Zaara

Zaara
bab 75. identitas sebenarnya



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


keesokan harinya dikediaman Sagara...


tring....!


tring...!


telepon seluler kediaman Sagara berbunyi..


tap..


tap..


salah satu pelayan pun menghampiri telepon tersebut lalu mengangkatnya.


"halo!?"


"benar ini kediaman Ardiaz"


"baik..! baik akan saya sampaikan sekarang juga!"


tak..!


pelayan itu pun langsung menutup telepon itu dan segera berlari menuju kamar Sagara...


"tuan muda!"


"tuan muda!"untuk pertama kalinya pelayan dikediaman itu berteriak memanggil Sagara, namun saat ini bukan hal tersebut yang terpenting bagi pelayan itu, tapi adalah pesan yang akan disampaikannya saat ini.


tap..


tap..


tokk...


tokkk...!


cklek..!..pintu kamar terbuka dan pelayan itu langsung disambut amarah Sagara namun pelayan itu langsung menundukkan kepalanya.


"berisik!!" ucap Sagara yang sepertinya baru terbangun dari tidurnya.


"maaf tuan muda, tapi saya ingin menyampaikan pesan jika nona muda telah ditemukan" ucap pelayan tersebut tanpa jeda sedikit pun dikalimatnya, takut Sagara akan kembali marah.


"Zaara!!" awalnya Sagara sangat lelah dan letih tapi tiba tiba beban itu seperti terangkat semuanya.


tap..


tap..


"dimana Zaara!!?" Sagara berjalan kebawah dan berjalan dengan tergesa gesa.


"tunggu tuan muda!" pelayan itu masih membuntuti Sagara.


"APA HAH!!" tanpa sadar Sagara mengeraskan suaranya.


"eum...ummm...itu..nona muda saat ini ada dirumah sakit griya hospital" ucap pelayan tersebut terbata bata.


"kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi hah!!.."


"PENGAWAL!!" Sagara langsung pergi kerumah sakit itu untuk menemui Zaara.


vroomm...!!


"cepatlah!!" perintah Sagara ditengah perjalanan menuju rumah sakit itu.


"tuan muda saat ini cuaca sedang buruk saya takut akan turun hujan dan akan membahayakan tuan Sagara"saut supir itu.


"jangan membantah!!..saya tidak meminta perhatianmu, cepat!!" Sagara tidak sabar untuk menemui Zaara saat ini, mungkin rasa cemas telah menguasai dirinya dan mengalahkan egonya.


"baik" supir itu tidak memiliki pilihan lain selain melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


vroomm....!!


pagi hari yang dingin dan mendung itu membuat daerah itu sedikit berkabut.


tak lama kemudian Sagara sampai didepan rumah sakit griya hospital.


cklek...


tap..


tap..


Sagara segera berjalan masuk dan bahkan tidak menutup pintu mobil terlebih dahulu.


"Zaara aku harap kau baik baik saja" pikiran Sagara benar benar kacau saat ini dan kalimat terakhir Zaara membuat Sagara takut kehilangan untuk selamanya.


"dimana pasien yang bernama Zaara!?" tanya Sagara namun suster itu tidak dapat memberikan informasi yang Sagara cari karena identitas Zaara tidak diketahui.


"maaf tuan tapi nama tersebut tidak ada disini" ucap suster itu ramah.


"apa maksudmu!?"


"benar tuan"


"ckk...tidak mungkin saya baru saja mendapatkan telepon dari rumah sakit ini jika ada istriku yang bernama Zaara disini" ucap Sagara dengan sangat yakin.


"apakah maksud tuan wanita yang kemarin ditemukan oleh warga dalam kondisi pingsan"


"katakan dimana!!?" Sagara benar benar tidak sabar untuk bertemu Zaara dan melihat kondisinya.


