
......................
Cahaya matahari memasuki kamar Sagara dan tanpa sadar telah membangunkan Sagara yang tertidur selepas subuh.
Sagara mencoba membuka matanya dan remang remang ia melihat ke arah jendela kaca dan benar tirainya terbuka dan tentu pikiran Sagara sudah bisa menebak siapa yang membukanya.
Sagara bangun dan menyandarkan tubuhnya di tempat tidur itu,,,
Sagara yang masih setengah terbangun ia tiba tiba tersenyum, lalu Sagara mulai mengingat-ingat kejadian kemarin malam,,,
dari Zaara yang berbisik kepadanya,,
"hubby aku menginginkan mu" ucap Zaara berbisik kepada Sagara.
lagi lagi Sagara tersenyum mengingat perkataan itu,,,
ia mulai mengingat lagi ketika ia mulai bermesraan dengan Zaara, sentuhan sentuhan lembut, erangan lembut Zaara masih teringat jelas di telinganya dan juga isakan kesakitan Zaara yang membuatnya terharu juga bahagia karena akhirnya ia bisa memiliki Zaara seutuhnya.
"aku berjanji padamu sayang tidak akan pernah menyakiti hati mu dan juga akan selalu mencintaimu, karena kau lah hidupku" batin Sagara.
Sagara pun bangkit dari duduknya dan berjalan kearah kamar mandi dan membersihkan dirinya, ia akan berangkat kekantor.
dari luar kamar terdengar ketukan pintu,,,
"Tok...tok..tok" pintu itu terbuka dan ternyata adalah Zaara yang membawakan sepotong roti dan susu coklat kesukaan Sagara.
Zaara berjalan dengan sangat hati hati dan malah terlihat sedang menahan rasa sakit, dan tentu saja itu adalah karena ulahnya Sagara kemarin malam.
Zaara pun seperti biasa meletakkan sarapan itu di atas meja, setelah itu ia berjalan menuju pintu ruangan pakaian,,,
Sagara yang sudah selesai pun membuka pintu dan ia melihat Zaara yang tengah kesulitan berjalan.
Sagara hanya tersenyum lalu ia berjalan menuju Zaara dan tiba tiba,,,
tiba tiba tubuh Zaara terangkat, Zaara sedikit terkejut,,,
"hubby!!.. astaghfirullah hampir jantung Zaara copot" ucapnya.
"Zaara kau kesulitan berjalan, namun kau masih memaksakan hal itu, sekarang kau istirahat saja, biarkan aku bersiap siap sendiri" ucap Sagara tidak menjawab perkataan Zaara tadi, namun ia malah berkata demikian.
Sagara yang tengah mengangkat tubuh Zaara menuju kasur dan merebahkan Zaara disana,,,
lalu Sagara pun bersiap siap dengan cepat, namun setelah Sagara ingin memakai dasi, terlihat ia sedikit kesulitan.
"hubby kemari, Zaara bantu memasangkan dasi itu" ucap Zaara, Sagara pun mendekat tanpa berpikir pikir lagi,,,
Zaara memasangkan dasi itu, namun tanpa disadari oleh Zaara ketika ia menarik dasi itu untuk lebih memudahkannya mengikat dasi malah membuat wajah mereka berdua sangat dekat,,,
DEG...DEG...DEG!!....suara jantung Zaara terdengar cepat,,,
dengan Zaara seperti itu Zaara bisa melihat wajah Sagara dengan jelas, bersih tanpa namanya komedo maupun jerawat.
pipi Zaara terlihat memerah, Sagara juga menatap Zaara dan ikut gugup,,,
satu menit....dua menit berlalu Meraka sama sama kembali tersadar dan menjauhkan wajah masing masing,,,
"ma....aff" ucap Zaara terbata bata.
Sagara menjadi salah tingkah dan ia pun hanya mengangguk sambil memegang lehernya.
karena suasana menjadi canggung, Sagara mengalihkan pembicaraannya.
"ini...ma.makanan untukku Bu..kan" ucap Sagara sebisa mungkin santai.
"emm...iiya" Zaara menganggukkan,,,
Sagara segera duduk dan memakannya dengan lahap dan diam.
terjadilah pagi itu menjadi pagi yang canggung, bagaimana tidak karena mereka berdua sama sama malu sebab kemarin malam, membuat pasangan itu sama sama merona.
Sagara telah pergi kekantor dan Zaara hanya dirumah saja terlebih dahulu karena keadaannya itu.
