
......................
"Kenapa kau menghalangi aku untuk bertindak!?" desis dingin Sagara.
"Sagara sebelum itu ada sesuatu yang harus aku katakan, sebenarnya aku telah tiba lebih awal di negara ini" ucap Carissa.
"namun, kau tahu ditengah diperjalanan menuju kemari tiba tiba ada yang menyerang ku" ucap Carissa, sontak membuat Sagara dan Andreas terkejut.
"APA DISERANG!!" ucap mereka berdua bersamaan.
"Aku awalnya bertanya tanya kenapa aku yang baru tiba dinegara ini bisa diserang" ucap Carissa lagi.
"namun setelah tiba disini aku jadi tahu alasannya"ucap Carissa lagi.
"maksudmu?!" ucap Sagara tidak mengerti.
"hhmmm...aku tadi memperhatikan sekeliling pelayan dan pengawal, aku pikir ada mata mata diantara mereka, aku lihat salah seorang pelayan bergelagat aneh" ucap Carissa menjelaskan.
"kau yakin!?" tanya Sagara tajam
"kau boleh periksa" ucap tenang Carissa.
"baik, Andreas kau telah mendengar bukan, lakukan!" perintah Sagara.
"baik" Andreas pun pergi,,,
"Sagara, siapa wanita tadi?" tanya Carissa tiba tiba.
"siapa?"
"wanita yang berbaju hitam" ucap Carissa.
"ouh....dia bernama Bunga" jawab Sagara setelah tahu siapa yang dimaksud Carissa.
"ada apa?"
"tidak ada..." jawab Carissa singkat.
"hhmmm....." jawab Carissa menghela nafas,,,
"sudahlah aku akan memeriksa Zaara" ucap Carissa berdiri lalu meninggalkan Sagara diruangan itu,,,
***
BRAKK......!!
PRANGGG!!!....
"kurang ajar, bagaimana wanita itu bisa lolos dari maut" desis wanita itu.
"huh...hhhmmm...huhmmm" wanita itu mondar mandir tak karuan,,,
"dia pasti telah menyadari jika Zaara telah diracuni, aku harus cepat memberikan dosis ketiga" ucap wanita itu.
tutttt....tutttt.....
"lakukan rencana" ucap wanita itu setelah telepon itu tersambung.
"suntikan dosis sekarang juga, dan ingat berhati hatilah" perintah wanita itu kepada orang yang tengah diteleponnya.
telepon itu ditutupnya dengan bantingan keras,,,
"Tut....Tut....!
"aku...tidak akan kalah dengan cepat, tapi aku harus membuat rencana baru jika posisiku dalam bahaya" ucap wanita itu menatap tajam lurus kedepan.
***
didalam kamar Zaara terlihat suster tengah sibuk memasang alat ditubuh Zaara yang telah diperintahkan oleh Carissa.
Zaara sebenarnya cukup bingung kenapa tubuhnya dipasang alat yang banyak ini, bukan hanya infus tapi alat yang tidak dilihat Zaara sebelumnya.
"suster, semua ini untuk apa?" tanya Zaara mencoba mencari tahu.
"nona ini yang diminta oleh dokter Carissa, memasang semua alat ini di tubuh anda" jawab suster itu lalu berlalu pergi,,,
"mungkinkah sakit ku ini bukan hanya demam biasa?" gumam Zaara bertanya tanya.
CKLEK!... pintu terbuka dan terlihat Sagara berjalan masuk,,,
"hubby?" terlihat Sagara membuka pintu kamar dan masuk.
"Zaara...." ucap Sagara sedikit tersenyum
Sagara mencoba menutupi kesedihannya, sekarang tubuh Zaara dipasang alat dan terlihat lemah.
Sagara mengusap kepala Zaara,,,
"ada apa hubby, apakah penyakit ini.." kalimat Zaara terpotong.
"tidak Zaara" Sagara menggelengkan kepala
"kau tenang saja semua akan baik baik saja" ucap Sagara memotong ucapan Zaara.
"kau tidak perlu menutupinya lagi, hubby" ucap Zaara mencoba tersenyum.
"maaf......maafkan aku, karena aku tidak menjagamu dengan baik, tapi aku berjanji setelah ini, tidak ada yang akan menyakitimu lagi" ucap Sagara menatap Zaara dan memegang tangannya.
Zaara hanya tersenyum,,,
Sagara sangat terpukul dengan keadaan Zaara sekarang, dengan tersenyum pahit Sagara mengusap kepala Zaara,,,
"aku keluar dulu sayang, beristirahat lah" ucap Sagara lalu ia pun merebahkan tubuh Zaara dan menutupkan selimut ditubuh Zaara.
