Zaara

Zaara
bab 20. permintaan keluarga



......................


malam itu adalah malam yang sangat indah bagi mereka semua...


Meraka pun berbincang bincang dengan sangat gembira, Meraka juga mulai berbaur dengan tamu undangan, terutama Tristan karena banyak rekan kerjanya datang.


acara itu pun berlangsung dengan sangat meriah tanpa hambatan, dan pastinya akan ada berita menggemparkan negara itu, karena sekarang para media sudah menyoroti Sagara yang akan segera menikahi seorang gadis.


acara itu berakhir tepat jam 11 malam,orang orang mulai pergi, sebelum menutup acara itu Tristan tidak lupa mengucapkan terimakasih karena sudah berhadir di malam itu.


"untuk para hadirin semuanya yang telah bersedia datang ke acara pada malam ini, kami selaku keluarga besar Ardiaz dan Rahardian mengucapkan banyak terimakasih untuk kalian semuanya"


para tamu undangan pun bertepuk tangan dan merasa tersanjung akan sikap keluarga itu.


keluarga konglomerat dinegara itu akan selalu terkenang di negara itu sebagai keluarga yang baik dan terpandang.


mereka semua pun bergantian pergi dari kediaman itu, begitu juga Sagara dan keluarga sekarang mereka berkumpul dirumah utama untuk beristirahat.


keesokan harinya...


Pagi hari para pelayan sibuk membersihkan rumah...


"perlahan lahan jangan sampai itu pecah"


"hati hati kau akan menghancurkan itu jika tidak perlahan!!" ucap Veera yang sudah sibuk mengatur rumahnya dipagi hari.


"mommy, apa yang sedang mom kerjakan?" tanya Zaara yang tiba tiba datang, ia melihat Veera sedang sibuk itu.


tap...


tap...


Zaara berjalan mendekati Veera,,,


"apakah ada yang bisa Zaara bantu?" tanya Zaara.


"tidak ada Zaara, biarkan para pelayan mengerjakannya" jawab Veera, sebenarnya Veera pun hanya mengarahkan pelayan itu saja.


"lebih baik kita duduk disofa saja" ucap Veera


"baik mommy" saut Zaara mengiyakan, lalu mereka berdua pun duduk diruang tengah.


"bagaimana kabarmu, apakah kau merasa lelah?" tanya Veera kepada Zaara


"selama seminggu kau ada dirumah ini dan mengerjakan semuanya" tanya Veera tentang persiapan ulang tahun Daddy sebelum mereka tiba.


"nggak kok mom, lagi pula saya hanya membantu tiga hari yang lalu, karena tubuh Zaara terluka dan tuan muda tidak memperbolehkan Zaara melakukan sesuatu" ucap Zaara lembut.


"begitu yah...tetapi itu sama saja" ucap Veera, Zaara hanya menampilkan senyumannya mendengar perkataan Veera itu.


tidak lama terlihat Sagara menuruni tangga, sepertinya ia telah siap untuk pergi bekerja.


tap...


tap..


tap..!!


"pagi mom" sapa Sagara setelah ada dihadapan Veera dan Zaara.


"pagi sayang" saut Veera tersenyum kepada putranya itu.


"pagi Zaara" tak lupa Sagara juga memberikan sapaannya kepada Zaara.


"pagi tuan muda" saut Zaara ramah.


"Sagara kau ingin kemana dengan berpakaian seperti ini?" tanya Veera memperhatikan Sagara.


"aku ada urusan penting mom, jadi harus segera pergi pagi ini" jawab Sagara


"baiklah" saut Veera singkat, Veera tidak akan bertanya lagi karena ia sudah tahu urusan apa itu.


"Zaara kemari" Sagara meminta Zaara mengikutinya sampai keluar.


"eum..baik?!" Zaara pun mengikuti Sagara keluar.


tap..


tap..!!


"Ada apa tuan muda?" tanya Zaara yang bingung kenapa ia diminta untuk keluar.


"tidak ada apa apa, hanya saja hari ini aku akan pergi agak lama, jadi aku akan memperbolehkanmu untuk berjalan jalan jika ingin bertemu dengan temanmu" jawab Sagara membuat Zaara senang.


"benarkah!!?, terimakasih tuan muda saya memang sangat merindukan sahabat saya" ucapnya.


Zaara benar benar bahagia akhirnya Sagara memperbolehkan ia keluar untuk berjalan jalan dan sebagainya.


"tentu" Sagara tersenyum ia sangat tahu jika selama ini Zaara ingin sekali keluar.


"aku pergi dulu Zaara, jangan lupa jika keluar bawa pengawal bersamamu" ucap Sagara sebelum memasuki mobilnya.


Zaara hanya tersenyum ia mengerti Sagara sangat perduli padanya karena itu ia akan mendengarkan Sagara kali ini.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam" Zaara melambaikan tangan kepada Sagara.