........
dikantor Sagara,,,
Sagara tengah meeting bersama kliennya dan setelah ia selesai sagara masih saja berkerja sampai tak terasa sore hari pun tiba,,,
Sagara pun bersiap siap untuk segera pulang,,,
"Andreas siapkan mobil!" perintah Sagara.
"baik"
Sagara pun meninggalkan ruangan nya menuju lantai bawah, Sagara menggunakan lift khusus miliknya,,,
Sagara tiba dilantai bawah dan berjalan menuju parkiran, ketika Sagara berjalan melewati para pegawai Sagara berjalan seperti biasa tanpa senyum, datar dengan segala pesona miliknya.
walaupun Sagara telah menikah namun tidak membuat wanita wanita itu berhenti mengagumi Sagara.
akhirnya Sagara meninggalkan perusahaan itu,,,
"BRMMM...."suara mobil Sagara yang dijalankan.
***
dilain tempat,,,,
didalam ruangan gelap hanya ada remang remang cahaya yang masuk dari celah celah jendela ataupun pintu.
terlihat wanita misterius dengan tatapan tajam dan dingin menatap lurus kedepan,,,
lalu tak berapa lama ia malah menjadi marah dan
mulai melemparkan barang yang ada di dekatnya,,,
"PRAANGGGG...."
"BRAKKKK...."
dari gelas sampai meja ia pukul dengan sangat keras, wanita itu sangat marah lalu ia mulai berkata dengan suara yang terdengar kejam.
"SIALAN...... bagaimana caranya aku bisa menghancurkan kehidupan dia, jika aku ada disini" kata wanita itu sendiri dengan mata yang masih menatap tajam.
"bagaimana pun caranya aku akan menghancurkan dia dan membuat hidup nya sengsara seumur hidup" lalu wanita itu terlihat tersenyum licik....
****
keesokan harinya dirumah Sagara, hari itu adalah hari Minggu, seperti biasa Zaara dan Sagara akan menghabiskan waktu berdua.
"sayang apa yang akan kau lakukan?" tanya Sagara kepada Zaara yang tengah sibuk mencuci piring bekas mereka sarapan.
namun belum sempat Sagara berbicara ponsel Sagara berbunyi,,,
kringgg...kringgg...
tenyata itu telpon dari Andreas, Sagara pun mengangkat telponnya,,,
"ya ada apa kenapa kau menelpon ku di hari Minggu" kata Sagara tidak terlalu senang.
"maaf tuan karena telah mengganggu waktu anda, namun saya ingin menyampaikan jika Apartemen kebakaran" ucap Andreas terdengar agak tegang.
"APA!!.... kebakaran!!?... Apartemen...maksudmu yang sekarang ditempati oleh wanita itu?"ucap Sagara terkejut.
"benar tuan karena itulah saya ingin melihat kondisi apartemen sekarang juga" jawab Andreas
"ya kau pergilah, aku juga akan menyusul"
"ada apa hubby, kebakaran dimana?, kenapa hubby terlihat terkejut" tanya Zaara yang tiba tiba datang.
ia mendengar dari dapur jika telah terjadi kebakaran, namun ia tidak bisa mendengar perkataan itu secara jelas.
"di apartemen yang ditempati oleh wanita itu" jawab Sagara.
"innalilahi wa innailaihi rojiun, hubby ayo sekarang kita lihat keadaan Bunga!" ucap Zaara terkejut lalu Zaara melepaskan celemek yang ia kenakan.
Sagara langsung berdiri dan berjalan menuju kamar, lalu tak lama ia turun kembali terlihat Sagara telah mengenakan jaket kulit miliknya.
"ayo pergi, tapi apakah kau ingin mengenakan ini saja?" tanya Sagara.
"iya hubby cepat kita pergi, aku takut terjadi sesuatu kepada Bunga".
mereka berdua pun pergi menggunakan mobil yang disetir oleh Sagara sendiri,,,
sekitar 20 menit Sagara tiba di apartemen yang sudah dipenuhi oleh pemadam kebakaran dan juga orang orang yang melihat kejadian itu.
"astaghfirullah..." ucap Zaara cemas ketika ia melihat kebakaran yang cukup besar itu.
sedangkan Sagara menelpon kembali Andreas, ia ingin menanyakan dimana Andreas berada sekarang.
"Bunga!!... Bunga... Bunga dimana kamu!!" teriak Zaara mencari Bunga.
Zaara berjalan mendekati kerumunan kerumunan orang yang ada disana barang kali ada bunga disana, dan benar saja ada Bunga ada disana.
Bunga terlihat sedang menangis, dan orang disekitarnya mencoba membuat Bunga tenang.
