Zaara

Zaara
bab. 79. kekanak-kanakan



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesuai dengan rencana esok harinya Meena dan Andreas pulang ke kota Liu Liu dan segera memberitahukan semua informasi yang telah didapatkan oleh Andreas.


ngiiing...


didalam pesawat perasaan Meena berkecamuk antara bahagia, sedih dan tegang.


sebentar lagi ia akan bertemu dengan Zaara setelah sekian lama tidak berjumpa.


dag!!..dig!!!..dug!!!


Meena memegang dadanya sendiri dan mulai membayangkan bagaimana perasaan Zaara ketika bertemu dengannya.


"Zaara aku merindukanmu, semoga kau baik baik saja" batin Meena.


"apa yang kau pikirkan?" tanya Andreas memperhatikan Meena sedari tadi.


"tidak ada, aku hanya merindukan Zaara dan tidak sabar untuk bertemu dengannya" jawab Meena dengan suara lembutnya.


Andreas sempat terpaku melihat sosok Meena yang sekarang, baru beberapa bulan tidak berjumpa menjadikan gadis konyol dan aktif seperti Meena, berubah menjadi lebih dewasa dan lembut.


"atau mungkin hanya aku yang tidak menyadarinya dari dulu!?" pikir Andreas sambil menatap wajah Meena.


"huh!!"


"sekarang Anda lah yang terlihat sedang memikirkan sesuatu?" ucap Meena heran melihat Andreas yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu itu.


"tidak apa apa" jawab singkat Andreas lalu ia menyandarkan tubuhnya dan menutup matanya sendiri, perjalanan mereka membutuhkan waktu yang cukup lama dan Andreas ingin beristirahat sejenak.


di kota Liu Liu...


didalam ruangan kerja Sagara, kini terlihat Zaara tengah menggangu pekerjaan Sagara, bahkan sesekali membuat Sagara marah karena sikap Zaara sekarang seperti kekanakan.


tuk...!!


tuk...!!


"Zaara apa yang kau lakukan!" runtuk Sagara untuk kesekian kalinya.


sedari tadi Zaara mengganggu Sagara dan membuat Sagara kesal karena Zaara meminta hal yang konyol bagi Sagara.


"huhu....Sagara buatkan aku ayunan!" rengek Zaara dengan wajah yang cemberut karena Sagara tidak mengabulkan permintaannya.


"aku sedang sibuk Zaara jadi tolong jangan menggangguku" ucap Sagara masih sibuk dengan komputer didepannya.


"KAU PASTI MASIH MARAH PADAKU" bentak Zaara kemudian berdiri sambil melotot kearah Sagara.


"kau pasti masih menganggapku bersalah tapi aku tidak perduli...Sagara buatkan aku ayunan!!" imbuh Zaara sesekali menghentakkan kakinya.


"ya aku marah... sekarang pergilah jangan menggangguku!" saut Sagara mulai pusing dengan sikap itu.


"tidak..!!...ayo buatkan aku ayunan di taman" Zaara menarik tangan Sagara sampai laki laki itu berdiri dan membawa Sagara dengan paksa.


dan tepat didepan pintu Sagara menghentikan Zaara..


"Zaara lepaskan tanganmu!" Sagara melepaskan genggaman tangan Zaara.


"huuuu....hik..hik!!"


tiba tiba raut wajah Zaara cemberut kemudian ia menangis seperti anak anak.


"huhuhuhuhuuu....jahat...Zaara kan cuma minta dibuatin ayunan apa sulitnya sih!" Zaara menundukkan kepalanya sambil menangis sesenggukan.


Sagara sampai bengong dibuatnya, apakah gadis itu istri yang ia kenal, kenapa dua hari ini sikap Zaara sangat berubah.


"huhuhu... Sagara jahat..." Zaara semakin mengencangkan tangisannya.


Sagara sangat bingung apa yang harus ia lakukan sekarang, karena selama ini Zaara tidak pernah bersikap aneh seperti ini.


Sagara kelimpungan dibuatnya...


"Zaara...Zaara... berhentilah menangis" bujuk Sagara melembutkan suaranya.


"aku hanya ingin main ayunan, kenapa untuk itu saja kau sangat sulit memberikannya kepadaku" saut Zaara sesenggukan.


"baiklah.... baiklah aku akan membuatkan ayunan untukmu" ucap Sagara pada akhirnya mengalah, dan seketika itu juga tangisan Zaara berhenti.


"benarkah!?" dengan mata yang berbinar binar Zaara menatap Sagara.


"eumm..iya"


"hore... terimakasih!" Zaara melompat lompat saking senangnya.


"kalau begitu tunggulah disini aku akan memesan beberapa bahannya dulu"


Zaara hanya menurut, lalu Sagara pun keluar dari ruangan kerjanya dan menemui beberapa pengawal untuk memesan beberapa kayu yang cocok untuk membuat ayunan.


disaat itu Sagara yang ingin kembali menemui Zaara, mengurungkan niatnya karena ia tidak sengaja mendengar percakapan dari beberapa pelayan yang sedang membicarakan tentangnya.


