Damian yang berada tak jauh dari Sagara mencoba untuk berdiri.


"Kau tak akan bahagia.."desis Damian datar, Andreas yang hendak bergerak, jadi mengurungkan niatnya karena Sagara memberikan isyarat untuk berhenti.


"Heh!!,... harusnya sekarang kau perhatikan saja nasibmu karena sebentar lagi kau akan mati ditanganku..." geram Sagara menyeringai lalu mendekati tubuh Damian dan menghajarnya habis-habisan.


Buk!!..Buk!!


"Seharusnya kau tidak mengusik kehidupanku!" ucap Sagara sambil meninju wajah, tubuh Damian.


Damian kewalahan menghadapi serangan Sagara membuatnya tidak bisa mengelak ataupun menyerang balik.


Buk!!


"Seharusnya kau jangan mencoba untuk menyentuh istriku, karena kau tahu aku bisa melakukan yang lebih sakit dari ini...! bertubi-tubi serangan dilakukan oleh Sagara dan yang terakhir Sagara menendang perut Damian hingga tubuh Damian terjatuh dan mengerang kesakitan.


"ugh...uhkk...uhkk...!!"


"Sial!!" runtuk Damian, tubuhnya terasa sangat sakit.


("Brengsek!!, dimana Daniel?!")runtuk Damian dalam hati, apakah jangan jangan Daniel telah mengkhianatinya.


Satu pengawal pun tidak muncul sekarang!, pasukan dan Daniel tidak tiba disana, padahal sebelumnya Damian telah memerintahkan Daniel untuk datang ke sisi tebing, namun sekaran!


"Sial kau...Daniel!!"desis tajam Damian hampir tidak bisa terdengar oleh telinga Sagara, Ia tidak boleh kalah Sekarang, jikapun harus kalah maka Sagara pun tidak boleh menang darinya.


DOR!!


Wosshh!!!...suara peluru melesat cepat dan dalam seperkian detik langsung menembus tubuh Zaara.


DEG..!!


Satu menit..!


Dua menit...!


Tiga menit...!


Sagara membeku ditempatnya, menyaksikan tubuh Zaara limbung kebelakang dan terjatuh kepembatas jalan..Set!!!..tubuh Zaara terjatuh dan tepat di bawahnya ada jurang yang menganga...!


dan baru sadar ketika satu tembakan lagi terdengar dari peluru yang melesat dan..


Dor!!..kepala Damian ditembak mati oleh Andreas.


"ZAARA!!!"


Sagara segera berlari dan melihat Zaara yang tersenyum kearahnya!...terlambat sudah tubuh itu terjatuh dengan cepat sebelum sempat tangan Sagara menangkap tubuh Zaara.


Semua terjadi begitu cepat,..Sagara, Andreas dan semua yang menyaksikan ikut tegang dan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


Deg!!..Deg..!!...Deg!!


Jantung Sagara seakan-akan berhenti berdetak disaat itu juga, di depannya tepat dan sangat jelas bagaimana tubuh Zaara tertembak dan terjatuh dan pada akhirnya Zaara jatuh kedalam jurang.


Masih terpaku ditempatnya,.. seketika tubuh Sagara luruh ketanah,habis sudah pertahanan dirinya.


Sedangkan Andreas langsung menghubungi bantuan untuk mencari Zaara di bawah jurang itu sekarang juga, ia tahu saat ini Sagara tidak bisa berpikir jernih dan kejadian yang baru saja terjadi cukup menjadi bukti bahwa Sagara sangat terpukul.


"Zaa..ra...sayang...!" desah Sagara patah, Zaara wanita yang paling dicintainya itu terjatuh dan disaat ini ia benar benar lemah.


Tikk..!!..tik...tikk..


Tak peduli kelihatan seperti apa dirinya saat ini, sekarang Sagara membiarkan air matanya turun, sesak di dadanya, suara yang melemah sambil melihat kearah jurang yang memakan tubuh kecil istirnya.


tap..tap!!


