
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Daren menghela napas!
Lalu dengan segenap keberanian ia berbicara, Apapun akhirnya mungkin ini adalah balasan yang diberikan kepadanya,
Kesalahannya adalah mencintai Zaara!,
Tetapi ia tidak pernah sekalipun menyesali pertemuan ini, ia tidak akan pernah melupakan bagaimana kehidupannya setelah bersama dengan Zaara dan anak anaknya, Meskipun hatinya akan terluka, tetapi sebenarnya hati Sagara lah yang lebih tersakiti,
Sekali ini saja!
Sebelum semuanya benar benar pergi, ia ingin memeluk Zaara dalam dekapannya,
"Ayana...andai suatu saat kau pergi dariku dan kita tidak akan pernah bertemu kembali, apakah kau akan mengabulkan sekali saja permohonanku?" tanya Daren dengan suara yang lirih, ia pasrah dengan jawaban yang diberikan oleh Ayana,
Melihat Ayana yang hanya diam,
Daren tertawa sumbang didalam hati, kenapa ia selalu saja berharap Ayana bisa lebih terbuka dengannya!.
Ayana tidak langsung menjawab melainkan ia berdiri dari duduknya dan menghampiri Ken dan Ren yang sedang asik menonton acara kesukaannya,
"Ken dan Ren sudahan dulu yuk, nanti kalian bangunnya kesiangan lagi" bujuk Ayana lembut, melihat sang Umi menghampiri mereka Ken dan Ren pun hanya mengangguk singkat,
"Bibi!" panggil Ayana sedikit nyaring, tak lama seorang pelayan datang menghampiri Ayana, bibi yang telah merawat Ken dan Ren sejak lama itu pun datang kehadapan Ayana.
"Iya nyonya muda apakah ada yang bisa saja bantu?" tanyanya
"Iya bibi tolong antarkan Ken dan Ren masuk kekamar mereka ya Bi" sahut Ayana sambil tersenyum. Bibi itu pun membawa Ken dan Ren masuk kamar, sedangkan Ayana.
Untuk pertama kalinya, dengan perlahan lahan mendekati Daren, tersenyum lembut,
"Kita boleh keluar mas"ucap Ayana membawa Daren untuk keluar, diluar sana memiliki suasana lebih nyaman karena bintang dan bulan bersinar terang malam itu.
Ayana pun berjalan lebih dulu, Daren menyusul langkah Ayana yang membawa mereka keluar dari rumah menuju halaman rumah yang cukup luas dengan beberapa baris pohon yang rapi dan terawat di halaman itu.
Malam yang dingin dengan terpaan angin yang sejuk membelai tubuh, disinilah mereka berdua dengan hati yang masing masing, yang tidak pernah terpikir sebelumnya bagi Ayana, Entah apa alasan utama hatinya tidak pernah bisa menerima begitu saja Daren sebagai suaminya sejak pertama kali ia terbangun dari koma.
Mata yang masih menatap samar samar, badan yang kaku dan tegang akibat otot-otot yang sudah lama terbaring, selama satu tahun Ayana terbaring koma dalam rumah sakit,
"Kau sudah bangun, syukurlah"Ucapan laki laki itu lah yang pertama kali Ayana dengar, samar samar Ayana menyesuaikan cahaya disekitarnya dan setelah lebih jelas.
Mata yang tajam, kulit yang putih bersih, serta raut wajah yang nampak bahagia juga sedikit air mata,
"Siapa kau!?"ucap pelan Ayana kala itu,
"Kau adalah istriku, Ayana" jawabnya.
Degg!
Tunggu dulu!, kenapa sedikit saja ia tidak bisa mengingat masa lalunya, Ayana mencoba mengingat-ingat didalam tempurung otaknya, barang kali ia menemukan ingatan itu, tetapi jangankan tentang laki laki ini bahkan dirinya saja ia lupa.
Ayana berpaling!
Degg!
Senyuman yang tidak tahu apa artinya untuk Daren saat itu, tapi yang jelas.
"Kau adalah orang yang pertama dalam pandangan mataku ketika aku terbangun dengan segala ingatan yang telah hilang,..."ucap lirih Ayana.
"Aku selalu bertanya tanya, sebenarnya apa yang menjadi masalah dalam diriku, tapi jika aku bisa jujur padamu mas,...kau seperti orang asing" lanjut Ayana lebih sendu.
Ya, bagi Ayana Daren itu adalah orang asing yang tak pernah bisa Ayana ungkap siapa sebenarnya dia, karena Daren selalu saja memperlakukan Ayana sangat baik dan perhatian, Ayana tahu dengan jelas.
Daren mencintainya!
Namun tetap saja hati Ayana tidak tergerak sedikitpun, Ayana lebih merasakan sesak dan berat tanpa ia sadari, dan alasan inilah yang ingin Ayana tahu!.
'Suatu hari jika kita tidak bisa bertemu lagi', Kalimat itu berhasil membuat sekali lagi Ayana memikirkan semua yang telah terlewati dengan Daren.
Jika menjawab pertanyaan itu,mungkin Ayana ingin bertemu lagi dengan Daren tetapi disaat hati mereka lebih bisa terbuka satu sama lain,
Mungkinkah?
