Zaara

Zaara
bab. 81. Bunga tertangkap part 1



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


tak disangka ternyata percakapan mereka didengar oleh Zaara,,,,


beberapa waktu sebelumnya...


Zaara yang baru bangun dari tidurnya merasa haus lalu ia turun kedapur untuk mengambil air minum.


namun disaat ia menuruni anak tangga siapa sangka ia melihat Sagara, Andreas dan Meena pergi kedalam ruang kerja bersamaan.


Zaara yang penasaran pun mengikuti mereka dan dengan terpaksa Zaara mendengarkan setiap perkataan yang terdengar samar samar dari dalam.


DEG!!


Dan tak pernah disangka oleh Zaara ternyata selama ini Bunga adalah orang yang benar benar kejam.


Zaara sangat syok lalu dengan hati yang masih tidak percaya, Zaara berjalan menjauh namun disaat ia membalikkan badannya, Zaara tidak sengaja menjatuhkan vas bunga.


PRANG!!


vas itu terjatuh tepat didepan kaki Zaara dan hampir mengenai Zaara.


Zaara yang merasa sangat dibohongi dan dikhianati itu tidak bergerak sedikitpun sedangkan Sagara, Andreas dan Meena yang mendengar suara itu sontak melihat apa yang terjadi.


"Zaara!!"


Sagara dengan cepat menghampiri Zaara dan mengangkat tubuh Zaara menjauh dari pecahan kaca itu.


tap..


"apakah kau bodoh, kenapa kau selalu saja melukai dirimu!"ucap Sagara dalam rasa cemasnya tanpa sadar membentak Zaara.


namun Zaara sama sekali tidak merespon apapun dan hanya diam tanpa mengedipkan matanya sekali pun.


"Zaara!!..Zaara aku sedang berbicara denganmu"


"Zaara apa yang terjadi?" Meena ikut cemas.


"tuan muda mungkinkah nona muda mendengar pembicaraan..."


"Diam!!" sergah Sagara memotong ucapan Andreas dengan cepat, lalu lagi lagi Sagara memanggil Zaara.


dan baru saat itu Zaara merespon...


"apakah itu benar!?" tanya Zaara terlihat sekali dimata Zaara terpancar kekecewaan yang dalam.


sekarang Sagara yang diam,,,


"jawab Sagara!!" ucap Zaara sedikit meninggikan suaranya.


Sagara mengangguk...


"hahahaha... ternyata selama ini aku sudah di khianati dan pantas saja sampai sekarang aku belum melihat Bunga dirumah ini!"


Zaara benar benar kecewa sampai sampai ia ingin sekali menemui Bunga secara langsung.


"kau tidak apa apa kan Zaara, jangan membuat khawatir kami semua?" Meena sekali lagi mencoba berbicara dengan Zaara.


"aku!!..tentu saja tidak baik baik saja...hik...hik" tiba tiba air matanya lolos begitu saja.


"his...hikk...hikss...aku sama sekali tidak menyangka semua ini, kenapa dia sangat tega melakukan ini"


"tenangkan dirimu!, kau tidak perlu menangisi wanita itu Zaara, Zaara kau harus tahu kau sama sekali tidak bersalah" ucap Meena menguatkan Zaara.


"kau benar!" dengan mencoba menetralkan perasaannya Zaara tiba tiba berdiri.


set..!!


"aku ingin menemui Bunga secara langsung"


"Apa?!...tidak bisa Zaara wanita itu sangat licik" saut Sagara menolak mentah-mentah keinginan Zaara.


"tidak..aku harus menemuinya sendiri dan menanyakan hal ini" tatap Zaara penuh keyakinan.


"tuan Andreas berjanjilah padaku untuk menemukan keberadaan Bunga"


deg!!


"nona muda itu..." Andreas ragu menjawab perkataan Zaara karena saat itu Sagara sedang menatapnya dengan sorot mata tajam.