Zaara kembali masuk kedalam rumah dan masih melihat Veera menunggu Zaara disana.


"ada apa Zaara!?...apa yang dikatakan Sagara?" tanya Veera.


"tidak ada hanya saja tuan muda memperbolehkan Zaara untuk keluar" jawab Zaara senang.


"kau ingin kemana Zaara?...jangan lupa jika keluar bawalah pengawal" ucap Veera.


perkataan itu terdengar sama dengan kalimat yang diucapkan oleh Sagara kepadanya, Zaara merasa sangat tersanjung dengan perlakuan keluarga itu padanya.


"baik mom" jawab Zaara dengan senyuman hangat.


"kalau begitu bolehkan Zaara pergi?"


"tentu saja boleh, sayang..." jawab Veera.


"baik, Kalau begitu Zaara akan bersiap siap"


"eum..Hem!" Veera mengangguk.


Zaara pun pergi kekamarnya untuk bersiap-siap,,,


tap..


tap..


tap..


beberapa saat Zaara bersiap siap, akhirnya selesai jug, hari ini Zaara berencana untuk menemui Rena dan juga sahabatnya Meena.


"mommy, Zaara pergi dulu" ucap Zaara lembut


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam Zaara" jawabnya Veera.


Zaara pun pergi menggunakan salah satu mobil, mobil dirumah Sagara itu bermacam macam jenis, tapi Zaara tidak ingin mencolok ia pun hanya mengunakan mobil yang paling sederhana menurutnya.


"silahkan masuk nona" ucap pengawal itu, ia membukakan pintu mobil.


"terimakasih" Zaara pun masuk kedalam mobil.


Brakk..!! pintu mobil ditutup.


"nona ingin pergi kemana?" tanya sopir yang menunggu didalam mobil kepada Zaara.


"saya ingin pergi ke alamat ini pak" jawab Zaara menyodorkan sebuah alamat.


"baik nona" sopir itu pun mengambil alamat itu dan langsung menjalankan mobilnya.


vroomm...!!


mobil itu pun melaju dengan kecepatan sedang, Zaara sangat senang akhirnya ia bisa melihat pemandangan kota itu lagi.


disepanjang jalan Zaara memperhatikan pemandangan kota itu...


***


sekitar 15 menit perjalanan...


akhirnya Zaara tiba di sebuah kafe yang telah dijanjikan oleh mereka sebelumnya..


Cittt....!! mobil itu pun berhenti, sopir pun turun untuk membukakan pintu mobil untuk Zaara.


cklek....!! sopir membuka pintu untuk Zaara,,,


"silahkan nona" bow sopir itu.


"terimakasih pak" ucap Zaara ramah, Zaara pun menginjakkan kakinya ditanah itu.


"pak anda bisa pergi dulu jangan menunggu saya disini" ucap Zaara sopan.


"tidak nona saya akan menunggu anda disini saja" jawab sopir itu ramah.


"baik"


"kalau begitu saya akan masuk dulu pak" Zaara pun tersenyum lalu ia masuk kedalam kafe itu.


tap...


tap...


tap...


Zaara masuk kedalam kafe itu, mencoba mencari keberadaan sahabatnya Meena.


kiri, kanan Zaara mengedarkan pandangannya,,


"hei!!.. Zaara!!" lambai tangan Meena di sudut ruangan kafe itu.


"Zaara!" Meena melambaikan tangan kearah Zaara yang sedang mencarinya itu.


akhirnya Zaara mendengar suara itu dan berhasil menemukan Meena.


"Meena!" Zaara tersenyum lalu berjalan menghampiri Meena.


tap...


tap...


tap...!


"ouh...Zaara apa kabarmu?" tanya Meena sambil memeluk Zaara, ia sangat merindukan sahabatnya itu.


"Alhamdulillah baik, lalu bagaimana denganmu?" tanya Zaara yang juga sangat merindukan Meena.


"syukurlah, aku juga baik kok Zaara" saut Meena.


"aku dengar terjadi banyak hal padamu, kau tahu mbak Rena yang memberitahukanku hal itu, dan aku benar benar sedih" lagi lagi temannya itu menangis.


"hiks..hiks!!" Meena lagi lagi bersedih untuk Zaara.


"aku baik baik saja selama ini tuan Sagara sangat baik padaku, jadi tidak ada hal yang serius terjadi" ucap Zaara menenangkan Meena.


"Sagara!?" pikir Meena namun sebelum ia melontarkan pikirannya itu Rena datang.


tap...!!


tap...!!


"hei ada apa ini?" tanya Rena yang baru datang lalu dengan senyum lebar diwajahnya menatap dua gadis itu.


"biasalah mbak" saut Zaara singkat, lalu Rena pun duduk di bangku kosong disebelah Zaara.