Zaara hanya menurut
tap...tap...tap.... Sagara berjalan keluar kamar,,,
Sagara kembali keruang kerjanya,,,
drrttt....drrttt......drrttt...... ponsel Sagara berdering
"apakah ada informasi?" tanya Sagara setelah ia mengangkat telepon itu.
"tuan muda saya ingin memberitahukan jika salah satu resepsionis perusahaan mendadak ditemukan dalam keadaan meninggal di perusahaan" ucap Andreas di telepon
terdengar suara Andreas sangat terkejut, begitu juga Sagara,,,
"APA!!,...." dengan ekspresi terkejut
"bagaimana mungkin!!... apa yang terjadi?!"
"saya tengah memeriksanya tuan, tunggu kabar terbaru, saya takut jika ini ada hubungannya dengan sakitnya nona Zaara" ucap Andreas lalu ia pun mematikan teleponnya.
"ini tidak mungkin kebetulan" ucap Sagara sambil menggelengkan kepalanya, kabar yang sangat mengejutkan bagi Sagara dan ia juga yakin ada benang merah didalamnya.
***
di sisi lain,,,
kamar Zaara,,,,
Zaara tengah tidur dan ada dua suster yang menjaganya dan memeriksa keadaan Zaara dan satu pelayan lagi sedang menyiapkan bubur untuk Zaara.
pelayan yang menyiapkan bubur Zaara pun membangunkan Zaara untuk makan,,,
"nona...nona Zaara bangun mari makan terlebih dahulu" panggil pelayan itu.
Zaara pun bangun dan menyandarkan tubuhnya,,,
Zaara tersenyum lalu ia mencoba memakan bubur itu dan dibantu oleh suster untuk menyuapinya.
namun belum sempat bubur itu dimakan olehnya tiba tiba,,,
BRAKK...!!!.pintu dibuka dengan keras.
"jangan nona!!" kepala pelayan masuk mengambil bubur itu dan membuangnya,,,
"bibi, apa yang bibi lakukan?!" tanya Zaara terkejut.
bibi Nan tiba tiba masuk kedalam kamar dengan wajah yang tegang dan marah
"KAU PELAYAN KURANG AJAR!" ucap nyaring kepala pelayan yang ada dihadapannya.
bibi Nan menatap tajam pelayan itu,,
"kau mencoba meracuni nona muda!!" ucap kepala pelayan dengan nada marah.
tap.....tap.....tap.....Sagara berlari memasuki kamar,,,
"apa yang terjadi!" ucap tajam Sagara datang setelah mendengar suara keributan di kamar itu.
"maaf tuan muda, pelayan ini dia ingin mencelakakan nona muda" ucap bibi Nan.
Sagara menatap tajam pelayan itu lalu dengan nyaring berteriak memanggil pengawal.
"PENGAWAL.... PENGAWAL!!!" teriak Sagara
tak lama terdengar suara pangawal yang berlari dari bawah menuju kamar itu dengan cepat,,,
setelah pengawal ada dihadapannya Sagara segera memerintahkan pengawal untuk menangkap pelayan itu.
"tangkap pelayan ini" perintah Sagara.
pengawal langsung mencengkram tangan pelayan dengan kuat.
"TIDAK...!!" teriak pelayan itu meronta ronta.
"saya tidak bersalah, tuan muda itu hanya bubur saya tidak mencelakakan nona muda" pelayan itu memberontak.
"DIAM!!" teriak Sagara menggelegar
dari semua keributan itu terlihat salah satu suster diam diam menyuntik sesuatu kedalam infus Zaara,,,
"apa mereka semua bodoh" seringai suster itu tanpa dilihat siapapun.
"dosis ketiga telah diberikan"
suster itu pun kembali bersikap normal, seperti tidak melakukan kesalahan.
tiba tiba,,,
"APA YANG KALIAN SEMUA LAKUKAN!!" teriakkan dari Carissa membuat semua orang terkejut,,,
Carissa datang dengan wajah yang tegang
"CEPAT TANGKAP SUSTER ITU!!" teriak Carissa lagi
"dia pelaku sebenarnya,," ucap Carissa lagi.
semua yang mendengar perkataan Carissa menjadi terkejut lalu dalam keadaan itu suster itu pun mengambil tindakan, sadar posisinya dalam bahaya, ia segera melarikan diri,,,
suster itu berlari keluar dan menuruni anak tangga dengan cepat agar terindah dari kejaran pengawal.