"huhmmm...Zaara aku yang akan berjanji padamu, aku pasti akan menemukan keberadaan Bunga" jawab Sagara menghadapkan dirinya didepan Zaara dan menatapnya dengan penuh keyakinan.


Zaara menganggukkan kepalanya,,,


"hhmm...!!"


pada akhirnya kejahatan yang selama ini dilakukan Bunga telah diketahui mereka semua dan yang paling kecewa adalah Zaara.


Zaara yang selama ini memperlakukan Bunga dengan begitu baik namun tak pernah disangka oleh Zaara ternyata wanita itu masuk kedalam kehidupan Zaara dengan niat yang buruk.


malam hari tiba...


didalam ruangan gelap terlihat hallen tengah di kurung dan diikat, sesekali wanita itu memberontak.


"cihh..lepaskan aku, aku ingin keluar!!" teriak hallen tidak terima jika dirinya saat ini dikurung oleh Daniel.


"aduhhh...hallen jangan berisik aku ingin tidur" saut Daniel dengan santainya bahkan pria itu sedang merebahkan dirinya di atas meja yang ada disana.


"Lepaskan!!"


"fufufu.... sebenarnya aku itu sungguh merasa kasihan padamu tapi aku juga tidak bisa melakukan apapun untuk menolongmu, kau tahu aku takut monster sepertimu keluar dari sini dan bisa menggigit tuannya sendiri" ucap Daniel dengan nada yang terdengar dingin dan mengejek hallen.


"DIAM!!"


"heum...huh....huh...hkmmm!!" entah mengapa disaat Daniel menyebutnya dengan sebutan Monster selalu saja membuat hallen merasa tersiksa dan merasa pusing yang sangat terangat sakit.


"akkhh...sakittt!!!" hallen memegang kepalanya bahkan memukulkan kepalanya sendiri ke dinding itu dengan sangat keras.


Duk!!


"hei kau bisa membunuh dirimu sendiri jika begitu...!"


"diam...hhmmm..akk...memangnya apa perdulimu hah!!" saut hallen masih memegang kepalanya dan mencengkram kuat rambutnya sendiri.


"akkhh...kenapa rasanya sangat sakit!!"


Duk...Duk...Duk...kkk!!


saat ini keadaan hallen sangat tidak terkendali membuat Daniel pun akhirnya bertindak.


"ckk...sial kenapa sekarang efeknya lebih kuat dari sebelumnya!!" lalu dengan segera Daniel menghampiri hallen dan meminta hallen untuk meminum obat yang ada ditangannya saat ini.


"ambilah ini!, setelah kau meminumnya kau akan merasa lebih baik!"


set..!


Hallen pun langsung mengambil obat itu dan meneguknya tanpa air,,,


"huhmm....huh...huh...!!" setelah beberapa saat akhirnya rasa sakit itu hilang dan keadaan Hallen menjadi lebih baik.


"kenapa...hhmm...kalian melakukan ini padaku!!" ucap hallen melemah, saat ini ia merasa jika dirinya saat ini bukanlah dirinya yang sebenarnya.


ia selalu merasa disaat ia merasakan sakit itu, maka ingatan-ingatan muncul didalam benaknya dan seperti memaksakan agar dirinya ingat Sebenarnya ingatan siapa itu.


"katakan sebenarnya siapa aku!!?" tiba tiba hallen menanyakan pertanyaan itu dan membuat Daniel tertegun namun dengan cepat ia mengganti ekspresi itu.


"kau adalah hallen" saut Daniel singkat.


"kau kira aku akan percaya hah!!" sergah hallen.


"Hahahaha!!!....kau Kira Aku Bodoh!" lalu dengan tatapan yang lebih dingin hallen mengatakan sesuatu yang membuat Daniel membeku.


"kau menyukai Zaara bukan!!" ucap hallen dengan ekspresi yang dingin dan menyeringai.


DEG!! Daniel tidak bisa menutupi ekspresi terkejutnya.


"hahaha ternyata aku benar!!"


"apa maksudmu!!..,kau tahu kuharap kau tidak bertindak gegabah!!" desis tajam Daniel.