Zaara pun segera mendekati Bunga,,,
"Bunga! kau tidak apa apa kan!?" tanya Zaara sangat cemas, Bunga menggelengkan kepalanya, ia terlihat sangat syok.
"baiklah... sekarang kau jangan cemas, aku ada disini dan suamiku juga" ucap Zaara menenangkan Bunga dan memeluk tubuh itu.
tak beberapa lama kemudian, petugas kebakaran pun berhasil memadamkan api dan mulai pergi dari dari sana setelah berbicara dengan Sagara dan Andreas.
keadaan berangsur-angsur normal, apartemen Sagara yang berlantai tiga itu habis terbakar dan setelah Sagara tanya kepada petugas kebakaran ternyata penyebabnya adalah karena ledakan gas.
"Bunga apakah kau bisa menceritakan apa yang terjadi?" tanya lembut Zaara.
tiba tiba Bunga menangis,,,
"hiks...hiks...hiks...ma..aafkan sa..ya..tuan muda, Zaara.." ucap Bunga tersedu sedu.
"ja...di begini... sekitar jam 7:30 tadi... saya memasak air untuk mandi...namun saya lupa dan malah ketiduran, ketika bangun api telah memenuhi dapur dan gas yang ada disana meledak satu per satu" jelas Bunga semakin menangis, ia sangat merasa bersalah kepada Sagara dan Zaara.
"maafkan saya tuan karena kecerobohan saya, apartemen anda habis terbakar, bagaimana caranya saya mengganti rugi" ucap Bunga lirih.
Zaara menatap Sagara, memberi kode kepada Sagara agar ia mengikhlaskan saja apartemen itu.
Sagara yang mengerti maksud Zaara menghela nafasnya,,,
"tidak apa apa kau tidak perlu memikirkan tentang apartemen ini" ucap Sagara terdengar santai.
"benarkah?...tapi saya merasa bersalah....kepada anda" ucapnya menghapus air matanya dan sekali lagi meminta maaf secara tulus.
"maafkan saya sekali lagi" ucapnya lembut.
"tidak apa apa, sudahlah lupakan saja, lagi pula hubby kan sangat kaya benarkan?"ucap Zaara sesambil bercanda kepada Bunga.
Bunga menjadi tersenyum,,,
"terimakasih..."ucap tulus Bunga menatap mereka semua.
"baiklah ayo kita kembali kerumah" ucap Sagara
"iya ayo Bunga" jawab Zaara membuat Sagara terkejut.
"Zaara maksud ku adalah kita berdua, bukan bertiga" ucap Sagara.
"hubby, bagaimana kita bisa meninggalkan Bunga disini, setelah kejadian seperti ini, lalu jika kita biarkan dia tinggal sendiri lagi apakah tidak takut jika terjadi hal yang sama" ucap Zaara.
"apakah dia masih anak anak Zaara, dia bahkan lebih tua dibandingkan dirimu"
"hubby, jangan berkata seperti itu, tetapi ini juga karena aku ingin bunga tinggal bersama kita" ucap Zaara lagi.
"Zaara kali ini aku tidak bisa" jelas Sagara.
"hubby aku mohon!"ucap Zaara dengan sangat memelas.
"tidak" ucap Sagara tidak bisa dibantah lagi.
"tidak apa apa Zaara, saya tidak ingin menyulitkan kalian lagi" kali ini Bunga berbicara.
"baiklah kalau begitu hubby aku akan tinggal bersama bunga, biar hubby tinggal sendirian di rumah besar itu" ucap Zaara sudah kesal dengan Sagara.
Sagara yang mendengar lagi lagi tidak habis pikir dengan Zaara.
"sebenarnya apa yang kau inginkan Zaara?.." ucap Sagara sudah sangat bingung menghadapi Zaara.
"Zaara mau Bunga tinggal bersama kita" ucap Zaara juga tidak bisa dibantah lagi.
"baik ..... baiklah terserah padamu.." ucap Sagara kesal lalu ia pergi meninggalkan Zaara sendiri menuju mobil.
"Bunga ayo kita pulang" ucap Zaara ia tidak menghiraukan Sagara yang tengah kesal itu, ia malah berbicara dengan senang kepada Bunga.
"maaf karena saya tuan Sagara menjadi marah" ucap Bunga merasa bersalah.
"tidak, kau tenang saja aku bisa berbicara dengannya nanti, sekarang kita pulang dulu..."
mereka semua pun kembali kerumah dan sekarang Zaara akan semakin bahagia jika ada Bunga dirumah itu.....
bersambung.....