"bagaimana kabarmu Zaara, apakah semua baik baik saja?" tanya Rena.


"baik mbak, masalah sudah berlalu" jawab Zaara tersenyum


"hei kalian ada yang bisa mengatakan sesuatu padaku?, Zaara bagiamana bisa kau bersama dengan tuan Sagara" kini Meena yang bertanya.


selama ini Meena mendengar dari Rena saja, tapi ia juga ingin menanyakan langsung dari mulut Zaara.


pada akhirnya Zaara menceritakan semua kejadian yang telah mempertemukan dia dengan Sagara dan lainnya.


"wah!!...begitu ternyata sangat romantis" celetuk Meena senyum-senyum.


"Zaara ceritakan tentang tuan Sagara padaku lagi" tanya Meena,memang kebiasaannya jika mendengar laki laki tampan.


"Apa yang perlu aku ceritakan?" tanya Zaara bingung.


"ihh.. Zaara bukankah kau akan menikah dengan tuan Sagara, ouh...betapa beruntungnya hal itu" gadis itu sekarang senyum senyum sendiri, apakah yang ada didalam otaknya itu.


"Zaara jangan bilang kau tidak menyukai tuan Sagara, yah jika begitu lebih baik aku yang menggantikanmu" ucap Meena bercanda.


"hei dasar kau ini memang ya sangat ngeselin!!" ucap Rena menjitak kepala Meena gemas.


"nggak kok mbak, lagipula Zaara itu memang sangat beruntung, kau tahu Zaara dari semua wanita yang menyukai Sagara, hanya kau yang bisa merebut hatinya" ucap Meena sambil mengusap kepalanya yang terkena jitakan.


"iya kau benar Meena tuan muda adalah laki laki yang sangat menawan berbeda jauh denganku, bertemu dengannya memang bagaikan mimpi " ucap Zaara jujur, hal itu memang sulit untuk dimengerti olehnya namun itulah takdir yang mempertemukan Zaara dan Sagara.


"sudah sudah lebih baik kita membicarakan hal lain" kata Rena menambah.


akhirnya mereka pun tenggelam dalam pembicaraan mereka dengan sangat bahagia...


...ΩΩΩ...


Zaara pun kembali kerumah...


hari ini ia puas berbincang bincang bersama Meena dan Rena, melepas rindu mereka yang sudah cukup lama tidak berjumpa.


tap..


tap..


tap..


Zaara masuk kedalam rumah itu,,


"Assalamualaikum" salam Zaara memasuki rumah.


"wa'alaikumsalam" jawab nenek, ternyata ada nenek Sagara diruang tengah.


"nenek sedang apa sendirian disini?" tanya Zaara lembut menghampiri nenek dan duduk disamping nenek dengan sopan.


"tidak sedang melakukan apapun, nenek hanya bersantai saja disini" jawab nenek


"apakah sudah bertemu dengan temanmu?" tanya nenek lagi.


"iya nek, sudah" jawab Zaara.


sejak kapan nenek tahu jika Zaara bertemu dengan Meena dan Rena, namun mungkin saja Veera yang memberitahukan kepada nenek, pikir Zaara.


"boleh nenek bertanya padamu?"


"boleh nek, ada apa?" tanya Zaara menatap nenek.


"baiklah kalau begitu nenek tidak akan sungkan lagi untuk bertanya, jadi Zaara Apakah kau sudah lama mengenal Sagara?" tanya nenek


"kurang lebih dua bulan nek" jawab Zaara jujur memang begitu adanya.


"benarkah.. lumayan lama!!"nenek memanggut-manggutkan kepalanya.


"Apakah dibenakmu ada perasaan untuk Sagara" tanya nenek tanpa basa basi.


pertanyaan itu cukup membuat Zaara terkejut dan tersadar akan sesuatu, namun ia tidak tahu apa itu.


"nenek apa maksudnya!?" tanya Zaara agak bingung.


"jujur saja nenek hanya tidak mau melihat Sagara kecewa walaupun nenek tahu jika Sagara itu sangat dingin terhadap wanita dan orang lain tetapi hatinya sangat rapuh" jawab nenek menjelaskan maksud perkataannya.


"nenek hanya Ingin yang terbaik untuknya, karena itu nenek bertanya padamu tentang perasaan Zaara sendiri untuk Sagara"


Zaara mengerti pada kekhawatiran nenek dan akhirnya dengan tersenyum lembut ia berkata,,


"saya sangat beruntung bisa bertemu tuan muda, walaupun saya masih belum tahu perasaan Zaara sendiri untuk tuan muda bagaimana, namun saya juga akan berusaha untuk menjaga hatinya"


"karena bagi Zaara tuan muda adalah penyelamat bagi Zaara" jawab Zaara dengan sangat jujur,itulah yang dirasakan oleh Zaara.


bagi Zaara Sagara itu sebuah ketidakmungkinan hadir dan selalu ada untuk Zaara itu sebuah anugerah bagi Zaara.