"Sagara kuatkan dirimu!" Andreas berada disamping Sagara dan menenangkan Sagara untuk percaya jika Zaara baik baik saja.


Meskipun kemungkinan itu sangat kecil, melihat tubuh Zaara yang terluka dan kedalaman jurang yang tidak tahu berapa perkiraannya membuat harapan itu tinggal harapan.


"Andreas, ..Istriku...,aku tidak bisa menangkapnya diwaktu yang tepat" ucap Sagara lemah, ia benar benar tidak mampu menahan beban berat yang sekarang ada dihatinya.


Dan kini semua kembali berputar jelas diingatan Sagara, bagaimana Zaara jatuh dan tersenyum kearahnya.


"ZAA...RAAAA!!!" teriak Sagara menggelegar, suasana semakin dingin dan sedih ketika matahari sore yang mulai terbenam dan menampilkan cakrawala diujung langit.


Harusnya momen itu adalah momen yang romantis untuk semua orang namun tidak dengan Sagara, cakrawala diujung langit itu terasa sangat menyakitkan tenggelam pada akhirnya dan hanya malam gelap yang tertinggal.


"Saat ini bukan waktunya untuk berputus asa Sagara,kita masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkan Zaara..!


"Sagara aku telah meminta bantuan dari Tim SAR dan berharap bisa menemukan Zaara, jadi jangan menyerah...!


Namun Sagara tidak bergeming sedikitpun, hidupnya seakan mati bersama jatuhnya Zaara.


"Jangan menyerah Sagara...untuk Zaara!!" Karena Andreas sudah tidak tahan melihat Sagara yang berputus asa, Andreas pun meninggikan suara dan mengguncang-guncangkan tubuh Sagara agar sadar.


"Untuk Zaara..!!"


DEG!!,


Ya.. harusnya ia tidak menyerah dan harus tetap berusaha walaupun kemungkinan paling pahitlah yang harus ia dapat.


Sagara pun menatap penuh harapan sekali lagi, lalu dengan suara yang terdengar dingin...


"Temukan Zaara apapun kenyataan yang akan aku terima!" inilah Sagara yang benar, tidak mudah berputus asa dan yang paling penting adalah yang tidak mudah mengalah.


("Ya.. Allah tolong selamatkanlah istriku")


...**********...


'Jangan menyerah!'


Hanya kalimat itu yang membuatnya kembali bangkit untuk menemukan Zaara Apapun yang harus diterimanya nanti.


Sekarang Sagara ada didalam rumahnya, rumah yang tadinya penuh darah kini telah dibersihkan dan seperti Zaara yang hilang rumah itu pun sunyi dan senyap.


Semua telah berubah, pengawal dan pelayan yang tak terhitung banyaknya sekarang hanya tinggal beberapa.


Sekarang bahkan Sagara tidak memiliki keberanian untuk masuk kedalam kamarnya bersama Zaara, Sagara hanya bisa menatap pintu itu dengan kesedihan yang mendalam.


Apa sekarang ia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya pada Zaara!?, apa ia masih bisa memandang wajah cantik dan lembut Zaara!?, apa ia masih bisa memeluk dan mencintainya?!


Beribu-ribu rasa pedih dan penyesalan dihati Sagara saat ini, beribu-ribu kata maaf ingin Sagara ungkapkan kepada Zaara.


Sagara telah salah dengan membiarkan Zaara berada jauh darinya beberapa lama dan membiarkan Zaara sendirian, sekarang terbayang semua rasa yang mungkin Zaara rasakan saat itu.


Sepi!..sedih, kecewa dan sakit hati!, mungkin inilah balasan untuk Sagara karena telah mengabaikan Zaara karena egonya yang tak bisa melupakan kejadian Zaara dan Niko waktu itu.


Dan sekarang yang terberat dirasakan oleh Sagara, ketika ia tak mampu menjaga wanita yang paling dicintainya,


Bersambung...