Zaara

Zaara
bab 29. membujuk



......................


Sagara terbangun dari tidurnya, lalu ia mengambil jam yang ada disebelah Zaara, ia ingin melihat pukul berapa sekarang,,,


angka menunjukkan pukul 04:00, ia pun bangun dan langsung membersihkan diri untuk persiapan shalat.


sedangkan Zaara masih belum selesai haid, karena itu Sagara tidak membangunkannya.


"Allahu Akbar..." Sagara pun memulai shalat nya,,,


setelah selesai berdoa Sagara pun berdiri dan mendekati Zaara yang masih tidur, mungkin Zaara biasanya akan bangun lebih pagi, tetapi tidak untuk hari ini Sagara tidak akan menggangu Zaara yang pasti kelelahan.


Sagara yang tidak tidur itu pun melanjutkan keruangan kerjanya, ia ingin memeriksa laporan dari kantor nya.


....


Zaara pun terbangun tepat pukul 06:15,,,


ia melihat Sagara yang sudah tidak ada disampingnya.


Zaara pun berjalan kekamar mandi untuk membersihkan dirinya, hari ini ia akan melakukan aktivitas hariannya lagi.


tap..tap..tap..


Zaara menuruni anak tangga satu persatu dan menuju dapur,,,


sebelum ia sampai didapur, ia malah melihat Veera yang sudah siap dengan makanan diatas meja.


"mommy" seru Zaara.


"Zaara, kau sudah bangun, bagaimana tidurmu apakah nyenyak?"


"iya mom, tapi kenapa mommy menyiapkan ini semua, seharusnya biarkan saja Zaara yang melakukannya" ucap Zaara


"sudahlah Zaara ini juga sudah selesai, lebih baik kalau kau duduk saja, lagi pula selama ini kau yang selalu mengurus dapur, setelah ini mommy akan pergi lagi ke Kanada dan mungkin akan sedikit lebih lama" ucap Veera tiba tiba ia sangat sedih.


mendengar hal itu, Zaara pun juga ikut sedih, ya Zaara tahu kabar itu kemarin malam, Daddy telah mengatakan hal itu selepas makan malam.


"Zaara pasti akan merindukan mommy" ucap Zaara


"tentu saja mommy juga pasti akan sangat merindukan putri mommy ini" ucap Veera yang kemudian membawa Zaara kedalam pelukannya.


"hei ada apa ini pagi pagi kok sudah kelihatan sedih" tanya Tristan yang datang tiba tiba.


"ihh..papa bikin kaget aja"


"ini loh mami itu sedih, kerena akan pergi meninggalkan Zaara dan Sagara" ucap Veera.


"mami kita akan pergi tetapi kan disini Zaara sudah bersama dengan Sagara, dan papa sangat percaya jika Sagara akan menjaga Zaara dengan baik" Tristan mencoba untuk menenangkan istrinya.


"benar juga, tetapi tetap saja" ucap Veera


"sudahlah, lebih baik kita sarapan dulu karena kita harus menyiapkan keberangkatan pagi ini" ucap Tristan duduk dikursi.


"iya pah, pelayan! panggil tuan muda turun" ucap Veera kepada pelayan yang ada disana.


"mommy biar Zaara saja" ucap Zaara.


"baiklah, sekarang ia ada diruang kerjanya"


"baik mom" Zaara pun pergi untuk memanggil Sagara.


tak berselang lama Zaara dan Sagara pun tiba, merekapun segera bergabung dan makan bersama.


....


"hari ini mommy dan Daddy akan segera berangkat" ucap Tristan diruang tamu.


"Sagara, Daddy harap kamu bisa menjadi suami yang baik untuk Zaara, dia adalah gadis yang sangat baik, dan juga lembut" pesan Tristan


"jangan menyakiti hatinya, maafkan jika ia melakukan kesalahan dan tegur ia dengan lembut" sambung Tristan, selama ini ia tahu jika Sagara sangatlah dingin dan arogan, namun ia ingin jika Sagara menjadi sosok yang lebih baik.


"pasti dad, Sagara akan terus berusaha menjadi suami yang baik untuk Zaara" ucap Sagara yakin.


"tentu, Daddy percaya padamu" ucap Tristan menepuk pundak Sagara.


tap...tap...tap..


Zaara dan Veera berjalan sambil membawa barang milik Veera dan juga Tristan, hanya dua buah koper saja.


"papa semua sudah siap" ucap Veera.


"baiklah, Sagara kau tidak perlu mengantar kami, kau beristirahat saja" ucap Tristan berdiri dan mendekati Veera yang sudah menangis.


"tapi dad, Sagara akan mengantarkan Daddy dan mommy" ucap Sagara yang kemudian berdiri.


"benar kata Daddy mu Sagara, tidak usah kita berpisah disini saja, nanti jika sampai di Kanada akan mommy beritahukan" ucap Veera.


kemudian Veera mendekati Zaara dan Sagara lalu menggenggam tangan keduanya,,,


"mommy akan merindukan anak anak mommy, tapi mommy juga akan berpesan, kalian berdua hiduplah bahagia disini, Zaara jika kau kesepian bawalah Rena atau Meena kemari, dan Sagara kau juga jangan terlalu dingin dengan Andreas, dia juga teman masa kecil mu" ucap Veera.


"iya Mom" jawab Zaara dan Sagara bersamaan.


"dan Sagara untukmu, jangan pernah menyakiti hati Zaara jika mommy mendengar jika kau berani melakukan itu maka bersiaplah merasakan kemarahan mommy " ucap Veera serius.