"jika benar nona itu yang anda maksud maka nona tersebut sekarang ada di ruang tulip nomor kamar 112"


tanpa mengucapkan sepatah katapun Sagara langsung mencari kamar tersebut.


tap..


tap..


setelah lama Sagara mencari kamar tersebut disepanjang lorong kamar itu akhirnya Sagara menemukan kamar dengan nomor 112 ruang tulip.


dan benar ketika Sagara membuka kamar tersebut terlihat Zaara yang tengah duduk diam membelakangi Sagara.


cklek..!


ketika pintu itu terbuka, suara yang ditimbulkan cukup membuat Zaara berpaling dan seakan sama terkejutnya, Zaara terpaku melihat sosok yang berdiri dihadapannya sekarang.


"t..tuan... muda!!?" betapa bahagianya melihat wajah itu sekarang namun sedetik kemudian hatinya kembali nyeri dan harapan itu kembali sia sia, ia takut Sagara akan mengabaikannya juga kali ini.


"apakah ini benar anda?" pada akhirnya pertanyaan itulah yang terlontar dari mulut Zaara.


"Hem!" Sagara hanya menganggukkan kepalanya dan tanpa aba aba Sagara menghampiri Zaara dan langsung memeluk tubuh Zaara dengan sangat erat bahkan sampai-sampai Zaara tidak bisa bernapas saking eratnya.


"ummm..t..tuan..muda!!?"


Zaara merasa jika tubuh Sagara yang memeluknya sekarang sangatlah kaku dan kuat bahkan seperti mencekiknya.


Sagara tetap memeluk Zaara seperti itu dalam diamnya dan semakin mengeratkan pelukannya.


"eum..tuannn...sangat sesak!!" Zaara tidak bisa bernapas lagi dan kemudian Sagara pun melepaskan pelukan itu.


set..!


woosh..!!.. lagi lagi hanya diam dan keheningan tanpa ada yang ingin membuka suara terlebih dahulu.


karena suasana yang semakin canggung, Zaara pun mencoba membuka suara namun sebelum ia sempat berkata tiba tiba Sagara berkata sesuatu...


"kenapa kau berani pergi!!"


DEG!!..


dengan suara yang terdengar datar namun sanggup membuat hati Zaara tersentak.


Zaara hanya menatap Sagara dengan perasaan yang bertanya dan tidak mengerti.


"kenapa kau sangat lancang!!" lagi lagi Sagara mengucapkan kalimat kasar itu kepada Zaara.


"bukankah sudah aku bilang jangan pernah keluar dari kediaman itu!!"


deg..


deg...


dan seakan tak memiliki perasaan, Sagara dengan kasar menarik tubuh Zaara..


set...! cengkraman itu terlalu kuat dan membuat tangan Zaara sakit.


"sakit!!...lepaskan saya!!" dengan kuat Zaara mencoba melepaskan genggaman tangan Sagara dan menghempaskan tangan itu.


woosh..!!


"kenapa!?, bukankah sudah saya katakan di telepon malam itu jika anda tidak menginginkan saya lagi maka untuk apa saya ada dirumah itu!!" ucap Zaara dengan nada dingin bahkan saat ini Zaara tidak perduli lagi dengan perasaan yang tak tertahankan itu.


"sekarang kau tidak punya hak untuk mengatur saya!!" ucap tandas Zaara menatap lurus kearah Sagara.


"ZAARA!!" Sagara lagi lagi berteriak dihadapan Zaara, namun Zaara sudah terbiasa dengan itu lalu dengan hati yang telah kaku Zaara berkata lagi.


"anda cukup memberiku surat perceraian,namun jika anda tidak sudi saya bisa menggugat anda terlebih dahulu"


DEG..!!


"jangan melampaui batasanmu Zaara!!" desis Sagara mencoba menahan amarahnya.


"batasan!?, batasan apa yang anda maksud tuan bukankah ini yang ada ingin buktikan jika saya bersalah karena telah berselingkuh!!"


Plakk..!! tamparan keras mendarat di wajah Zaara dan menyebabkan wajah itu lebam.


DEG..!!


"heh!! kau sudah puas!" bukan air mata yang keluar dari wajah itu tapi hanya kalimat tandas dari Zaara.