"kau kira aku akan diam saja setelah diperlakukan seperti ini...!!"


tap..tap..tap..!! hallen lebih mendekatkan dirinya kehadapan Daniel dan dengan ekspresi menyeringai lebar.


"kita lihat saja siapa yang akan merasakan kesakitan yang lebih dalam dibandingkan aku!!"


"KURANG AJAR!!"


dengan emosi yang telah memuncak Daniel menatap hallen dengan tatapan marah.


"jangan memancingku nona Hallen, kau tahu sekarang pun aku bisa membunuhmu!!" desis Daniel.


"hhhmmm....bunuh saja aku juga tidak takut karena setelah ini pun bukan hanya aku yang mati!!"


lalu dengan santainya hallen menjauhkan dirinya kebelakang dan duduk di lantai itu.


brakk!!!


"SIALAN!!"


Daniel yang marah segera meninggalkan tempat itu dan kembali ke kediamannya untuk menenangkan diri.


vroomm...!!!


Daniel melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi bahkan ia mengebut dan menyalip beberapa kendaraan didepannya dan membuat orang orang disekitar jalan raya itu marah dan mengumpati Daniel.


namun Daniel tidak perduli dengan orang orang itu dan hanya fokus kepada jalan didepannya dengan perasaan yang masih marah.


dan sesampainya dirumah pun Daniel langsung masuk kedalam kamarnya..


tap..


tap..


tap..


"sial!!" Daniel meninju dinding didepannya lalu dengan menutup matanya sejenak untuk menetralkan perasaannya.


sebenarnya apa yang menyebabkan ia merasa sangat marah disaat hallen mengatakan kalimat itu, ia tidak tahu dengan pasti apa penyebabnya namun ia benar benar merasa terusik.


drrtt...!! handphone milik Daniel tiba tiba berbunyi.


"halo?!" lalu dengan raut wajah yang serius Daniel mendengarkan setiap perkataan orang yang sedang menghubunginya saat ini.


"baik tuan!!akan saya laksanakan!" lalu Daniel pun mematikan teleponnya.


dan beberapa saat dua pengawal pun tiba,,,


"ada apa tuan memanggil!?" tanya tegas dua pengawal didepannya.


"besok siapkan pasukan!!" perintahkan dengan tegas


"baik!!"


ΩΩΩ


keesokan paginya...


ditaman belakang rumah besar itu..


terlihat Zaara tengah asyik duduk di ayunan yang telah di siapkan Sagara untuknya,Zaara merasa sangat senang saat ini.


pagi hari yang sangat sejuk dengan matahari yang menyinari dengan hangatnya membuat tubuh Zaara merasa lebih nyaman dan suara burung yang terdengar indah saling bersahutan sahutan.


"heum...!!" Zaara menghirup udara segar dan menutup matanya sambil mengayunkan ayunan tersebut.


saat ini Zaara hanya sendirian karena pagi pagi sekali Sagara sudah pergi dan Zaara tidak sempat berbicara dengan Sagara yang tergesa gesa saat itu.


woosh!!


woosh!!


Zaara mengayunkan ayunan dengan lebih cepat hingga ia merasa terbang diudara.


lalu tak lama terlihat dari dalam salah seorang pelayan menghampirinya dengan membawa beberapa makanan.


"selamat pagi nona muda" sapa pelayan tersebut.


"selamat pagi" saut Zaara dengan tersenyum lembut.


"nona muda ini ada beberapa makanan untuk anda makan"


"terimakasih" dengan senang hati Zaara menyambut makanan tersebut dan meletakkannya di sebelahnya.


"!?..kau bisa pergi!" ucap Zaara ramah mempersilahkan pelayan itu untuk melanjutkan pekerjaannya.


"tidak apa apa nona, saya telah diperintahkan untuk menjaga anda hari ini" sautnya dengan sopan.


