Zaara

Zaara
bab 17. kebersamaan



......................


keesokan harinya...


Sagara bangun lebih awal hari itu, lalu terlihat ia menuruni anak tangga.


tap...


tap...


tap...


berjalan kearah ruang makan,,,


"pelayan!!" panggil Sagara.


tak lama pelayan pun tiba,,,


"selamat pagi tuan muda, apa yang anda butuhkan!?" bow pelayan itu.


"apakah Zaara sudah bangun?" tanya Sagara kepada pelayan itu.


"nona muda sepertinya masih tertidur, saya akan menemui nona Zaara setelah ini" jawab pelayan itu.


"baiklah kau boleh pergi"


Sagara pun duduk di meja makan, ia akan sarapan terlebih dahulu, entah mengapa ia tidak ingin menemui Zaara dulu.


setelah selesai sarapan Sagara kembali kekamarnya untuk bersiap siap untuk berangkat kerja.


tap...


tap..


tap..


beberapa lama Sagara bersiap siap lalu ia kembali kebawah dengan pakaian yang telah rapi.


"pelayan!" panggil Sagara nyaring.


pelayan itu pun berlari menghampiri Sagara,,,


"ya tuan muda?" tanya pelayan itu yang telah ada dihadapan Sagara.


"sampaikan kepada Zaara, hari ini saya pergi kekantor terlebih dahulu, dan minta ia untuk menunggu, mungkin saya akan pulang terlambat hari ini, sampaikan itu padanya" ucap Sagara.


"baik tuan muda, sesuai perintah anda" Bow pelayan itu.


kemudian Sagara pun pergi tanpa menemui Zaara terlebih dahulu.


tap..


tap..


Sagara pun berjalan kearah luar dan langsung memasuki mobilnya...


vroomm...!!!


di kamar Zaara...


"nona Zaara saya ingin menyampaikan pesan dari tuan muda, jika tuan muda sekarang sudah pergi bekerja"


setelah Zaara bangun, pelayan itu pun membantu Zaara untuk membersihkan dirinya.


***


malam hari pun telah tiba...


terlihat Zaara tengah berada diluar kamar, menunggu kedatangan Sagara...


Zaara menatap keluar jendela ruang tamu, disampingnya terdapat kolam besar dikelilingi lampu yang terlihat lebih indah.


"humm...!!" apakah yang ada dipikiran gadis itu.


tidak pernah terpikir oleh Zaara, akan kembali kerumah ini, dulu setelah ia meminta pergi dari rumah itu ia berpikir jika tidak akan ada alasan yang membuatnya kembali menginjak rumah ini.


tetapi Zaara salah, rupanya siapa yang tahu sebuah takdir pertemuan kembali dengan Sagara.


laki laki itu meminta Zaara untuk datang di hidupnya, sebuah mimpi yang tidak mungkin terjadi sebuah harapan yang awalnya Zaara takuti.


Zaara tersenyum,memikirkan kembali bagaimana Sagara datang padanya dan mengucapkan kalimat itu.


tap..!!


tap..!!


tap...!!


Sagara yang telah tiba sedari tadi, berjalan mendekati Zaara.


ia bingung kenapa Zaara tersenyum sendiri menatap kearah kolam itu.


"Zaara ada apa?"


kedatangan Sagara membuat Zaara terkejut


sembari tersenyum zaara membalas pertanyaan itu,,


"tidak ada tuan muda" jawabnya singkat.


"lalu mengapa kau tersenyum sendiri disini?" tanya Sagara lagi


"tidak, hanya saja saya berpikir" ucapnya lembut


"berpikir? memang nya apa yang kau pikirkan" Zaara tersenyum lalu ia kembali menatap kearah kolam


"saya hanya berpikir tentang pertemuan kita,lalu semua yang telah kita lewati akhir akhir ini" jawab Zaara jujur.


"lalu mengapa kau tersenyum Zaara?" ucap Sagara lagi masih tidak mengerti mengapa Zaara tersenyum.


