Zaara

Zaara
bab 38. first



......................


"jadi begitu hubby...boleh ya" setelah selesai menceritakan semua itu Zaara memohon kepada Sagara, bahkan Jika harus dengan terpaksa mungkin akan dirayunya.


"Zaara sekarang aku ingin bertanya, mengapa kau sangat percaya dengan wanita itu?" tanya Sagara menatap Zaara


"apa alasan Zaara tidak suka kepadanya? aku hanya tahu jika dia sedang kesulitan hubby" jawab Zaara menatap mata Sagara.


"baiklah... baiklah aku memang tidak bisa menolak mu, aku akan menempatkan dia disalah satu perusahaan ku namun bukan disini" ucap Sagara mengalah, mau bagaimana lagi kebaikan istrinya itu sangat tidak bisa ia tolak.


"terimakasih hubby" ucap Zaara tersenyum.


Sagara tidak menjawab ia hanya menatap Zaara, ia sama sekali tidak setuju dengan keputusan Zaara namun mau bagaimana lagi.


Zaara hanya tersenyum, ia tahu jika suaminya itu tidak setuju dengannya, namun ia yakin nanti Sagara akan mengerti.


lalu Zaara sesambil menatap keseluruhan ruangan itu,,,


"hubby ini ruangan mu, sangat cantik dari atas sini" puji Zaara lalu ia berjalan mendekati jendela kaca itu.


seperti biasa Zaara memang suka melihat keluar jendela, dan memang indah jika dilihat dari atas sini, ruangan Sagara terletak di lantai paling atas dan tentunya pemandangan seluruh kota akan terlihat dari atas sana.


"Zaara apakah kau lapar?" tanya Sagara sambil berjalan mendekati Zaara.


Zaara berbalik menghadap Sagara lalu tersenyum manis, Sagara membalas senyum itu,,,


"hissss...kau ini mengapa sangat cantik" ucap Sagara menjadi salah tingkah, bagaimana tidak wajah teduh miliki istrinya itu membuatnya mabuk kepayang.


"hahahaha... hubby bisa saja" Zaara menjadi tertawa lepas.


lalu Sagara memeluk tubuh Zaara dalam dekapannya, Zaara mendongakkan kepala menatap wajah Sagara.


"aku harap kita selalu bersama selamanya" ucap Zaara tersenyum


"tentu saja, tidak ada yang bisa memisahkan kita kecuali kematian" jawab Sagara lalu mencium kening Zaara lalu turun mencium ujung hidung Zaara lalu kedua pipinya,,,


Zaara merasa gugup juga geli, pertama kali Sagara menciumnya seperti itu.


"hubby...." Zaara sedikit mendorong Sagara ketika Sagara yang ingin mencium bibirnya.


Zaara merona,,,


"sstt.....jangan gugup sayang..." Sagara menatap bibir milik Zaara lalu ia perlahan menunduk kepalanya,,,


seperkian Senti tiba tiba perut Zaara berbunyi nyaring, ciuman sagara pun terhenti, Zaara merasa sangat malu kepada Sagara.


"kau lapar sayang?"


Zaara hanya mengangguk malu, mungkin sekarang wajahnya sudah seperti kepiting rebus,,,


"baiklah, mari kita pergi"


"hehm..." ucap Zaara berdeham, ia malu untuk bersuara.


Sagara pun hanya tertawa tanpa suara melihat wajah Zaara yang sudah merah itu.


Sagara berjalan sambil memegang tangan Zaara disampingnya yang masih menunduk kepala karena malu.


........


malam harinya Zaara dan Sagara telah berada dikamar mereka, malam ini mereka ingin mengaji bersama.


"sudah siap tuan muda?" tanya Zaara menatap Sagara dengan lirikan mata.


"tentu" jawab Sagara yakin lalu ia mulai membaca ta'awudz.


"A'udzu billa hi minasy syaithonir rajim bismillahirrahmanirrahim" baca Sagara dengan perlahan lahan, lalu Sagara mulai melantunkan surah pendak terlebih dahulu.


Zaara sangat terharu juga bahagia mendengar Sagara yang tengah melantunkan ayat demi ayat itu, Zaara sangat berbahagia karena Sagara mau belajar dan juga berusaha untuk menjadi lebih baik.


Zaara menatap wajah Sagara yang sangat tenang membaca surah itu,,,


Zaara saking tenangnya mendengar hal itu ia tidak sadar jika Sagara telah menyelesaikan bacaannya dan berhenti.


Zaara yang masih menatap Sagara dan juga tersenyum membuat Sagara tersenyum kembali.


"eh...tidak kok hubby, Zaara hanya sangat senang bisa mendengarkan hubby" jawab Zaara sedikit malu karena ia kepergok sedang menatap wajah Sagara seperti itu.


"emm.. begitu, baiklah sekarang jawab bagaimana dengan bacaan ku apakah sudah benar?" tanya Sagara tidak lupa jika Zaara harus membantunya mengoreksi bacaannya.


