Zaara

Zaara
bab. 101. Dibelahan Dunia Lain



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


..."Mas!,..mas!" teriak Rena memanggil Andreas dengan suara yang terdengar cemas....


Pagi itu Rena yang seperti biasa akan melihat Reihan terlebih dahulu di dalam kamarnya, tiba tiba di kejutkan oleh ketiadaan Reihan didalam kamar itu.


Bagaimana tidak!, karena disaat Rena masuk kedalam kamar sang putra sudah tidak ada, entah kemana Reihan yang memang masih jam 6 kurang 10 menit itu bisa tidak ada didalam kamarnya.


Bukankah biasanya jam segini Reihan belum bangun!, dengan kecemasan, Rena mencoba mencari keberadaan Reihan, tapi nihil.


"Mas!, Reihan tidak ada dikamarnya!" teriak Rena yang sudah menangis, tetapi berbeda dengan Andreas yang masih tetap santai duduk di ruang tengah.


"Kenapa kau begitu cemas!?, Reihan pasti ada dirumah ini sayang, memangnya bagaimana bisa Reihan keluar sedangkan penjagaan sangat ketat" sahut Andreas.


Mendengar perkataan Andreas tidak membuat hati Rena mereda, ia tetap cemas.


"Kenapa mas sangat santai!?, harusnya mas khawatir dong sama anak sendiri" sungut Rena agak kesal, Namun tiba tiba suara yang sangat familiar berteriak dari atas lantai dua!.


"Mami!...Papi!" teriaknya nyaring.


"Ouh sayang!" Rena sangat lega seketika, lalu dengan cepat menghampiri Reihan di lantai atas.


"Kemana saja kamu sayang, mami sangat cemas?" tanya Rena sambil menatap wajah lucu Reihan.


"Reihan tidur denganku tadi malam"imbuh Sagara tiba tiba datang dari arah kamarnya.


"Benarkah!?"sergah Rena agak terkejut, berarti Reihan dari tadi malam sudah keluar dari kamarnya!, pikir Rena, kenapa ia sangat ceroboh, untungnya Reihan kekamar Sagara.


tap..tap..


Mereka pun berjalan bersamaan menuruni anak tangga, sedangkan Andreas sudah berdiri dan berjalan kearah Sagara dan istri serta anaknya.


"Harusnya kalian jangan terlalu ceroboh, lagipula jika ingin melakukan sesuatu itu pastikan dulu Reihan ada yang menjaga!"timpal Sagara dengan nada yang santai, namun ucapan itu berhasil membuat Andreas dan Rena sama sama kikuk.


"B..baik..!"


"Hai semuanya!" tiba tiba Tisha datang.


"Wahh..ada apa ini kenapa sudah berkumpul sepagi ini disini!?"seru Tisha yang datang dari luar, sambil berlari kecil kearah mereka semua.


"Tidak apa apa, aku hanya ingin segera berangkat kekantor" sahut Sagara sambil berjalan kearah ruang makan, Mereka semua pun menyusul Sagara.


Benar!, Sagara dan Andreas akan pergi lebih awal karena ada beberapa pekerjaan yang harus mereka kerjakan dengan cepat.


Beberapa masalah yang datang dari pembatalan kontrak kerja kemarin adalah salah satunya.


Mereka semua pun sarapan bersama pagi itu, dan setelahnya mereka semua melakukan pekerjaan masing masing.


...*************...


Di Negara M.


Kala itu angin pagi yang sejuk masuk kedalam ruang kantor yang terlihat sangat luas, dan dipercantik dengan kaca besar yang dimana ketika seseorang masuk kedalam ruangan itu langsung bisa melihat pemandangan kota yang sangat indah bagi yang memandangnya.


"Kenapa tiba tiba memutuskan kontrak kerja ini tanpa pemberitahuanku, tuan Daren"ucap seorang wanita cantik dengan balutan dress panjang berwarna hitam dan jilbab hitam, duduk dikursi miliknya sambil menatap lurus dan bertanya tanya kearah laki laki didepannya.


"Tidak ada alasan!" sahut laki laki yang disebut dengan nama Daren itu. Daren berjalan mendekati wanita itu lalu menatapnya sendu!


"Ada apa?, Akhir-akhir ini sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu, apakah ada masalah?"tanya wanita itu lagi dan dengan gerakan anggun ia berdiri dari duduknya.


Daren tersenyum kecut!


Lagi lagi disaat ia mencoba mendekati wanita yang sekarang ada dihadapannya, wanita itu akan cepat menghindarinya.


"Tidak ada masalah!, hanya saja aku tidak ingin meneruskan proyek itu, lagi pula sekarang mereka telah menyetujui untuk menghentikan kerjasama"


"Huhmmm...,baiklah tapi tuan Daren..!?"


"Kenapa kau selalu sangat formal padaku Ayana, ...!" potong Daren dengan lembut namun tatapan mata itu terlalu sulit untuk diartikan.


"Bagaimanapun aku adalah suamimu" lanjut Daren membuat wanita bernama Ayana agak canggung, lalu dengan cepat ia menutupi raut wajah yang canggung dan mengalihkan pandangannya.


Lagi lagi Daren hanya bisa tersenyum kecut!, lalu ia pun segera mengalihkan pembicaraan dan membuat suasana yang sempat kaku menjadi lebih baik.