"hei kalian tahu tuan muda dan nona muda sepertinya akan segera berbaikan" ucap salah satu pelayan.


"benar, semoga saja hubungan mereka kembali berjalan dengan baik" imbuh pelayan satunya.


"ehh...namun apakah kalian tahu katanya tuan muda masih tidak bisa melupakan kesalahan yang nona muda lakukan, tapi saya tidak setuju karena saya pikir nona muda tidak berselingkuh"


"benar mana mungkin wanita seperti nona muda bisa melakukan hal itu"


mereka berbicara semua itu tanpa sadar jika Sagara ada didekat mereka.


"apa yang kalian bicarakan!!" ucap tegas Sagara membuat pelayan itu seketika menundukkan wajah mereka.


mereka tidak menyadari keberadaan Sagara dan membuat diri mereka dalam masalah.


"maafkan kami tuan muda, kami tidak akan berbicara sembarangan lagi" ucap pelayan itu dengan terbata bata.


"sepertinya kalian terlalu senggang sehingga bisa membicarakan hal yabg seharusnya tidak kalian bicarakan disini!"


"mohon ampun tuan!"refleks mereka semua berlutut dihadapan Sagara.


"ckk....lebih baik kalian pergi dari hadapan saya sekarang juga"


"ba...baik..tuan!"


tap..tap..tap...!


"huhmm... sepertinya mereka semua tidak memiliki pekerjaan saja" ucap Sagara sambil mengusap wajahnya.


Sagara pun kembali keruang kerjanya untuk melihat Zaara..


tap..tap...tap...!!


setelah sampai didepan pintu ia pun segera membuka pintu dan masuk, namun apa yang dilihatnya sekarang.


"apakah dia tertidur!?" Sagara mendapati Zaara sedang tidur di atas sofa yang ada didalam ruangannya.


"gadis ini apa yang sebenarnya ia pernah pikirkan!?" Sagara mendekati Zaara dan menatap wajah tenang Zaara.


"apa yang terjadi dengan hubungan kita, sekarang aku tidak tahu harus bagaimana, kau tahu Zaara aku hanya takut kehilanganmu"


Sagara menatap wajah Zaara dengan sendu, sekarang apa status keduanya, disatu sisi masalah mereka belum benar benar baik namun disisi lain Zaara tidak pernah berhenti jika ia tidak bersalah.


"namun apa yang aku lihat itu sungguh menyakitkan Zaara..." Sagara mendekatkan wajahnya ke wajah Zaara.


set...! semakin dekat dan hanya tinggal seperkian senti tanpa diduga Zaara bangun dari tidurnya.


Duk..!! kepala mereka saling berbenturan.


"awwww!!!" Zaara meringis kesakitan begitu juga Sagara yang langsung menjauh dari Zaara.


Zaara mengusap-usap dahinya yang sedikit terlihat memerah karena benturan itu.


"apa yang kau lakukan Sagara..?" ucap Zaara sambil meringis.


"maaf...aku..aku tadi melihat nyamuk di wajahmu dan ingin menangkapnya"


"huh!?" jawaban apa itu, sangat konyol pikir Zaara.


"eum...begitu"Zaara mengangguk-anggukkan kepalanya namun kemudian ia berkata lagi.


"kau tidak ingin mengusapnya untukku...ini masih sangat sakit" ucap Zaara sambil berpura pura kesakitan.


deg!!


deg!!


Zaara tersenyum tipis...


"terimakasih..." ucap Zaara tiba tiba, Sagara mendongakkan kepala menatap Zaara.


"untuk apa?" tanya Sagara bingung.


"untuk...untuk berterimakasih kepadamu karena sekarang kau tidak mendorongku ataupun mengabaikanku" jawab Zaara dengan tulus.


DEG!!


Sagara langsung menegakkan tubuhnya kembali...


"aku ada urusan kau beristirahatlah dulu nanti jika ayunanmu sudah siap akan aku beritahukan kepadamu" ucap Sagara dengan cepat lalu ia pun kembali meninggalkan Zaara sendirian.


"huuuuuhhh.... setidaknya Sekarang lebih baik" Zaara pun kembali kedalam kamarnya sendiri dan mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat lelah.


dilain tempat,


Andreas dan Meena telah sampai di kota Liu Liu dan langsung menaiki mobil yang telah menjemput mereka.


vroomm...!


"sebentar lagi aku akan bertemu dengan Zaara, aku tidak sabar itu" Meena lagi lagi tersenyum jika mengingat Zaara.


"kau tenang saja sebentar lagi kita akan sampai di rumah tuan muda" saut Andreas.


dan setelah perjalanan selama tiga puluh menit mereka pun akhirnya sampai di depan kediaman besar itu.


gerbang utama terbuka disaat ada mobil yang akan melintas..


sreeettt!! gerbang itu terbuka dan sampailah mereka di rumah Sagara.


cittt!! mobil berhenti.


cklek..!!