"bagus dari sekarang kau benar benar tidak memiliki hak terhadapku" lalu dengan memalingkan wajahnya Zaara berkata lagi.


"keluarlah dan jangan pernah temui aku lagi Sagara!!" suara itu terdengar dingin dan tandas.


Sagara syok dengan apa yang ia lakukan kepada Zaara, ia melayangkan pukulan kepada Zaara.


"Zaara aku..." suara Sagara terdengar lebih lirih namun Zaara tidak lagi menatap maupun menoleh.


sadar jika ia telah melukai Zaara dengan sangat dalam kali ini lagi lagi ia kalah dengan egonya sendiri.


BAMM..!! pintu itu tertutup dengan keras.


brukk..!!


"hiks....hiks...hiks...!" saat itu juga tubuhnya luruh kelantai itu dan menangis sejadi jadinya.


"hiks...hiks...huhuhu!!" tenyata semua itu lagi lagi hanya harapan yang sia sia bagi Zaara.


tangisan Zaara dipagi itu terdengar sangat memilukan terlebih lagi setelah hujan deras turun mengguyur kota itu.


suara tangisan Zaara saling bersahutan-sahutan dengan derasnya hujan kala itu.


setelah Sagara keluar dari rumah sakit...


Sagara melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi walaupun hujan deras melanda pagi itu.


woosh...!!


vroomm...!!


dari pertengkaran mereka selama ini ternyata Sagara masih saja tidak bisa melupakan bagiamana berada dirumah seorang pria dan pria itu mencintai Zaara.


"akkhh!!"


Bamm!!... Sagara memukul dasbor mobil dengan kuat.


rasa cinta dan rindu kepada Zaara sangat tak tertahankan tapi disisi lain hatinya masih tidak bisa melupakan bagaimana tatapan Niko yang mencintai Zaara dan hal itu membuat Sagara semakin posesif.


"bagiamana pun caranya aku tidak akan pernah melepaskanmu Zaara..tidak akan pernah!!" tekad Sagara.


...ΩΩΩ...


kota xibei..


Meena yang terluka sekarang sudah membuka matanya, seperti mimpi disaat ia membuka mata kini dihadapannya ada seorang pria yang familiar.


Meena memerhatikan wajah yang tengah tertidur disampingnya itu...


wajah yang tampan, kulit yang bersih tanpa noda apakah benar jika ia seorang manusia?, begitulah pikiran Meena saat ini.


"sampai kapan kau ingin melihatku!?"


tiba tiba Andreas bangun dan langsung memergoki Meena yang tengah menatapnya.


"huh!?.tidak...tidak..siapa yang melihatmu" Meena menjadi salah tingkah dan malu karena ketahuan menatap Andreas.


"Hem..begitu" Andreas pun membenarkan posisi duduknya dan kemudian menatap meena.


"bagiamana perasaanmu apakah kau merasa tidak nyaman?" tiba tiba suara itu terdengar lebih lembut.


"heh!!?" Meena tidak percaya jika yang baru saja berbicara itu adalah Andreas, bagiamana bisa laki laki dingin sepertinya bisa lembut begitu, pikir Meena.


"ada apa kenapa kau diam?, apakah kau merasa tidak nyaman, apakah aku harus memanggil dokter untukmu?" ucap Andreas sudah ingin berdiri dan segera memanggil dokter.


"ehh..tidak tuan Andreas saya baik baik saja" ucap Meena cepat.


"begitu..baiklah"


"eum??" Meena baru sadar tempat itu sekarang, ternyata bukan rumah sakit, pikirnya.


Meena pun menatap sekeliling ruangan itu, sepertinya ini adalah hotel.


"ini bukan rumah sakit, sekarang kau ada di hotel" ucap Andreas seakan tahu apa yang dipikirkan Meena.


"ehh..apa!?"


"kenapa kau ada di tempat itu?" tanya Andreas tiba tiba dengan suara yang lebih serius.


"heum!?" Meena tidak menjawab, ia tidak tahu bagaimana mengatakan hal ini sekarang.