"Menjawab pertanyaanmu mas, mungkin saja aku akan berusaha untuk lebih menerima mu, dan jika semua ini telah memiliki jawabannya..." ucap Ayana menatap wajah Daren dengan raut wajah yang lebih baik,
Mendengar hal tersebut membuat hati Daren menghangat dan juga perih, Tapi setidaknya ia bisa lebih bersyukur bukan.
"Terimakasih.., terimakasih untuk kau yang bersedia menjadi pendampingku selama ini dan juga untuk Ken dan Ren, kalian ada dihidupku adalah satu anugerah terindah dari Tuhan padaku" sahut Daren dengan tersenyum ikhlas.
Dan tepat pada waktunya,
Vroomm!!
cittt!
Ayana dan Daren sontak menoleh kearah mobil mobil itu, dan betapa terkejutnya Daren, siapa yang keluar dari dalam mobil itu,
Tubuh yang tinggi dan tegap, rahang yang terkantup keras serta kharisma yang dimilikinya, Daren tahu pasti siapa itu,
Refleks Daren menggeser tubuhnya kehadapan Ayana dan melindungi Ayana dari tatapan Sagara.
Sett!
"Aku mohon padamu untuk berada dibelakangku Ayana" pinta Daren dengan pelan, Ayana terlihat mengangguk.
Tapp..tap..tap..!
Sagara, Andreas dan beberapa pengawal menghampiri Daren, sedangkan melihat ada yang mencoba masuk secara paksa para pengawal yang berjaga dirumah Daren pun ikut mengamankan Daren.
"Akhirnya kita bertemu lagi tuan Sagara"ucap Daren tak bergeming dari tempatnya, sebisa mungkin Sagara tidak menyadari bahwa yang dibelakang tubuhnya adalah Zaara.
"Jangan berbasa-basi, jelaskan semua padaku saat ini juga!, Aku yakin kau adalah dalang dibalik semua ini!" desak Sagara sengit,
"Heh santai sedikit Sagara!, Lagi pula waktu kita cukup banyak malam ini" sahut Daren berlagak santai,
"JAWAB PERTANYAANKU!"teriak Sagara menggelegar, ia benar benar muak berbasa-basi, ia ingin segera mengungkapkan semuanya saat ini.
"Ouh..ho baik lah" sahut Daren lagi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya,
"Apa yang telah kau ketahui Sagara, apakah kau telah menemukan apa yang kau inginkan?"ejek Daren sambil tersenyum ramah,
Sagara diam!
Melihat Sagara yang hanya diam, Daren tahu Sagara telah mengetahui sesuatu, ia sadar dan sekarang mungkin adalah saatnya.
Kemudian tiba tiba Sagara melemparkan sesuatu kepada Daren yang ternyata adalah sebuah surat dari rumah sakit, Daren membuka surat itu.
Heh!
Daren mengeluh dalam hati, andai surat ini tidak pernah ada, andai sejak awal ia tahu kebenaran ini, mungkin ia masih bisa menyembunyikan kebenaran ini dan hidup bersama dengan Ayana.
"Jawab aku sekarang juga!!" teriak Sagara seketika itu juga, ia sudah tidak sabar mendengarkan penjelasan Daren namun karena emosi tiba tiba Sagara berjalan mendekati Daren dan ingin menghajarnya,
Set!
"Tunggu!, jika kau tidak ingin menyakiti Zaara maka jangan bergerak dari tempatmu" sergah Daren dengan tatapan dingin, jangan sampai Ayana yang dibelakangnya sekarang terkena pukulan Sagara.
Sagara mengerutkan keningnya!
"Apa maksudmu!!"desis tajam Sagara, dan ketika itu juga, dengan segenap rasa ikhlas, Daren meminta Ayana untuk keluar.
"Ayana ada yang ingin aku sampaikan kepadamu, jadi keluarlah sekarang!" ucap Daren lembut tanpa menatap langsung wajah Ayana.
Ayana dengan perasaan yang bingung hanya bisa menurut, dan....
Deg!
Deg!
Sagara terpaku!
Zaara!, wajah yang tidak berubah, raut wajah yang tetap sama dengan kelembutan dan kebaikan hatinya.
"Zaara!!" dengan cepat Sagara menangkap tubuh Zaara dalam pelukannya,
Grap!
"Sayang.... akhirnya aku bisa melihatmu!"air mata Sagara tak bisa dibendung lagi, ia benar benar bahagia, sedangkan ia hanya diam tak bergerak, Zaara!?, siapa Zaara?, dan siapa laki laki yang tengah memeluknya ini?. Tetapi yang anehnya ia tidak sama sekali menolak pelukan itu,
"Zaara kau benar benar masih hidup!"Sagara mengamati setiap wajah dan tubuh Zaara,
"Tunggu dulu!" tiba tiba Ayana sadar,
"Siapa kau dan apa maksudnya ini?" kata Zaara dengan raut wajah yang bingung,
"Kau adalah istriku Zaara!" jawab Sagara.
DEG!
Bersambung...