"selamat datang tuan Andreas" bow beberapa pengawal yang ada didepan pintu untuk menyambut Andreas.


"dimana tuan muda?" tanya Andreas tanpa membuang waktu lagi.


"tuan muda ada di taman belakang" jawab pengawal itu.


"baiklah,.."


"Meena temuilah nona muda dikamarnya" ucap Andreas menghadap Meena.


"baik" Meena pun langsung masuk kedalam rumah dan menuju kamar Zaara yang berada dilantai dua.


"Meena!" tiba tiba Andreas memanggilnya lagi.


"ya?"


"jangan katakan apapun kepada nona muda"ucap Andreas memperingatkan Meena.


"baiklah kau tenang saja" lalu Meena pun melanjutkan langkahnya menuju kamar Zaara.


sesampainya didepan kamar Zaara, Meena berhenti sesaat dan menarik nafasnya dalam dalam dan mengatur ekspresi wajahnya.


Meena pun mengetuk pintu itu..


Tok...tok..tok...!


"siapa!?,... masuklah pintunya tidak terkunci" saut Zaara dari dalam.


mendengar suara Zaara semakin membuat Meena bahagia dan terharu.


Meena pun membuka pintu secara perlahan dan melihat Zaara yang tengah duduk membelakanginya.


tap..


tap..


tap..


Meena berjalan mendekati Zaara perlahan lahan, sedangkan Zaara yang mendengar suara langkah kaki itu menjadi bingung, sebenarnya siapa yang datang pikir Zaara, jika itu pelayan bukankah ia akan berbicara namun Sekarang.


lalu dengan rasa penasarannya Zaara pun menoleh kebelakang dan betapa terkejutnya Zaara melihat siapa yang sekarang ada dihadapannya.


Zaara dikejutkan dengan kedatangan sosok gadis yang sangat dikenalnya...


"Meena...!!!" dengan ekspresi wajah yang terharu dan sedih Zaara berdiri dan segera menghampiri Meena dan memeluknya.


set...!!


tap..tap...!


"Meena!"


"Zaara!" mereka saling berpelukan dan saling melepas rindu.


"benarkah ini kau Meena... huhuhu!?" tanya Zaara sambil menatap Meena dan membolak-balikkan badan Meena.


"Zaara...ini aku Meena" saut Meena sama bahagianya.


"huhuhu....kemana saja kau gadis konyol, selama ini kenapa kau tidak menghubungiku sekali pun!?"


"maafkan aku Zaara" mereka pun kembali berpelukan.


"apa yang selama ini kau lewati kenapa tubuhmu menjadi kurusan seperti ini" imbuh Zaara semakin memperhatikan sahabatnya.


"ceritanya panjang nanti aku ceritakan padamu, tapi sebelum itu ceritakan padaku terlebih dahulu tentangmu, bagaimana keadaanmu selama ini?"


dan mereka pun mulai melepas rindu masing masing dan menceritakan semua yang telah terjadi selama ini kepada Zaara maupun Meena.


disisi lain...


sekarang Andreas bersama dengan Sagara yang tengah sibuk membuat ayunan.


"heh!..jadi maksudmu nona muda yang meminta kau membuat ayunan ini?!" Andreas tidak percaya jika Sagara sedang melakukan pekerjaan kasar seperti ini.


"sepertinya kau sudah memaafkan nona muda" imbuh Andreas lagi.


"kau bisa diam Andreas!" sergah Sagara tajam.


"hahahaha..baiklah aku tidak akan berbicara hal itu sekarang, namun aku punya informasi penting untukmu" saut Andreas.


"nanti saja...aku harus menyelesaikan pekerjaan ini dulu" potong Sagara disaat Andreas ingin mengatakan sesuatu lagi.


"ehh!!?"


"nanti saja kau tahu sebelum Zaara kembali merengek dan membuat kepalaku pusing" sambung Sagara disaat ia mendapatkan tatapan mata Andreas.


"apa maksudmu merengek, nona muda?, itu tidak mungkin bukankah nona muda selalu bersikap lembut dan tenang"


"heh!..apa yang kau tahu tentangnya, dia itu istriku bukan istrimu!" saut Sagara.


"benar juga, selama ini kan aku hanya melihat luarnya saja mana ku tahu bagaimana dalamnya"


brak!!


"apa maksud dari perkataan mu itu hah!!" seketika Sagara menjadi tidak suka disaat Andreas mengatakan kalimat ambigu seperti itu.


"bukan apa apa Sagara, maksudku itu mana aku tahu sikap yang dimiliki nona muda yang tidak terlihat selain tuan muda sendiri yang tahu" jawab Andreas enteng tanpa menghiraukan tatapan tajam Sagara.


"dari pada kau banyak bicara disana lebih baik kau bantu pekerjaan ini"


"ckk...malas!" saut Andreas tidak perduli lalu ia masuk kedalam rumah.


"ANDREAS SIALAN..APA MAKSUDMU HAH!!" teriak Sagara.


"selamat bekerja tuan muda" ucap Andreas sambil melambaikan tangannya.


bersambung...