"hhmmm....!!" Andreas menarik napas panjang.


"aku hanya tahu jika kau pergi beberapa bulan yang lalu dari nona muda dan setelah bertemu ternyata kau ada di tempat itu" sambung Andreas.


Meena masih tetap diam...


"apakah kau selalu diperlakukan seperti itu!?" tiba tiba suara itu terdengar lebih kaku.


"apa!?"


"heuhmmm... bagiamana aku bisa menceritakan semua dan dari mana...tapi sepertinya aku harus mengatakan hal yang lebih penting" ucap Meena.


"tuan Andreas jawab pertanyaan saya" tatap Meena


"apa yang terjadi antara Sagara dan Zaara!?" tanya Meena.


"apa maksudmu!"


"tuan Andreas sebenarnya aku tidak bekerja secara sukarela disana" ucap meena tiba tiba dengan raut yang sedih.


"aku itu diculik dan dipaksa bekerja di klub malam tersebut dan setiap hari menerima perlakuan tak senonoh itu"betapa terkejutnya Andreas mendengar penjelasan itu.


"jjj...jadi maksudmu!?"


flashback...


setelah liburan bersama Zaara waktu itu, siapa yang menyangka jika kemalangan menimpa Meena.


sang ayah tiba tiba meninggal dunia karena overdosis minum-minuman keras membuat Meena terpuruk terlebih lagi ternyata ayahnya meninggalkan sebuah hutang yang besar.


karena hutang yang melilit itu membuat Meena terpaksa meninggalkan perkuliahannya bahkan kota itu dan bekerja keras setiap harinya.


Meena bekerja part time ditiga tempat berbeda, jam 8 sampai jam 12 ia akan bekerja disebuah kafe, setelah itu ia akan melanjutkan di toko buku selama 4 juga dan untuk sore sampai malam Meena akan bekerja di sebuah restoran dikota itu.


suatu hari Meena tidak sengaja mendengar percakapan antara dua orang laki laki di restoran tempat ia bekerja, dua laki laki tersebut membahas tentang keluarga Ardiaz.


"sebentar lagi rencana bos akan berhasil" ucap pria berbaju merah.


"benar, sebentar lagi kehancuran pasti akan menimpa keluarga itu.. hahahaha!"


"keluarga konglomerat itu pasti akan hancur dan musnah, khususnya tuan muda keluarga itu Sagara Caesar Ardiaz..."


Meena yang berada tak jauh dari mereka tanpa sengaja mendengar percakapan keduanya.


DEG!!


dan betapa terkejutnya Meena mendengar hal tersebut.


"hahahaha, apakah kau juga dengar jika nona Hallen telah meracuni istri Sagara dan sebentar lagi pasti akan mati"


pranggg...!


tanpa sengaja Meena menjatuhkan gelas yang sedang dipegangnya tersebut, orang orang pun melihat kearah Meena termasuk kedua pria itu.


melihat Meena yang bergelagat aneh, kedua pria tersebut curiga dan menghampiri Meena..


tap..


tap..


tubuh Meena menjadi bergetar disaat kedua orang tersebut menghampirinya.


"hai nona!" ucap pria berbaju putih tersebut.


dengan senyum menyeringai mereka menatap Meena yang gugup.


"eum...mau..apa..tuan?" tanya Meena dengan suara yang dipaksa tenang.


"kenapa gugup nona cantik!?, apakah kau mendengar sesuatu yang tidak seharusnya!?" tanya pria itu lagi.


"eumm...ti.ti..dak...!!" Meena semakin gugup dan takut terlebih lagi disaat dua pria itu semakin mendesak Meena.


Meena yang takut refleks berlari...


set..!!


"HEI JANGAN LARI!!" kedua pria itu pun segera berlari mengejar Meena dan semakin yakinlah mereka jika Meena mendengar sesuatu.


tap...!


tap...!


"cepat kejar wanita itu jangan sampai lolos" mereka pun semakin cepat mengejar Meena yang sudah terlihat pontang-panting berlari.