"apa yang kalian lihat, tangkap dia!!" teriak Carissa yang terlebih dahulu sadar.
teriakkan Carissa bagaimana tamparan keras lalu menyadarkan semua orang yang mematung.
membuat pengawal yang mencengkram tadi tersadar dan akhirnya mengejar suster itu,,,
dan tiba tiba ditengah semua kejadian itu racun Zaara bereaksi,,,
"huhh... huhmmm..." Zaara sesak napas
DEG!!
"ZAARA!!" sontak Sagara pun meraih tubuh Zaara yang terus kesulitan bernapas.
"ZAARA!!" Carissa juga dengan cepat memeriksa keadaan Zaara.
dengan mata yang terbelalak, Carissa sangat terkejut mengetahui jika racun itu cepat menyebar.
"Tidak!!...
"Sagara kita terlambat" ucap Carissa dengan wajah cemas.
"tidak!!!...tidak mungkin"
"Zaara...... Zaara.... kau akan baik baik saja"
dengan cepat Carissa mengambil tindakan.
"suster ambil obat itu" tunjuk Carissa kearah obat obat yang telah ia siapkan.
suster pun mengambil obat yang diperintahkan Carissa.
obat itu diberikan kepada Zaara,,,
"obat ini hanya sementara menekan penyebaran racun ini, Sagara dalam tiga jam jika kita tidak mencari sebenarnya racun apa ini, maka nyawa Zaara tidak akan terselamatkan" ucap serius Carissa setelah memberikan obat itu.
"tapi kita belum tahu sama sekali pemicu obat ini" sambung Carissa lagi.
"jangan menyerah....aku akan menghubungi Andreas" jawab Sagara tiba tiba, dengan suara tegas Sagara menatap wajah Carissa.
Carissa mengerti tataon itu pun kembali untuk berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan Zaara.
"aku akan menelpon Andreas" ucap Sagara, ia ingin mengetahui apakah Andreas telah menemukan sesuatu.
namun, belum sempat Sagara menelpon Andreas, Andreas terlebih dahulu tiba dirumah itu,,,
"tuan muda...hhmmm" ucap Andreas ngos-ngosan.
Andreas tiba di ambang pintu kamar dengan nafas memburu.
"saya menemukan ini ditubuh resepsionis itu" ucap Andreas menunjukkan sebuah parfume kepada Sagara.
"ini!!?..." Sagara menatap Andreas bertanya tanya tapi Andreas hanya menggeleng kepalanya,,,
"Sagara cepat berikan itu padaku" ucap Carissa langsung memeriksa parfume.
"ini...hhmmmm Sagara kita bicarakan diluar saja" ucap Carissa.
sebelum itu ia memastikan dulu keadaan Zaara yang lebih tenang.
Dan Sekarang Sagara, Carissa dan Andreas saling berhadapan,,,
"ini..." Carissa mencium bau parfume itu,,,
"bagaimana?" tanya Sagara yang tidak sabar.
"ini hanya parfume biasa" jawab Carissa serius namun ia masih meneliti parfume itu.
"parfume biasa?"
"benar, namun aroma ini sedikit tidak biasa, seperti tercampur dengan sesuatu" pikir Carissa
"aku akan memeriksa kandungan didalamnya" Carissa berjalan masuk kembali kedalam kamar,,,
setelah beberapa lama hasil yang di inginkan Carissa pun terlihat dan benar jika parfume itu telah terdeteksi mengandung beberapa racun.
"cairan ini akan mendeteksi jika parfume ini sudah tercampur dengan racun" ucap Carissa menjelaskan.
Sagara dan Andreas pun hanya diam sambil mendengarkan penjelasan Carissa.
"lihat ini!" Carissa menunjukkan warna parfume yang telah berubah.
parfume yang awalnya berwarna pink berubah menjadi merah keunguan.
"suster, tolong ambilkan alat saya yang biasa saya gunakan untuk racun" perintah Carissa, ia ingin memastikan lebih dalam jenis racun itu.
suster itu pergi,,,
"aku akan memeriksa racun apa ini, setelah kita tahu aku akan membuat penawarnya" ucap Carissa menjelaskan.
Sagara terlihat sangat tegang dan cemas dengan keadaan Zaara.
"selamatkan Zaara!" kalimat yang terdengar dingin itu membuat Carissa tahu, jika ia gagal maka bisa dipastikan jika Sagara akan hancur.
"kau tenang saja, aku akan berusaha untuk menyembuhkan Zaara" ucap Carissa menepuk pundak Sagara.
bersambung......