"begitu!!.., sebenarnya tidak perlu repot-repot" namun apa yang bisa Zaara buat, lalu Zaara pun mulai memakan makanannya.


namun disaat Zaara ingin memakan bubur itu tiba tiba aroma bubur itu membuatnya mual.


"Hoek!!" Zaara merasa sangat mual namun ia masih bisa menahannya.


pelayan itu terkejut melihat Zaara yang tiba tiba ingin muntah itu.


"nona anda tidak apa apa, apakah anda sakit!?" dengan cemas pelayan itu memeriksa keadaan Zaara.


"eum..tidak apa apa,saya baik mungkin aku merasa jika aromanya kurang enak saja" saut Zaara dengan suara yang ramah.


"maaf nona apakah buburnya tidak enak" ucap pelayan itu merasa bersalah.


"tidak!!..ini enak" imbuh Zaara cepat, ia tidak ingin membuat pelayan tersebut merasa bersalah.


"heumm...begini saja kau ambilkan saja saya jus buah" pinta Zaara.


"baik" tanpa mengatakan apapun pelayan itu langsung masuk kedalam dan kembali membawa bubur itu masuk bersamanya.


"Hoek!!" lagi lagi Zaara merasa mual bahkan sekarang ia merasa sedikit pusing.


"apa yang terjadi kenapa aku merasa mual dan pusing" pikir Zaara namun ia tidak mengambil pusing keadaannya saat ini.


Zaara lagi lagi mengayunkan ayunan itu dan sampai ia merasa puas bermain main disana baru Zaara masuk kedalam rumah.


***


drap...


drap...


"jangan biarkan pria brengsek itu lolos!!" teriak Andreas memerintahkan semua pengawal mengejar pria misterius tadi.


sesaat sebelum kejadian...


Tiba tiba terjadi penyerangan terhadap Sagara dikantornya, salah seorang mencurigakan masuk kedalam perusahaan Sagara dan menyamar sebagai kurir namun disaat ia masuk kedalam lalu dengan gelagat yang mencurigakan pria itu membuka bungkusan yang ia bawa dan tiba tiba.


JDERRRR!!! sesaat kemudian asap memenuhi lantai satu dan menyebabkan karyawan yang saat itu bekerja kehabisan oksigen bahkan hingga pingsan.


saat itu Sagara dan Andreas tengah sibuk membahas mengenai masalah Bunga namun disaat Sagara tengah serius berbincang bincang tiba tiba dari bawah lantai satu terdengar suara ledakan keras dan membuat Sagara dan Andreas bergerak cepat.


Sekarang dikantor Sagara mengalami penyerangan dengan gas beracun dan menyebabkan banyak karyawan Sagara yang pingsan.


"sial!!, Andreas segera hubungi pengawal!!" perintah Sagara yang sedang berlari cepat kelantai satu.


"baik" saat itu juga Sagara dan Andreas bergerak cepat dan disaat Sagara telah sampai di lantai satu ia melihat begitu banyak gas beracun.


"SIAL.. ANDREAS TUTUP HIDUNG!!" teriak Sagara memberi peringatan kepada Andreas.


"siapa yang berani menyerang perusahaanku!!" dengan emosi Sagara bergerak dengan hati hati di dalam asap itu.


Sagara dan Andreas berjalan dengan membungkukkan tubuh mereka dan mencoba mencari udara dari lantai dibawah mereka lalu dengan cekatan Sagara segera menghampiri air mancur kecil yang memang terdapat di dalam perusahaannya.


sreerttt...!! Sagara merobek sedikit lengan bajunya dan langsung mencelupkan kedalam air itu.


dan tak lama kemudian dari semua kerusuhan saat itu membuat para karyawan dari lantas atas berhamburan keluar dan semakin sulit bagi Sagara dan Andreas menemukan pelaku.


drap...


drap...


"jangan biarkan pria brengsek itu lolos!!" teriak Andreas memerintahkan semua pengawal untuk mengejar pria misterius tadi.


tap..


tap..


"tuan disebelah sana!" teriak seorang karyawan yang melihat pria misterius itu,Sagara dan Andreas segera berlari mengejar pria itu.


