
......................
Tak lama Andreas kembali menemui Sagara, seperti perintah Sagara padanya,,,
tap...
tap...
tap..
"tuan muda" bow Andreas tiba dihadapan Sagara.
"Andres cari tau tentang keluarga gadis ini!" perintah Sagara tanpa basa basi, ia ingin tahu latar belakang Zaara.
"Baik tuan muda!" Andreas pun segera melaksanakan tugas yang di perintahkan Sagara padanya malam itu juga.
setelah Andreas pergi, Sagara kembali memasuki ruangan Zaara,,,
Sagara berjalan mendekati Zaara yang terbaring tak sadarkan diri, Kini Sagara ingat jika pertemuan pertama Sagara dengan Zaara adalah ketika Zaara yang hampir dilecehkan orang.
"Hei gadis kecil... kau berhasil membuatku tanpa sadar mengkhawatirkan orang lain, dan sekarang aku menjadi penasaran dengan dirimu ". ucap Sagara menatap lembut wajah itu.
"heh!...kau berhasil membuatku tertarik padamu" Sagara terkekeh, ternyata ia lemah terhadap Zaara baru pertama kali juga ia bisa berbicara dengan nada seperti itu kepada orang lain.
satu jam kemudian....
pukul telah menunjukkan jam 01:00 malam.
Andreas tiba dan membawa informasi yang dibutuhkan oleh Sagara, tidak sulit bagi Andreas jika mencari tahu informasi orang lain.
tap...
tap...
tap...
Andreas mengetuk pintu ruangan pasien itu, mau bagaimana lagi, sedangkan ia tidak diperbolehkan untuk masuk kedalam, jadi terpaksa ia harus mengetuk pintu pasien itu.
tok...tok....tok...!
"tuan muda" panggil Andreas.
Sagara yang ternyata masih terjaga itu pun bangun dan berjalan keluar untuk menemui Andreas.
cklek..!
Sagara tidak langsung bertanya, tapi ia kemudian berjalan kearah kursi dan mendudukkan tubuhnya disana,,,
"bagaimana apakah sudah kau dapatkan informasinya?!" ucap Sagara datar.
"seperti perintah anda"
"Tuan muda gadis ini bernama Zaara Cahya Elmeera berumur 19 tahun, sejak kecil hidup bersama dengan tantenya, dan orang tuanya sudah meninggal dunia sejak nona ini masih kecil" ucap Andreas menjelaskan semua informasi yang didapatkannya.
"dan apa yang terjadi malam itu?" tanya Sagara lagi.
seperti Andreas yang sudah tahu jika Sagara akan menanyakan pertanyaan itu, Andreas pun sudah mencari tahu kejadian yang sebenarnya satu bulan yang lalu.
"kejadian malam itu adalah nona ini dijual oleh tantenya sendiri yang bernama Mira dan pria yang hampir melecehkan nona Zaara adalah bos salah satu pasar gelap" jawab Andreas.
"hanya itu?" tanya Sagara
"benar tuan selebihnya tidak ada yang istimewa tentang nona ini, dia hanya gadis yang sederhana dan bekerja sebagai penjaga toko buku" jawab Andreas.
"Hem.. baiklah kau boleh pergi!" ucap Sagara berdiri meninggalkan Andreas.
"baik tuan" Andreas pun meninggalkan rumah sakit dan kembali untuk beristirahat.
tap....
tap...
tap...
Sagara berjalan dan berhenti tepat didepan kaca ruangan pasien itu, Sagara memperhatikan Zaara dari sana tanpa berpikir ingin masuk.
"Apa yang telah kau lalui selama ini gadis kecil!?" pikir Sagara menerawang, entah apa yang terjadi sejak bertemu Zaara, gadis itu selalu membuatnya penasaran akan siapa dia.
"hhmmm....aku ingin tahu lebih dalam tentangmu...."
Ditempat lain,,,
Entah mengapa malam itu Rena selalu memikirkan tentang Zaara, hatinya cemas tanpa alasan yang jelas.