"nenek berharap kalian berbahagia selamanya" doa nenek, sekarang nenek pun telah mengerti bagaimana perasaan Zaara kepada Sagara.


nenek tersenyum ia tahu jika Zaara adalah gadis yang baik nenek, juga percaya jika Zaara akan menjadi wanita yang pantas untuk Sagara.


Zaara membalas dengan senyuman,,


"nenek akan kekamar dulu dan kau pergilah juga untuk beristirahat" ucap nenek meninggalkan Zaara yang masih duduk disofa itu.


"iya nek" saut Zaara lalu setelah nenek menaiki anak tangga baru Zaara kembali kekamarnya.


tap..


tap..!!


"semoga untuk selanjutnya akan lebih baik lagi, bagaimanapun kedepannya aku harus berjuang untuk menjadi wanita yang baik untuk Sagara" batin Zaara


***


malam hari pun tiba mereka berkumpul untuk makan malam, sedangkan Sagara belum kembali dari pekerjaannya, setelah selesai makan mereka berkumpul diruang tamu.


"Zaara kemarilah ada yang ingin Kakek bicarakan padamu!" ucap kakek memanggil Zaara.


Zaara hanya menurut lalu Zaara pun berjalan mendekati kakek,,


tap..


tap..!!


"ada apa kek?" tanya Zaara ketika sudah ada disebelah kakek.


"ada yang kau Kakek bicarakan tetapi kita tunggu Sagara terlebih dahulu, sebentar lagi ia akan pulang" saut kakek.


"baik kek" jawab Zaara singkat lalu menunggu kedatangan Sagara kembali kerumah itu.


benar saja tidak lama Sagara pun datang, Sagara langsung diminta untuk ikut duduk disana.


"Sagara kemarilah!" ucap kakek melihat Sagara yang ada diambang pintu dan berjalan.


"ada apa ini kek?" Sagara bingung apa yang terjadi ini kenapa orang berkumpul disini, pikir Sagara.


tap..


tap..!


"hhmm...kakek tidak ingin berbasa-basi lagi"


"Sagara keluarga ini sudah menerima Zaara sebagai menantu jika kau ingin menikahi Zaara maka jangan ditunda lagi, namun jika kau tidak cukup yakin maka mundurlah!" kata kakek terdengar tegas.


Zaara terkejut mendengar perkataan itu..


"Ya Sagara mommy juga setuju" sergah Veera menambah, ia juga sangat bahagia jika putranya cepat menikah apalagi dengan Zaara.


"jika kalian sudah mengijinkan hal ini maka Sagara juga tidak bisa menunda- nunda lagi"jawab Sagara penuh keyakinan.


"huh?.. tunggu menikah..hei ini tidak ada yang ingin mendengarkan pendapatku kah?" pikir Zaara masih terkejut dengan perkataan keluarga itu.


"baguslah jika semuanya setuju kita akan menyiapkan semuanya dari resepsi dan lamaran secepatnya" ucap Tristan juga setuju.


"eum...itu...!" Zaara menjadi sedikit bingung dan canggung.


namun keluarga itu meninggalkan Sagara dan Zaara sendirian.


"baiklah Zaara, mommy tahu kau pasti terkejut namun hal ini tidak bisa ditunda jadi bicarakanlah bersama Sagara" ucap Veera sebelum meninggalkan tempat itu.


mereka pun pergi meninggalkan Sagara dan Zaara, mereka tahu jika Sagara harus berbincang dengan Zaara.


Sagara menatap diam Zaara, sepertinya Zaara sedikit terkejut dengan perbincangan yang tiba tiba itu.


"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan" kalimat Sagara itu memecahkan lamunan Zaara.


"huh!!?...tuan itu!!?"


"aku sudah yakin untuk menikahimu, aku sudah tidak tahan untuk menjadikanmu sebagai istriku dan aku tidak ingin kau pergi jauh dariku" ucap tulus Sagara.


"dan untuk yang lainnya.., jangan khawatir, setelah menikah nanti aku tidak akan mengekangmu jika ingin melanjutkan kuliah" ucap Sagara menenangkan Zaara.


"emmm... ya" Zaara hanya mengangguk singkat,sebenarnya bukan itu permasalahannya hanya saja hatinya masih ragu.


Sagara pun membiarkan Zaara menenangkan diri untuk berpikir sendiri, ia tahu hati Zaara yang mungkin saja masih terlalu cepat untuknya.


sebelum Sagara meninggalkan Zaara ia berkata,,


"Zaara kau harus ingat ada aku yang selalu mencintaimu disini" kalimat Sagara seperti penenang bagi Zaara.


bersambung....