"hanya mengenang, lalu di hari itu apakah tuan ingat bagaimana kau memintaku untuk ada dikehidupanmu?" ucap Zaara tersenyum lalu ia menoleh ke arah Sagara


"aku hanya gadis biasa bertemu denganmu itu sebuah ketidakmungkinan bagiku"suara itu terdengar lebih pelan.


"tuan apakah aku ini pantas ada bersama dengan mu" tanya Zaara menatap Sagara


wajah itu...Sagara tidak mengerti ekspresi itu, apa yang dipikirkan gadisnya itu?, tapi Sagara mulai memahami jika Zaara hanya tidak ingin jika harapan nya itu berakhir menyakitkan.


Sagara hanya diam, dia juga berpikir jika dia menjadi Zaara mungkin saja ia tidak akan mudah percaya terhadap orang yang belum lama ditemuinya.


lalu tiba tiba memintanya untuk bersamanya


jika dipikirkan itu memang sebuah ketidakmungkinan.


tetapi disini Sagara benar benar menginginkan gadis itu bersamanya.


"Apakah jika kau mendengar jawabanku, itu bisa membuatmu lebih percaya kepadaku, lebih mau terbuka kepadaku?" tanya Sagara, kini ia juga ingin sebuah kepastian itu, ia ingin wanita itu perlahan lahan menjadi miliknya.


sebelum itu Sagara menghela nafas panjang...


"huhmmm....!!!"


"Zaara pertama yang harus kau ingat adalah jika kamu itu adalah gadis pertama yang pernah hadir dihatiku" Sagara menatap mata itu, ia ingin Zaara melihat sekali lagi ketulusan hatinya.


"yang kedua, kau lebih dari sempurna kau adalah gadis yang berbeda dari wanita wanita itu, kau gadis yang sederhana, selalu tersenyum apa adanya dan tidak menginginkan harta semata" lagi lagi ia menghela napas.


"hhmmmm... dan yang terakhir adalah...." Sagara berhenti sejenak ia menundukan tubuhnya sejajar dengan Zaara lalu sagara berkata.


"tolong percayalah, apa yang ada didalam hatiku kadang aku seperti orang yang tidak waras Zaara, ketika melihat kau harus menderita, apa yang menjadi sebabnya? aku tidak mengerti dengan hatiku sendiri bersusah payah aku menghilangkan perasaan itu"


"lalu apa yang terjadi? aku tidak mendapatkan jawabannya, tetapi akhirnya aku sadar jika itu adalah perasaan yang tumbuh untuk mu" sambungnya dengan suara yang lirih dan pasti, Sagara menatap Zaara.


dengan suara yang hampir terdengar lemah itu Sagara berkata,,


"jadi jika sekarang kau masih ragu dengan perasaanmu sendiri,...tapi aku Mohon jangan pernah berpikir untuk pergi" pintanya dengan sangat lirih.


hening....


hanya keheningan yang tersisa, ucapan Sagara seperti panah yang tertusuk tepat di hatinya.


tiba tiba Zaara tersenyum lalu ia berkata,,,


"sudah saya dapatkan jawabannya, seperti tuan muda saya juga akan berjuang untuk lebih percaya lagi, tuan terimakasih untuk perasaan ini" ucap Zaara sambil tersenyum.


kini ia juga harus berusaha menyakinkan dirinya sendiri untuk lebih menerima dan mengenal Sagara.


"terimakasih karena sudah mau menerima kekuranganku dan terimakasih karena sudah mau menunggu" ucap Zaara lagi dengan rasa bahagia dan haru.


Sagara membalas senyum itu,,


"jadi apakah kau mau bersedia berada di kehidupan ku yang dikelilingi banyak musuh, setiap saat akan dikelilingi banyak bahaya?" tanya Sagara, ia juga akan berterus terang jika memiliki banyak musuh.


