
......................
setelah selesai membereskan semua kekacauan itu Meena dan Zaara merebahkan tubuhnya sejenak,,,
"huh...sangat lelah.." keluh Meena, pagi pagi ia sudah harus membereskan dapur itu.
"maaf ya Meena karena tuan muda kau malah ikut membereskan semua itu" ucap Zaara merasa sedikit bersalah.
"apa yang kau katakan...biasa saja memang sih melelahkan tapi aku tidak keberatan" jawab Meena
"baiklah aku akan memanggil tuan muda untuk sarapan dulu"
"em..baik"
"ehh..itu tolong ya Meena panggilkan tuan Andreas"
"siap" jawab Meena
mereka pun sudah kembali ke meja makan dan bersama sama sarapan pagi itu,,,
"tuan muda...hari ini kita akan melakukan apa... sebenarnya Zaara sedikit bosan" tanya Zaara.
sekarang mereka ada diruang tamu,,
"apapun itu, kau ingin melakukan apa sayang" seperti biasa Sagara akan menjawab seperti itu.
"saya tidak tahu..."ucap Zaara menggeleng kepala
Sagara pun mencoba berpikir,,,
"baiklah begini saja, nanti siang kita akan bersantai saja lalu melakukan pesta kecil-kecilan, membakar jagung dan lainnya, begitu saja bagaimana kau setuju.." ucap Sagara tersenyum
"ide itu lumayan bagus... baiklah " jawab Zaara senang.
"aku akan meminta Andreas untuk ke darat sebentar untuk membeli jagung dan lainnya " ucap Sagara
"baik" Zaara pun berdiri dan memeluk Sagara, lalu ia berteriak,,,
"Meena kita kan bakar bakaran..." ia pun berlari kearah luar dan menghampiri Meena yang bersantai di depan vila.
"dasar gadis itu..." ucap Sagara, ia tahu reaksi istrinya itu dan hanya tersenyum.
***
siang harinya seperti yang sudah direncanakan, mereka pun mulai menyiapkan semua yang dibutuhkan,,,
"tuan Andreas kau telah membeli semua jagung nya kan?..lalu jika sudah bolehkah saya meminta tolong?" ucap Zaara
"ya nona muda tentu..." jawab Andreas
"tolong kupas semua jagung nya dan nanti rendam lah di air ini" ucap Zaara lalu ia menyodorkan sebuah air santan.
"santan ini akan membuat jagung nya semakin enak jika di panggang"
"baik nona muda" jawab Andreas lalu ia melaksanakan semua yang diminta oleh Zaara.
"Meena kau potong lah semua sosis ini ya" pinta Zaara
"baik nona muda.." jawab Meena semangat
"tuan muda tolong nyalakan arang itu ya" pinta Zaara lembut kepada Sagara
kening Sagara terlipat... bagaimana caranya melakukan itu, ia sama sekali tidak tahu caranya, tetapi akhirnya ia hanya menganggukkan kepalanya.
"terimakasih suamiku..." ucap Zaara, ia sangat senang walaupun tidak ada pembantu disana ia tetap bisa melakukan semua dengan cepat karena bantuan tiga orang itu.
disini lah masalahnya....Sagara benar benar tidak mengerti caranya menyalakan api.
ia mencoba menuangkan minyak keatas arang arang itu, lalu ia mencoba menyalakan api dengan korek api,,,
"ahhkk..panas" teriak Sagara tangannya tidak sengaja terkena api yang dihidupkan nya sendiri.
"tuan muda... apakah tidak apa apa?" tanya Zaara cemas, lalu ia pun mencoba melihat tangan Sagara.
"tidak Zaara, aku baik baik saja" cukup memalukan untuknya harus ketahuan jika ia tidak bisa menyalakan api itu.
"tuan muda biar sini Zaara bantu" Zaara pun membantu Sagara menyalakan api itu...
prang....
"aww...ini Zaara semua piring ini yang kita butuhkan" tiba tiba Meena datang membawa piring dan hampir saja piring itu pecah Karena gadis itu tidak membawa dengan benar.
"Meena berhati hatilah" ucap Zaara lembut.
"hehehe... iya"
"sebenarnya gadis itu apakah masih berumur 10 tahun" ucap Andreas tak jauh dari mereka.