"bye...bye...sayang kita akan bertemu lagi nanti " ucap Veera yang sudah ada didalam mobil, dan siap berangkat.


"bye mom" balas Sagara


"assalamualaikum" ucap Veera dan Tristan.


"wa'alaikumsalam"


akhirnya merekapun pergi, Zaara yang menyaksikan itu menjadi sedih ia tidak menyangka jika Veera akan pergi padahal mereka baru saja bertemu setelah 1 Minggu terpisah.


"sudahlah Zaara, kita akan bertemu mommy lagi nanti, karena kau akan selamanya disisiku" ucap Sagara yang sedang merangkul istrinya.


"emmm... semoga saja" ucap Zaara tersenyum


"tentu sayang... selamanya" ucap Sagara.


rumah itu sekarang terasa lebih sunyi, Zaara merasa jika ada yang kurang disana dan tentu saja itu disebabkan oleh mommy yang sudah pergi ke Kanada.


***


sudah satu Minggu berlalu,,,


Zaara melalui hari seperti biasanya dan ia juga akan melakukan kegiatan lainnya jika ia bosan seperti menanam bunga ataupun buah di kebun rumah itu dan juga ia akan meminta Meena dan Mbak Rena datang berkunjung, Namun mereka semua memiliki urusan masing-masing.


Zaara tidak bisa hanya berdiam diri, Sagara juga akan bekerja dari pagi hingga sore hari, namun kadang kadang Sagara akan pulang disaat makan siang.


Sagara yang mengetahui jika Zaara bosan dalam satu Minggu ini pun sebenarnya kasian tetapi ia tidak ingin membiarkan Zaara lepas dari pengawasan nya.


bukannya ia terlalu posesif hanya saja Sagara tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.


seperti sekarang Zaara sudah berkali kali meminta untuk keluar dari kediaman, tetapi Sagara tidak memperbolehkannya.


"hubby, aku sangat bosan, biarkan Zaara keluar ya, saya kan bukan anak kecil lagi, lagi pula saya sangat bosan jika harus selalu dirumah" bujuk Zaara memelas.


"Zaara bukan aku ingin mengurung mu ataupun membatasi dirimu, tetapi aku benar benar tidak ingin terjadi sesuatu padamu" ucap Sagara yang mencoba memberikan pengertian.


"baiklah jika seperti itu, tetapi sekarang Zaara mau meminta kepada hubby" jawab Zaara tidak menyerah.


"sudah sangat lama saya tidak kuliah, bagaimana kalau Zaara kembali untuk kuliah ya" pinta Zaara.


"please hubby...ya..saya mohon.." ucap Zaara memohon, Sagara masih teguh dengan keputusannya.


"hubby....Zaara mohon" ucap Zaara, sagara benar benar tidak mendengarkannya, sepertinya ia harus mengeluarkan cara yang membuat Sagara mengubah keputusannya itu.


"sudah seperti ini kau tidak boleh menyerah, tidak apa apa Zaara" batin Zaara


Zaara menarik napas panjang, lalu ia berjalan mendekati Sagara,,,


Sagara yang melihat itu menjadi mundur tanpa sadar,,


"hubby..saya mohon.." ucap Zaara yang semakin mendekatkan dirinya kepada Sagara.


"Zaara aku sudah tahu apa yang mau kau lakukan, lebih baik hentikan itu sekarang, karena jika tidak kau akan menyesal " ucap Sagara yang mencoba menenangkan diri untuk tidak menerkam tubuh Zaara.


"memangnya apa yang akan Zaara lakuin"


"tenang Zaara, dia adalah suamimu dan juga tidak ada orang lain disini"batin Zaara.


PRANNG...


Sagara tidak sengaja menjatuhkan jam weker di atas meja itu, Zaara tetap mendekati Sagara yang sudah terpojok.


"Zaara berhenti" ucap Sagara yang sudah menahan mati Matian keinginan nya itu.


sebelum Zaara benar benar dihadapan Sagara ia malah tersandung kakinya sendiri dan jatuh tepat di dada Sagara.


Deg!.


sekarang tubuh mereka menempel satu sama lain.


Zaara yang tersadar itu kembali meneruskan rayuan nya, ia malah melingkarkan tangannya di leher Sagara.


"hubby...." bisik Zaara lembut, ia tidak berpura pura walaupun itu ulahnya namun tidak dipungkiri jika jantung nya sekarang berdegup kencang.


"Zaara sangatlah bosan, lagi pula Zaara harus menyelesaikan kuliah Zaara kan yang tinggal 2 tahun lagi" ucapnya lembut.


"Zaara jangan lakukan hal ini, aku hanya mengkhawatirkan mu" jawab Sagara mencoba bertahan.


"hubby... Zaara menuruti akan menuruti semua perkataan hubby" janji Zaara, ia tahu jika harus bisa berkuliah kembali ia harus melalukan aturan Sagara dulu.


"benarkah?" tanya Sagara ia sudah tidak tahan lagi


"iya.."


"baiklah, tetapi aku memiliki aturan" ucap Sagara.


"tentu...yeah.. terimakasih hubby" ucap Zaara gembiri sekitika ia melepaskan pelukannya dan meloncat kegirangan.


Sagara yang sudah seperti itu dibuat oleh Zaara, bagaimana bisa gadis itu sekarang tenang tenang saja, Sagara menutup matanya mencoba meredam keinginannya untuk menyentuh Zaara.


bersambung.....