"Ya Allah kenapa hati hamba menjadi cemas, kenapa sampai sekarang Zaara belum menelpon juga" ucap Rena mondar mandir tak karuan sedari tadi padahal waktu telah menunjukkan pukul 1 malam.
Sebelum pulang Rena berpesan kepada Zaara, bahwa jika Zaara telah sampai dirumah ia harus segera memberi kabar jika ia telah sampai rumah dengan selamat, namun sedari tadi handphone Zaara tidak bisa dihubungi.
***
"Sagara hubungi segera keluarga gadis itu!" ucap Veera ketika Sagara tiba di rumah pagi itu.
Ya, Sagara tidak pulang kemarin malam karena ia harus menjaga Zaara, dan baru pulang pagi harinya, dan itu pun karena ia harus membersihkan dirinya.
"Mommy tenang saja, aku akan segera menghubungi keluarga gadis itu " jawab Sagara sambil berlalu menaiki anak tangga.
tap...
tap...
tap...
Sagara berjalan masuk kedalam kamarnya sendiri, dan tak beberapa lama Sagara keluar dan mengenakan pakaian baru.
"Mommy, aku akan kembali kerumah sakit dan menjaga gadis itu" ucap Sagara yang sudah ingin pergi.
namun sebelum Sagara melangkah keluar, Veera menghentikan langkah Sagara.
"tunggu Sagara!!" ucap Veera berjalan mendekati Sagara.
"sebelum itu jawab dulu pertanyaan mommy, siapa gadis itu?" tanya Veera menatap Sagara penasaran.
Sagara berhenti lalu ia menjawab pertanyaan Veera,,,
"Mom, namanya adalah Zaara Cahya Elmeera, aku pernah bertemu dengannya beberapa kali" jawab Sagara jujur.
"jadi benar sebelumnya kau memang pernah bertemu gadis itu" ucap Veera mengerti.
"iya Mom" jawab Sagara singkat.
"Mommy nanti Sagara akan menceritakan semuanya, sekarang Sagara harus cepat ke rumah sakit" sambung Sagara lagi lalu berjalan keluar dan segera pergi.
"berhati hatilah Sagara" ucap Veera mengingatkan.
Veera menatap kepergian Sagara dengan raut wajah yang terlihat bahagia, entah mengapa ia merasa jika putranya yang dingin dan cuek itu pada akhirnya menemukan seorang gadis yang tepat.
vroomm.... vroomm...
Diperjalanan Sagara menelpon Andreas, Sagara ingin Andreas mencari tahu siapa keluarganya Zaara atau pun tempat tinggal Zaara sekarang.
Ditekannya nomor Andreas,,
Tutt… tutt…..Tut...
"Andres, cari tahu tempat tinggal Zaara dan dengan siapa saja dia tinggal dan hubungi aku segera"
perintah Sagara ketika telepon itu terhubung.
Tut...Tut...!
Sagara langsung mematikan telepon tanpa sempat Andreas menjawab perintah Sagara.
Citttt….!!!
Mobil Sagara pun berhenti didepan rumah sakit dan langsung membuka pintu mobil,,,
BRAKK....!!
Sagara langsung berjalan masuk kedalam rumah sakit dan menuju ruangan Zaara,,,
tap...
tap..
tap...
cklek...!! Sagara masuk dan masih melihat keadaan Zaara yang sama seperti sebelumnya, Zaara belum juga membuka matanya, ia masih terbaring lemah dengan alat bantu ditubuhnya.
Sagara berdiri di samping Zaara lalu, beberapa saat ia menatap Zaara,,,
sekarang pikiran Sagara kembali melayang
"tidak pernah ada seseorang pun yang bisa membuatku seperti ini selain kau Zaara"batin Sagara.