"maa syaa Allah hubby, sangat indah juga benar, dimana hubby belajar?" puji Zaara dan juga bertanya bagaimana bisa Sagara membaca surah surah itu dengan mudah.


"benarkah, Alhamdulillah kalau begitu" ucapnya juga ikut lega, akhirnya ia bisa membaca surah itu dengan baik dihadapan istrinya itu.


"dan untuk kenapa aku bisa membaca, tentu saja jawabanya adalah karena aku belajar dengan ustadz, waktu itu sayang ingatkan jika aku pernah bertanya bagaimana caranya mendekati mu tanpa melewati batasan" ucap Sagara lalu ia mulai berbicara dengan nada lembut.


Zaara menganggukkan kepala sambil mendengarkan jawaban Sagara selanjutnya,,


"lalu aku mulai belajar, waktu itu sangat konyol jika diingat ingat kembali, karena aku yang waktu itu seperti sangat jauh berbeda dengan yang sekarang"


"Zaara kau tahu aku sangat beruntung bisa bertemu denganmu kau mengajarkan sebuah pelajaran yang tidak pernah aku temui" ucapnya mulai melemah dan Sagara ingat jika dulu ia tidak pernah ada kelemahan.


Sagara adalah orang yang selalu dingin dan kejam kepada siapapun dan juga tidak takut dengan apapun karena Sagara tidak memiliki kelemahan, namun ketika ia bertemu Zaara ia mulai memiliki sebuah kelemahan.


"kau lah kelemahanku sayang, aku takut kehilangan dan aku takut mengecewakan mu" ucap Sagara.


"hikss..hikss..." tiba tiba Zaara menangis, ia menjadi sangat terharu mendengar hal itu, namun Sagara malah panik.


"ada apa!!... kenapa menangis sayang?!!" tanya Sagara langsung memeluk Zaara dalam pelukannya.


"maafkan aku apakah yang aku katakan menyakiti hatimu?" Sagara sangat panik dan bingung.


Zaara yang masih dipeluk Sagara pun berkata,,,


"hubby, aku tidak apa apa, tapi Zaara sangat terharu dan juga bahagia mendengar perkataan hubby... hiks..." ucap Zaara masih tersedu sedu, ia menangis bukan karena sedih namun bahagia.


Sagara pun sedikit tenang dan Sagara menguraikan pelukannya dan menatap Zaara dengan tatapan yang sangat lembut,,,


"Zaara aku mencintaimu, sangat mencintaimu" ucap Sagara sangat lembut.


untuk pertama kalinya Sagara langsung mengucapkan hal itu kepada Zaara, Zaara menjadi lebih terharu dan bahagia.


Zaara hanya diam dan beberapa detik kemudian zaara tersenyum.


"terimakasih karena telah mencintai aku hubby"


Sagara hanya tersenyum lalu ia berkata lagi,,,


"Zaara kau tidak ingin mengucapkan sesuatu juga?" tanya Sagara.


Zaara mengerti kemana arah kalimat Sagara menuju, lalu dengan malu malu Zaara melingkarkan tangannya di leher Sagara dengan masih posisi duduk,,,


"hubby..... Aku..." Zaara yang menatap Sagara tersenyum lalu ia berkata yang membuat Sagara yang menunggu menjadi tercengang.


"apakah kalimat itu sangat penting?.. jika sudah cukup dengan sebuah tindakan" ucap Zaara menjadi malu dan Zaara berbisik kepada Sagara.


Sagara yang mendengar bisikan Zaara itu menjadi mematung dan terkejut namun detik berikutnya ia malah mendorong Zaara dan mendadak berdiri.


"sung..gguh...Zaara...kau yakin?" tanya Sagara menatap Zaara serius, walaupun begitu ia tetap terbata bata dalam bicaranya.


Zaara merah merona dan mengangguk kepalanya perlahan,,,


Sagara yang melihat hal itu menjadi yakin juga dan berjalan mendekati Zaara dan memegang tangan Zaara dan menuntunnya mendekati tempat tidur,,,


lalu dengan suara yang lirih Sagara berkata,,,


"Zaara kau lah yang memintanya, jadi jangan menyesal setelah ini...." ucapan Sagara berhenti lalu ia mendekatkan wajahnya dan berbisik ke telinga Zaara.


"karena kau telah membuat ku tergila gila Zaara..." desisan Sagara dengan napas yang menyentuh telinga Zaara.


membuat Zaara menutup matanya dan gugup, namun ia menganggukkan kepala, lalu tanpa berbasa basi lagi Sagara pun melakukan hal yang selama ini ia nanti nantikan.


ya mereka berdua akan melakukan kewajiban sebagai suami istri yang halal.


Zaara dan Sagara berpelukan dan Sagara mulai merebahkan tubuh Zaara,,,


malam itupun menjadi malam yang sangat indah bagi keduanya karena malam itu Sagara dan Zaara akhirnya bisa menunaikan ibadah dalam pernikahan mereka.


bersambung......