Meena terus berlari walaupun ia sudah merasa sangat lelah dan tidak sanggup untuk berlari lagi.


"ouh tuhan tolong aku"


Meena berharap ia lolos dari kejaran kedua pria itu, namun siapa sangka mereka sudah ada dihadapan meena.


"jja...jangan mendekat!!" Meena memundurkan badannya.


"jangan mencoba lari nona!" dengan seringai keduanya tiba tiba mencengkram Meena dan langsung memukul tengkuk leher meena hingga pingsan.


flash off...


"hiks...hiks...!" Meena kembali menangis ketika mengingat hal tersebut.


begitu sakit siksaan yang ia dapatkan dari saat itu, Meena disiksa oleh dua orang tersebut dan sesekali dipaksa meminum obat yang bisa membuatnya kehilangan suara untuk berbicara.


"hiks...hiks...mereka menyekapku dan memaksaku untuk melayani mereka... huhuhu!!"


Andreas yang melihat Meena menangis itu pun menjadi iba terhadap keadaan Meena.


"sudahlah jangan takut sekarang kau sudah aman" Andreas mencoba menenangkan Meena.


"tidak...saat ini bukan saatnya tenang tuan Andreas.." jawab Meena sesenggukan.


"tuan Andreas...katakan padaku bagaimana keadaan Zaara, apakah benar jika ia terkena racun!?"


Andreas diam sejenak...


"benar"


deg...!


"hiks...hiks...jadi bagaimana keadaannya tuan Andreas, Zaara baik baik saja bukan!?" Meena refleks mengguncangkan tubuh Andreas.


"tenang Meena kau belum pulih!!, tenanglah nona muda baik baik saja" sergah Andreas.


"hik..hik... benarkah!?"


"benar" Andreas benar benar merasa perduli dengan Meena saat ini, mungkin karena keadaan Meena yang sungguh memprihatinkan saat ini.


setelah beberapa saat Meena akhirnya lebih tenang..


sedangkan Andreas tengah duduk di sofa tepat disamping kanan Meena dan sedang berpikir keras.


siapa menyangka jika Meena pun ikut terseret kedalam masalah ini tanpa diketahui, sebenarnya siapa orang ini, pikir Andreas.


Meena yang sudah tenang itu pun kembali berbicara dengan lirih...


"tuan Andreas ada satu hal yang mungkin bisa menjawab pertanyaan yang ada dibenakmu saat ini"


"apa itu?" Andreas mengerutkan keningnya.


"saat itu mereka sempat menyebut nama satu wanita...eumm..siapa namanya...!??" Meena mencoba mengingat nama itu.


"h...hallen...!!, ahh...benar hallen itulah nama yang mereka sebutkan waktu itu, kata mereka jika wanita ini sudah berhasil meracuni Zaara"


"hallen!?" Andreas mencoba berpikir apakah selama ia menggali informasi dari kejadian itu ada wanita yang bernama Hallen.


"sepertinya aku tidak menemukan nama ini, yang memberikan racun ini ada dua tiga orang wanita namun tidak ada nama hallen diantarnya"


"tentu saja kau tidak akan mendapatkan informasi apapun" imbuh Meena.


"maksudmu!"


"mungkin saja wanita ini bukan wanita sembarangan bahkan bisa jadi saat ini pun ia tetap berhasil lolos, karena aku merasa jika wanita ini sepertinya mengunakan penyamaran untuk menutupi identitasnya"


"coba aku tanya padamu, apakah selama kau menggali informasi itu kau sudah melakukan semua yang bisa dilakukan!?"


"tentu saja aku selalu bisa melacak orang bahkan bisa membongkar identitas orang tersebut dan mendapatkan informasi apapun hingga yang paling kecil sekalipun"


"nah itulah yang saya maksud, berarti tidak mungkin bukan jika hanya seorang wanita bisa terlepas darimu" ucap Meena sangat yakin jika wanita ini telah menyamar bahkan bisa jadi ia berada sangat dekat tanpa disadari.


bersambung...