"heh...tuan Andreas apa maksud mu" ucap Meena nyaring.
"kau mengira jika aku tidak bisa mendengar mu" sambung nya, ia merasa kesal dengan perkataan Andreas itu.
Andreas hanya cuek dengan Meena,,
"dasar cowok nyebelin..." ucap Meena memajukan bibirnya, Andreas pun menatapnya dengan tajam.
Zaara hanya tersenyum lalu ia duduk di samping Sagara yang telah duduk terlebih dahulu.
"mereka berdua selalu saja seperti itu" ucap Zaara.
mereka mulai memanggang jagung beserta yang lainya,,
"wah..wangi sekali..." ucap Meena yang sudah tidak sabar untuk segera memakan sosis.
"iya..sangat wangi..ayo kita makan ini sudah ada yang masak,lebih baik kita makan selagi hangat"ucap Zaara
mereka pun berkumpul duduk diatas alas yang sudah disiapkan lalu makan bersama sama.
"eum...sangat enak"
"Meena jangan berbicara jika sedang makan" tegur Zaara, mulut Meena penuh dengan makanan sampai sampai gadis itu hampir keselek.
"hukk...hukk..." tiba tiba Zaara batuk,
"Zaara ada apa?!" tanya Sagara yang cemas.
"hukk...air..." Sagara pun menuangkan air tetapi air itu rupanya telah habis.
"tunggu lah Zaara aku akan mengambil air dulu" ucap Sagara, namun disaat laki laki itu hendak berdiri Meena menawarkan diri jika ia ingin mengambilkan airnya.
"tuan muda disini saja, saya akan mengambil air nya" ucap Meena bergegas masuk kedalam dan kembali lagi dengan cepat membawa teko yang sudah terisi air.
"ini..." ucap Meena yang segera menuangkan air kedalam gelas.
"berhati hatilah Zaara" ucap Sagara mengelus punggung Zaara.
"iya tuan muda...tadi tiba tiba Zaara keselek" ucap Zaara sambil cengengesan.
"dasar.." Sagara mengelus puncak kepala Zaara gemas.
Meena dan Andreas memperhatikan itu pun diam diam tersenyum,,,
tiba tiba....
ketika Meena hendak berdiri, tiba tiba kaki nya tersandung,,,
"Byuurrr...."
"oh...tidak..." ucap Meena ia sangat terkejut, karena ia sedang memegang segelas air dan itu tumpah semua mengenai kepala Andreas yang tidak jauh darinya.
Andreas terkejut, ia menatap tajam Meena,,,
"APA YANG KAU LAKUKAN!" teriak Andreas
"tuan Andreas maafkan Meena ya, Meena nggak sengaja..." Meena mendekati Andreas lalu membantu Andreas mengeringkan tubuh yang basah itu, namun Andreas malah mendorong nya.
"tidak perlu..kau selalu saja membuat masalah kepadaku" ucap Andreas yang kesal lalu ia berdiri mengambil kain dan mengeringkan tubuh nya sendiri.
Meena mengikuti langkah Andreas, ia merasa sangat bersalah dan ingin membantu Andreas itu.
"tuan Andreas biarkan saya membantu anda" ucap Meena yang masih berusaha membujuk Andreas.
"jangan mendekat..kau itu hanya bisa melakukan hal yang tidak berguna dan kau gadis yang paling kekanak-kanakan" hardik Andreas sudah benar benar kesal.
Meena tak menyangka jika Andreas tega mengatakan hal itu, Meena pun menjadi kesal dan,,,
"apa yang kau katakan tadi kekanak-kanakan dan tidak berguna, heh!! tuan Andreas yang sangat perfeksionis setidaknya aku memiliki rasa bersalah dan mau meminta maaf dari pada kau yang menghina orang" ucap Meena sengit, ia menjadi kesal dengan laki laki itu.
Meena mendekati Andreas dan tiba tiba menaiki tubuh Andreas dan menjambak rambutnya,,,
"dasar cowok nyebelin...awas kau ya..." Meena benar benar melakukan hal itu.
Zaara yang mendengar kejadian itu ia ikut terkejut terlebih lagi disaat Meena menaiki Andreas dan menjambak rambut Andreas.