"dan menghadapi tantangan bersama sama" Sagara menatap penuh harap.


Zaara hanya mengangguk,,


"aku tidak akan membuatmu kecewa karena pernah mengenalku"


"seandainya gadis ini sudah menjadi istriku, maka akan ku peluk tubuh itu dengan sekuat jiwaku" batin Sagara.


malam itu sangat indah bagi Sagara, karena ia telah mendapatkan kepastian dari Zaara dan kini ia akan lebih mencintai gadis itu, walaupun ia belum mendengar pengakuan dari Zaara.


...ΩΩΩ...


esok paginya....


"tuan muda kita akan kemana?"tanya Zaara.


Sejak pagi Sagara sudah bangun, entah karena hatinya lagi bahagia, ia berpikir untuk membawa Zaara jalan jalan, berbelanja kebutuhan Zaara dirumah itu.


"kita akan pergi berbelanja kebutuhan mu" jawabnya


"tidak perlu tuan muda" saut Zaara singkat.


Sagara menatap Zaara...


"jangan membantahku Zaara, kau akan disini selamanya setelah ini pun aku akan menikahimu" ucap Sagara membuat Zaara sedikit malu,kalimat Sagara itu membuat jantung Zaara seakan berdebar kencang.


"siapa juga yang mau menikahimu" ucap Zaara malu malu namun terdengar judes.


"ouh... jadi nona ini sudah berani denganku rupanya, sudah berani menolakku" ucap Sagara dengan ekspresi wajah yang tersenyum tipis.


Zaara sudah akan lari tetapi, Sagara mendahului menghalangi jalan Zaara


"Hahahaha...!!tuan saya bercanda,tolong lepaskan saya"


"melepaskan mu tidak akan pernah dan jangan pernah berharap untuk pergi dariku"


"baik tuan muda, sudah cukup lagi pula tubuhku masih belum pulih benar jika tuan muda tetap mengejarku maka akan menyakitku" ucap Zaara mencari alasan supaya tidak dikejar oleh Sagara.


"baiklah, sekarang aku lepaskan kau, namun tidak ada lain kali" ucap Sagara lalu ia pun segera membawa Zaara keluar untuk berbelanja.


didalam perjalanan...


Zaara hanya diam sambil melihat kearah luar, melihat pemandangan yang ada didepannya saja.


sekitar 20 menit diperjalanan akhirnya mereka pun sampai di pusat perbelanjaan kota.


Citt.....!!


mobil berhenti tepat di depan plaza itu, kemudian Sagara, Zaara dan beberapa pengawal masuk kedalam..


tap..


tap..


tap..


disepanjang jalan wanita dan stap plaza itu memperhatikan Sagara dengan mata yang berbinar-binar.


"kyyaa...itu tuan Sagara, sangat tampan!!"


Zaara yang mendengar decak kagum itu hanya bisa tersenyum tipis, sepertinya ia juga harus bisa membiasakan diri ketika berjalan dengan Sagara yang selalu mendapatkan tatapan seperti itu.


"hhemm...!!"


"hehehe...Zaara kau harus terbiasa dengan itu" bisik Sagara menahan geli dihatinya ketika melihat ekspresi Zaara.


"ya... sepertinya aku memang akan terbiasa" saut Zaara singkat.


"hahahaha" Sagara terkekeh geli


mereka pun menuju toko pakaian dan mengabaikan semua tatapan itu.


"Zaara pilihlah yang kamu sukai" Sagara ingin membelikan Zaara pakaian yang baru.


"tuan anda tidak perlu melakukan ini, pakaian Zaara ada kok, nggak usah beli" jawab Zaara agak keberatan, lagi pula itu tidak perlu, pikir Zaara.


"jangan menolak Zaara, jika kamu menolak aku akan membeli semua ini untukmu" ancam Sagara halus.


"HAH!! Zaara sampai melongo mendengar perkataan Sagara itu.


