Zaara

Zaara
bab 5. pagi yang canggung



.....................


selesai berbicara dengan ibunya Sagara berlalu pergi,,,


tap...


tap...


tap...


malam harinya dikediaman Sagara...


dimalam hari pelayan sibuk menyiapkan makanan untuk satu keluarga, lalu tak lama mereka semua turun untuk makan bersama sama.


Veera adalah ibu yang sangat baik walaupun ia adalah putri seorang bangsawan konglomerat tetapi ia sama sekali tidak sombong, Veera selalu menyediakan makanan untuk suami maupun anak anaknya, selalu mengurus kewajiban sebagai seorang istri dan juga ibu.


"Zaara makanlah yang banyak, lihat ini mommy yang membuatnya, cobalah!" ucap Veera senang sambil menyendokkan beberapa capcay ke dalam piring Zaara.


"terimakasih mommy" ucap Zaara, ia sangat senang bisa mengenal Veera, seorang ibu yang penuh perhatian, ia tidak pernah menyangka jika Sagara memiliki seorang ibu yang sangat ramah.


Zaara mengira jika mereka adalah orang-orang konglomerat pasti akan membedakan diri mereka dengan orang lain, namun berbeda dengan keluarga Sagara.


"kalian makanlah juga, mommy telah memasak ini semua untuk kalian semua" ucap senang Veera.


mereka semua yang ada dimeja juga penuh suka cita, begitu juga Sagara walaupun ia tidak menunjukkan secara langsung tapi Zaara yakin jika sekarang Sagara tengah berbahagia dengan semua ini.


"seperti apa sebenarnya dirimu" batin Zaara


setelah selesai makan,malam itu mereka semua berkumpul diruang tengah dan membicarakan hal hal yang membuat mereka semua tertawa tetapi tidak dengan Sagara, ia memang selalu seperti itu sangat jaim.


"lagi lagi dia hanya diam" pikir Zaara.


Zaara diam diam memperhatikan Sagara, Tisha yang berada disebelah Zaara pun melihat hal itu lalu dengan pelan Tisha berbisik.


"Hem!" Tisha berdeham kecil.


"kakak Sagara itu memang seperti itu kak Zaara, maklumlah" ucap Tisha terkekeh, Zaara pun ikut tersenyum mendengar bisikan itu.


***


Pagi Hari Tiba,,


"selamat pagi nona Zaara" sapa pelayan kepada Zaara, yang berjalan kearah dapur pagi itu.


tap...


tap...


tap..


"pagi bi" jawab zaara


setelah selesai shalat subuh Zaara keluar kamar dan kedapur, itu adalah kebiasaan Zaara ia memang akan langsung mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak untuk dirinya sendiri.


"nona apakah ada yang bisa saya bantu, apakah nona membutuhkan sesuatu?" tanya pelayan itu heran melihat Zaara yang ada disana.


"tidak bi, saya hanya terbiasa bangun dan memasak sendiri setiap pagi, tapi saya lupa kalau ini bukan dirumah" ucap Zaara lembut, ia jujur memang terbiasa seperti itu namun ia juga lupa jika sekarang ia tengah berada dirumah Sagara.


"tidak apa apakan jika Zaara bantu memasak" tanya Zaara, pelayan tidak bisa menolak permintaan itu, ya karena Zaara adalah tamu Veera, dan mungkin akan menjadi nona mudanya nanti.


"tidak apa apa nona, lakukanlah seperti keinginan nona" ucap pelayan tersebut ramah.


"saya akan melanjutkan pekerjaan saya nona, permisi" sambung pelayan itu.


"baik bi" jawab Zaara, lalu Zaara pun mulai memasak ia memotong motong buah dan juga sayur,ia berpikir jika keluarga Sagara akan sarapan dengan itu.


dengan cekatan Zaara memasak lalu menyiapkan makanan di atas meja, tak beberapa lama Sagara turun dari tangga dan melihat jika Zaara ada di dapur, ia menghampiri Zaara dan berhenti tepat didepan meja makan.


tap...


tap...


tap...


Sagara berjalan perlahan sambil menatap Zaara yang sibuk dengan masakan itu.


Zaara tidak menyadari kedatangan Sagara, Zaara yang tengah asik memotong buah tidak sengaja melukai tangannya dan refleks Zaara berteriak.


"Awww...sakiittt..." jerit Zaara kesakitan refleks menghisap jarinya sendiri.


Sagara yang mendengar jeritan Zaara dengan cepat mendekati Zaara dan memeriksa apa yang telah terjadi.


"ada apa Zaara" tanya Sagara tetapi sebelum Zaara menjawab Sagara melihat darah ditangan Zaara.


Sagara menjadi panik dan mengambil kotak obat didekatnya.


"kenapa kau sangat ceroboh hah! lihat kau melukai tanganmu sendiri" ucap Sagara cemas


"tidak tuan muda, saya tidak apa apa ini hanya luka kecil saya akan membasuhnya" jawab Zaara menjadi bingung kenapa tiba tiba Sagara sudah ada disana, sejak kapan pikir Zaara.


"diam!! biarkan aku lihat" ditariknya tangan Zaara tetapi Zaara menolak, ia merasa tidak enak jika harus bersentuhan dengan yang bukan mahramnya.


Sagara yang menyadari hal itu, meminta Zaara untuk mengikuti, ia tau jika Zaara tidak ingin disentuh oleh siapapun, Zaara yang mengerti pun langsung menuruti.


"dia laki laki yang cukup baik" batin Zaara


puji Zaara untuk Sagara karena ia merasa jika Sagara menghormati diri zaara yang tidak ingin disentuh oleh laki laki.