Zaara dan Sagara pun mengambil tindakan dan langsung memisahkan kedua orang itu,,
"hei Meena turun.." Zaara coba menarik tubuh sahabat nya itu, namun ia tidak berhasil.
"Hei!!... WANITA GILA... TURUN DARI TUBUH KU" Andreas mencoba melepaskan cengkraman gadis itu.
"Meena lepaskan tuan Andreas..." pinta Zaara
"Meena sudah turun...Meena!" sambungnya.
Sagara pun sudah tidak tahan dengan keributan itu, sebenarnya ia malas ikut campur, karena kejadian ini sungguh lucu baginya.
"ANDREAS CUKUP!!" dengan suara mematikan sagara menghentikan kedua orang itu.
berhasil, suara Sagara yang terdengar lebih mengerikan dari apapun itu membuat Meena melepaskan cengkraman tangannya dan turun dari tubuh Andreas.
"Meena ayo lebih baik kau menenangkan diri" pinta Zaara dan menarik gadis itu.
Meena mengikuti Zaara namun Meena masih saja menatap Andreas dengan wajah yang ingin sekali mencabik-cabik tubuh Andreas saking kesalnya.
"sudah lah Meena kenapa kau ini?" ucap Zaara lembut menenangkan Meena.
"habisnya Zaara dia itu selalu saja bersikap seperti itu,tidak bisa ya lebih baik kepada orang lain" ucap Meena masih kesal.
"sudah lah ini juga sudah lumayan sore, lebih baik kau membersihkan diri dan beristirahat, nanti yang dibawah aku akan membereskan semua itu" ucap Zaara tersenyum, lalu ia berdiri dan membiarkan Meena sendirian dikamarnya.
.....***....
malam harinya,,,
dikamar Sagara seperti biasa ia dan Zaara akan beristirahat, apa yang terjadi hari ini sungguh sangat melelahkan.
"mereka berdua kenapa selalu bertengkar jika bertemu" ucap Zaara sambil menyenderkan tubuhnya di dada Sagara.
"jangan terlalu dipikirkan, Andreas itu memang selalu bersikap seperti itu jika bertemu seorang gadis terlebih lagi jika yang seperti Meena" ucap sagara menjelaskan
memang benar selama ini Andreas memang lebih kesal jika harus menghadapi perempuan, tetapi karena Sagara yang memerintah tentu saja itu tidak terlalu merepotkan baginya.
karena jika wanita yang mendekati mereka, tinggal dimusnahkan saja, bahkan tidak ada jejak sedikit pun namun kali ini berbeda gadis itu adalah sahabat Zaara dan tentunya mereka tidak bisa membuat gadis itu menghilang apalagi dimusnahkan.
"nanti mereka akan terbiasa" ucap Sagara bohong.
"benar juga" ucap Zaara.
tiba tiba suasana menjadi hening,,,
Sagara juga menatap Zaara dengan berubah lembut.
Sagara menurunkan kepalanya dan ingin mencium gadis itu,,,
namun,,,
"akh..apa ini?!.. astaghfirullah apakah haid ku datang" batin Zaara
Zaara menjauh kan dirinya dan langsung berdiri,,
"maaf tuan muda, Zaara harus segera ke kamar mandi " ucap Zaara meninggalkan Sagara yang kebingungan.
"ah..benar saja kenapa ini sudah waktunya bisa bisanya aku lupa" ucap Zaara pada dirinya sendiri.
lalu ia keluar lagi dan langsung menuju ke arah tas miliknya dan mengambil sesuatu,,,
Sagara hanya memperhatikan Zaara dalam diam,,,
setelah selesai Zaara pun keluar kamar dan kembali duduk disamping Sagara.
"ada apa Zaara? apakah terjadi sesuatu?" tanya Sagara.
Zaara hanya tersenyum, lalu ia kembali bersandar di kasur.
Sagara mendekati wajah Zaara, ia ingin melanjutkan apa yang tertunda tadi,,
"emm...maaf tuan muda..Ss... sebenarnya Zaara lagi haid" ucap Zaara lembut.
"ouh...tuhan" Sagara yang ingin mencium Zaara pun tidak jadi lalu ia berbaring menutup matanya.
"selalu saja ada halangan nya, benar benar membuatku kesal" batin Sagara.
bersambung.....