"baik... saya akan pilih" jawab Zaara akhirnya dengan nada yang terdengar dipaksa.


"dasar laki laki aneh, aku menolak ia malah akan


membawakan satu toko untukku" gumam Zaara.


Zaara pun melihat-lihat pakaian itu yang terdiri dari baju syar'i, rok, atasan ataupun gamis.


"semua ini sangat indah bagaimana aku memilihnya" pikir Zaara bingung dan ketika Zaara melihat harga pakaian itu pun membuat Zaara semakin susah untuk memilih.


"Zaara ada apa?" tanya Sagara yang sedari tadi memperhatikan zaara


"apakah tidak ada yang kau sukai?" tanya Sagara lagi.


"tidak..tidak tuan muda bukan seperti itu...hanya saja...." Zaara cepat menggelengkan kepala.


"hanya saja pakaian ini sangat indah, aku jadi bingung memilihnya" sambung Zaara cepat.


"kalau begitu pilihlah semuanya, nanti kamu bisa mengenakan semuanya"


heh!!, betapa mudahnya tuan muda ini mengatakan hal tersebut.


"tuan muda itu namanya mubazir"


"baiklah aku akan memilih yang ini saja" sambung nya, ia benar benar tidak ingin jika Sagara membeli semua itu.


"baik, apapun yang kau inginkan"setelah itu mereka pergi ketempat selanjutnya,,,


Zaara mulai kelelahan, seperti lukanya terbuka


"akh.. apakah luka ku terbuka, sangat perih"


"ada apa Zaara kenapa wajahmu seperti menahan sakit?"


"apakah lukamu terbuka" benar saja ketika Sagara melihat di punggung Zaara, ada noda darah disana


ini kesalahannya, bagaimana ia bisa lupa jika luka Zaara bisa saja terbuka lagi


Sagara pun bergegas membawa Zaara kembali kerumah.


sesampainya dirumah...


tap..


tap..


tap..


"Zaara cepat duduk disini" sesampainya dirumah Sagara langsung membawa Zaara kekamar


"PELAYAN!!!.. PELAYAN!!" teriak Sagara,


pelayan itu datang tergopoh-gopoh


"ada apa tuan muda?"


"ambilkan Zaara air hangat untuk ia minum"perintah Sagara


"baik" pelayan itu pun bergegas menuju dapur.


tutt..tut.....tuttt!!!Sagara menghubungi dokter.


"dokter cepat kemari, aku beri waktu sepuluh menit" ucapnya ketika telpon itu terhubung.


dasar manusia aneh, apakah ia tidak berpikir jika jalanan itu macet, tetapi ia meminta untuk segera sampai dalam waktu singkat.


Tidak lama dokter pun datang,,,


tap..


tap..


tap...


"kenapa kau lama sekali"ucap datar Sagara.


"maafkan saya tuan muda"dokter wanita itu sudah sangat hapal dengan sifat tuan mudanya itu ia hanya meminta maaf, lalu segera memeriksa Zaara.


"apa kabar nona?" tanya dokter itu


"baik" jawab Zaara tersenyum


"baik saya akan memeriksa keadaan anda, nona tolong berbaliklah"setelah itu dokter pun mengobati luka itu.


"bagaimana keadaannya?" tanya Sagara gusar


yah itu lah yang akan terjadi jika Zaara sakit.


"tuan tenang lah, nona Zaara baik baik saja, hanya saja luka nya sempat terbuka lagi, jadi sementara waktu jangan biarkan nona melakukan sesuatu yang membuat lukanya terbuka lagi" jawab dokter itu


setelah selesai dengan tugasnya dokter itu pun pergi meninggalkan kediaman itu...


kriettt....!!! pintu kamar terbuka.


tap..


tap..


Sagara berjalan kearah Zaara...


"Zaara" ucap Sagara sambil menatap Zaara lurus, ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya.