Sagara menatap kembali wajah Zaara yang begitu tenang,,,
"heh!!...mungkin sekarang aku memang sudah gila" pikir Sagara tersenyum miring ia benar benar tidak habis pikir mengapa ia bisa menjadi sekarang ini.
"ckk...mungkin aku harus mencuci otakku sekarang juga" Sagara mulai gila jika memikirkan hal itu.
Sagara bingung sendiri dengan sikapnya sekarang, mungkin ia benar benar sudah jatuh cinta dengan gadis itu.
Sagara berjalan mendekati sebuah sofa yang ada diruangan tersebut,,,
tap...
tap...
tap...
"Zaara....Zaara....nama yang indah untuk gadis sepertimu" kata Sagara sambil tersenyum tipis.
lalu Sagara menjatuhkan tubuhnya disofa,,,
"huhmmmmm!!!...." Sagara menarik nafas panjang benar benar hal yang membuat kepala dan hatinya seakan pecah karena rasa bergejolak didalam dirinya.
tak berapa lama Sagara mulai tertidur, ia sangat lelah dengan kejadian hari ini, dalam hidup Sagara baru pertama kali dia temui masalah seperti sekarang, yaitu menghadapi hatinya sendiri.
Sagara tahu selama ini ia selalu mencoba agar tidak perduli dengan orang lain disekitarnya, karena ia bukan hanya tidak ingin peduli tetapi juga mencoba agar tidak dekat dengan siapapun yang menurutnya merepotkan.
selama ini Sagara hanya suka memerintah Andreas melakukan segala hal yang diinginkan Sagara bahkan untuk menghapuskan musuh musuhnya.
Sagara orang yang sangat dingin juga angkuh, ia berpikir bahwa jika hanya masalah kecil itu tidak perlu melibatkannya secara langsung, cukup dengan memerintahkan pengawalnya.
***
tok...tok..tok..!!
terdengar suara ketukan pintu, ternyata Sagara tertidur, dan tidak sadar jika Andreas telah mengetuk pintu sedari tadi.
"tuan muda" Andreas telah tiba dan mencoba mengetuk pintu terlebih dahulu, tetapi tidak di dengarnya sebuah sahutan dari dalam.
"tuan muda apakah kau ada didalam?" ucap Andreas lagi pelan dan mencoba untuk melihat kedalam ruangan itu, namun ternyata kaca itu tertutup dengan tirai dan hanya memperlihatkan Sagara yang ada di sudut ruangan itu.
"ckk...kenapa aku seperti ini sekarang, kenapa aku mengetuk pintu kamar pasien" pikir Andreas, padahal apa yang dilakukannya sekarang terlihat konyol.
karena selang beberapa waktu Sagara tidak menjawab panggilannya, Andreas pun langsung masuk keruangan tersebut,,,
tap...
tap...
"ckk...tentu saja dia tidak menjawabku, ternyata tertidur..." gumam pelan Andreas melihat Sagara yang tertidur pulas itu.
Andreas menjadi tidak tega membangunkan tuan mudanya itu, tapi Andreas juga tahu jika informasi yang telah dibawanya inilah yang harus secepatnya ia sampaikan kepada Sagara.
dengan suara pelan Andreas membangunkan Sagara,,,
"tuan muda....tuan muda..!!" panggil Andreas.
Sagara pun terbangun dan dilihatnya Andreas telah datang ia pun segera duduk ditempatnya.
"Andres apakah kau telah mendapatkan yang aku perintahkan?" tanya Sagara tetap dengan suara datar
suaranya terdengar serak karena ia baru bangun dari tidurnya.
"tentu tuan, seperti yang anda perintahkan saya telah mencari informasi tentang nona Zaara" jawab Andreas.
Andreas menyodorkan sebuah berkas kehadapan Sagara dan Sagara langsung membuka dokumen tersebut,,,
di dalam dokumen tersebut tercantum jelas informasi tentang Zaara, lalu Sagara menghubungi nomor yang tertera disana, dan tak berselang lama telepon tersebut tersambung.