"jangan kabur!!"


dengan kecepatan lari Sagara tentu saja pria itu kalah lalu dengan sangat mudah ditangkap oleh Sagara dan langsung dihajar Sagara.


buk..!!


buk..!!


Sagara menghajar dengan sangat brutal dan akhirnya Sagara berhenti disaat ia melihat pria itu terkapar bersimbah darah.


"huk...huk...huk...!!"pria tersebut tak berdaya dan hanya bisa membiarkan dirinya tertangkap dengan mudah.


"siapa kau hah!!" teriak Sagara mencengkram kuat kerah baju pria itu.


"aku lihat kau sangat berani menyerang perusahaanku!!"


"ttu...tuan..saya..hanya ingin...huk..huk..!!" saut pria itu terhenti sesaat.


"saya...saya ingin membuat satu pertukaran dengan anda" sambung pria itu membuat kening Sagara mengerut.


"kau bodoh hah!!, kau kira aku akan melepaskan mu"


"tuan muda tunggu sebentar!" imbuh Andreas lalu dengan tatapan menyelidik Andreas melihat penampilan laki laki didepannya.


"tuan muda dia bukan musuh yang kita cari!" ungkap Andreas setelah dengan seksama ia melihat pria itu.


"dia tidak membawa pasukan apapun bahkan orang ini terlihat tidak memiliki kemampuan apapun untuk melawan!" selidik Andreas.


"tapi aku tidak pernah menerima pengampunan apapun!!" suara Sagara begitu dingin dan tandas.


DEG!!


"tuan tolong dengarkan penjelasan saya!!" dengan tekad yang kuat pria tadi mengucapkan kalimat tersebut.


"saya tahu dimana keberadaan wanita yang sedang anda cari!!"


"jangan bermain-main denganku" desis Sagara tajam namun lagi lagi pria itu mengatakan jika ia memang tahu dimana keberadaan Bunga saat ini.


"lebih baik kita bawa ke mansion terlebih dahulu" usul Andreas.


dan memang tidak memiliki pilihan lain, Sagara pun mengiyakan usulan Andreas karena ia juga penasaran apa maksud pria itu.


sesampainya di mansion...


"katakan apa yang kau tahu?" tanpa basa basi Sagara mengintrogasi pria itu.


"sebelumnya saya ingin mengatakan kepada anda jika saya terpaksa melakukan bom gas beracun tadi" ucapnya.


"hah?!"


"jadi maksudmu!?" Sagara tidak suka terlalu banyak bicara dan ia hanya ingin tahu apa maksud pria tadi.


"katakan saja apa maksudmu jangan bertele-tele!!" ucap Sagara datar.


"saya sebagai pengalihan" sautnya


"pengalihan!?.. dari apa?" tanya Andreas.


"dari rencana mereka memindahkan wanita itu" jawabannya lagi.


"maksudmu wanita itu Bunga!"


"benar tuan Sagara sekarang keberadaan nona Hallen ingin lebih disembunyikan dan saya di kirim hanya untuk mengalihkan perhatian anda karena mereka tahu jika di kota ini siapa yang keluar masuk akan mudah anda lacak"


"ckk..jadi sekarang kemana mereka membawa Bunga!?" tanya Sagara mencoba menahan amarahnya.


"saya tidak tahu dengan pasti ada dimana tetapi sepertinya sekarang mereka membawa nona Hallen ke gedung terbengkalai dipinggir jalan Dongzhi"


"Apakah Perkataan mu saat ini bisa di percaya!?" tatap tajam Sagara.


"ttu...tuan saya bersumpah jika saya tidak berbohong" sautnya dengan terbata bata, ia takut tatapan tajam dari Sagara.


"pengawal jaga dia jangan sampai kabur, aku akan mengurusmu setelah ini!!"


"BAIK"


lalu dengan membawa pasukan terlatih miliknya Sagara segera berangkat menuju alamat yang telah pria itu sampaikan...


Bersambung...