"Baiklah, Karena tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi, aku akan segera pergi" ucapnya berlalu pergi namun Ayana tiba tiba menghentikan langkah Daren.


"Tunggu..!" Daren berhenti, lalu menatap Ayana dengan raut tersenyum dan ramah.


"Sudahlah Ayana tidak apa apa, aku mengerti apa yang sekarang ada didalam pikiranmu, aku tahu ini akan sulit bagimu" potong Daren lalu dengan melangkah mendekati Ayana.


Sekali saja, pikirannya!, apakah ia bisa memeluk tubuh itu, tubuh wanita yang selalu dicintainya.


Namun ia tahu akan sia-sia, karena jangan untuk memeluk, mendekati saja sangat sulit baginya, karena Ayana akan menghindarinya.


"Tu...ttuan!?" benar saja Ayana gugup ketika Daren mendekatinya, entah mengapa hati dan tubuh Ayana refleks akan menghindari Daren, padahal Daren adalah suaminya akan tetapi hati Ayana merasa jika ada sesuatu namun apa itu?, ia juga tidak tahu.


"Ayana..sekali ini saja!"ucap lirih Daren, namun disaat tubuh mereka berhadapan dengan menutup matanya Ayana ingin sekali menghindar.


Set!


"!?" Ternyata Daren mengurungkan niatnya dan hanya menyentuh puncak kepala Ayana dengan lembut.


"Baiklah jaga dirimu disini"


Daren mundur secara perlahan lahan lalu dengan senyuman hangat ia membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Ayana didalam ruangan itu.


"Huhmm...!"


Ayana menarik napasnya dan menghembuskan napasnya secara perlahan lahan, entah mengapa disaat itu, seperti ada sesuatu yang mengganjal didalam benaknya, membuat Ayana merasa sesak dan menderita.


Apa yang menjadi penyebabnya!?, apakah mungkin karena ia telah hilang ingatan tentang dirinya bahkan suaminya.


Tap..tap..tap..!!


Ayana berjalan perlahan lahan mendekati kaca besar itu, memandang pemandangan didepannya,


Kota yang masih asri dengan pepohonan disepanjang jalan raya, walaupun perusahaannya lumayan tinggi namun ia masih bisa melihat pepohonan yang kokoh diseberang sana.


Ia memandang jauh kedepan, menatap dan mengamati betapa jauhnya jarak antara dirinya dengan ujung langit yang bisa ia pandang dengan matanya.


Tik..tik..tik..!


Tanpa disadari air matanya menetes, cepat cepat Ayana menghapusnya.


Kadang kadang ia merasa jika ada sesuatu yang teramat tajam menusuk tubuhnya, kadang kadang ia juga merasa jika ada seseorang yang sedang menunggunya, namun siapa?.


"Ada apa denganku!?" keluhnya sambil tertawa tipis lalu mengusap wajahnya sendiri, mungkin ini hanya perasaannya belaka, karena siapa yang sedang menunggunya sedangkan suami dan anak anaknya ada bersamanya saat ini.


Ayana pun menghela napas, mencoba menenangkan pikirannya dan kembali memikirkan sesuatu yang lebih penting sekarang.


Sementara itu!


Ditempat lain, setelah Daren keluar dari kantor tenyata laki laki itu segera pergi kerumah, dan ketika ia sudah sampai didepan pintu.


Tap..tap..tap..!!


"Ayah...!"teriak dua anak kecil menyambut kedatangan Daren,


"Ouh anak anak ayah, kemari sayangku!"sahut Daren lalu dengan cepat memeluk putra putranya, akan tetapi yang bisa dipeluk oleh Daren hanya putranya yang bernama Revano.


"Revano sayang, bagaimana kabar kalian?"peluk Daren sangat menyayangi putranya itu.


"Revan baik baik saja!"


"Ouh begitu, syukurlah, tetapi kenapa Ken tidak memeluk ayah?, kemari sayang!"lanjut Daren.


Namun serta merta Keanu menolaknya, putranya itu memang agak dingin dan juga agak cuek, tetapi Keanu memiliki sifat pemberani dan juga cerdas, sedangkan Revano lebih ramah dan ceria dibandingkan Keanu tetapi soal kecerdasan mereka berdua sama saja.


Daren sangat hapal karakter kedua putranya, lalu tanpa menunggu lebih lama Daren langsung mengeluarkan senjata andalannya agar Keanu mau memberikan pelukan padanya.


"Bagaimana setelah ini Ken dan Ren ikut ayah kekantor dan disana kalian bisa bermain sepuas-puasnya"ucap Daren sambil tersenyum tipis.


Benar saja, wajah yang awalnya dingin itu berubah ada sedikit rasa ketertarikan lalu dengan suara yang masih santai namun terkesan datar.


"Karena ayah duluan menawarkan hal itu aku tidak akan menolaknya"ucap si Ken dengan raut wajah dingin.


Haha..!, ingin sekali rasanya Daren mencubit pipi keanu dengan gemas, anak itu pikirnya!


Sedangkan Revano sudah sangat berbinar-binar dengan ajakan tersebut.


"Baiklah anak anak ayah yang tampan dan manis mari kita berganti baju lalu temui Umma kalian"bujuk Daren tertawa lepas bersama Revano dan dianggukan oleh si jaim Keanu.


Bersambung...