"halo...ini siapa? " tanya seorang wanita yang terdengar dari telepon tersebut.
sedangkan Sagara tanpa basa basi ia hanya mengatakan jika,,,
"saya akan memberitahukan kepada anda bahwa nona Zaara sekarang berapa dirumah sakit Cipto city" ucap Sagara datar.
"Apa yang anda maksud!! saya tidak mengerti? jangan bicara omong kosong bagaimana bisa Zaara ada dirumah sakit?!!" jawab wanita itu ternyata adalah Rena.
Rena yang Bingung siapa gerangan yang menelponnya sekarang ini menjadi berang karena ia takut jika itu adalah nomor orang yang iseng saja.
"saya hanya mengatakan informasi penting kepada anda, tetapi anda jangan takut ini bukan penipuan " ujar Sagara ia tahu jika wanita itu takut.
dengan bantingan keras ponsel tersebut ditutup oleh
Sagara,,,
"ckk...jika saja bukan keluarganya aku tidak akan merepotkan diri seperti ini"
dilain sisi,,,
Rena pun semakin bingung tapi ia juga cemas jika hal tersebut benar, pasalnya Zaara sama sekali tidak menghubunginya.
"siapa orang tadi, apakah informasi itu bisa dipercaya tapi jika itu benar bagaimana" ucap Rena bingung, namun ia benar benar tidak punya pilihan lain.
Rena pun bergegas menuju alamat yang sudah diberitahukan kepada nya.
Rena pun segara mencari taksi dan langsung pergi kerumah sakit yang di beritahukan kepadanya.
"pak taksi...!!" Rena pun pergi menggunakan taksi tersebut dan beberapa lama kemudian ia sampai di rumah sakit Cipto city.
"ini pak uangnya, terimakasih!" Rena bergegas masuk kedalam,,,
tap...
tap...
tap...
Rena tiba di tempat resepsionis, ia bertanya pada suster disana apakah ada pasien yang bernama Zaara disana.
"permisi suster, apakah disini ada nama pasien yang bernama Zaara Cahya Elmeera?" tanya Rena.
"sebentar nona saya akan memeriksakan untuk anda" jawab suster itu ramah.
dan tak berselang lama, suster itu pun Memberitahukan kepada Rena jika benar ada pasien yang bernama Zaara dirumah sakit itu.
"benar nona, kamar pasien yang bernama Zaara ada diruangan VIP nomor 21" ucap suster itu.
"baiklah, terimakasih suster"
tap...
tap...
tap...
"aku harap kau baik baik saja" ucap Rena mencari ruangan Zaara dengan panik dan bergegas menuju ruangan yang disebutkan suster tadi, Betapa terkejutnya Rena ketika sampai di depan ruangan Zaara.
"Zaara!!"
disebelah kanannya terdapat jendela kaca yang dimana terlihat zaara terbaring lemah dengan alat disekujur tubuhnya.
"Zaara...apa yang terjadi padamu!!"Rena mencoba menerobos masuk ruangan itu, namun sebelum ia berhasil masuk, Rena di cegat oleh pengawal yang berjaga disana.
"Lepaskan saya....biarkan saya masuk" teriak Rena memberontak.
"biarkan aku menemui Zaara...Zaara...hik" namun pengawal itu tetap saja tidak melepaskan Rena.
tiba tiba,,,,
"Biarkan dia masuk!" perintah Sagara yang tiba tiba keluar dari ruangan itu.
"baik tuan!" pengawal itu pun melepaskan Rena, setelah itu Rena bergegas masuk,,,
tap...
tap...
tap...
"hiks...hiks....Zaara...apa yang terjadi!?" Rena menangis tersedu sedu tak menyangka jika keadaan Zaara sekarang berbaring lemah tak berdaya.
"aku takut terjadi sesuatu padamu" Ucapannya tertahan karena menangis.
"dan benar sekarang kau tidak baik baik saja...hikss!!" Sambung nya.
Bersambung....