"ya tuan"


"maafkan aku seharusnya aku tidak mengajakmu pergi,sekarang pasti kau sangat kesakitan" ucap Sagara sembari berjalan kearah Zaara.


"jangan merasa seperti itu, saya baik baik saja" saut Zaara sambil tersenyum menyakinkan Sagara untuk tidak merasa bersalah kepadanya.


Sagara menjadi sangat cemas, setalah ini Zaara tidak akan melakukan apapun sebelum lukanya benar benar sembuh, pikir Sagara.


***


suasana siang itu sangat nyaman, dengan udara sejuk menerpa wajah.


woosh...!!


woosh...!!


angin sejuk menerpa dedaunan disekitarnya, menerpa pelan pohon pohon yang tersusun rapi dan indah.


Zaara duduk ditaman itu...


ia sangat bosan karena sudah 3 hari ini semenjak dirinya dirumah itu, tidak diperbolehkan oleh Sagara untuk melakukan aktivitas sehari-hari.


"hahmmm....!!!" Zaara menghela nafas.


seseorang pelayan menghampiri nya,,


tap...


tap...


tap...


"maaf nona saya mengganggu anda, apakah nona menginginkan sesuatu?" tanya pelayan itu sambil tersenyum kearah Zaara.


"tidak terimakasih bi, tapi Zaara sangat bosan disini" jawab Zaara ramah.


pelayan itu tersenyum kepada Zaara, pelayan itu berpikir jika Zaara adalah gadis yang sangat baik, sifatnya sangat ramah kepada semua pelayan disana.


"nona bosan ya? apakah nona ingin mendengar sebuah cerita tentang tuan muda" ucap pelayan itu.


"cerita, boleh " jawab Zaara ia menjadi sedikit penasaran dengan kisah Sagara.


"dulu ketika tuan muda kecil, saya ingat jika tuan muda orang yang sangat suka menangis"


"benarkah, sangat tidak disangka!" ucap Zaara sambil terkekeh geli.


"dulu tuan selalu ditinggalkan oleh nyonya untuk mengurus pekerjaannya, sehingga tuan muda selalu sedih" sambung kepala pelayan itu.


mendengar perkataan itu membuat Zaara sedikit terkejut, lalu Zaara mengubah ekspresinya.


"lalu setelah tuan muda mulai beranjak remaja ia menjadi sosok yang seperti sekarang, mulai tidak perduli dengan orang lain, bersikap dingin"


"jadi dulu sewaktu tuan muda kecil ia pernah nya mengalami hal seperti itu" Zaara menjadi kasihan dengan apa yang dialami Sagara.


"tapi bi, saya pernah mendengar jika tuan muda dan tuan Andreas itu sudah dekat sewaktu kecil?"


"benar nona, waktu itu tuan Andreas bersama dengan kakeknya datang kerumah ini untuk berkunjung, tuan Andreas itu sangat ceria juga aktif berbeda dengan tuan muda yang selalu menangis, tetapi tuan muda menjadi dingin terhadap tuan Andreas kecil"


"jadi begitu" Zaara mengangguk-anggukkan kepala.


"nona apakah anda masih bosan?"


"tidak bi, terimakasih untuk cerita bibi" Zaara merasa lebih baik, cerita itu membuatnya jadi merindukan Sagara.


"baiklah nona saya harus menyelesaikan tugas saya dulu, jika ada sesuatu panggil saja nona"


setelah itu palayan itu pergi,,,


di tempat lain...


"tuan apakah ada sesuatu yang anda butuhkan lagi" tanya Andreas


sekarang mereka ada di boutique pakaian khusus keluarga Sagara,Meraka kesana ingin membeli pakai untuk pesta ulang tahun Daddynya.


"tidak, bungkus semua yang telah dipilih lalu kirimkan saja kerumah" Sagara beranjak pergi, ia ingin lekas pulang bertemu dengan Zaara


"baik"


seharian ini ia tidak bertemu Zaara karena sibuk dengan pekerjaannya.


bersambung...