Zaara duduk tepat berhadapan dengan Sagara


jika dilihat dari dekat wajah Sagara benar benar tampan, rahang yang tegas, mata yang dingin itu menambah karismanya


Zaara menjadi tersadar dari lamunannya, seharusnya ia tidak memikirkan hal hal seperti itu.


Zaara menghela nafas,,,


"hahmmm...."


"ada apa Zaara?" kini suara Sagara terdengar lembut


Zaara benar benar tercengang apakah benar jika yang berbicara tadi adalah Sagara.


sekarang posisi mereka sangat dekat terlebih lagi Sagara yang berjongkok didepannya.


"emm..i..ituu.. tuan muda bolehkah saya bertanya?" ucap terbata bata Zaara.


Sagara mengangguk,,,


"tuan muda saya ingin mengatakan jika saya ingin pulang.." kalimat Zaara terputus disaat tiba tiba Sagara menatapnya dengan tajam.


"apa alasan mu ingin pulang, bukankah mommy telah mengatakan jika kau harus disini sampai sembuh dengan baik, Zaara lukamu belum sembuhkan!" ucap dingin Sagara.


"ta..t..a..pi... saya sudah sembuh dan lagi pula saya harus kuliah sekarang tugasnya pasti menumpuk" jawab Zaara terputus putus.


"baiklah tapi katakan itu kepada mommy" ucap datar Sagara pada akhirnya,Sagara pergi dari hadapan Zaara entah mengapa Zaara membuat suasana hati Sagara menjadi canggung dan tegang.


Zaara hanya bisa diam melihat Sagara, lalu Sagara duduk di kursi lalu memerintahkan pelayan untuk memanggil semua orang.


"pelayan... panggil semua orang!!" kata Sagara datar.


tidak lama mereka semua turun dan makan bersama


tidak ada pembicaraan sama sekali


Zaara sangat tidak enak hati ia benar benar canggung, terlebih lagi Sagara yang benar benar berwajah dingin.


Veera yang menyadari hal itu merasa jika pasti ada sesuatu diantara Sagara dan Zaara.


kriettt...!! suara kursi.


Sagara berdiri dan langsung pergi setelah mengatakan jika ia telah selesai wajah itu benar benar-benar terlihat kesal.


tap...


tap...


tap...


Sagara pergi kedalam kamarnya, dan tidak berapa lama Sagara keluar dan sudah berganti pakaian yang terlihat rapi.


"aku akan pergi sekarang" kata Sagara yang tetap berjalan keluar dari ruang tamu yang memang terhubung dengan ruang makan itu.


Veera yang menyadari pasti ada hal yang terjadi ia menanyakan kepada Zaara, setelah Sagara sudah benar benar pergi.


"Apa yang terjadi Zaara?" tanya Veera menatap Zaara.


Zaara menjawab dengan perlahan menjelaskan kepada Veera.


"tuan Sagara marah karena Zaara mengatakan bahwa aku ingin pulang kerumah" ucap Zaara hati hati, ia juga tidak mau jika perkataannya tersebut membuat Veera marah.


"hanya karena itu dia marah?.." Veera tidak terlalu heran dengan hal itu.


"Zaara, apakah kau ingin mendengarkan perkataan mommy" tanya Veera.


"iya tentu mommy" jawab Zaara.


"Zaara, mommy tau jika aku bukan ibu kandungmu bahwa hanya orang yang bertemu denganmu tidak lama ini, tapi ingatlah Zaara kau adalah gadis yang baik, mandiri, juga dewasa"


"kau juga telah memiliki kehidupan mu sendiri dan itu bukan hal yang bisa mommy larang karena bagaimana pun aku bukan ibu kandungmu dan semua itu menjadi hak mu" sambung Veera, ia benar benar sedih.


"mommy, aku juga tau jika Zaara tidak bisa melakukan hal apapun untuk membalas kebaikan mommy kepada Zaara" sahut Zaara


"tidak Zaara, aku lah yang harus berterimakasih kepada anak seperti Zaara"


"mommy hanya ingin mengatakan terimakasih dan juga mommy tidak bisa membalas yang telah Zaara korbankan"


"Zaara akan sering berkunjung" jawab Zaara


Zaara tahu dengan perkataan dari Veera, maka Veera sudah mengijinkan nya pulang.


Zaara akan benar benar pergi, karena ia harus menjalani hidupnya sebagaimana mestinya.


setalah itu Zaara mengemasi pakaian nya


dengan diantar supir Zaara meninggalkan halaman rumah itu.


pada akhirnya Zaara pun meninggalkan rumah itu...


***


"AKHHH....." teriak Sagara untuk kesekian kalinya.


Sagara benar benar merasa kesal, entah mengapa sikap Zaara yang benar benar ingin pergi membuatnya semakin kacau, bukan hanya karena masalah tadi pagi tetapi karena Sagara merasa kalut dengan kepergian Zaara.


flashback...


tok... tok...tok....!!


Zaara menemui veera dikamarnya ia ingin membicarakan sesuatu kepada Veera.


"siapa?" tanya Veera


"ini Zaara" sahut Zaara dari luar kamar.


"ouh..ternyata Zaara, masuk Zaara pintunya tidak dikunci" saut Veera.


Zaara masuk kamar itu dan melihat Veera sedang duduk di kursi didalam kamarnya.


"ada apa Zaara?" Veera menatap tersenyum kearah Zaara.


"Zaara ingin berbicara kepada mommy, jika Zaara ingin meminta izin untuk pulang" tanpa basa basi lagi Zaara langsung mengatakan jika ia ingin pulang


Zaara merasa jika ia telah banyak merepotkan keluarga Sagara karena itu ia ingin pulang.


Veera hanya diam tetapi kemudian ia tersenyum lalu berkata jika jawabannya akan ia sampaikan ketika selesai sarapan.


flash off...


bersambung.....